
“Jika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan rencanamu, Allah sedang mengingatkanmu, bahwa hidup tidak dalam kendalimu, Allah tidak pernah mengecewakanmu, namun kamu sebenarnya dikecewakan
oleh harapan, keinginan dan angan-anganmu sendiri.” ~Ustadzah Halimah Alaydrus
Perbincangan antara Famira dan Vina berlanjut panjang.
"Kak Vina, suami Kakak mana, yah?" tanya Jessika penasaran sambil menggendong Atha.
Raut wajah Vina yang ceria langsung berubah setelah mendengar pertanyaan Jessika. "Kami sudah cerai, setelah aku melahirkan," ucapnya dengan sendu. Menatap putrinya yang sudah tertidur pulas di dalam dekapannya. Sungguh miris nasib pernikahannya yang pupus di tengah jalan. Sosok suami Vina, tidak terlalu di sukai oleh keluarga Anderson. Karena suaminya itu sering selingkuh dan sangat gila harta.
"Maaf, Kak. Jessika tidak maksud membuat Kakak jadi sedih. Jessika minta maaf, Kak," ucap Jessika merasa bersalah atas pertanyaannya.
Famira mengusap lembut lengan Vina, mencoba menguatkan wanita itu. "Tetap sabar, Vina. Aku yakin kamu wanita kuat menghadapi semuanya."
Vina tersenyum tipis, mencoba meyakinkan diri baik-baik saja. "InsyaaAllah, Ra. Aku juga berpasrah pada takdir Tuhan, mungkin inilah takdirku. Aku menerimanya dengan ikhlas, aku mau fokus merawat dan membesarkan Nayla walaupun aku menjadi orang tua tunggal," ujarnya penuh keyakinan.
"Kakak nggak sendiri kok, Kakak masih punya Allah, masih punya orang-orang yang menyayangi, Kakak. Kak Vina harus semangat dong!" Jessika berucap semangat.
"Tentu saja, Jessika."
Obrolan demi obrolan berlalu hingga ketiga wanita itu memutuskan untuk pulang, mengingat hari sudah semakin gelap.
"Maaf, Mas jadi lama menunggu," ucap Famira lalu duduk di samping kursi kemudi.
"Nggak apa-apa, Sayang." Bara mengecup kening Famira.
Jessika berdehem dari belakang. "Ingat ... masih ada aku disini, Kak Bara. Jangan mesra-mesraan napa, Kak Bara! Aku 'kan jadi ngiri," ucapnya dengan nada ketus.
"Makanya nikah sana biar nggak ngiri! Enak loh, Dek," sahut Bara tersenyum mengejek. Mobil Bara berjalan dengan kecepatan sedang meninggalkan mall besar itu, "Rendi sudah siap, asalkan kamu siap juga," sambung Bara lagi dengan elak tawa ringan.
Jessika tidak menjawab apa pun. Hanya bisa mencebik kesal dalam hatinya.
"Jessika tunggu Atha besar aja, nggak apa-apalah nikah sama keponakan sendiri. Pasti seru dan lucu." Jessika mencium setiap inci wajah Atha yang sudah tertidur pulas di pangkuannya. "Pasti ayah kamu ganteng, Tha. Seperti kamu ini," ucap Jessika tak henti-hentinya mencium pipi Atha membuat Atha terbangun dan langsung menangis histeris.
"Ayah, Bunda, Bibi Jessika cium aku terus," aduh Atha dengan isaknya.
__ADS_1
"Kamu sih gemesin, Sayang. Berhenti menangis yah." Jessika mencoba menenangkan Atha. Bara sudah menatap tajam ke arah adik perempuannya itu, membuat Jessika bergedik ngeri.
Anak kecil laki-laki itu beringsut bangkit menuju Famira dengan derai air matanya karena tidurnya terganggu.
"Sudah, Sayang. Jangan nangis. Tidur lagi di pelukan bunda." Famira menghapus air mata di pipi anak kecil laki-laki itu.
Atha menghentikan tangisnya. Famira melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran supaya Atha menjadi tenang, mengusap lembut kepala Atha. Perlahan-lahan mata Atha terpejam kembali, setelah mendengar suara merdu dari bundanya.
"Lagi dong, Kak Famira. Jessika ingin tidur juga. Suara ngaji Kak Famira merdu banget," kagum Jessika kepada kakak iparnya itu. Pantas saja kakak lelakinya itu benar-benar berubah setelah menikah dengan Famira.
"Tabārakallażī biyadihil-mulku wa huwa 'alā kulli syai`ing qadīr ...." Famira murojaah hafalannya surah Al-mulk. Dengan suara indah, Famira melantunkan ayat pertama, membuat siapa saja kagum mendengarnya.
"Allażī khalaqal-mauta wal-ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu 'amalā, wa huwal-'azīzul-gafụr ...." Ayat kedua di lanjutkan oleh Bara yang sedang menyetir mobil. Bara dan Famira menggunakan teknik membaca Al-qur'an yang biasa dipakai sehari-hari oleh umat islam ( murottal ).
Jessika hanya bisa melongo mendengar suara Bara, suara kakak laki-lakinya itu tidak
kalah merdu.
Saling sahut-sahutan dan menyambung surah Al-mulk sampai ayat terakhir terucap selama perjalanan pulang. Jessika yang duduk sendiri di belakang menggigit jarinya melihat begitu kagum dan sungguh indah mempunyai pasangan seperti mereka.
"Seru juga, Ra. Nanti lagi yah," tutur Bara mengusap lembut pipi Famira dengan sebelah tangannya.
"Iya, Mas."
"Pengen nikah!" teriak Jessika histeris dari belakang. Bisa-bisa dirinya kebelet nikah bila melihat keromantisan kakak lelakinya dan kakak iparnya terus.
"Kun fayakun, Dek!" ujar Famira menoleh ke arah Jessika.
••••
Jessika memutuskan sholat maghrib di rumah Bara dan Famira karena waktunya sudah mepet. Jessika segera pamit pulang setelah mama Ani dan papa Andi sudah menelepon dirinya beberapa kali. Kedua orangtuanya itu tetap saja khawatir dengan dirinya, padahal dirinya pun cuman pergi ke rumah Bara.
"Eh, kenapa nih mobilnya." Jessika berbicara sendiri saat mobilnya berhenti begitu saja di jalan sepi. Jessika memeriksa bensin mobil masih cukup banyak.
"Mobilnya mogok, bagaimana ini?" pikir Jessika keras, Jessika meraih handphonenya ingin menelpon siapa pun untuk menjemput dirinya, namun sayang handphonenya sudah mati karena kehabisan baterai, membuat Jessika kian kebingungan harus bagaimana.
__ADS_1
Jessika keluar dari mobil, mencoba mencari bantuan pada kendaraan yang berlalu-lalang.
Jalan yang di lalui jauh dari permukiman warga dan sepi juga.
10 menit mencoba mencari bantuan tetapi belum ada juga. Hingga akhirnya ada sebuah pengendara motor menepi ke sisi jalan.
"Assalamu'alaikum, ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya pemuda yang menggunakan baju koko itu dengan ramah sambil membuka helm—fullfacenya.
"Wa'alaikumussalam, mobilnya nggak tahu kenapa, tiba-tiba mogok," sahut Jessika sedikit canggung, " Bisa bantu?" tanya Jessika.
Dengan tenang pemuda itu mengaguk kecil. "InsyaaAllah," sahutnya.
Jessika meminggir dari depan mobilnya, memberikan jalan untuk pemuda yang tidak dia kenal itu berkutak atik dengan mesin mobilnya.
"Coba nyalakan mesin mobilnya, Mbak," pinta pemuda itu seraya menyeka bulir keringat dengan pergelangan tangannya.
Jessika mengikuti instruksi, dan benar saja mesin mobilnya sudah kembali normal. Jessika kembali menghampiri pemuda itu dengan beberapa helai tissue yang di raih di dashboard mobil.
"Bersihin tangan kamu." Jessika menyodorkan tissue tersebut, pemuda itu menerimanya dengan senang hati, "Terima kasih yah, Ustadz," ucap Jessika. Tidak tahu akan memanggil apa, Jessika memutuskan memanggil sebutan ustadz melihat penampilan yang begitu alim dari pemuda itu.
"Saya bukan ustadz, panggil Hafid saja," sahutnya sambil membersihkan tangannya. Hafid baru saja pulang dari masjid yang tidak jauh dari jalan itu untuk mengisi sebuah kajian.
"Panggil Kak Hafid aja biar sopan," tutur Jessika dan di balas anggukan kecil oleh Hafid.
Jessika melipatkan kedua tangannya di depan dada, menundukkan kepalanya sedikit. "Sekali lagi, terima kasih bantuannya. Semoga Allah membalas kebaikan, Kak Hafid."
"Sama-sama," sahut Hafid tersenyum tipis tanpa memandang Jessika sepenuhnya demi menjaga pandangan dari bukan mahromnya.
"Sepertinya sebentar lagi akan hujan, mendingan kamu segera pulang," ujar Hafid.
"Iya, Kak. Saya balik duluan. Assalamu'alaikum ....," pamit Jessika segera masuk ke dalam mobilnya.
"Wa'alaikumussalam."
Tidak lama setelah mobil Jessika berlalu dari hadapannya, Hafid menyalakan motornya dan kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju pesantren.
__ADS_1
'Baik benar kak Hafid itu,' batin Jessika mengukir senyum simpul.