
━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━
“Tetaplah tersenyum dengan apapun jenis manusia yang Allah Subhana Wa Ta'ala hadirkan di dalam hidupmu. Karena semuanya itu Allah hadirkan untuk kita ambil sebagai pelajaran hidup agar kita menjadi hamba yang lebih dekat dan lebih berserah diri kepada Allah.”
[ Ustadzah Aliyah Fuad Al-Musawa ]
━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━
Sesuatu yang terjadi, semua telah diaturkan oleh Allah. Berjalanlah ke setiap cerita takdirmu bersama nama Allah dihati.
Pasti dirimu rasa selamat, tenang dan kuat walau badai ujian melanda kuat.
Tidak ada pesta pernikahan antara Erwin dan Dilla. Erwin pun tidak ingin memaksakan kehendak dirinya lagi, menuruti keinginan istrinya untuk tidak melaksanakan pesta pernikahan.
'Asalkan pernikahan kita sudah sah di mata hukum dan sesuai dengan syariat Islam.' Begitulah kalimat penolakan dari Dilla saat Erwin dan keluarganya lainnya merencanakan pesta pernikahan dilaksanakan besok malam.
Cukup lelah hari ini bagi mereka, meski tidak melaksanakan pesta pernikahan. Tamu undangan yang diundang pada saat ijab qobul cukup banyak, banyak diantara mereka yang meminta foto kepada pasangan pengantin baru itu dan memberikan ucapan selamat. Erwin melarang keras pria lain menyalami ( menyentuh ) tangan istrinya selain dirinya saat proses ucapan selamat.
Duduk disisi ranjang, saling membisu satu sama lain terjadi antara kedua insan yang ada di dalam dikamar itu. Kamar mereka dihiasi dengan bunga mawar yang ditaburi diatas ranjang.
Erwin berdehem pelan menghilangkan kecanggungan yang terjadi, menatap lekat punggung wanita berjilbab yang duduk membelakanginya di sisi ranjang seberang.
"Aku ingin mandi." Ucapan itu keluar bersamaan dari mulut kedua insan yang sedang dilanda kegugupan.
Dilla bangkit berdiri, berjalan mendekati Erwin. "Aku duluan," ucap Dilla tanpa memandang wajah pria yang diajak bicara.
Erwin meraih tangan Dilla, tersenyum kecil saat melihat wajah gadis yang sudah sebagai istrinya itu bersemu merah. "Aku duluan!" sahutnya menaiki sebelah alisnya.
"Mengalah napa, Pak!" Dilla mencebik kesal, ternyata sikap menyebalkan dari atasannya itu tidak pernah hilang.
"Nggak, aku dulu." Erwin tetap keukeh, "mandi aja di kamar mandi itu," suruh Erwin menunjuk kamar mandi yang satunya.
__ADS_1
"Keran airnya rusak, Pak Erwin ingin mengerjaiku." Dilla mencubit lengan Erwin, "dingin, nyebelin, ngeselin, pemaksa ... semua ada dalam diri Anda, Pak." Dilla mengeluarkan uneg-uneg di dalam hatinya yang selama ini terpendam.
"Beraninya kamu menghina suamimu sendiri." Erwin menarik keras tangan Dilla, hingga gadis yang berdiri itu jatuh di pelukannya. "Mau aku hukum?" bisik Erwin disamping telinga Dilla. Terdengar sangat mengancam sekali, membuat bulu kuduk Dilla berdiri.
Dilla menelan ludah sendiri atas ucapan barusan, kenapa mulutnya tidak berhenti mengoceh bila berbicara dengan Erwin.
Dilla mencoba menjauhkan tubuhnya, melepaskan tangan Erwin yang sudah melingkar di pinggangnya, namun Erwin menahan dengan erat. Jantung Dilla berdegup kencang dan tidak karuan.
"Maafkan aku Pa---k," ucap Dilla tulus memohon, "aku jan--ji ...." Ucapan Dilla tergantung saat benda kenyal milik Erwin sudah mendarat lembut dibibirnya. Refleks dia menutup matanya, gugup dan takut, perasaannya campur aduk karena baru pertama kali merasakan. Ciuman pertamanya sudah direbut oleh pria yang sudah menjadi suaminya itu.
'Dia adalah suamimu dan ladang pahalamu, Dil. Kamu harus siap apa pun yang diinginkan kepada dirimu,' gumam Dilla mencoba menerima. Tangan Dilla menarik kemeja navy yang digunakan Erwin, saat Erwin mengigit pelan bibir bawahnya.
Erwin melepaskan pangutan bibirnya, mencium kening istrinya yang masih memejamkan mata.
"Apa kamu sangat menikmatinya? hingga matamu masih terpejam?" tanya Erwin meledek, dia meniup-niup mata Dilla agar gadis itu membuka matanya. Erwin tahu wanitanya itu sangat kaget dengan barusan yang dia lakukan.
Dilla membuka matanya, menaruh wajah garang.
"Jangan sekali-kali kamu menghina suamimu sendiri! dan stop memanggilku dengan sebutan 'Pak', aku suamimu sekarang, bukan atasanmu lagi," titah Erwin menyentil pelan kening istrinya yang masih terdiam.
"Lalu aku manggil apa dong?" tanya Dilla meminta pendapat Erwin, "Mas, A'aa, Bang–"
"Sayang!" potong Erwin cepat penuh keyakinan.
"Mas aja, aku nggak suka panggil gituan." Dilla melepaskan tangan kekar Erwin dari lengannya, menaruh wajah melas.
"Sudah deh, perutku sakit, Pak. Ee maksudku, Mas." Dilla membenarkan ucapannya saat Erwin sudah melotot mengancam.
"Bohong!" sanggah Erwin, terlihat sekali wanita yang berdiri di depannya itu berbohong dari gerak-gerik, "kamu ingin menghindariku?" tanyanya lagi.
"Ii nggak percaya, aku mana bisa bohong, Mas."
__ADS_1
Suara azan isya' berkumandang dari musholla dekat dengan kediaman keluarga Martadinata, membuat kedua insan yang sedang berdebat berhenti sejenak sampai azan selesai.
"Nggak usah mandi, nanti kamu sakit." Erwin memperingati, dia baru sadar bahwa hari sudah mulai larut.
"Udah biasa aku mandi jam segini, Pak. Mas maksudku." Dilla berlari kecil ke kamar mandi meninggalkan Erwin yang kesal terhadap dirinya.
***
Bara, Erwin, dan Vernandes berjalan beriringan masuk rumah setelah mereka bertiga selesai melaksanakan sholat isya' berjama'ah di mushola.
"Assalamu'alaikum ..." ucapan salam serempak ketiga pria itu. Namun, tidak ada menyahut salam mereka.
"Wa'alaikumussalam, Tuan," jawab Bibi Inem, " Nona Famira dan Nona Dilla lagi sholat, Tuan," ucapnya lagi. Wanita paruh baya itu mengerti saat melihat para tuan mudanya mencari keberadaan istrinya.
Bara dan Erwin mengaguk pelan, sementara Vernandes berjalan duluan ke kamarnya.
"Gue bersyukur lo nikah, akhirnya nggak ada yang urus, urusan rumah tangga gue," tutur Bara penuh penekanan. Bara menjatuhkan bobot badannya ke atas sofa. Menatap tajam ke arah Erwin yang duduk berhadapan dengan dirinya, kedua pria itu tidak pernah akur-akur. Selalu saja berdebat tidak jelas padahal umur mereka sudah besar. Tetapi, sikap keduanya masih seperti anak kecil.
"Urusan adik gue, tetap gue urus! sekalipun gue sudah nikah. Lo ingin semena-mena dengan adik gue?" Erwin bertanya sengit. Pria yang menggunakan baju koko itu melemparkan sajadah di tangannya tempat di wajah Bara.
"Cih ..." Bara berdecak kesal, "mau gue tonjok lo, Win. Gue habis sholat, nggak ingin berdebat unfaedah dengan lo!" Bara beranjak pergi, melemparkan kembali sajadah ke wajah pemiliknya, "dekat dengan lo bikin dosa gue bertambah!" ujarnya saat berjalan ke arah kamar.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak
__ADS_1
Makasih