
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
“Syukur itu bukan hanya atas karunia, jika mampu bersyukur dalam tiap suasana maka engkau akan jadi orang paling bahagia.”
–Ustadzah Halimah Alaydrus–
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
Setiap sesuatu di dunia, tidak ada yang diciptakan sia-sia. Selalu ada hikmah dibalik semua peristiwa. Hanya saja kita perlu kesadaran yang lebih untuk melihatnya.
Bara mendengus kesal, pria ini tampak frustasi. Bara sudah mengelilingi setiap sudut di pusat perbelanjaan itu. Namun, nihil Famira tidak dipertemukan sama sekali. Tidak hanya Bara semua anaknya buahnya di kerahkan untuk mencari keberadaan istrinya di tempat itu.
"Ah, sial. Siapa yang berani mempermainkan gue seperti ini!" Kepalan tangan Bara meninju dinding beberapa kali meluapkan emosinya. Bara tidak peduli dengan rasa sakit di tangannya, dia sangat khawatir dengan kondisi Famira dan kandungannya.
"Kami tidak menemukan, Nona muda sama sekali, Tuan!" ucap salah satu anak buahnya melaporkan.
"Ck, jangan kembali sebelum kalian menemukannya!" ujar Bara dengan suara yang tinggi, "gue tidak segan-segan membuat hidup lo semua hancur. Cepatan pergi mencarinya!"
Anak buah Bara bergetar ketakutan, wajah yang menyeramkan seperti dulu sudah kembali mereka lihat lagi di wajah bosnya itu.
"Ba---ik, Tuan!" jawab mereka kompak dan segera bergegas pergi dari hadapan Bara.
Erwin yang baru saja tiba bersama sekretarisnya langsung menonjok muka Bara. Darah segar mengalir di sudut bibir Bara. "Ceraikan adik gue!" titahnya.
Rendi melerai keduanya, "bukan saatnya lo berdua bertengkar seperti ini!"
"Max!" Erwin memerintahkan untuk menyingkirkan Rendi di hadapannya.
Sekretaris Max dengan sigap menuruti perintah tuannya.
"Lo mau adu jotos dengan gue?!" Tantang Rendi sengit menatap pemuda yang sama profesi seperti dirinya.
Sekretaris Max menjawabnya dengan santai. "Saya tidak mau mengotori tangan untuk melayani, Tuan", sahutnya formal, lalu menyingkirkan tangan Rendi di kerah jas kerjanya, "saya hanya menuruti perintah, Tuan Erwin," ucap sekretaris Max lagi.
Rendi yang mendengar jawaban Max semakin berdecak kesal, pemuda itu ikut terbawa emosi. Terjadilah aksi adu jotos antara keduanya.
"Maksud lo apa, hah? gue nggak akan pernah menceraikan Famira!" Tangan Bara sudah mengepal, kesabarannya sudah hampir habis berdebat dengan Erwin. Kilatan merah tampak di netra cokelatnya.
__ADS_1
"Lo tahu siapa yang culik adik, gue ..." Erwin menggantungkan ucapannya, pemuda ini memberikan tinjauan lagi di wajah Bara. "Musuh lo sendiri!" hardiknya.
Bug!
Bara membalas tinjuan Erwin. Erwin tersenyum sinis. "Sejak menikah dengan lo! kehidupan adik gue nggak ada tenangnya dan memang tidak ada tenangnya. Dulu lo yang menyiksa dia dan sekarang musuh lo! lo tidak pantas dengan adik gue, kalau lo sayang adik gue. Ceraikan dia, kehidupan Famira akan tenang bila lepas dari genggaman lo!" Erwin mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Gue tidak akan melepaskan Famira sampai kapan pun!" ujar Bara menatap tajam Erwin.
Erwin tersenyum masam, "sudahlah, tidak ada gunanya gue berbicara dengan lo lagi. Gue akan pergi mencari adik gue dengan tangan gue sendiri. Gue berjanji, akan memisahkan lo dengan adik gue. Sudah cukup penderitaan adik gue bersama lo!" Erwin melangkahkan kakinya meninggalkan Bara. Pemuda ini berjalan ke dalam mobilnya.
Sekretaris Max yang melihat tuannya sudah berjalan pergi, dia segera berlari kecil mengejarnya meninggalkan Rendi yang menyumpahi dengan berbagai sumpah serapah.
"Pengecut!" teriak Rendi. Penampilannya sudah sangat mengenaskan.
Rendi berjalan mendekati Bara yang menyenderkan punggungnya ke dinding.
"Rafael sudah kembali, Bar," ucap Rendi, "sepertinya dia ingin balas dendam kepada lo!" lanjutnya.
"Cih ... ternyata dia dalang semua ini! kita pergi ke markasnya sekarang!" titah Bara dan secepat kilat kembali ke dalam mobilnya.
•••
Menangis bukan tanda kau lemah.
Ia adalah salah satu dorongan agar
kau terus kuat untuk menghadapi dugaan hidup.
Malam sudah larut, Famira tidak dapat memejamkan matanya. Wanita itu menangis, menangis sesenggukan. Memukuli tubuhnya, membenci dirinya sendiri. Famira merasa dia adalah wanita yang paling hina, dia tidak bisa menjaga kehormatannya dari pria selain suaminya.
Sekitar 30 menit yang lalu, Rafael hilang kendali, entah perkataan apa yang berhasil membuat emosinya naik setelah mendengar ucapan dari bibir Famira. Pria itu mencium paksa dan rakusnya bibir Famira. Famira memberontak menjauhi tubuhnya. Namun, tenaga Rafael lebih kuat darinya. Pertolongan Tuhan datang tepat waktunya saat Rafael ingin merebut mahkota kehormatan Famira dan saat ingin melepaskan segala pakaian syar'i yang menutupi tubuh Famira. Handphonenya tiba-tiba saja berdering, secepat kilat dia bangkit melepaskan cengkraman tangannya. Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
Pria itu dengan kasarnya menutupi pintu kamar Famira.
"Mas Bara maafkan Famira, maafkan Famira ...," isaknya dengan lirih. Meski hanya dicium oleh Rafael, Famira tetap saja merasa dia wanita yang paling hina. Dia tidak bisa menjaga marwahnya. Mata wanita ini sudah sembab akibat menangis berlebihan.
Cklek!
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, terlihat sosok wanita paruh baya berjalan ke arah Famira yang sedang duduk menyembunyikan kepalanya di lekukan lututnya.
Wanita paruh baya itu berjongkok, dan menarik tangan Famira. Famira menatapnya dengan air mata yang masih berlinang.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanyanya khawatir. Tangannya yang sudah keriput mengelus lembut pipi Famira, menghapus jejak air mata di pipi wanita itu, "Tuan Rafael melukaimu, Nak?" tanyanya dengan nada suara yang sangat khawatir sekali. Melihat gadis yang duduk di sampingnya itu hanya diam dan menundukkan kepalanya.
Famira hanya bisa menggelengkan kepalanya pertanda 'tidak'.
Pelukan hangat diberikan oleh wanita paruh baya itu. "Ibu akan membantumu, untuk keluar dari rumah ini, Nak," tuturnya lembut.
Famira yang mendengar ucapan itu menjauhkan tubuhnya, Famira mengusap air matanya. "Ibu akan membantuku untuk keluar dari rumah ini?" tanya Famira memastikan pendengarannya tidak salah.
"Iya, Nak," sahutnya, "sekarang waktunya kamu pergi, sebelum Tuan Rafael kembali."
Famira segera bangkit dari duduknya, mengikuti wanita paruh baya itu dari belakangnya. Rumah mewah Rafael sepi, hanya ada sekitar dua orang anak buahnya saja yang masih menjaga dirumahnya yang sedang tertidur pulas di atas sofa, sisanya pergi ke markas mengikuti tuannya.
"Maaf, Nak. Ibu hanya bisa membantumu sampai sini," ujar wanita paruh baya itu yang merupakan ART di rumah Rafael.
Famira memeluk tubuh wanita paruh baya itu sebagai ucapan terima kasih, Famira bahagia dan mengucapkan syukur ternyata masih ada orang yang baik didalam rumah itu. "Terima kasih, Bu. Semoga Allah membalas kebaikan, Ibu. Tapi, aku takut Tuan Rafael melukai, Ibu."
Wanita yang masih menggunakan cemelek itu tersenyum tipis. "Jangan mengkhawatirkan Ibu, Nak. Ibu akan baik-baik saja, kamu harus pergi sebelum Tuan dan anak buahnya kembali. Keluargamu pasti sangat mengkhawatirkanmu, Nak," tuturnya.
Famira menyalami tangan wanita paruh baya itu dan dia segera berlari menjauhkan dirinya dari rumah itu.
"Kediaman Rafael, cukup jauh dari pusat kota," gumam Famira berhenti sejenak untuk mengambil napasnya. Napasnya sudah ngos-ngosan karena berlari. "Ya Allah berikanlah hamba kekuatan." Famira mengelus lembut perutnya sebelum berlari kembali.
Wanita paruh baya itu menutup kembali pintu gerbang, hatinya ikut senang karena berhasil membantu Famira. "Kamu wanita baik, Nak. Ibu melihatmu seperti anak Ibu sendiri, yang beberapa tahun lalu sudah meninggal dunia," batinnya melihat punggung Famira yang sudah menghilang dari hadapannya.
.
.
.
.
Semoga Famira selamat ^_^
__ADS_1