Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
55


__ADS_3

 ━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━


"Sebaik-baik harta simpanan adalah taqwa, dan sejelek-jeleknya adalah sikap permusuhan."


[ Imam Syafi'i ]


 ━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━


Suara azan subuh berkumandang, Famira duduk dan menggeliatkan badannya. Famira menggosok-gosok kedua telapak tangannya karena udara pada subuh ini cukup dingin. Tetapi, tak menyurutkan niat Famira untuk bangkit dan segera menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Tak lupa Famira mengucapkan hamdalah lalu membaca doa bangun tidur, sebagai bentuk syukur kepada-Nya.


Bangun tidur merupakan nikmat yang tidak ada bandingannya, bagaimana tidak? Saat kita bangun tidur, kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara segar dan mendukung aktivitas seperti biasa. Maka dari itu, pagi hari adalah momentum yang tepat untuk memperbanyak bersyukur kepada Allah Subhana Wa Ta‘ala.


Sebagaimana firman-Nya :


فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ


Maka ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku. (Q.S Al-Baqarah : 152 )


Netra milik Famira menatap ke arah sofa, dia tersenyum tipis ternyata suaminya sudah bangun terlebih dahulu daripada dirinya.


Famira segera bangkit, dan saat bersamaan juga Bara keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap di tubuhnya.


Famira memeluk tubuh kekar Bara. "Maafkan Famira, Mas. Karena sudah marah-marah sama Mas semalam, tanpa mendengar penjelasan Mas terlebih dahulu." Famira menyadari kesalahannya, dia semalaman terlalu egois. Mood dirinya cepat sekali berubah mungkin karena pengaruh kandungannya.


Bara mencakup pipi Famira lalu mencium pipi kanan dan kiri istrinya itu. "Kamu tidak salah, Mas yang salah karena tidak jujur," jawab Bara sambil menarik lembut hidung Famira.


"Mas harus janjinya, ceritakan pada Famira semuanya tentang semalam itu," pinta Famira tersenyum tipis.


"Iya, sayang," sahut Bara.


Famira memejamkan matanya sejenak saat merasakan sesuatu yang lembut mendarat di bibirnya. "Morning kiss." Bara melepaskan pangutan bibirnya, untuk mengambil napas sejenak. Tangan Bara bergerak melingkar di pinggang Famira, dia kembali mencium bibir Famira dengan lembut.


"Mas sudah, Famira mau mandi. Mas juga nanti telat pergi shalat subuh berjamahannya." Famira mendorong tubuh Bara, agar Bara menghentikan aksinya.

__ADS_1


"Sebentar lagi." Bara kembali melanjutkannya, Famira hanya pasrah saja. Menolaknya juga Bara tetap keras kepala.


•••


Famira memasang dasi di leher Bara dengan telaten. Bara tersenyum kagum melihat istrinya itu.


Senyum mengejek terukir di bibir Famira sekarang. "Mas, lihat ini." Famira mengangkat sebuah buku berwarna hitam dari tangannya.


Bara membulatkan matanya. "Di mana kamu ambil, Ra?" tanyanya. Bara ingin meraih buku itu di tangan Famira.


"Ada lah, Famira udah baca loh, Mas." Famira tertawa cengengesan. "Famira tidak menyangka Ma---"


"Jangan bilang kamu sudah baca sampai halaman terakhirnya?" potong Bara cepat.


"Belum, baru halaman tengah kok, Famira juga penasaran ingin bacanya lagi sampai akhir. Karya tulis dan curhatan hati dari seorang Bara Sadewa," ejek Famira dengan elak tawanya. Famira semalam menemukan buku itu di ruangan kerja Bara.


Baru halaman pertama saat membaca buku diary itu Famira sudah meneteskan air mata saat membacanya, tak menyangka pria yang biasa tegas dan terlihat saat menakutkan selama ini yang di kenal, memiliki sisih yang sangat menyedihkan dan keterpurukan pada usianya yang belia.


"Kembalikan ke Mas Ra ..." ujar Bara.


"Nggak, Mas. Famira mau membacanya sampai selesai dulu. Rasanya Famira seperti baca novel saja, alurnya tersusun rapi sekali. Mas, ahli juga dalam bidang ke penulisan," ucap Famira terkagum. Famira menyembunyikan buku diary itu di belakang punggungnya.


"Sini, Ra. Mas malu kalau kamu baca sampai halaman terakhirnya. Biar Mas cerita langsung saja ke kamu. Sini bukunya, Ra," ujar Bara memohon. Mau taruh di mana muka dirinya saat Famira membaca semua isi buku itu.


"Nggak, Mas." Famira tetap kukuh. Dia tetap mempertahankan buku yang ada di tangannya. Bara terus berusaha merebut buku diary itu di tangan Famira.


Pergerakan Famira sudah terkunci oleh tubuh Bara yang mengapitnya


di tembok. "Jangan sampai Mas merebutnya dengan paksa." Ancam Bara.


"Famira nggak takut," sahut Famira menantang. Famira masih menyembunyikan buku diary itu di belakang tubuhnya.


Merasa tertantang Bara langsung mencium bibir Famira dengan rakusnya. Saat Famira sudah menikmati ciumannya, tangan Bara merebut buku itu di Famira.

__ADS_1


"Mas curang," kata Famira mencebik kesal.


Jempol besar Bara bergerak mengusap lembut bibir istrinya itu. "Siapa suruh menikmatinya juga." Bara tersenyum kemenangan.


"Siapa yang menikmati? Mas saja yang melakukannya dengan paksa." Famira membela diri. "Mas pelit sekali, Famira kan istri Mas juga. Famira hanya ingin baca aja sih. Pelit ..." Famira mengentakkan kakinya kesal. Dia berjalan ke meja rias lalu menyisir rambutnya.


Bara mengambil alih sisir di tangan Famira. Dia menyisir rambut panjang hitam milik Famira dengan lembut. "Nanti Mas ceritakan semuanya, nggak usah marah," ucap Bara lalu menopang dagunya di pundak kanan istrinya. "Sayang, masih marah sama Mas, yah?" tanya Bara tepat di samping telinga Famira. Bara meniup-niup telinga Famira, membuat Famira merasa geli.


"Dikit," jawab Famira lalu bangkit berdiri.


"Mas mau kasih tahu kamu di hari yang tepat saja, Ra." Bara mengikuti langkah Famira.


"Gitu baiklah, Famira nggak maksa kok. Tapi, Famira cuman ingin tahu saja kapan kita pernah bertemu sebelum pernikahan, Mas?" tanya Famira penasaran.


"Rahasia, nanti tepat pada waktunya saja Mas akan kasih tahu kamu semuanya. Dari awal sejak kita bertemu. Namun, satu hal yang perlu kamu tahu sekarang, kamu adalah cinta pertama Mas sejak dulu," tutur Bara penuh keyakinan. Bara meraih tangan Famira untuk mengajaknya turun ke bawa dan bergabung dengan anggota keluarga lainnya yang sudah menunggu.


"Cinta pertama? bukannya---"


Bara menaruh jari telunjuknya di bibir Famira, supaya wanita itu berhenti mengoceh dan bertanya.


"Sejak hamil kamu jadi semakin cerewet saja."


"Ya udah, Famira nggak mau bicara lagi."


"Pagi, Bibi Famira," sapa Kila yang sudah duduk di meja makan.


Famira melemparkan senyum tipis. "Pagi juga, keponakan Bibi yang cantik." Famira menarik kursi lalu duduk di samping Mama Ani dan di susul oleh Bara.


"Makan yang banyak ya, sayang. Supaya cucu Mama sehat." Mama Ani menaruh berbagai lauk pauk di piring Famira. Sejak hamil, mertuanya sangat memanjakan dirinya sekali dan memperlakukannya bak tuan putri saja. Famira jadi tidak enak karena dia tidak terbiasa di perlakukan seperti itu.


"Iya, Ma," jawab Famira.


Sarapan pagi itu pun berjalan khidmat di keluarga Wijaya. Hanya terdengar suara dentingan sendok makan dan piring yang ada.

__ADS_1


__ADS_2