Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
101


__ADS_3

"Terkadang, orang dengan masa lalu paling kelam akan menciptakan masa depan yang paling cerah." ~ Umar bin Khattab


Setelah Rendi berlalu dari ruangannya, Jessika semakin menangis sejadi-jadinya. Anita membuka pintu ruangan itu pelan.


"Jessika kamu sudah siuman, Dek?" Alhamdulillah." Anita memeluk tubuh adik perempuannya itu penuh kebahagiaan.


Jessika diam, air matanya terus luruh dari pelupuk matanya.


"Kamu punya masalah dengan Rendi? Cerita sekarang sama kakak, Dek," ujar Anita menghapus jejak air mata di pipi Jessika. Anita menebak pasti ada sesuatu hal yang terjadi antara Rendi dan Jessika.


"Kak Rendi jahat, Kak ... hiks," adunya dengan isak tangisannya.


Anita tersenyum tipis, mengusap lembut rambut panjang milik Jessika. "Jangan bicara seperti itu, Dek. Rendi baik loh pada kamu, sepertinya dia suka sama kamu."


Jessika menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak mungkin, Kak Anita jangan memuji kak Rendi saat ini. Jessika mau ngelupain kak Rendi. Jessika nggak mau lagi berharap!" ucapnya penuh keyakinan.


"Siapa yang memuji? Kakak bicara apa adanya kok. Kamu tahu, sejak kamu di rawat, Rendi tidak pernah meninggalkanmu. Bahkan hari-harinya sibuk menjaga kamu, Dek."


"Kak Ren melakukan itu karena dia merasa bersalah, Kak. Berhentilah membicarakan kak Rendi saat ini."


"Buka matamu, Dek. Kamu nggak pikir sejak kapan Rendi sangat peduli dengan kamu seperti ini? Kakak dapat lihat ketulusan cinta dari mata Rendi pada kamu, Dek," tegas Anita kembali.


"Jessika nggak tertarik lagi membicarakan kak Rendi, Kak Anita seharusnya harus ngedukung Jessika untuk melupakan kak Rendi. Bukan gini, Jessika mau nyerahin semuanya pada Tuhan." Jessika membalikkan badannya, tidur menyamping ke kiri, membelakangi Anita.


Anita mengembuskan napas berat, "Kakak akan mendukung kamu, kakak minta maaf. Kamu benar-benar ingin melupakan Rendi, Dek?" tanya Anita penasaran. Anita tidak tahu apa yang membuat adik perempuannya itu menyerah, biasanya dia akan mengejar apa pun yang dia inginkan. Sepertinya pola pikir Jessika sudah mulai berubah.


"Jessika sedang mencobanya, walaupun sulit. Jessika merasa nggak pantas dengan kak Rendi."


"Terserah kamu, Dek. Bila itu yang terbaik, kakak hanya bisa mendukung."


Sementara di sisi lain, Rendi baru tiba di apartemennya, Rendi melempar kunci mobilnya sembarangan tempat. Wajah pria ini sangat frustrasi. Beberapa orang yang menyapanya saat berpapasan di lift tidak dihiraukan. Biasanya Rendi ramah namun, tidak baginya malam ini. Entahlah dia juga tidak mengerti dengan perasaannya. Rendi membuka jas kerjanya dan melepaskan begitu saja.

__ADS_1


Rendi menyalakan shower air, dia ingin menyegarkan pikirannya. Otaknya mulai bekerja tidak normal, pikirannya terus saja memikirkan Jessika.


Bug!


Rendi meluapkan emosinya pada dinding kamar mandi. Rendi tidak peduli dengan rasa sakit di tangannya. Setelah membersihkan diri, Rendi memilih duduk termenung di balkon apartemennya. Netra hitam pria ini tampak kosong menatap langit-langit malam yang bertabur bintang. Rendi tidak mengangkat telepon dari Bara, dia ingin menenangkan dirinya yang terasa mulai gila.


'Bodoh, bodoh!' Rendi mengumpat dirinya sendiri. Pria ini kembali meneguk air putih dingin yang ada di tangannya. Meminumnya dengan rakus untuk menghilangkan kemarahannya.


****


Famira mengambil bantal guling dan selimut di dalam almari. Bara mengerutkan keningnya melihat tingkah istrinya itu malam ini.


"Kamu mau tidur ke mana, Ra?" tanya Bara menghalau Famira yang ingin keluar kamar.


"Kamar ummi, Famira ingin tidur sama ummi malam ini, Mas," jawab Famira. Famira bersifat acuh saat melihat Bara sudah merengek seperti anak kecil di hadapannya itu. "Anak Mas yang menginginkannya, bukan Famira Mas, ngerti yah."


"Terus jatah ... jatah Mas, Ra."


"Sayang ... mana mas sanggup. Mas tidak akan bisa tidur bila tidak memelukmu," teriak Bara frustrasi.


Famira menghentikan langkah tepat di ambang pintu. "Mas harus sabar, Famira tetap tidur dengan ummi."


Bara menjatuhkan bobot tubuhnya secara kasar di sisi ranjang.


"Atha, tidur sama ayah saja malam ini, yah?" Bara bertanya penuh harap pada anak kecil laki-laki itu.


"Atha, mau sama Bunda, Yah." Atha segera berjalan cepat menyusul Famira.


Vernandes masuk dalam kamar Bara, pria paruh baya ini heran saat melihat wajah Bara yang di tekuk. Malam ini, Vernandes akan menginap di rumah Bara.


"Tidur sama, ayah saja, Nak," tawar Vernandes, Vernandes menyungging senyum mengejek. Vernandes langsung tidur selonjoran di kasur empuk itu. Tidak peduli dengan kata penolakan dari Bara, Bara yang melihat mertuanya itu menggelengkan kepalanya pelan. Vernandes tidur dengan posisi tengkurap. "Bara pijat kaki ayah, tubuh ayah lumayan pegal!" titah Vernandes.

__ADS_1


'Hah? Aku nggak salah dengar?' tanya Bara membatin mendengar suruhan mertuanya itu.


"Bara tidak bisa, Yah. Kalau mau Bara akan menelepon tukang pijat profesional untuk memijat Ayah malam ini."


"Ayah tidak mau, Nak. Ayah mau kamu yang melakukannya, sesekali kamu memanjakan mertuamu," jawab Vernandes santai, "Cepat sudah, Nak!" tegasnya kembali saat Bara belum mengindahkan perintahnya.


Bara meneguk ludah dalam-dalam, mana bisa dirinya memijat. Dengan penuh keterpaksaan Bara menuruti perintah mertuanya itu.


"Kamu memijat atau ingin membuat ayah nggak bisa jalan Bara? Pelan-pelan," omel Vernandes. Bara mendengus kesal, dan mengangguk setuju.


"Bara sudah bilang, Bara tidak bisa, Yah."


"Jangan banyak bicara, cepat sudah," suruh Vernandes lagi, "Pijat kaki kanan juga, jangan berhenti sebelum ayah menyuruhmu berhenti!" tegasnya kembali dengan nada suara seperti mengancam.


Dengan bodoh atau memang Bara sudah bodoh, Bara mengiyakannya.


"Hahaha ...." Erwin tertawa terbahak-bahak di ambang pintu kamar melihat Bara memijat kaki ayahnya. Erwin memegang perutnya saking lucu melihat pemandangan yang langka itu.


"Ck, sialan lo, Win!" hardik Bara tidak terima ditertawakan.


"Kebetulan kamu datang ke sini juga, Erwin. Kamu juga pijat ayah." Vernandes menunjuk pundaknya, "kamu pijat bagian sini!"


"Ya ... kok Erwin juga kena sih, Yah." Erwin tampak mengeluh, tawanya hilang otomatis.


"Rasain, makanya jangan senang di atas penderitaan orang lain, Win!" Bara tersenyum miring sambil tangannya memijat kaki Vernandes.


Erwin duduk di samping tubuh Vernandes, menuruti perintah ayahnya itu.


Vernandes menyungging senyum kemenangan. "Pijatan kalian berdua cukuplah, ayah sarankan kalian buka panti pijat saja," kata Vernandes diakhiri dengan elak tawa ringan.


Erwin dan Bara hanya bisa beradu pandang mendengar perkataan konyol dari Vernandes. Kedua pria itu tampak kesal.

__ADS_1


__ADS_2