
Memang benar fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
Bagaimana tidak? Ketika kebenaran itu sendiri tenggelam oleh omongan dusta dari orang yang merasa paling benar.
Karena seorang pendusta akan lebih banyak pengikutnya daripada orang yang baik kebenaran. Mengapa? Karena mereka bodoh, dengan mudahnya dirinya mereka percaya dengan omongan kosong belaka!
Menganggap itu adalah benar yang kenyataanya itu salah dan benar-benar salah.
Terkadang melihat seperti itu, kita yang merasa di dzolimi hanya bisa diam dan tersenyum.
Kenapa? Ya percuma menjelaskan kebenarannya pada orang yang bodoh ( sudah dipengaruhi )
Untuk menjadikan seorang pemenang memang tidak harus dengan cara yang mudah. Biasanya mereka selalu ada cobaan terlebih dahulu.
Adel menunjuk Desi, "wanita ini ... bekerja sama dengan kak Rafael. Kak Rafael yang mengirimkan foto-foto itu. Kak Rafael ingin menghancurkan kehidupan Kak Bara karena ingin balas dendam ..." Ucapan Adel berhasil menarik perhatian semua orang di situ kembali. Adel beberapa terakhir memang sangat dekat dengan Rafael. Tetapi, suatu hari saat Rafael menjemput dirinya ke rumah sakit. Adel tidak sengaja mendengar semua percakapan Rafael dengan seseorang dari handphone yang berencana menghancurkan kehidupan Bara dan bahkan berencana membunuh pria yang pernah dia cintai. Rafael mendekati dirinya hanya dijadikan 'alat' untuk menjalankan rencananya.
"Buktikan omongan kamu!" ujar Erwin. Erwin masih tidak percaya karena dia tahu gadis yang baru saja datang itu mempunyai perasaan pada Bara.
Adel tersenyum tipis. "Baiklah, aku punya bukti kok. Kalau kak Bara memang tidak salah!" sahutnya punya keyakinan lalu mengambil handphone di dalam saku jas putih khas dokternya, "Lihat saja." Adel memperlihatkan video yang berhasil dia rekam saat Desi dan Rafael bertemu di sebuah restoran tiga hari yang lalu.
Setelah melihat video tersebut, semua orang di ruangan itu menatap penuh kebencian pada gadis yang sudah menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan mereka.
Desi langsung bersimpuh lutut di hadapan Bara. "Aku minta maaf, Kak. Aku terpaksa melakukan semuanya ...," ucapnya dengan nada suara memohon.
"Aku diancam, Kak," kata Desi lagi.
Bara memandang malas, tangannya sudah mengepal geram terhadap Desi dan juga pada Rafael. "Ck, pergilah dari hadapanku sebelum aku benar-benar menghancurkan kehidupanmu! kamu sangat munafik, Desi!" Bara menyingkirkan tangan Desi dari kakinya secara kasar.
"Bereskan dia, Ren!" perintah Bara sambil menunjuk Desi yang masih bersimpuh lutut di hadapannya, "buang jauh-jauh dari kota ini!" titah Bara, dia tidak mau turun tangan lagi mengurusnya. Coba saja Desi bukan seorang wanita mungkin Bara sudah akan membunuhnya detik itu juga. Bisan-bisanya gadis yang dikenal lugu dan polos itu bermain api dibelakangnya bersama Rafael.
Rendi mengaguk paham, dengan sigap menuruti perintah Bara, untuk membawa Desi entah kemana. Anak buah Bara sudah membawa Desi ke dalam mobil Rendi terlebih dahulu.
"Kak Rendi, aku ikut ya!" pinta Jessika segera bangkit berdiri. Menggandeng tangan Rendi dengan manja. Jessika sangat tidak suka dengan kehadiran Adel. Walaupun Adel membantu menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi.
"Nggak ... kamu tidak perlu ikut!" tolak keras pria itu, Rendi menyingkirkan tangan Jessika untuk jauh-jauh dari tubuhnya.
"Jessika ikut pokoknya, Kak!" final Jessika tetap kukuh semakin erat memeluk lengan tangan Rendi.
Adel yang memang berdiri di samping Rendi menyingkirkan tangan Jessika dari tubuh pemuda itu saat melihat raut wajah memohon dari Rendi meminta bantuan. "Sikap kamu nggak pernah berubah dari dulu, Jessika," ucap Adel.
__ADS_1
"Apaan sih, terserah akulah." Jessika cepat menarik tangan Rendi secara paksa untuk keluar.
Netra cokelat milik Bara memandang setiap wajah orang yang sudah diam membisu. Baik keluarga besar dirinya maupun Famira, tidak dapat berkata apa pun. Mereka semua sudah salah paham, dan sangat mudah percaya dengan omongan dari Desi. Hanya kata 'maaf' yang terlontar pelan dari setiap bibir mereka.
Bara berjalan mendekati Famira, menyingkirkan tangan Erwin dari tubuh istrinya. "Gue nggak mau cari masalah dengan lo! lepasin istri gue dari pelukan lo!" tegas Bara menatap sinis. Meskipun Erwin kakak Famira, Bara tetap saja tidak suka, bila wanita miliknya dekat-dekat dengan pria lain, "kebenaran sudah terbukti bukan? lebih baik lo, pulang! gue muak dengan lo di rumah gue!" Bara mendorong tubuh Erwin sangat kasar. Kesabarannya pria ini sudah hampir habis.
"Cih ..." Erwin berdecak kesal.
Bara mengambil alih tubuh istrinya itu yang masih menangis sesenggukan, Bara mencakup pipi Famira menghapus jejak air mata wanita itu. "Berhentilah menangis, Ra. Mas tidak akan sanggup bila melihatmu seperti ini."
Famira memeluk erat tubuh Bara. "Famira pikir Mas benar-benar ada hubungan dengan wanita itu dan anak kecil laki-laki itu Famira mengira anak Mas juga ...," katanya dengan suara sendu.
"Aku sangat mencintaimu, hatiku sudah milikmu sepenuhnya, Ra." Bara mengusap lembut punggung istrinya itu.
Vernandes menepuk pundak Bara. "Jadikan hari ini sebagai pembelajaran buat kamu, Nak," ujar pria paruh baya itu. "Tamparan tadi, anggaplah peringatan dari ayah untuk pertama kali, jangan pernah menyakiti hati putri ayah," ucapnya lagi di akhiri dengan tawa ringan menghilangkan suasana yang masih saja tegang di ruangan itu. Bara mengaguk kecil, tanpa di minta oleh Vernandes pun dia tidak akan pernah menyakiti Famira lagi. Cukup kesalahan terbesarnya di masa lalu saja.
Adel berjalan ke arah Bara dan Famira. "Kak Bara hati-hati aja karena kak Rafael itu benar-benar jahat."
Bara tersenyum simpul, wanita berambut pirang yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu benar-benar sudah berubah. "Tenang saja, Del. Aku sangat berterima kasih kepada kamu."
"Oke, Kak. Kak Bara kan Kakak Adel juga. Ya ... walaupun pernah suka sih. Tapi, sudah nggak kok. Adel sudah move on," jawab Adel tersenyum kikuk.
Saat itu juga dihadapan keluarga besarnya, Bara ingin mengangkat Atha sebagai anak angkatnya. Mama Ani, papa Andi, ummi Hana, dan Vernandes setuju-setuju saja. Begitu pun dengan Famira.
***
Sore ini Famira cukup sibuk, karena kehadiran Atha dalam keluarga kecilnya. Apalagi saat Kila yang datang. Pertengkaran kecil sering terjadi antara Kila dan Atha.
"Bibi lihat Atha jahat hiks ...," aduh Kila menangis saat Atha menarik rambutnya yang sudah di kepang. Anak kecil perempuan itu menangis sesenggukan berjalan ke arah Famira yang sedang membuat bubur kacang hijau di dapur bersama bibi Ina.
"Kila kenapa?" tanya Famira khawatir lalu mencuci tangannya sebelum menggendong tubuh mungil Kila.
"Atha tarik rambut aku, Bi. Dia jahat," tunjuk Kila pada Atha yang berjalan terlatih ke arah Famira.
"Bunda mainanku," rengek Atha menunjuk main mobil-mobilan yang diambil oleh Kila.
Famira menggelengkan kepalanya pelan, Kila dan Atha bertengkar karena hal itu ternyata. Famira menurunkan kembali tubuh Kila.
"Atha nggak boleh begitu lagi ya," ucapnya lembut, mengelus rambut Atha.
__ADS_1
Atha mengaguk kecil." Mainanku, Bunda ...." Atha langsung menarik mainan mobil-mobilan yang diambil
ditangan Kila.
"Ini punyaku!" Kila tidak mau melepaskan main itu.
"Punyaku." Atha tetap menarik paksa dengan tenaga yang masih kecil.
"Sudah ..." Famira melerai keduanya, mencium gemas pipi kedua anak kecil itu secara bergantian. Famira mengambil alih main mobil-mobilan itu di tangan Kila, "Bibi aja yang simpan, kalau kalian bertengkar gara-gara ini."
Kila dan Atha hanya saling tatap muka setelah itu. Kila masih tidak suka dengan kehadiran Atha.
"Bunda gendong!"
"Bibi gendong Kila aja!"
"Itu Bundaku bukan bundamu ...," ucap Atha memeluk tubuh Famira.
"Assalamu'alaikum ...," salam Bara dari ambang pintu rumah, Bara baru saja pulang dari perusahaannya.
"Wa'alaikumussalam ....," sahut Famira, berjalan ke arah Bara menyambut kepulangan suaminya itu.
Kila dan Atha berlari beriringan ke arah Bara.
"Paman ..."
"Ayah ..."
Bara membungkukkan badannya, memeluk senang tubuh kedua anak kecil itu.
"Kila kapan datang?"
"Baru kok, Paman. Kila mau nginap disini sama Paman dan Bibi. Boleh?"
"Boleh," jawab Bara mencium kening Kila.
"Ayah, Atha kok dicuekin?" tanya Atha polos, menaruh wajah kecewa membuat Bara kian gemas.
"Mana ada." Bara menarik lembut pipi Atha, mencium setiap inci wajah anak kecil laki-laki itu.
__ADS_1