Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
99


__ADS_3

━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━


وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ


"Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya."


(QS. An-Nahl [16 ] : 18)


━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━


Setelah sampai klimaks Erwin menjatuhkan tubuhnya ke samping Dilla, mengatur deru napasnya yang ngos-ngosan. Wajahnya pria ini tampak bahagia setelah mendapatkan apa yang diinginkan selama ini.


Dilla menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, menyembunyikan wajahnya yang sudah merah merona. Dilla masih saja tetap malu, meskipun Erwin sudah melihat segala lekuk tubuhnya.


Erwin menarik tubuh Dilla ke dalam dekapannya. "Terima kasih, Sayang," tutur Erwin mengecup puncak kening Dilla. Telunjuk tangan Erwin mengelap keringat di pelipis istrinya. Dilla membalas dengan anggukan kecil. Dia sudah sangat kelelahan malam ini, ingin istirahat cepat.


"Aku mau tidur sebentar, nanti bangunin aku sholat tahajud, yah Mas," kata Dilla membalas pelukan Erwin. Menyembunyikan kepalanya di dada Erwin yang telanjang.


"Iya, Sayang. Maaf membuatmu kelelahan seperti ini." Erwin semakin mempererat pelukannya. Erwin tidak sabar memiliki keturunan, dan menjadi seorang ayah. Semoga saja secepatnya Tuhan memberikan dirinya dan Dilla keturunan.


Disisi lain, tepatnya di kediaman keluarga Bara dan Famira. Famira merasa risih dan aneh dengan tingkah Bara pagi ini. Bara terus melihat dirinya dengan menahan tawa.


"Ada yang salah dengan penampilanku, Mas?" tanya Famira bingung, Famira semakin kesal melihat Bara semakin menjadi-jadi ketika ditanyakan. Bara tidak menjawab hanya tertawa cengengesan melihat leher Famira.


Ummi Hana menyembulkan kepalanya sedikit di balik pintu. "Nak," panggil ummi Hana kepada Famira.


"Iya, Ummi. Ada apa?" Famira berjalan ke arah pintu, menghampiri ummi Hana.


Ummi Hana jadi malu sendiri melihat leher putrinya. Famira belum mengenakan jilbabnya, sehingga leher jenjangnya terekspos di hadapan ummi Hana. "Kamu lihat kaca mata, Ummi? Ummi lupa taruh dimana, Nak ....," ucap ummi Hana mengeluh. Pagi-pagi ini dia sudah sibuk mencari keberadaan kaca matanya. Penglihatan ummi Hana sudah sedikit terganggu bila melihat benda-benda dengan jarak jauh mungkin karena faktor usianya, bukan hanya terganggu penglihatannya saja, dia juga sudah mulai pikun.


"Kalau nggak salah, semalam Famira lihat di kamar Atha, mungkin ada di situ, Ummi," sahut Famira. Ummi Hana mengaguk paham.


"Ummi kenapa lihat Famira gitu?" Tatapan ummi Hana sama persis dengan tatapan suaminya saat ini.


"Coba pergi ke cermin, Nak. Jangan terkejut yah." Ummi Hana segera pergi dari kamar putrinya, tertawa ringan, Famira masih saja polos.


Dengan penuh penasaran, Famira melangkah kakinya ke arah cermin besar di kamarnya itu. Setelah bangun tidur Famira memang belum bercermin.


"Astagfirullahaladzim." Famira kaget bukan main saat melihat lehernya penuh dengan bekas merah dimana-mana. Netra Famira melirik ke arah Bara yang sudah tertawa terbahak-bahak di atas sofa.


"Mas Bara!" Famira mencubit pinggang Bara penuh dengan kekesalan. Siapa lagi yang lakuin ke dirinya kalau bukan Bara.

__ADS_1


"Ampun ... ampun, Ra." Bara mengusap bekas cubitan ganas dari Famira.


"Ini yang bikin Mas ketawa dari tadi ya?" tanya Famira geram. Dia tidak berhenti mencubit pinggang Bara.


"Nggaklah," sahut Bara menahan tangan Famira untuk berhenti mencubit pinggangnya, "Lagi pula bukan mas yang ngelakuin itu, mas semalaman lama pulang, 'kan?" Bara mengelak tidak mau mengaku.


Famira mengingat-ingat kejadian semalam, memang tidak terjadi apa-apa dirinya dengan Bara. Bara juga semalam memang lama pulang karena harus menjaga Jessika di rumah sakit, "Terus siapa? Masa hantu."


"Mana mas tahu," jawab Bara. Padahal memang dirinya yang melakukan pada Famira yang sudah tertidur pulas semalam.


'Nggak apa-apalah aku bohongi kamu, Ra. Kamu masih saja polos,' batin Bara dalam hatinya.


Bara menarik tubuh Famira untuk duduk di sampingnya.


"Makin cantik loh, ada tanda seperti ini, Sayang." Bara mencium kedua pipi Famira secara bergantian, walaupun mendapat penolakan dari Famira.


Famira memegang kepalanya tiba-tiba terasa pusing dan mual setelah mencium bau badan suaminya.


Famira berlari kecil ke kamar mandi, untuk mengeluarkan isi perutnya. Hanya cairan bening yang keluar. Bara ikut bangkit menyusul Famira ke dalam kamar mandi.


"Nggak apa-apa, Ra?" Bara bertanya panik. Mengusap lembut punggung istrinya itu. "Mas akan panggil dokter, secepatnya," sambungnya lagi.


"Pusing, Mas," keluh Famira, menyenderkan kepalanya ke dinding kamar mandi. Mengeluarkan kembali isi perutnya.


"Kamu harus istirahat, Ra."


"Jangan dekat-dekat dengan Famira, Mas. Famira makin mual mencium bau parfum, Mas." Famira mendorong pelan tubuh Bara dari tubuhnya. Famira berjalan ke kasur ingin mengistirahatkan tubuhnya.


"Aku sudah mandi, Sayang." Bara kembali membantu Famira untuk berjalan ke arah kasur.


"Tolong Mas, jangan dekat-dekat dengan Famira," tegas Famira, dia kembali mendorong tubuh Bara.


Bara mencium tubuhnya. "Harum kok, ada yang aneh ini." Bara sudah frustrasi, secepat kilat dia meraih telepon genggamnya yang berada di atas nakas.


[ Datang secepatnya ke rumah! Jangan lama-lama. Istriku lagi sakit, lima menit harus sudah ada di rumah. Kamu tahu, konsekuensinya bila kamu lama! ] tegas Bara saat saluran teleponnya sudah terhubung dengan dokter pribadi keluarganya.


[ Baik, Tuan Bara. Sa--ya akan segera ke sana secep--atnya. ] sahut dokter wanita itu terbata-bata.


[ Ingat jangan lama! ] Bara kembali menegaskan, telepon pun berakhir. Bara mondar-mandir di depan pintu kamar menunggu kedatangan dokter itu.


'Sialan, kenapa lama sekali dokter itu datang, aku nggak mau istriku kenapa-kenapa!' Bara mengacak-acak rambutnya, kekhawatiran kian menjadi-jadi melihat Famira keluar masuk kamar mandi. Ingin membantu tapi, Famira tetap menolak bantuannya.

__ADS_1


"Maaf. Tadi ke jebak macet, Tuan." Dokter berjilbab itu menundukkan kepalanya dalam-dalam saat melihat tatapan tajam dari Bara.


"Alasan saja, cepatan periksa istriku! Malah bengong di situ!" gertak Bara, yang mampu membuat dokter berjilbab itu tersentak kaget dan ketakutan. Dokter wanita itu segera berjalan ke arah Famira dan memeriksanya.


Bara sekarang memilih siapa-siapa saja yang boleh berurusan dengan Famira, termasuk dokter pribadinya.


Ummi Hana yang melihat kedatangan dokter, segera naik ke atas menuju kamar Bara dan Famira bersama Atha di dalam gendongannya.


"Apa terjadi, Nak?" tanya ummi Hana ikut khawatir.


"Nggak tahu, Ummi. Famira tiba-tiba mual dan pusing. Sikapnya juga aneh, masa nggak boleh aku sentuh." Bara mengusap wajahnya secara kasar. Bara mengambil alih tubuh Atha ke dalam gendongannya.


"Ayah, bunda sakit?" Anak kecil laki-laki itu ikut khawatir juga.


"Iya, Tha." Bara mencium pipi Atha.


"Dokter, kenapa kamu lama sekali memeriksa istriku?" Bara bertanya sengit. Tidak tenang melihat wajah Famira yang pucat.


"Sabar, Nak. InsyaaAllah Famira akan baik-baik." Ummi Hana mencoba menenangkan menantunya itu.


Dokter sudah selesai memeriksa kondisi Famira.


"Bagaimana? Apa yang terjadi dengan Famiraku?" Bara bertanya tidak sabaran.


Dokter itu tersenyum tipis, begitu pun dengan Famira.


"Selamat, Tuan. Nona Famira positif hamil," jawabnya.


"Hamil? Maksudnya istriku hamil, Dok?" Bara masih tidak percaya.


"Iya, Tuan. Istri Anda


hamil," tegas dokter kembali.


"Alhamdulillah," ucap ummi Hana dan Bara secara bersamaan.


Bara segera bersujud syukur, akhirnya do'anya untuk mempunyai keturunan lagi terkabul juga.


"Ye, Atha akan punya adik." Atha naik ke atas kasur dan memeluk tubuh Famira. "Bunda, nggak boleh capek," kata Atha lagi mencium pipi Famira.


"Bibi Dokter benar, 'kan?" Atha meminta persetujuan dari dokter berjilbab itu.

__ADS_1


"Iya, Sayang." Dokter mengaguk setuju, merasa gemas dengan tingkah lucu anak kecil laki-laki itu.


__ADS_2