
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
Barangsiapa yang dirinya terkalahkan oleh kuatnya syahwat dunia, maka ia akan senantiasa menjadi budak ahli dunia dan barangsiapa yang qana'ah (menerima karuniaNya dengan lapang dada), maka akan hilang ketundukannya pada dunia.
(Al-Habib Ali Masyhur bin Hafidz)
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
Seorang itu pasti diuji dengan kondisi sehat sejahtera, agar terlihat bagaimana syukurnya. Atau diuji dengan bencana, agar terlihat bagaimana sabarnya.
"Dimana istri gue, hah?" bentak Bara dengan suara yang melengking tinggi, dia sudah menghajar Rafael habis-habisan. Tidak ada kata 'ampun' untuk Rafael baginya saat ini.
Saking emosinya Bara, saat tiba di markas Rafael pria ini langsung menghancurkan apa pun yang di laluinya. Dia datang tanpa anak buahnya, 30 anak buah Rafael berhasil dia singkirkan dengan tangan kosong saat mereka mencoba menghalangi jalan Bara.
Ilmu bela diri Bara cukup tinggi, pria ini dulu pernah belajar ilmu bela diri di Jepang, saat dia mengambil kuliah S2 di sana. Bahkan Bara sering mengikuti kompetisi bela diri pada usia yang remaja. Menjadi orang hebat dan terkuat adalah cita-cita Bara sejak dulu saat usianya belia. Dia ingin menunjukkan dan membalas dendam kepada mereka yang pernah menghina dan mencacinya dulu.
Rafael sudah tergeletak lemah di lantai, darah segar mengalir dari beberapa anggota tubuhnya. Pria ini sudah kalah telak! Dengan seorang Bara Sadewa.
"Jawab, Rafael!" Bara kembali memberikan tinju di wajah Rafael saat melihat pria itu masih bungkam.
Seringai jahat tetap tercetak di bibir Rafael. Pria ini tidak ada takut-takutnya. "Bahkan gue sudah menikmati bibir mungil istri lo,
rasanya—"
Bug!
Bug!
Wajah Bara langsung merah padam mendengar ucapan Rafael. Pukulan demi pukulan mendarat di wajah Rafael. Tetapi, Rafael tidak peduli dengan rasa sakit sekujur tubuhnya.
Rendi yang berdiri di samping Bara bergidik ngeri, dia juga tidak mau melerai pertikaian keduanya. Atasannya sekaligus sahabatnya itu sudah hilang kendali.
'Itu akibat lo berani bermain api dengan Bara, Rel. Kematian Kakak lo yang dulu bukanlah kesalahan Bara! lo sudah salah paham selama ini, Rel,' gumam Rendi menatap lurus Rafael yang kondisinya sudah sangat mengenaskan. Mereka bertiga saling mengenal, ada kejadian beberapa tahun lalu yang ingin Rafael balas dendam kepada Bara. Bukan hanya dendam kematian kakaknya, ada alasan yang lebih spesifik lagi yang membuat Rafael ingin menghancurkan kehidupan Bara dan membuat dirinya kembali lagi ke kota itu setelah beberapa tahun menghilang entah kemana.
Rafael tertawa puas, dia tetap merasa menang setidaknya dia sudah menikmati sedikit wanita milik Bara. Musuhnya selama ini.
"Beraninya lo menyentuh wanita gue!" Bara mengeluarkan pisau yang tajam, Bara sangat tidak terima jika pria lain menyentuh wanita miliknya selain dirinya, "sudah saatnya lo mati!" Pisau tajam itu sudah mendekati tubuh Rafael.
"Berhenti, Bara!" Rendi yang sedari diam, langsung menahan tangan Bara, dia tidak rela bila sahabat itu di cap sebagai 'pembunuh'.
"Jangan menahan gue, Ren!" Bara menepis tangan Rendi dari lengannya dengan kasar.
"Bila lo seperti ini, Famira akan kecewa sama lo!"
__ADS_1
Deg!
Pisau tajam itu terlepas dari tangan Bara dan langsung terjatuh ke lantai setelah mendengar ucapan Rendi, Bara jadi teringat dengan nasihat Famira. Pikirannya melayang mengingat perkataan Famira beberapa bulan lalu saat dia ingin membunuh Doni.
Bara bangkit berdiri.
"Luar biasa, gue baru kali ini melihat kehidupan lo sangat dipengaruhi oleh seorang wanita!" Rafael mencoba bangkit namun, tendangan telak dari Rendi kepadanya.
"Lo seharusnya bersyukur, Rel! setidaknya lo tidak mati mengenaskan malam ini!" ujar Rendi berdecih sinis.
Rafael hanya berdecak sial, tenaganya sudah terkuras habis. Satu tinjuan dari kepalan tangan Bara lagi, berhasil membuat darah keluar dari hidung Rafael.
"Bereskan dia, Ren!" titah Bara.
"Oke, Bar!" jawab Rendi. Rendi segera menelepon polisi untuk menangkap Rafael.
"Selamat menikmati jeruji besi, Rel," bisik Rendi tepat di telinga Rafael. Sebelum Rafael benar-benar tidak sadarkan diri.
[ Nona muda berada di kediaman Rafael. Kediaman Rafael tidak jauh dari sini, bos! ] ucap seseorang dari telepon.
[ Kerja bagus, kirim shareloc–nya!" ]
[ Baik, bos! ]
•••
Sholawat badar dari para santri yang duduk di kursi belakang mengiri perjalanan malam sebuah mobil yang baru saja pulang dari acara 'Musabaqah Tilawatil Qur'an ( MTQ )'.
Mobil sedan hitam itu berhenti di pinggir jalan yang sepi yang jauh dari rumah penduduk. Pemuda yang menyetir mobilnya itu memicing matanya saat melihat ada sosok wanita yang tergeletak di pinggir jalan raya itu.
"Kenapa tiba-tiba berhenti, Faiz?" tanya heran Kyai Harun pada putranya yang mengemudikan mobil di sampingnya itu.
Pemuda yang menggunakan baju koko tak lupa dengan peci itu tersenyum tipis. "Aseef, Bah. Sepertinya ada wanita tergeletak di pinggir jalan itu," tutur pemuda itu lalu membuka pintu mobil.
"Innalilahi," jawab Kyai Harun segera menyusul keluar.
"Kalian tunggu di dalam saja," kata Kyai Harun pada santri putranya yang duduk di kursi belakang.
"Na'am, Kyai," sahut kompak dan nada suara sopan tiga santri putra itu.
Mobil yang ada di belakangnya ikut berhenti, mobil itu juga rombongan dari santri Kyai Harun yang membawa santri putri. Wanita berjilbab syar'i turun dari mobil itu.
"Ustadzah Laili, periksa kondisi wanita itu," tutur Kyai Harun. Bagaimanapun Kyai Harun ataupun Faiz putranya bukan mahram untuk memegang. Ustadzah Laili mengaguk.
__ADS_1
"Innalilahi, wanita ini seperti korban tabrakan lari, Kyai," tuturnya sopan. Wanita berjilbab syar'i itu segera memeriksa urat nadi di pergelangan tangan wanita yang sudah tidak sadarkan diri dan berlumuran darah itu. "Cukup lemah, Kyai. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," ucapnya lagi.
Dengan sigap mereka segera menolong dan membawa wanita itu.
"Bertahanlah, ukhty. Ana yakin ukhty perempuan yang kuat," ucap ustadzah Laili itu saat memangku kepala wanita berjilbab seperti dirinya. Meski tidak kenal dia ikut khawatir, apalagi saat melihat darah yang keluar cukup banyak di kening dan di bawa kakinya.
•Na'am 'Iya'
•Aseef 'Maaf'
•Ana 'Saya'
•Ukhty 'Saudara perempuan atau kakak perempuan'
••••
Keringat dingin membasahi wajah lelaki paruh baya yang terbangun karena mimpi buruk tentang putrinya. Lelaki paruh baya itu tak lain Vernandes. Darah di mana-mana terlihat jelas di mimpinya dari tubuh putrinya.
Vernandes segera mengambil air minum yang berada di atas nakas dengan tangan bergetaran, bayang- bayang mimpi itu teringan di kepalanya. Dia melirik jam dinding. Pukul setengah dua belas malam, Erwin belum juga pulang. Sejak mengetahui Famira di culik kesehatan Vernandes drop, dia sangat khawatir dengan kondisi putrinya.
'Ayah harap kamu baik-baik, Nak. Ayah sangat mengkhawatirkanmu ...' gumam Vernandes, lelaki paruh baya itu bangkit dan segera mengambil air wudhu. Melakukan shalat malam untuk menghilangkan kegundahan hatinya dan memohon supaya putrinya selalu dalam lindungan-Nya.
Tak hanya Vernandes, Ummi Hana mengalami mimpi serupa. Foto Famira yang ada di dinding rumahnya jatuh ke lantai.
"Ya Allah firasat apa ini. Famira bagaimana keadaanmu, Nak. Kenapa Ummi tiba-tiba mengkhawatirkan dan sangat mencemaskanmu," batin Ummi Hana.
[ Assalamu'alaikum, Erwin. ] ucap Ummi Hana saat sambungan teleponnya sudah terhubung dengan Erwin di seberang sana. Wanita paruh baya itu sangat khawatir dengan kondisi Famira. Ummi Hana sudah mencoba menelpon Bara namun, tidak diangkat. Akhirnya dia memutuskan menelpon Erwin.
[ Wa'alaikumussalam, Ummi. Ada apa, Ummi menelepon Erwin selarut malam ini? ]
[ Famira sudah kalian temukan? Ummi sangat khawatir dengannya. ] Bulir air jatuh di pelupuk mata wanita paruh baya itu. Pertanda dia benar-benar khawatir.
Erwin mengembuskan napas gusar.
[ InsyaaAllah kami akan menemukan Famira secepatnya, Ummi. Ummi jangan terlalu khawatir. Ummi istirahatlah, Erwin dan yang lainnya masih mencari keberadaan Famira. ]
Ummi Hana kembali ke tempat tidurnya, mencoba memejamkan matanya. Namun, tetap saja rasa khawatir yang berlebihan kepada Famira membuat Ummi Hana tidak bisa tidur.
.
.
.
__ADS_1
.
Vote ya, biar aku semangat up tiap harinya^^