Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
59


__ADS_3

━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━━


“Penglihatan bisa menimbulkan rasa,


ntah itu cinta atau hanya suka. Walau begitu tetaplah jaga. Jangan sampai kau tergoda


Peliharalah pandanganmu. Yang demikian Itu lebih suci bagimu.”


~Catatan Muslimah~


━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━━


Akan selalu ada laki-laki baik untuk perempuan yang terus berusaha memperbaiki dirinya. Juga, akan selalu ada perempuan yang baik-baik untuk lelaki yang selalu berusaha memperbaiki diri.


Pagi yang cerah, wanita yang menggunakan jilbab pashmina hitam tersenyum lega akhirnya dia sudah selesai dengan pekerjaan rumahnya dan membuat sarapan untuk adik-adiknya.


"Kak Dilla, Bapak dua hari ini belum pulang, yah?" tanya gadis yang menggunakan seragam putih biru itu.


"Dia nggak akan pulang, kalau uangnya banyak," timpal Iwan yang merupakan adik kedua dari Dilla. "Kalau nanti uangnya udah habis, akan pulang sendiri. Aku benci sama Bapak yang bersikap seperti itu. Nggak ada tanggung jawabnya sama sekali," ucap pemuda yang menggunakan seragam putih abu-abu itu lagi, lalu menyendok nasi goreng telur ceplok itu ke dalam mulutnya.


"Hus ... nggak boleh bicara seperti itu, Dek." Dilla mengusap lembut lengan tangan adik laki-laki yang duduk di sampingnya itu.


"Iwan janji, Kak. Bila Iwan udah lulus akan membantu Kakak untuk mencari uang."


"Intan juga, Kak," sahut Intan antusias.


"Iya-iya, kalian berdua fokus aja sekolah dulu. Belajar yang giat biar menjadi orang sukses. Nggak boleh nakal nanti di sekolah!" Dilla tersenyum simpul ke arah kedua adiknya.


Sarapan pagi itu berjalan khidmat, kedua adik Dilla tidak pernah menuntun macam-macam kepada kakaknya. Mereka sangat mengerti sekali bagaimana perjuangan kakak perempuannya itu membiayai sekolah mereka.


"Iwan pamit dulu, Kak. Assalamu'alaikum," pamit Iwan lalu mencium punggung tangan Dilla.


"Intan juga pamit ke sekolah, Kak. assalamu'alaikum ...," Intan meraih tangan Dilla lalu menciumnya.


"Wa'alaikumussalam," sahut Dilla.


Setelah kepergian kedua adiknya, Dilla segera kembali ke kamar untuk mengambil tasnya dan siap-siap untuk pergi bekerja.


"Kak!" panggil Intan lagi.


"Kenapa balik, Intan. Ada yang kelupaan?" tanya Dilla mengerutkan keningnya.


Intan menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak ada, Kak. Intan cuman kasih tahu ada teman Kakak di depan," ujar Intan.


"Siapa? laki-laki atau perempuan, Dek?"


"Laki-laki, Kak. Namanya, nggak salah. Re---"


"Rendi," potong Dilla cepat.


Intan mengaguk kepalanya pertanda 'benar'. "Intan pergi dulu, takut telat." Gadis itu berlari kecil keluar dari rumah setelah memberi tahu kehadiran Rendi kepada Dilla.

__ADS_1


•••


"Tumben datang jemput aku ke rumah, Ren. Mau nagih hutang?" tanya Dilla membuka keheningan yang terjadi di dalam mobil.


"Hahaha ... nggaklah, Dil. Tadi nggak sengaja aja lewat jalan dekat rumah kamu, sekalian aku jemput. Kita berangkat kerja bersama, biar mesra gitu," jawab Rendi menggoda Dilla lalu mencolek lengan tangan atas gadis yang duduk di sampingnya itu.


"Fokus nyetir, Ren! mau aku tonjok muka kamu itu." Dilla menepis tangan Rendi. Gadis itu mengacungkan kepalan tangannya untuk mengancam Rendi. Membuat Rendi tersenyum geli melihat kemarahan Dilla.


"Becanda, Dil. Nanti malam aku mau ajak kamu dinner, mau nggak?" tanya Rendi antusias.


"Nggak, aku sibuk. Lagi pula anak perempuan nggak boleh keluar malam-malam bahaya, Bang.


"Ayolah, Dilla. Kan ada aku yang akan jagain."


"Ajak pacar kamu aja, kenapa juga ajak aku," tolak Dilla.


"Kamu itu spesial Mufdilla Dzakiyah dan udah terdaftar menjadi calon istriku nantinya." Rendi memang mencintai Adel, tetapi entah kenapa setelah kehadiran sosok Dilla membuat rasa cinta kepada Adel mulai mengikis.


Dilla mengerucutkan bibirnya. "Mulai deh gombalan plus lebaynya."


"Bersyukur dong, Dil. Kamu di sukai pria tampan sepertiku." Rendi mengedipkan sebelah matanya kepada Dilla, membuat Dilla ingin merasa muntah melihatnya.


"Aku nggak ngarep disukai sama kamu, Ren!" jawab Dilla merasa kesal. Telinganya sudah merasa panas mendengar gombalan Rendi yang unfaedah menurutnya.


Tak lama kemudian mobil Rendi sampai di perusahaan Martadinata grup. Rendi buru-buru keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Dilla.


Dilla yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dilla paham betul sikap Rendi sejak dulu. Jadi, Dilla nggak pernah memasukkan ke dalam hatinya.


"InsyaaAllah," sahut Dilla.


"Mau aku antar sampai dalam?" tawar Rendi tersenyum manis ke arah Dilla.


"Nggak usah! aku juga cuman OB di sini. Kamu pergi sudah." Usir Dilla saat melihat sekelilingnya, dia dan Rendi sudah menjadi pusat perhatian para karyawan lainnya.


Di sisi lain Erwin baru saja sampai di perusahaannya, dia berjalan di ikuti oleh sekretaris Max di belakangnya.


"Kebetulan ada Bang Erwin di sini, aku titip calon istriku. Jaga baik-baik, jangan sampai di goda laki-laki lain." Rendi menghentikan langkah Erwin.


Erwin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Pemuda itu hanya menatap datar ke arah Dilla maupun Rendi.


"Rendi, jaga omongan kamu. Kamu nggak tahu itu atasan aku," ucap Dilla pelan menatap sangar ke arah Rendi. Dilla tidak mengetahui kedua pria itu saling mengenal satu sama lain.


"Aku kenal juga sama dia, Dilla," balas Rendi.


'Benarkah?' ucap Dilla membatin. Gadis itu tentu mereka syok dan tidak percaya.


"Gue nggak peduli!" sahut Erwin dingin dan datar. "Max, usir pria itu dari perusahaan kita!" titah Erwin.


"Baik, Tuan!" jawab sekretaris Max menundukkan kepalanya.


"Gue bisa pulang sendiri! lo sombong sekali, Win!" Rendi menendang tulang kering Erwin. Erwin tidak peduli.

__ADS_1


Erwin menarik paksa tangan Dilla untuk mengikutinya. Dilla ingin memberontak, tetapi cengkraman tangan Erwin sangat erat. Atasannya itu seperti marah pada dirinya.


"Pak, tangan saya sakit," rintih Dilla memberontak.


"Diam!" Suara Erwin sangat tidak bersahabat. Dilla yang mendengar suara itu langsung diam. Erwin sangat menakutkan menurut Dilla sekarang.


"Jangan bilang lo suka juga sama cewek gue, Win?!" teriak Rendi pada Erwin yang sudah berjalan meninggalkan begitu saja.


"Silahkan Anda pulang, Tuan." Perintah Max menundukkan kepalanya sedikit. Max mengetahui siapa pemuda dihadapannya itu.


"Ck, sialan!" Rendi membanting setir mobilnya.


•••


"Apa hubungan kamu dengan Rendi?!" tanya Erwin penuh intimidasi dan penekanan.


"Itu bukan urusan Anda, Pak," jawab Dilla. Kaki Dilla sudah bergetar ketakutan. Dilla pura-pura tersenyum untuk menghilangkan ketakutan. "Itu menyangkut urusan pribadi saya, Pak," ucapnya lagi dengan nada suara sopan.


"Jaga sikap kamu dan jangan dekat-dekat dengan pria lain." Erwin menyerahkan amplop coklat kepada Dilla.


"Apa ini, Pak?" tanya Dilla.


"Baca saja."


Satu bulir air mata jatuh di pelupuk mata wanita itu setelah membaca isi dari kertas putih yang di baca. Di kertas tersebut sudah ada tanda tangan Bapaknya dan atasannya itu.


"Aku sudah membelimu dengan harga tinggi, jadi Kau sudah milikku sepenuhnya," ujar Erwin.


'Bapak tega sekali menjualku, Bapak pikir Dilla barang yang diperjualbelikan,' batin Dilla bersedih. Bulir air kembali jatuh, setelah melihat nominal uang yang di berikan Erwin kepada bapaknya. Apa jadinya hidupnya ini lagi.


Kapan atasannya itu bertemu dengan bapaknya. Begitu yang ada dipikiran Dilla.


"Cepat atau lambat saya akan menikahimu," tutur Erwin.


Gadis itu masih membisu, Dilla bangkit berdiri. "Memang uang bisa membeli segalanya, Pak. Termasuk harga diri saya. Anda orang jahat pertama yang saya kenal. Saya permisi keluar." Dilla menundukkan kepalanya, dia keluar begitu saja dari ruangan Erwin.


'Aku melakukan semua itu demi kebaikan kamu, supaya kamu bebas dari jeratan Bapak gilamu itu,' batin Erwin. Erwin dapat merasakan kesedihan yang mendalam dari gadis itu. Sekretaris Max sudah mencari informasi tentang Dilla sangat detail sekali. Setelah mendapatkan informasi itu sekertaris Max segera melaporkan kepada tuannya.


Visual Mufdilla Dzakiyah, gadis biasa yang berhasil merebut hati seorang Erwin Martadinata.



.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen ya

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2