Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
69


__ADS_3

━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


“Seandainya manusia itu mengetahui aib-aib dirinya yang telah ditutupi oleh Allah, niscaya ia akan menjerit dan menangis karena malu atas aib-aibnya sendiri, tanpa sempat memikirkan aib orang lain.”


[ Al-Habib Umar bin Hafidz ]


━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


"Selamat datang, Tuan!" sapa direktur rumah sakit menundukkan kepalanya saat melihat kedatangan Bara diikuti oleh Rendi dibelakangnya. Dia sudah mengetahui kedatangan orang yang cukup berpengaruh dalam pembangunan rumah sakit itu.


Bara hanya menatap datar dan tersenyum tipis.


"Pasien korban kecelakaan, ada dirumah sakit ini?" tanya Rendi mengambil alih pembicaraan.


"Ada tiga orang, Pak. Tetapi tinggal dua orang yang dirawat inap di sini, satunya sudah pulang kemarin."


Bara mengambil handphonenya dalam saku celananya, lalu memperlihatkan foto Famira ke wajah direktur rumah sakit itu.


"Apa istriku pernah dirawat di sini?" tanya Bara.


"I---ni istri, Tuan?" tanya direktur itu setelah melihat foto Famira di handphone mahal milik Bara, pernikahan Bara dan Famira memang belum banyak yang mengetahui, jadi jangan heran bila banyak orang yang syok bila mengetahuinya. Tubuh direktur rumah sakit itu langsung gemetaran. Jadi, pasien yang mereka tangani beberapa hari yang lalu ada Nona muda dari keluarga Wijaya dan bahkan istri dari seorang Bara Sadewa.


Direktur rumah sakit itu langsung berlutut dihadapan Bara, memohon ampunan karena tidak memberikan pelayanan yang terbaik kepada istri dari Tuannya itu. Apa yang terjadi kepada dirinya saat ini bila Tuannya itu mengetahui segala hal yang terjadi kepada istri dan calon bayinya.


"Bangunlah, aku tidak suka melihatmu seperti ini," ujar Bara dengan suara dingin.


Direktur itu tidak mengindahkan perintah Bara, dia tetap dengan posisinya berlutut di hadapan Bara.


"Tuan, saya mewakili segala tenaga medis yang menangani Nona muda, kami minta maaf. Maafkan saya, Tuan ...," ucapnya memohon pengampunan, "karena kami tidak dapat menyelamatkan kandungan Nona, maafkan kami Tuan," lanjutnya lagi.


Deg!


Tubuh Bara langsung melemah mendengar kalimat itu. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit, mengacak rambutnya frustasi.


"Keguguran?" tanya Rendi memastikan, direktur rumah sakit itu mengaguk.


Bara memegang kerah kemeja baju pria paruh baya yang merupakan direktur dari rumah sakit itu. "Dimana istriku sekarang?!" tanya Bara dengan nada suara naik dua oktaf. Dia masih belum terima kenyataan yang baru saja dia dengar, dia kehilangan calon putranya? Bara benar-benar merasa kehilangan sekali. Ingin dia menyuarakan bahwa Tuhan tidak adil padanya saat ini. Begitu banyak cobaan yang dilalui.


"Nona sudah pulang bersama–" kata pria paruh baya itu terpotong.


"Sama siapa, hah?" Emosi Bara sudah memuncak rahangnya mengeras, menahan amarah.


" Keluarga kyai yang membawa pulang Nona, kondisi Nona sudah membaik, Tua---n," jawab pria paruh baya dengan suara gemetaran.

__ADS_1


Bara melepaskan cengkraman tangannya di kerah kemeja direktur rumah


sakit itu. "Urusan kita belum selesai."


"Mungkin hari ini Bapak terakhir memegang jabatan direktur di sini!" bisik Rendi sebelum pergi melangkahkan kakinya mengajar Bara.


Bara berjalan terburu-buru ke dalam mobilnya. "Cari alamat keluarga kyai yang membawa Famira!" perintah Bara pada Rendi.


"Pondok pesantrennya tidak jauh dari sini berdasarkan alamat yang diisi dirumah sakit ini," jawab Rendi mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Bara.


•••


Satpam membukakan pintu gerbang pesantren saat melihat mobil mewah Bara tiba.


"Kami ingin bertemu dengan pemilik pesantren ini, bisakah Bapak mengantar kami?" tanya Rendi tersenyum tipis. Memberikan salam perdamaian melalui senyuman itu. Sementara Bara hanya diam membisu, dia sudah tidak tahan diri ingin bertemu dengan wanitanya.


"Tentu saja, mari ikut saya Pak," jawab satpam itu antusias. Rendi dan Bara mengekor dari belakang.


Bara dan Rendi duduk di kursi anyaman bambu menunggu Kyai Harun, mereka berdua jadi tidak enak karena menggangu istirahat siang dari pemilik pesantren itu.


"Ada perlu apa Nak, kalian datang kesini?" tanya sopan Kyai Harun tersenyum simpul ke arah kedua pemuda dihadapannya itu. Pria paruh baya yang menggunakan kopiah putih itu tidak mengenal sama sekali baik pada Bara maupun Rendi.


"Sebelumnya saya minta maaf, Kyai. Karena kelancangan dan sudah menganggu istirahat, Kyai. Kedatangan kami disini ingin menanyakan, apakah Kyai yang membawa pulang seorang wanita yang ada di rumah sakit A, dia adalah korban kecelakaan?" tanya Bara to the point, dengan nada suara ramah dan sopan sekali, "ini fotonya, Kyai." Melihat raut kebingungan di wajah Kyai Harun, Bara segera memperlihatkan foto Famira.


Kyai Harun tersenyum kembali lalu menepuk pundak Bara.


"Siapa, Kyai?" Rendi bertanya penasaran.


"Nak Erwin."


Bara dan Rendi mengembuskan napas lega.


"Apakah diantara kalian adalah suaminya?" tanya Kyai Harun.


"Saya suaminya, Kyai."


"Bersabarlah, Nak. Atas musibah yang menimpa istri dan calon anakmu."


Bara hanya bisa mengaguk, netra pria cokelatnya terlihat hampa dan putus asa.


"Terima kasih sudah menolong istri saya, Kyai." Bara mencium punggung tangan Kyai Harun sebelum berpamitan untuk pulang. Begitu pun dengan Rendi.


"Sudah sesama muslim kita saling membantu, Kyai doakan semoga Allah segera memberikan kalian keturunan yang sholeh dan sholehah nantinya."

__ADS_1


"Aamiin." Bara mengamini doa Kyai Harun.


"Do'akan saya juga Kyai semoga cepat nikah," celetuk Rendi.


"Insyaallah, Nak. Bila sudah waktunya Allah akan menghendaki," jawab Kyak Harun, "sering-seringlah berkunjung ke sini, pesantren ini selalu terbuka untuk kalian," kata Kyai Harun lagi sebelum Bara dan Rendi benar-benar pergi dari pesantrennya.


•••


Perjalanan dari pesantren milik Kyai Harun ke kediaman Martadinata cukup jauh, memakan waktu hampir dua jam.


Klakson mobil sudah dibunyikan beberapa kali oleh Rendi namun, tidak ada tanda-tanda pintu gerbang rumah mewah milik keluarga Martadinata itu terbuka.


"Woy, Pak Satpam lo budeg atau nggak sih. Buka gerbangnya, napa!" teriak Rendi dari dalam mobilnya.


Satpam itu membukakan pintu gerbang sedikit, dia berjalan ke arah mobil milik Bara.


"Tuan Erwin tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk dan bertamu ke dalam rumah."


"Gue mau ketemu sama istri gue, Pak!" tegas Bara menatap tajam satpam itu.


"Maaf Tuan Bara, Tuan Erwin melarang keras siapa pun untuk bertemu dengan Nona Famira, terutama Tuan Bara. Saya minta maaf, saya hanya menjalankan amanah dan tugas saya sebagai satpam ..." kata pak satpam itu lalu pergi dari mobil Bara. Dia kembali masuk dan menutup pintu gerbang itu kembali tanpa memperdulikan teriakkan Bara dan Rendi yang mengancam membunuhnya.


"Makin hari tuh anak ngeselin juga," kesal Rendi.


"Kita masuk paksa, gue nggak peduli dengan Erwin. Kalau dia berani halangi gue untuk bertemu dengan Famira. Dia tahu aja konsekuensinya!" Bara membuka pintu mobil dan berjalan ke arah gerbang. Rasa rindunya kepada Famira sudah sangat mendalam, ingin sekali memeluk tubuh Famira dengan erat saat ini melepaskan kerinduan selama satu minggu lebih tidak jumpa.


"Pak! keluar sebentar, aku mau nitip sesuatu aja pada Famira!" teriak Bara dari luar.


Tidak ada respons, membuat Bara dan Rendi semakin merasa geram diluar.


30 menit berlalu, Bara dan Rendi mengelilingi tembok rumah besar itu mencoba mencari celah untuk masuk, tetapi sayangnya semua pintu memang dikunci. Erwin benar-benar sudah berniat dan merencanakan melakukan semua ini.


"Nggak ada cara lain yang bisa kita lakukan selain kita harus panjat tembok ini, Bar. Erwin memang sialan!" ujar Rendi, "kita gunakan keahlian lompat tembok saat bolos sekolah dulu saat ini. Ada manfaatnya juga ternyata hahaha." Rendi tertawa cekikikan nggak jelas, mencoba menghibur diri. Keringat membasahi kedua pria itu.


Bara dan Rendi berhasil melewati tembok tinggi di rumah itu.


Erwin berkata dengan suara jengkel, "nyali kalian cukup tinggi juga." Pemuda ini tersenyum kecut saat melihat Bara dan Rendi sudah di depan pintu rumahnya.


"Ck, lo sialan, Win! bagaimana pun Bara suami Famira, dia berhak bertemu!" kata Rendi menatap Erwin sangat tidak suka.


"Ceraikan adik gue, Bar! gue nggak ridho lagi adik gue sama lo!"


"Tidak akan pernah terjadi walaupun lo membunuh gue!" jawab Bara penuh penekanan.

__ADS_1


"Egois lo, Win!" timpal Rendi.


"Gue nggak peduli, ini demi kebahagiaan adik gue. Lagi pula, Famira lupa ingatan. Dia nggak ingat sama lo, jadi lo pulang aja. Nggak ada guna juga ..." usir Erwin, "dan lo juga Ren!"


__ADS_2