
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━━
"Mahkota seseorang adalah akalnya. Derajat seseorang adalah agamanya. Sedangkan kehormatan seseorang adalah budi pekertinya."
[ Umar Bin Khattab ]
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━━
Kenali kebenaran, maka kamu akan tahu orang-orang yang benar. Benar tidak diukur oleh orang-orangnya, tetapi manusia diukur oleh kebenaran.
Saat bersamaan Erwin dan Bara bertemu di ambang pintu rumah.
Bara memandang malas ke arah Erwin. "Mau apa lo ke sini?" tanya Bara tidak suka.
"Gue mau antar adik gue periksa kandungannya, adik ipar gue yang terhormat," jawab Erwin tak kalah sinisnya.
"Lo pulang aja, gue yang antar istri gue." Usir Bara dengan nada suara sangat jengkel bertemu dengan Erwin.
"Dia juga adik gue, gue berhak dong."
"Gue suaminya."
"Gue juga kakaknya," jawab Erwin tak mau kalah. Pemuda ini tidak ada takut-takutnya dengan tatapan tajam dari Bara.
Mama Ani yang sedang duduk di ruangan keluarga menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan antara Bara dan Erwin.
"Kalian seperti anak kecil saja," ucap Mama Ani lalu melanjutkan kembali membaca koran di tangannya.
Famira yang baru saja turun dari kamarnya, melemparkan senyum tipis ke arah Bara dan Erwin yang ada di ambang pintu rumah.
"Famira pamit dulu ya, Ma." Famira mencium punggung tangan mama Ani. Mama Ani memutuskan menyuruh Famira dan Bara tinggal di rumahnya agar dia dapat memperhatikan kesehatan Famira saat hamil. Mama Ani tidak mau menantu dan cucunya kenapa-kenapa.
"Iya, Nak," jawab Mama Ani tersenyum simpul ke arah menantunya itu.
Famira berjalan mendekati Bara dan Erwin.
"Pergi sama kakak aja, dek." Erwin menarik lembut tangan Famira ke dalam mobilnya.
"Hei, lo mau bawa istri gue ke mana?" tanya Bara kesal pada Erwin. "Sayang, pergi sama mas saja." Bara tak mau kalah, dia menahan tangan Famira.
"Apaan lo, gue yang akan antar Famira!" Erwin menepis tangan Bara.
"Lo mau gue tonjok muka lo yang pas-pasan itu." Ancam Bara menarik kerah kemeja navy Erwin.
"Gantengan guelah, lo aja yang muka pas-pasan. Untung aja adik gue yang suka sama lo!" Erwin melepaskan tangan Bara di kerah kemejanya itu.
__ADS_1
"Mas, kak! sudah ... kenapa kalian jadi ribut gini. Famira pergi sendiri aja," tutur Famira kesal. Dia berjalan meninggalkan Bara dan Erwin yang masih berdebat tak jelas itu.
Keduanya segera mengejar Famira.
"Kami minta maaf, kami janji tidak akan ribut lagi," kata Erwin dan Bara bersamaan.
"Awas saja, kalau kalian masih ribut."
Setelah berdebat lama dengan mobil siapa yang akan di pakai untuk pergi ke rumah sakit. Akhirnya Erwin mengalah, mereka akan pergi menggunakan mobil mewah milik Bara.
"Bang, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Bara tersenyum penuh kemenangan di kursi belakang.
Erwin yang sedang menyetir hanya bisa menyumpah serapah Bara di dalam hatinya.
Famira bersandar manja di bahu Bara, indera penciuman Famira mencium bau parfum milik perempuan lain di tubuh suaminya itu.
"Mas, di peluk sama perempuan lain yah?" tanya Famira penuh selidik.
"Wah, dia selingkuh. Dek," timpal Erwin dari depan.
"Iya," jawab Bara antusias.
Famira langsung mencubit pinggang Bara. "Mas selingkuh dari Famira, mas tega sekali." Famira membuang wajahnya dari hadapan Bara. "Siapa wanita yang memeluk mas itu?" tanya Famira tanpa menoleh.
Bara menarik Famira ke dalam dekapannya. "Istriku cemburu ternyata, nggak ada kok wanita yang mas peluk mas selain dirimu, Ra." Bara mengangkat dagu Famira ke arahnya. "Aku hanya mencintaimu, sayang."
"Mas kan kerja, Ra. Di perusahaan mas bertemu dengan karyawan wanita juga. Jadi jangan heran kalau parfum-parfum mereka nempel di jas mas," jelas Bara berbohong. Bara tidak mau membuat Famira sedih, toh dia juga tidak terima dengan pelukan Adel padanya.
"Alasannya nggak logis dek, dia memang selingkuh!" Erwin yang sedang mengemudi terus memanaskan hati Famira.
Famira meraih tangan Bara. "Famira percaya kok, mas tidak akan main-main dengan wanita lain di luar sana." Famira langsung memeluk tubuh kekar Bara.
"Buat apa mencari wanita lain, sementara wanita milik mas sudah sangat sempurna. Ana uhibbuki fillah, Famira Az-zahra." Bara menatap lekat netra hitam milik Famira.
"Ana uhibbuka fillah, Bara Sadewa." Famira tersenyum tipis.
Erwin yang ada di depan hanya bisa bersabar melihat kemesraan mereka berdua.
Beberapa menit kemudian mobil mereka sampai di rumah sakit ternama di kota itu.
Famira hanya pasrah saat tangan kiri di gandeng oleh Bara sementara tangan kanannya di gandeng oleh Erwin. Sungguh pusing Famira melerai perdebatan yang terus terjadi antara kedua pria yang di sampingnya itu. Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Banyak tatapan iri dan cemburu ke arah Famira dari orang-orang yang berpapasan dengan dirinya. Bagaimana tidak mereka tidak cemburu karena Famira di gandeng oleh pria yang banyak di incar oleh kaum hawa karena kegantengannya dan kesuksesan kedua pria itu.
Banyak wanita hamil lainnya yang sedang duduk di kursi tunggu, menunggu giliran untuk masuk.
Bara dan Erwin menarik saja tangan Famira tanpa menunggu ataupun antri giliran.
__ADS_1
"Pak, Bu. Harap antri, ikutin prosedur yang berlaku," ucap salah satu suster mencegah Bara, Erwin, dan Famira untuk masuk.
Bara mengeluarkan kartu identitasnya dan memperlihatkan kartu itu tepat di wajah suster itu. Suster itu tercengang setelah melihat identitas itu.
"Maafkan saya Pak, silahkan masuk." Suster itu menunduk kepalanya, tubuhnya bergetar ketakutan, dia memberikan jalan masuk bagi ketiga orang itu.
***
Setelah beberapa lama menunggu pemeriksaan akhirnya selesai juga.
"Kandungan istri Bapak, masih sangat muda jangan buat istri Bapak kecapean ataupun kelelahan," tutur dokter. "Suaminya yang mana dulu ya, Mbak?" tanya wanita paruh baya itu pada Famira. Dokter itu bingung karena ada dua pria di dalam ruangan itu.
"Saya suaminya, Dok. Ada apa?" tanya Bara sambil menaiki sebelah alisnya.
"Hindari berhubungan suami istri dulu ya Pak demi keselamatan putra Anda. Ingat ya istri Bapak lagi hamil muda," jelas dokter tersenyum tipis ke arah Bara.
"Dengar tuh mas, jangan paksa Famira lagi," tutur Famira melirik ke arah Bara.
Bara cengir kuda. "Nanti akan saya usahakan Dokter untuk tidak melakukannya."
"Jangan cuman di usahakan, tetapi hindari. Gue nggak mau keponakan gue kenapa-kenapa!" tegas Erwin menatap sangar ke arah Bara.
"Iya kakak ipar," ketus Bara.
***
"Pasti keponakan gue, ganteng seperti gue nanti kalau lahir," ucap Erwin senyum senang setelah mengetahui bahwa Famira hamil bayi laki-laki.
"Cih ... gue nggak sudi putra gue mirip sama lo. Yang jelas seperti Ayahnya lah," jawab Bara lalu mengelus lembut perut Famira.
"Famira lapar, ingin makan di restoran. Kita makan dulu yah mas, kakak. Sebelum kita pulang," pinta Famira manja kepada kedua pria itu.
"Boleh sayang," jawab Bara.
" Kita makan di restoran vegetarian aja ya dek. Itu lebih untuk kamu saat ini, kamu nggak boleh makan yang sembarangan." Saran Erwin. Famira mengaguk kecil dan Bara setuju saja.
Mereka bertiga sudah sampai di restoran vegetarian yang pemiliknya adalah orang Meksiko.
Famira memutuskan memesan semangkuk burrito kacang dan jus alpukat. Bara dan Erwin hanya memesan minuman saja, mereka berdua sebenarnya tidak doyan makan di restoran vegetarian.
"Mas ke toilet dulu ya, Ra." Bara bangkit dari duduknya. Famira hanya mengangguk.
Bara tersenyum miring saat dia melihat handphonenya dan memeriksa apa saja yang terjadi saat kepergiannya dari perusahaan. Handphone Bara memang sudah terhubung langsung dengan CCTV di ruangan kerjanya. Jadi, Bara masih bisa memantau dari kejauhan.
"Ternyata lo penghianat juga, Ren." Bara memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku celananya. Dia membasuh muka secara kasar.
__ADS_1
"Gue mau lihat, kemampuan kalian berdua sampai mana untuk menghancurkan rumah tangga gue," batin Bara penuh kebencian.