Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
120


__ADS_3

Pagi ini, di meja makan terlihat ada yang berbeda. Dimana kedua pria yang selama ini bermusuhan sekarang sedang bersenda gurau. Membicarakan kerja sama antara perusahaannya. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Bagi mereka yang melihat pemandangan ini mungkin akan merasa aneh dan bergidik ketakutan.


Famira tersenyum senang melihatnya. Lega sekaligus bahagia. Akhirnya, permasalahan suaminya dan Rafael, menemui titik terang. "Apakah kalian akan terus berbicara?" tanyanya mencoba menghentikan keasikan kedua pria itu.


"Sampai lupa," ujar keduanya bersamaan bahwa mereka harus sarapan.


"A-Ayah ...," panggil Atha yang baru saja turun bersama Ummi Hana. Anak kecil laki-laki itu terlihat kaget melihat kehadiran Rafael. Tubuh kecilnya bergetar ketakutan, dan Ummi Hana dapat merasakan hal tersebut.


"Hei!" sapa Rafael sangat ramah kepada putranya. Ia melambaikan tangannya, dan bangkit berdiri, ingin menggendong tubuh anak kecil yang selama ini dirindukan.


Atha memeluk tubuh Ummi Hana dengan erat, menggelengkan kepalanya cepat. "Nenek, aku tidak mau. Dia orang—jahat ...," ucapnya dengan ketakutan.


Rafael menghela napas panjang, lalu menundukkan kepalanya. Sesuai dengan dugaannya. Atha pasti benci. Ia menyadari bukan ayah yang baik bagi putranya.


Bara ikut bangkit, berjalan ke arah Ummi Hana dan mengambil Atha ke dalam dekapannya. "Itu ayah Atha. Tidak boleh bicara seperti itu," ucap Bara mencium puncak kening Atha.


"Bukan, Yah. Dia bukan ayah Atha!" tegasnya, "Dia orang jahat!" Entah siapa yang mengajarkan Atha berbicara seperti itu. Bara mengusap lembut kepala Atha. Mencoba menenangkan.


"Atha, Bunda sudah bilang harus sopan berbicara terhadap orang lain," tutur Famira dengan nada suara biasa. Ia hanya mengingatkan.


"Maaf, Bunda," ucap Atha menyesali perbuatannya.

__ADS_1


Atmosfer di dalam ruangan itu tiba-tiba menjadi mencekam. Famira memilih untuk membawa Atha ke atas menuju kamar. Putranya seperti memang trauma bertemu dengan sosok Rafael lagi. Ia tidak ingin menanyakan hal-hal yang akan membuat Atha semakin ketakutan.


~oOo~


"Gue sepertinya harus pergi saja, Bar." Rafael membuka keheningan yang sempat terjadi. Wajahnya terlihat tidak semangat, ia mendogak kepalanya seraya berkata, "Atha tetap bersama lo dan Famira, gue titip dia." Mereka berdua ada di halaman belakang rumah. Duduk di sebuah kursi kayu.


"Hm. Tidak bisa. Lo ayahnya, bawa Atha ke mana lo pergi! Gue nggak mau di cap sebagai orang jahat yang memisahkan lo dengan darah daging lo sendiri," jawab Bara lalu menyeruput teh hangat yang ada di tangannya.


Rafael menghela napas panjang mendengar hal itu. "Atha sudah benci dengan gue, sulit mengambil kepercayaannya lagi."


"Atha nggak benci lo! Dia hanya syok. Percaya sama gue," jawabnya yakin.


Bara mengangkat kedua alisnya.


"Terakhir kali? Apa lo akan pergi jauh dan tidak balik ke sini lagi mengatakan hal itu?"


"Iya," jawabnya singkat. Netra pria ini terlihat hampa.


Rafael berjalan memasuki kamar Atha. Putranya sedang sibuk mengotak-atik mobil mainannya. Famira dan Bara meninggalkan keduanya, membiarkan waktu antara ayah dan anak itu melepas rindu atau pun sekedar bicara.


"Boleh ayah duduk di sampingmu, Tha?" Rafael meminta izin. Bicara dengan penuh kehati-hatian.

__ADS_1


Atha memandang sekilas sembari mengangguk kecil. Kalau bukan karena bujukan Famira, Atha tidak mau bertemu dengan Rafael. Kenangan buruk langsung menghantui pikirannya. Di usianya yang masih belia sudah menghadapi masalah yang serumit ini. Sebelum Bara menemukannya di pinggir jalan waktu itu, Atha hanya seorang anak yang terlantar dan tidak terurus. Kasih sayang kedua orangtuanya bahkan sulit didapatkan kala itu.


Rafael duduk pelan-pelan. Tangannya bergerak mengusap rambut putranya. "Ayah minta maaf."


Tubuh Atha bergetar hebat saat Rafael memegangnya. Namun, dengan gerak cepat Rafael memeluknya. Memberikan kenyamanan.


"Ayah, Atha rindu sama Bunda," ucap Atha. Anak kecil laki-laki itu menangis dalam pelukan Rafael. "Bu--nda di mana? Ayah tidak menyakitinya lagi, 'kan?"


Rafael tidak menjawab, ia menikmati memeluk tubuh putranya. Kecupan demi kecupan mendarat di puncak kepala Atha.


"Bunda ada di rumah. Dia sakit," jawab Rafael. Matanya nampak berair.


"Atha ingin bertemu dengan Bunda, Yah."


"Baiklah, kita akan pulang."


"Ajak Ayah Bara dan Bunda Famira juga."


"Tentu saja," sahut Rafael penuh keyakinan. Ia menggendong tubuh Atha.


Hari itu Bara dan Famira berkunjung ke rumah Rafael untuk pertama kalinya. Sampai di sana, tidak ada percakapan lebih. Hanya isakan tangis bahagia dari Bunda Atha. Ia sangat bahagia dan juga terharu bisa kembali lagi bertemu dan memeluk tubuh putranya.

__ADS_1


__ADS_2