Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
83


__ADS_3

═════════•❁❁•═════════


“Nafsu mengatakan perempuan itu cantik atas dasar rupanya.


Akal mengatakan perempuan itu cantik atas dasar ilmu dan kepintarannya.


Dan hati mengatakan perempuan itu cantik karena akhlaknya.”


Catatan Muslimah


═════════•❁❁•═════════


Dilla mengajak Erwin pergi makan soto ayam kesukaannya di pinggir jalan malam ini.


"Yakin, mau makan disini?" tanya Erwin memastikan sebelum menepikan mobilnya. Netranya menatap melihat sekeliling tepi jalan yang tampak berserakan sampah. Dan tentunya kurang bersih.


Dilla mengaguk antusias. "Kebersihan terjamin kok Mas. Aku sudah sering makan ditempat ini." Dilla membuka pintu mobil, turun duluan dari Erwin.


"Kakak itu ganteng sekali ..."


"Mirip artis Korea."


"Huwa benar-benar. Kita minta foto, yuk!"


"Yuk!"


"Yuk!"


Pekik histeris lima gadis yang baru menginjak remaja saat melihat Erwin turun dari mobilnya dan berjalan mengekor mengikuti Dilla. Mereka berlima berlarian kecil mengejar langkah Erwin.


"Kak, kami boleh minta foto nggak?" tanya gadis berambut kepang. Kelima gadis itu mengelilingi dan menghalau jalan Erwin.


"Please, Kak ..." mohon mereka bersamaan saat belum mendengar jawaban dari Erwin. Menunjukkan muka imutnya masing-masing dan melipatkan kedua tangannya di depan dada.


Erwin tersenyum lebar. "Boleh," jawabnya.


"Asik ...," girang mereka bahagia.


Dilla yang melihat suaminya itu dikelilingi oleh gadis tampak tersenyum masam.


"Tolong fotoin kami, Kak," pinta salah satu dari mereka. Menarik paksa tangan Dilla.


Dilla menuruti, melihat kelima gadis itu seperti melihat adik-adiknya sendiri.


"Sudah," ucap Dilla saat sudah selesai mengambil jepretan pertama. Wajahnya tampak kesal melihat senyum mengejek terukir di bibir Erwin.


'Dia ingin membuatku cemburu lagi. Dasar suami nyebelin,' batin Dilla.


"Lagi-lagi, Kak," suruh kelima gadis itu, dengan ikhlas hati Dilla menuruti.


Cekrek!


Cekrek!


Cekrek!


Sudah dua puluhan lebih Dilla mengambil potret kelima gadis itu bersama suaminya.


"Terima kasih, Kak ganteng." Kelima remaja itu mencubit pipi Erwin secara bergantian sebelum pergi. Lebih parahnya lagi mereka tidak berterima kasih kepada Dilla yang sudah susah payah mengambil potret yang bagus. Membuat Dilla mengeluskan dadanya.


"Kamu bisa cemburu juga ternyata. Hahaha." Erwin tertawa kemenangan, melihat ekspresi sangat tidak suka dari Dilla saat pengambilan foto. Erwin sengaja mengikuti semua kemauan kelima remaja itu, untuk membuat Dilla cemburu. Senang baginya saat melihat wajah kekesalan di wajah Dilla.


Erwin menahan bahu Dilla yang ingin beranjak pergi darinya.


"Apa lagi Mas? aku pengen makan. Lapar!" Dilla menepis tangan Erwin dari bahunya. Menghentakkan kakinya kesal menuju gerobak. Dia semakin kesal saat masih melihat Erwin masih tertawa lepas terhadap dirinya.


"Aku pesan satu seperti biasa, Pak."


"Siap, Mbak Dilla. Tumben nggak bersama Rendi juga?" tanya pria paruh baya itu. Dia sudah menghafal betul Rendi dan Dilla yang sangat sering datang ke tempatnya.


"Rendi lagi sibuk, Pak."


"Hm." Deheman Erwin tak suka setelah mendengar percakapan itu.


Dilla menoleh ke arah Erwin. "Kenapa, cemburu?"


"Nggak!" sanggah Erwin. "Kamu sering datang ke sini sama Rendi juga?" tanya Erwin balik lalu menduduki tubuhnya di kursi plastik yang di sediakan.


"Kadang-kadang sih, Mas."


"Kamu dan Rendi sangat dekat juga ternyata."


"Lumayan. Rendi baik dan humoris orangnya. Aku suka aja teman sama dia." Kalimat pujian untuk Rendi meluncur saja di bibir Dilla. Wajah kekesalan dan cemburu terlihat dari Erwin.


Erwin mendengus kesal. "Lalu ..., aku dimata kamu, bagaimana?"


Dilla mengetuk jari telunjuk di bawa dagunya untuk berpikir sejenak. "Sulit di deskripsikan, kalau Mas."


"Ini sotonya, Mbak Dilla." Ucapan penjual soto mengalihkan perbincangan mereka.


Dilla menerimanya antusias. "Makasih, Pak."


"Mas nggak mesen juga? nggak mau makan?"


"Mood aku sudah hilang, kamu makan aja."

__ADS_1


"Ya, udah." Dilla tidak mau berdebat lagi, dia membaca basmalah sebelum menyuapkan sesendok soto ayam itu ke dalam mulutnya.


"Enak loh Mas, benaran nggak mau?" Dilla bertanya lagi.


"Nggak."


Sebelah tangan Dilla menarik wajah Erwin agar mau menatap dirinya. "Aku suapin. Mau nggak?"


Erwin menoleh, bibirnya terangkat menyinggung senyum tipis. "Ya."


"Buka mulut, Mas," titah Dilla sambil mengangkat sendok di tangannya mendekati mulut Erwin. Erwin menurut saja.


"Tapi bohong hehehe ..." Dilla menyuapi dirinya sendiri.


Erwin menyentil kening Dilla cukup keras merasa kesal karena dipermainkan oleh istrinya itu, Dilla sedikit meringis kesakitan. Mengusap-ngusap keningnya.


"Mas jahat!"


"Kamu lebih jahat!" Erwin bangkit berdiri, berjalan ke arah sekumpulan anak muda yang sedang berkerumun di tepi jalan sebrang sana.


"Mau kemana, Mas?"


"Tunggu bentar," sahut Erwin menoleh ke kiri dan kanan sebelum menyebrang jalan.


Dilla mengaguk setuju saja, dia kembali menikmati semangkuk soto ayam kesukaannya.


Erwin kembali dengan gitar yang sudah ada di tangannya, duduk ke tempat semula di samping Dilla.


"Mau request lagu apa?" tanya Erwin menatap wajah istrinya dengan lekat.


Uhuk!


Dilla keselek mendengar itu. Erwin cepat-cepat mengambil air minum dan di berikan pada Dilla. Dilla menerimanya dan meminum air putih itu sampai tandas.


"Nggak salah dengar aku, Mas? Mas bisa bernyanyi emangnya? sudah beberapa hari ini kita menikah, aku nggak pernah dengar Mas bernyanyi?" Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Dilla.


"Bisalah, jangan pernah meremehkan suamimu," jawab Erwin.


"Aku nggak suka lagu genre romantis mau request lagu genre religi aja."


"Hm, lagu apa?"


"Peace be upon you. Bisa nggak?"


Erwin mengaguk pelan pertanda 'bisa'. Jari tangannya mulai bermain di senar gitar.


"There's faith in my world ..." lirik pertama lagu itu terucap di bibir Erwin.


Dilla yang mendengar suara merdu Erwin tampak tak percaya. Sangat merdu sampai dia tidak ingin melepaskan pendengarannya. Dilla mengembungkan pipinya, ternyata dia salah nebak.


Erwin kembali melanjutkan lirik lagu, senyum tipis terukir di bibirnya mengiringi lirik lagu yang dia nyanyikan.


From your life I have learnt


To be patient and caring at every turn


The reason I'm strong


You're where I belong


In a world spinning out of control


The reason for my pride


You are my guide


And I will always follow your way


Your way, your way, oh ...


‘Alayka salla Allah O Muhammad


(May Allah's salutations be upon you O Muhammad)


Peace & blessings on you every day


‘Alayka salla Allah O Muhammad


You inspire me in every way


I promise that wherever I go


Whenever I pray


I'll be sending you praise


(Messenger of Allah), O Muhammad


Peace & blessings on you every day ...


There's light in my heart


Helps me find my way back when I've gone too far


When all my anger makes me blind

__ADS_1


I remember you're a mercy for all mankind


The reason I forgive as long as I live


In a world spinning out of control


The reason I love, I'll never give up


And I will always follow your way


Your way, your way, oh ...


‘Alayka salla Allah O Muhammad


(May Allah's salutations be upon you O Muhammad)


Peace & blessings on you every day


‘Alayka salla Allah O Muhammad


You inspire me in every way


I promise that wherever I go


Whenever I pray


I'll be sending you praise


With the words that I say


Rasulallah (Messenger of Allah), O Muhammad


Peace & blessings on you every day ...


I know the only thing I want from this life


And it's to follow all your footsteps to Paradise


So that's the way I'm going to spend all my time


Yes I swear, by Allah I swear ...


‘Alayka salla Allah O Muhammad


(May Allah's salutations be upon you O Muhammad)


Peace & blessings on you every day


‘Alayka salla Allah O Muhammad


You inspire me in every way ...


Suara riuh tepuk tangan mengakhiri lirik lagu Erwin yang terakhir. Banyak orang-orang yang berhenti demi mendengarkan suara indah dan merdu Erwin, yang berhasil menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang malam itu.


Dilla mengacung kedua jempol buat Erwin. "Aku kalah deh, suara Mas bagus sekali. Hampir mirip dengan pemilik lagu aslinya. MasyaAllah, Mas ..." kagum Dilla menarik pipi Erwin karena merasa gemas.


"Aku sudah bilang jangan pernah meremehkan suamimu." Erwin ikut tersenyum senang melihat wajah kebahagiaan di wajah Dilla.


"Mau kemana lagi, tak jauh dari sini ada pasar malam. Mau kesana?" tanya Erwin lagi pada Dilla.


Dilla melirik jam tangannya. "Pulang aja, Mas. Sebentar lagi mau pukul setengah sebelas malam. Aku juga ngantuk ...," ucap Dilla lalu menguap satu kali. Akibat mendengar suara Erwin yang menyanyikan lagu favoritnya Dilla jadi ngantuk berat.


"Baiklah, kita pulang." Erwin membayar terlebih dahulu sebelum pergi balik ke dalam mobilnya.


***


"Nyanyian lagi buat aku lagu tadi, Mas," pinta Dilla pada Erwin yang sedang menyetir mobil.


"Iya, Sayang." Erwin mengusap lembut pipi istrinya dengan sebelah tangannya.


Kepala Dilla jatuh di bahu Erwin, gadis itu sudah tertidur pulas setelah mendengar kembali suara indah dari suaminya.


Selang beberapa menit, Erwin sampai di kediamannya. Dia segera menggendong tubuh Dilla yang sudah tertidur, tidak tega bagi dirinya untuk membangunkan Dilla.


"Aish ... pengantin baru, bikin gue ngiri aja." Rendi berpapasan dengan Erwin di ambang pintu rumah. Pemuda ini tampak kesal, di dalam dia melihat kemesraan Bara dan Famira. Dan sekarang dia berpapasan dengan Erwin yang sedang menggendong Dilla. Masih terbesit sakit hati saat melihat gadis yang pernah bersarang di dalam hatinya di gendong oleh pria lain.


"Jangan berisik, istri gue tidur!"


"Sombongnya ..."


"Tolong ambil martabak di dalam mobil gue, Ren. Berikan pada Famira!" pinta Erwin.


"Seenak jidat lo nyuruh gue!"


"Sesekali gue minta tolong ke lo. Gue mau antar Dilla ke kamar dulu." Erwin berlalu pergi.


"Cih ... gue bantu lo karena gue kasihan sama Dilla," teriak Rendi lalu berjalan menuju mobil Erwin.


.


.


.


Sengaja up cepat, soalnya besok aku nggak bisa up. Tinggalkan jejak kalian dan vote seikhlasnya;)

__ADS_1


Salam hangat dariku,


Ecyy


__ADS_2