Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
96


__ADS_3

═════════•❁❁•═════════


"Jangan bandingkan dirimu dengan siapapun karena perbandingan akan menghilangkan kesenangan dari apa yang kamu miliki,


dan ketika kamu tidak melihat apa yang bukan milikmu, kamu akan merasakan kenikmatan yang kamu miliki."


Catatan Muslimah


═════════•❁❁•═════════


Tepat pukul 23:58, Famira segera beringsut bangkit dari tidurnya, melirik ke arah suaminya yang masih tertidur pulas. Famira menyungging senyum tipis. Berjalan pelan-pelan keluar kamar untuk mengambil sesuatu.


Famira kembali ke kamar dengan kue ulang tahun sudah ada di tangannya.


Kecupan demi kecupan singkat mendarat di wajah Bara dari Famira, supaya suaminya itu bangun. Bara yang mendapatkan itu menggeliatkan tubuhnya.


"Jangan menggodaku, Ra," ucap Bara dengan suara serak khas bangun tidur. Matanya masih terpejam.


"Barakallah fii umrik suamiku," bisik Famira pelan di daun telinga Bara.


Bara tersenyum mendengar ucapan selamat ulang tahun itu dari bibir istrinya, Bara membuka bola matanya, menepuk jidat dengan sebelah tangannya. Kenapa dia lupa dengan hari kelahirannya.


"Surprise ... tiup lilinnya Mas," pinta Famira penuh kebahagiaan menyodorkan kue ulang tahun itu di hadapan Bara. Bara segera duduk, dengan penuh antusias dan kebahagiaan Bara meniup lilin itu.


"Pantas saja dari pagi sampai malam ini nggak mau ngomong dan cuek sama mas, gara-gara ini, yah." Bara memotong kue itu, menyuapi ke Famira.


Famira menjawab cengengesan, "Maafin, Famira, Mas. Famira memang sengaja hehehe ...."


"Hm, tapi ... makasih Sayang surprisenya loh." Bara mengecup kening Famira.


"Famira nggak bisa romantis, Mas. Memberikan kejutan ini aja, Famira melakukan seadanya dan sebisa Famira. Tapi, Famira yang bikin sendiri kuenya spesial untuk suamiku."


"Siapa bilang nggak romantis? Ini mah sudah romantis sekali, Sayang. Terima kasih istriku." Bara tak henti-hentinya mengecup kening Famira.


"Famira juga berterima kasih kepada Mas, karena sudah menjadi imam terbaik untuk Famira, sudah membimbing dan mengingatkan Famira dalam segala hal. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan keberkahan untuk Mas dan untuk keluarga kita. Aamiin." Famira mengucapkan harapan dan do'anya, dia langsung memeluk erat tubuh kekar Bara.


"Aamiin." Bara mengamini do'a dan harapan istrinya itu, "Nggak ada kado buat mas, Sayang?" tanya Bara penuh harap, membelai lembut rambut panjang milik Famira.


"Ada dong, Mas," jawab Famira. "Tutup mata dulu," pintanya. Bara mengaguk paham.


"Boleh buka mata sekarang, nggak?" tanya Bara tidak sabaran.


"Iya."


Famira memberikan sebuah sweater rajutan ke tangan Bara. "Semoga suka ya, Mas," tuturnya dengan senyum yang tidak pudar.

__ADS_1


"Bikin sendiri, Ra?" tanya Bara penasaran.


"Iya, Mas. Alhamdulillah Famira bisa selesaikan dalam dua minggu. Suka nggak?" tanya Famira. Famira sudah beberapa bulan terakhir ini belajar merajut demi membuat kado spesial untuk Bara dengan hasil jerih payahnya sendiri. Famira membuat sweater rajutan karena Bara sangat banyak mengoleksi pakaian tersebut. Jadi, Famira berpikir mungkin Bara akan suka, bila dia akan membuatnya sendiri.


"Suka banget, Sayang. Mas akan pakai terus, makasih sekali lagi." Bara memeluk tubuh Famira dengan erat.


Setelah itu, mereka berdua melaksanakan sholat tahajud dengan khusyu'.


***


Setelah selesai melaksanakan sholat subuh. Erwin sudah memakai kaos santai biasa dan training. Dia sudah berniat akan jogging pagi ini.


"Ayolah, Sayang. Jogging bareng." Erwin terus membujuk Dilla yang sedang memperbaiki seprei ranjang itu.


Dengan kukuh Dilla tetap menggelengkan kepalanya pertanda 'tidak mau'. Bukan karena apa, Dilla tipe perempuan malas sekali olahraga.


"Sayang ...." Erwin sudah merengek kesian kalinya. Menunjukkan muka melas terbaiknya, berharap istrinya luluh.


Dilla menoleh ke arah Erwin yang berdiri di sampingnya, Erwin sudah menekuk wajahnya.


"Iya ... iya aku mau kok, Mas," jawab Dilla pasrah, tidak tega melihat suaminya sedih bila dia menolaknya lagi. Dilla memutar tubuh menghadap Erwin sepenuhnya. "Tapi jangan jauh-jauh larinya Mas, aku capek," lanjutnya lagi. Erwin menarik kedua pipi Dilla, pria ini bahagia sekali. Akhirnya Dilla luluh. "Nanti aku gendong kalau capek. Cepat ganti bajunya. Aku tunggu di bawah, jangan lama, Sayang."


"Iya." Dilla menghentakkan kakinya malas ke almari mengambil training dan baju kaos berwarna abu-abu berlengan panjang. Tak lupa dipadukan dengan jilbab senada yang membaluti kepalanya.


"Aku sudah selesai, Mas," ucap Dilla menuruni tangga.


Dilla mengaguk setuju.


****


"Mau jogging di mana, Mas?" tanya Dilla saat dia sudah selesai mengenakan sepatu sneaker.


"Dari sini, sampai jalan raya depan sana," sahut Erwin santai.


"Jauh banget, Mas." Dilla sudah tampak mengeluh.


"Nggak jauh kok, kamu aja yang malas olahraga. Makanya jadi pendek gini," cibir Erwin merangkul pundak Dilla. Tinggi badan Dilla hanya mencapai bahu Erwin.


"Mana ada, aku tinggi kok. Mas aja yang ketinggian kali!" sahutnya membela diri, tidak terima dengan hinaan Erwin.


Erwin tidak mau berdebat lagi, dia menarik tangan Dilla untuk berlari beriringan dengan disampingnya. Dilla nurut saja.


"Ramai juga yang jogging pagi ini, Mas," ucap Dilla di sela-sela larinya.


Erwin hanya terkekeh menanggapinya.

__ADS_1


Baru beberapa meter berlari, napas Dilla sudah ngos-ngosan saja. "Mas tungguin, napa!" kata Dilla, Erwin berlari cepat sekali dari dirinya.


Erwin berhenti, memundurkan langkahnya dan berdiri sejajar dengan Dilla yang sempat ketinggalan.


"Ayo lari lagi, Dilla." Erwin menarik kembali tangan Dilla. Berpura-pura tidak peduli dengan Dilla yang sudah mengeluh untuk istirahat dulu.


Brugh!


Seorang wanita seumuran dengan Dilla yang jogging di sekitar situ tak sengaja menabrak tubuh Dilla, Dilla hampir saja jatuh karena kekurangan keseimbangannya. Namun, dengan gerak cepat Erwin menahannya.


"Maaf, Mbak. Nggak sengaja barusan."


"Iya, nggak apa-apa."


"Kalau lari lihat-lihat dong. Untung istriku nggak kenapa-kenapa." Nada suara Erwin tampak tidak senang. Erwin dapat melihat, wanita yang berambut pirang dan mengikatnya ke atas itu memang sengaja menabrak tubuh istrinya.


Wanita yang menabrak Dilla itu langsung berlari secepat kilat, meninggalkan Erwin yang kian emosi.


"Aku nggak apa-apa, Mas." Dilla meyakinkan dirinya pada Erwin.


"Udah capek? Kita istirahat aja dulu," kata Erwin, dan dibalas anggukan kecil oleh Dilla. Erwin mengajak Dilla untuk istirahat di salah kursi besi panjang yang ada di bawa pohon di sekitar situ.


Dilla duduk santai sambil bersholawat, menunggu Erwin yang pergi membeli minuman sebentar.


"Hah!" Seseorang dari arah belakang mengagetkan Dilla.


"Astaghfirullah, Rendi! Mau bikin aku mati jantungan?" Dilla bertanya sengit.


Rendi cengir kuda menanggapi lalu mendudukkan dirinya di samping Dilla. Rendi tetap menjaga jarak dari Dilla


"Tumben jogging kamu, Dil. Kesambet apa?"


"Emang salah?" Dilla bertanya balik.


"Nggak juga sih."


"Kamu juga tumben, jogging." Dilla melirik sekilas ke arah Rendi.


"Kak Rendi, kok aku ditinggalin sih ....," teriak cempreng Jessika.


Jessika menatap Dilla tidak suka. Jessika dapat melihat Rendi dan wanita berjilbab yang tidak dikenal itu sepertinya akrab dan dekat. "Siapa kamu?" tanya Jessika agak ketus, Jessika langsung duduk di samping Rendi. Memeluk lengan Rendi dengan manjanya.


"Dia istriku," sahut Erwin yang berjalan ke arah mereka, ditangannya sudah ada sebotol air minuman kemasan.


"Berarti kita keluarga dong." Jessika memberikan senyum tipis, dia sudah salah sangka pada Dilla. Jessika mengulurkan tangannya ke arah Dilla, Dilla pun sebaliknya. "Panggil aku Jessika aja, calon istri kak Rendi." Dengan bangga Jessika memperkenalkan dirinya. Rendi yang mendengar itu bersikap acuh tak peduli. Rendi memberikan isyarat kepada Dilla untuk tidak mempercayainya.

__ADS_1


"Benar? Jadi kalian sebentar lagi nikah?" Erwin bertanya penasaran.


"Iya, Kak Erwin."


__ADS_2