Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
106


__ADS_3

Tidak ada seseorangpun yang mampu memecahkan teka teki air mata wanita kecuali seorang laki-laki yang mencintainya dengan kejujuran. ~ Ustadzah Aminah Al Atthas


Jessika merebahkan tubuhnya ke kasur setelah dirinya membersihkan diri. Jessika memejamkan matanya sejenak, mencoba merefresh otaknya.


Drett ....


Satu notifikasi pesan masuk dan tertera nama Rendi dilayar handphone mahal miliknya. Jessika tersenyum tipis saat membaca pesan singkat dari Rendi, baru pertama kali Rendi mengirimkan pesan kepadanya


// Jangan lupa selalu tersenyum. //


Jessika ingin membalas pesan dari Rendi itu. Namun, saat dia sudah mengetik kata demi kata, tetapi Jessika ragu dan menghapusnya kembali.


// Aku sedang mencoba menjadi pria yang lebih baik. //


Jessika mengerutkan keningnya, masih belum paham dengan pesan Rendi yang baru masuk itu.


// Untuk? //


Jessika membalas dengan bertanya singkat, dia terlalu penasaran.


Jessika masih menatap layar handphonenya berharap, ada jawaban dari Rendi.


'Ngeselin banget sih kak Ren, padahal dia yang ngirim pesan duluan,' gerutu Jessika kesal dalam hatinya, menyesal baginya telah membalas pesan dari Rendi. Jessika mematikan handphonenya dan menaruh kembali di atas nakas.


Rendi yang sudah membaringkan tubuhnya juga di atas kasur menyungging senyum tipis saat Jessika membalas pesannya.


'Masih banyak yang harus aku lewati untuk mendapatkanmu, Jes.' Senyuman Rendi hilang seketika, pria ini mengingat kembali peringatan keras dari Papa Andi saat mereka berbicara empat mata. Netra milik Rendi perlahan-lahan tertutup, kantuknya sudah menyerang dirinya.


•••


Pagi telah hadir, gelapnya malam telah diganti oleh sinar mentari. Semua orang kembali sibuk dengan aktifitas sehari-hari mereka.


"Mas ...." panggil Famira dengan lembut kepada Bara yang sedang memasang sepatu kerjanya.


"Ya. Ada apa, Ra?" Bara mengerutkan keningnya melihat wajah Famira yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


Setelah memasang sepatunya, Bara mendudukkan tubuhnya di samping Famira. Tangannya bergerak mengusap lembut kepala Famira yang dilapisi jilbab itu.

__ADS_1


"Perut kamu sakit? Mau sesuatu?" tanya Bara beruntun, "Sayang, ada apa?" tanyanya lagi saat Famira belum menjawab obrolannya.


Famira mengembuskan napas panjang. "Famira cuman takut ...." Suara Famira terdengar bergetar, Famira memeluk tubuh kekar Bara dengan erat. "Ada yang meneror Famira, Mas, dia selalu bilang akan membunuh, Mas ....," aduhnya dengan lirih.


"Meneror? Kapan, Ra?" Bara mendorong pelan tubuh Famira dari dekapannya. Raut wajah pria ini langsung berubah, urat lehernya menahan amarah. Siapa lagi yang berani mengusik rumah tangganya?


"Sudah satu minggu ini, seseorang sering mengirim pesan-pesan mengancam. Awalnya Famira cuman berpikir orang iseng saja, tapi ternyata tidak, Mas."


Sering nomor telepon yang tidak terdaftar di kontaknya handphonenya , mengirimkan pesan-pesan yang mengancam kepada dirinya, membuat Famira dilanda ketakutan. Saat Famira mencoba untuk menghubunginya karena penasaran, nomor telepon itu langsung tidak dapat dihubungi.


Mata Famira sudah mulai berair, bening-bening air mata tidak dapat di bendung lagi. Famira benar-benar khawatir kehilangan sosok suaminya itu. Famira ingat jelas semalam saat dirinya tidak bisa tertidur, Famira keluar seorang diri ke balkon kamar di malam buta itu. Pandangan Famira jatuh ke luar gerbang, tepat pada sosok pria misterius yang diam-diam mengintai kediamannya dari luar. Famira tidak begitu jelas melihat wajahnya karena tertutup dan pencahayaan di tempat pria itu berdiri kurang, pria itu segera pergi saat menyadari kehadiran dirinya sudah diketahui oleh pemilik rumah itu.


Bara menarik tubuh Famira ke dalam dekapannya kembali, saat menyadari istrinya itu sudah menangis. "Jangan terlalu memikirkannya, Ra. Tidak bagus bagi kesehatan kandungan kamu. Mas tidak apa-apa." Bara mencoba menenangkan, mengusap lembut punggung istrinya itu.


Famira masih menangis, dia tidak tahu kenapa perasaan ketakutan berlebihan hari ini terhadap Bara.


"Mas harus ada disisi Famira yah, nggak boleh ke mana-mana," pinta Famira memohon. Famira mengusap jejak air matanya. Menatap netra cokelat milik Bara penuh harap.


Bara mengaguk setuju, mengecup puncak kening Famira singkat. "Iya, Sayang, mas bisa kerja di rumah," sahut Bara tersenyum tipis.


Ketukan pintu dari luar terdengar.


"Biar mas saja yang membukanya, kamu duduk saja." Bara segera mencegah Famira yang ingin bangkit.


"Famira aja, Mas."


"Nggak, Ra," ucap Bara tetap menolak. Famira hanya bisa mengaguk paham dan memilih mengalah.


Bara membuka kenop pintu rumah terlihat gadis berambut pirang sudah tersenyum tipis ke arahnya.


"Assalamu'alaikum, Kak Bara ....," salam Adel. Wajahnya terlihat ceria sekali. Pria yang berdiri di sampingnya ikut melemparkan senyum tipis ke arah Bara.


Bara membalas dengan senyuman tipis juga. "Wa'alaikumussalam, Del. Tumben pagi-pagi datang ke sini?" tanya Bara heran, tangannya bergerak mengusap puncak kepala Adel. Mengacak-acak rambut pirang milik gadis di hadapannya itu.


Adel mencebik kesal dengan Bara. Dia melirik ke arah Ezra di sampingnya. "Ezra, lihatlah dia mengacak rambutku, 'kan jadi berantakan," aduhnya dengan suara manja. Ezra tersenyum kecil melihat tingkah manja kekasihnya itu. Pria ini memperbaiki rambut kekasihnya itu.


"Dasar manja," ucap Bara pada Adel, "Ada apa datang ke sini?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Suruh kami masuk dulu Kak Bara, baru bertanya. Kaki Adel pegal nih berdiri lama-lama."


Hubungan Bara dan Adel sudah membaik. Adel sudah benar-benar move on dari Bara sejak menerima kehadiran Ezra. Hubungannya dengan Ezra sudah menuju jenjang sangat serius.


Bara memberikan jalan untuk Adel dan Ezra masuk ke dalam rumahnya. "Silahkan masuk Nona Agatha yang terhormat," ucapnya selayak menyambut tamu terhormat. Bara menundukkan kepalanya sedikit.


Adel terkekeh kecil diperlakukan seperti itu. Famira bangkit berdiri melihat kehadiran Adel. Adel berlari kecil lalu memeluk tubuh Famira.


"Sudah lama nggak datang lagi ke sini, Del," tutur Famira sembari mendudukkan tubuhnya di atas sofa.


"Maklumlah Kak, aku sibuk banget akhir-akhir ini, Adel ikut senang mendengar kabar Kak Famira hamil lagi." Adel ikut duduk di samping Famira. Menatap wajah Famira dengan intens.


Adel mengambil sesuatu di dalam tas selempang yang dipakai. "Adel mau kasih undangan pernikahan ini. Kak Famira dan Kak Bara harus datang yah." Adel menyodorkan kartu undangan resepsi pernikahan .


"MasyaaAllah, jadi sebentar lagi kalian menikah?" tanya Famira penasaran.


"Iya, tinggal satu minggu lagi sih. Langsung halal, Kak," sahut Ezra yang duduk di samping Bara.


Bara membisikkan sesuatu kepada Ezra.


"Ngerti 'kan?" tanya Bara setelah selesai berbisik.


"Tentu saja, Kak. Aku akan telepon Kak Bara nantinya," sahut Ezra. Kedua pria itu tos kemenangan.


"Apa yang Kak Bara bisikan kepada calon suami Adel?"


"Ada lah ini urusan pria."


Adel melirik ke arah Ezra mencoba mencari jawaban, tetapi kekasihnya itu mengangkat bahunya acuh.


"Ya udah deh, kita berbicara berdua aja Kak, di belakang rumah." Adel mengandeng tangan Famira, Famira ikut saja.


"Ya ... kenapa nggak ajak kami?" Bara dan Ezra bertanya kompak.


"Ini urusan perempuan!" sahut Famira dan Adel kompak juga. Kedua wanita itu pergi dari hadapan Bara dan Ezra.


Bara dan Ezra saling pandang. Mereka berdua pun melanjutkan obrolannya.

__ADS_1


__ADS_2