
━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━
“Perempuan bila sudah jatuh cinta, ia akan merasakan nikmat meskipun terluka.”
–Ustadz Muzammil Hasballah–
━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━
Gadis yang menggunakan jilbab pashmina warna peach itu tampak sibuk pagi ini, para karyawan menyuruhnya tanpa henti-henti.
"Dilla bikin aku teh," teriak seseorang wanita berambut pendek dari meja kerjanya.
"Pergi print dokumen ini, Dilla," teriak karyawan pria sambil mengangkat flashdisk di tangannya.
"Fotocopy proposal punya aku dulu, Dil."
Dilla mengembuskan napas panjang.
"Kalian satu-satu dong kalau nyuruhnya ...," Dilla berucap kesal kepada ketiga karyawan itu. Dilla cukup dekat, makanya dia berbicara agak ketus.
"Yang aku lebih penting, lima menit lagi aku harus serahkan pada Pak Erwin," ujar pria yang umurnya tiga tahun lebih besar daripada Dilla. Dia bangkit berdiri dari kursi dan memberikan flashdisk itu pada Dilla, "berikan langsung ke ruangan Pak Erwin ya, Dilla. Aku masih banyak pekerjaan."
"Aku nggak bisa mengantarkannya, Kak Ilham. Bertemu dengan Pak Erwin membuat moodku hilang. Aku pergi print aja."
"Sudahlah, kamu harus mengantarkan sekalian!" final Ilham.
"Ya, oke deh. Kak Ilham maksa, bilang aja Kak Ilham ingin mendekatkan aku dan Pak Erwin. Biar jabatan Kak Ilham naikkan?" tanya Dilla kesal. Ilham hanya cengir kuda menanggapinya.
"Kamu cocok Dil, sama Pak Erwin loh," celutuk wanita yang berambut pendek yang bernama Dinda.
"Pak Erwin juga seperti cinta sama kamu, Dil," timpal Ilham, "Pak Erwin nggak memandang status sosial kamu, Pak Erwin pria yang langka. Hanya wanita hebat bisa menjatuhkan hati Pak Erwin," ucapannya lagi.
"Dan kamu satu-satunya wanita yang dipilih dari seribu wanita yang antri untuk mendapatkan hati Pak Erwin," ucap Sofia membuka suara yang sedari hanya diam menyimak.
"Yuhu ... benar tuh. Aku iri loh pada kamu, Dil," tutur Dinda.
Dilla yang mendengar pujian demi pujian kepada Erwin yang terlontar dari ketiga temannya itu hanya mendengar malas.
"Kalian menyebalkan!" Dilla menghentakkan kakinya kesal keluar dari ruangan itu.
Dilla sudah tiba di depan pintu ruangan Erwin, tidak ada cara lain selain menuruti perintah dari Ilham. Dilla mengambil napas dalam-dalam dahulu sebelum mengetuk pintu.
"Masuk saja!" ujar Erwin dari dalam ruangannya.
Dilla mengetuk jari telunjuknya di bawa dagu, dia berpikir bagaimana atasannya itu bisa mengetahui kehadirannya sedangkan dia belum mengetuk pintu atau pun berkata permisi untuk masuk.
'Apa Pak Erwin menyebalkan itu mempunyai indera keenam?' batin Dilla bertanya pada dirinya sendiri. Netranya melihat sudut ruangan, tidak ada Cctv di sekitar dia berdiri sekarang.
"Silahkan masuk, Nona." Sekretaris Max membuka pintu mempersilahkan untuk gadis yang disukai tuannya itu untuk masuk.
__ADS_1
Dilla terbuyar dari lamunannya, bulu kuduknya berdiri baru pertama kalinya sekretaris Max yang terkenal arogan dan dingin itu tersenyum kepada dirinya.
"Iya, Pak." Dilla segera masuk dan berjalan ke arah Erwin yang sibuk dengan handphonenya.
"Saya hanya ingin mengantarkan dokumen ini dari Pak Ilham, Pak." Dilla menyodorkan dukumen yang sudah dia print di hadapan Erwin.
"Duduk!" perintah Erwin.
"Kerjaan saya masih banyak, Pak. Saya harus segera keluar," tolak Dilla dengan sesopannya. Padahal didalam hatinya dia sedang menyumpah serapah Erwin.
"Nona Dilla." Max memperingati gadis itu untuk tidak membantah perintah tuannya.
Dilla duduk di sofa dengan terpaksa menuruti keinginan atasannya itu.
Erwin mengambil tissue di atas meja lalu menyerahkan ke tangan Dilla.
"Siapa yang menyuruhmu sampai kamu berkeringat dan kecapean seperti ini?" tanya Erwin saat melihat bulir keringat di kening Dilla. Terlihat sekali wanita yang sedang menundukkan kepalanya itu kecapean.
Dilla menerima tissue dari Erwin dengan tangan bergetar, dia tidak menjawab apa pun.
"Pecat siapa saja yang berani menyuruh wanitaku!" titah Erwin kepada sekretaris Max, sekretaris Max mengaguk paham.
Dilla membulatkan matanya mendengar perintah Erwin, apalagi dengan kalimat 'wanitaku' seenaknya jidatnya memanggil seperti itu. Padahal dia dan Erwin tidak mempunyai hubungan apa pun.
"Mereka tidak salah apa-apa, Pak. Jangan memecatnya, sudah menjadi kerjaan saya untuk menuruti perintah para karyawan, Pak." Dilla bersuara memohon. Dia takut ketiga teman-temannya itu menjadi korban juga.
"Kamu sekarang hanya menuruti perintahku, tidak ada orang lain yang berani menyuruhmu selain diriku!" ujar Erwin. Tangannya meraih gelas air putih yang ada di sampingnya, "minum!"
"Jangan sampai aku berkata lebih dari satu kali, Mufdilla!" Erwin mulai kesal dengan sikap keras kepala gadis dihadapannya itu.
"Anda tidak menaruh apa pun kan di dalam minum ini?" Dilla ragu-ragu untuk meminum air putih itu.
"Nggak, minum cepat!"
Secepat kilat Dilla meneguk air mineral itu.
"Besok bersiap-siaplah."
"Bersiap-siap untuk apa, Pak?" tanya Dilla penasaran.
"Hm."
"Saya serius, Pak. Bersiap-siap untuk apa?" tanya Dilla lagi. Dia begitu penasaran, saat melihat mimik wajah Erwin seperti bahagia.
"Kamu tidak perlu tahu," jawab Erwin dengan suara mulai dingin.
Tangan Dilla sudah gatal ingin mencakar-cakar muka atasan itu, karena kesal dia refleks mencubit lengan tangan Erwin.
"Kamu laki atau perempuan sih, nggak ada lembut-lembutnya jadi perempuan." Erwin mengusap bekas cubitan tiba-tiba dari Dilla. Cukup sakit, gadis dihadapannya itu sepertinya benar-benar kesal kepada dirinya. Dan Erwin menyukai itu.
__ADS_1
Dilla tertawa mengejek. "Maaf, Pak. Saya tidak sengaja."
"Handphonemu sini!"
"Saya tidak membawa handphone, Pak."
"Jangan membohongiku."
"Saya tidak bohong Pak, handphone ada di dalam tas saya di bawah."
Sekretaris Max yang sudah kembali mengalihkan pandangan Erwin dari Dilla.
"Dua puluh karyawan sudah saya pecat, Tuan!"
"Bagus, sekarang ambil tas wanitaku ini di dalam ruangannya."
"Baik, Tuan." Sekretaris Max menundukkan kepalanya sebelum pergi.
'Dua puluh orang, kok jadi banyak. Perasaan tidak sampai sepuluh orang yang menyuruhku tadi. Dasar atasan gila dan sekretarisnya juga,' gumam Dilla.
Tak lama sekretaris Max kembali membawa tas selempang milik Dilla dan menyerahkan pada tuannya.
Erwin menerimanya dan mengambil handphone android milik Dilla.
"Handphonemu jelek sekali!" cibir Erwin melihat handphone Dilla yang sudah pecah layarnya. Dan menurut Erwin handphone Dilla sudah tidak layak untuk digunakan.
"Saya membelinya dengan susah payah, nggak usah menghina, Pak."
"Buang handphone ini ke dalam tong sampah, Max."
"Jangan membuangnya! Pak Erwin kok jahat sih. Handphone ini berharga bagi saya meskipun jelek."
Erwin tidak mengindahkan keinginan Dilla, dia tetap keukeh menyuruh Max untuk membuang handphone Dilla.
Dilla tidak berkata-kata apa selain pasrah.
"Kamu bisa memakai handphone ini," ucap Erwin menyerahkan ponsel baru bermerek yang harganya sangat mahal.
"Saya tidak membutuhkan handphone ini, saya akan mencari handphone yang Anda buang itu." Dilla beranjak bangkit, tidak peduli dengan ucapan Erwin yang menyuruh untuk duduk kembali dan mengancam dengan berbagai hal.
"Aku menyukaimu dari segala hal Mufdilla Dzakiyah." Erwin tersenyum tipis dan meraih handphonenya untuk menyuruh Max mengambil kembli ponsel milik Dilla yang dibuangnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote seikhlas kalian yah. Biar author tetap semangat untuk up.
Terima kasih ^_^