
"Anak kecil di rumah Tuan Bara, adalah anak Rafael, Rafael menjadikan anak itu sebagai alat untuk menghancurkan, Tuan," jelas Detektif Jordan. Cukup banyak dirinya mendapatkan informasi setelah melakukan penyamaran.
"Nggak mungkin!" Bara membantah, tidak menerima kenyataan bahwa Atha yang sudah dianggap putranya sendiri itu ternyata anak dari musuhnya.
Detektif Jordan menjelaskan lebih detail agar tuannya itu percaya. Tidak hanya dengan perkataan dijelaskan, Detektif Jordan memperlihatkan buktinya juga. Bahwa memang benar Atha adalah anak Rafael.
Rendi menepuk pundak Bara, pria ini dapat merasakan ketulusan hati dari sahabatnya itu dalam menjaga dan merawat Atha selama ini. Berat memang mengetahui sebuah kenyataan ini. "Lo harus kembalikan Atha ke Rafael, gue takut kehidupan lo dan Famira tidak akan tenang setelah ini," ujarnya.
"Tidak akan terjadi, Atha tetap bersama gue, sampai kapan pun!" Bara menjawab penuh yakin. Ia berjalan duluan, ingin cepat-cepat menemui Rafael. Bara ingin menghajar habis-habisan. Geram. Bara merasa sangat geram dengan Rafael, ayah semacam apa menjadikan darah dagingnya sendiri untuk membalas dendam terhadap dirinya.
"Penyusup!" teriak salah satu anak buah Rafael saat melihat kehadiran Bara. Dengan gerak cepat, 30 anak buah Rafael segera mengeluarkan pistol mereka dan diarahkan kepada tiga orang yang masih terlihat santai, berjalan masuk ke dalam bangunan tua itu.
Meskipun sudah dikepung dari segala sisi, baik Bara, Rendi, maupun Detektif Jordan tidak terlihat ketakutan. Raut wajah ke-tiga pria itu santai saja, padahal nyawa mereka bertiga bisa saja melayang begitu saja saat itu.
Senyum meremehkan terukir di sudut bibir Bara, Rendi, dan Detektif Jordan. Menurut mereka itu hanyalah sebuah permainan konyol yang tidak ada apa-apanya.
"Turunkan senjata kalian!" ujar Rafael memerintahkan kepada seluruh anak buahnya. Ia keluar karena mendengar keributan yang terjadi. Rafael juga memberikan kode untuk anak buahnya agar bubar.
Bara memasukkan tangannya dalam saku, ia menatap Rafael dengan dingin dan juga datar. "Kenapa memberhentikan anak buah lo?!" tanyanya dengan penuh penekanan. Senyum miring terbit di bibirnya. Pertanyaan Bara berhasil membuat Rafael menelan saliva dengan kasar.
__ADS_1
"Gue ingin bermain seimbang saja. Satu lawan satu!" sahutnya.
Rafael dapat melihat tatapan mematikan dari netra milik cokelat Bara diarahkan kepadanya.
Kini mereka berdua adu pandang, memperlihatkan kalau mereka sedang berbicara melalui tatapan.
"Ck, pengecut lo. Kalau mau nyerang jangan dari belakang, dari depan aja. Kurang seru!" hardik Rendi. Pria ini maju satu langkah ingin memberikan tinjauan tepat di wajah Rafael. Namun, Detektif Jordan menghentikannya.
Rafael mendengus mendengarnya. "Gue pikir lo udah mati kena tembak waktu itu!" jawabnya diiringi tawa jahat.
Amarah Rendi makin memuncak saja. "Detektif Jordan singkirkan tangan lo! Gue ingin bunuh Rafael brengs4k!"
"Gue memang ingin lo mati dengan tangan gue saat ini! Tapi gue tidak ingin berbuat jahat lagi!" ujarnya.
"Ck, lo benar-benar taubat sekarang? Gue pikir lo pura-pura agar bisa mengambil hati istri lo!" Rafael menepis tangan Bara dari tubuhnya.
Bara menjatuhkan bobot tubuhnya di salah satu kursi kayu. Ia tidak ingin masalah tentang penambakan Rendi berlanjut panjang, Bara tidak menginginkan juga mempunyai musuh atau masalah lagi. Malam itu juga ia akan mengakhiri semua permasalahan yang ada. Mengungkap rahasia yang terjadi sebenarnya waktu dulu, yang menyebabkan permusuhan antara dirinya dan Rafael. Bara menginginkan perdamaian! Bukan lagi permusuhan.
Cukup sudah. Masalah yang menimpali kehidupan rumah tangganya, ia menginginkan kehidupan nyaman dan tentram bersama istri dan anak-anaknya kelak. Tidak lagi mementingkan siapa yang kuat dan berkuasa.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, tepatnya di kamar Famira. Famira terbangun ketika mendengar Atha mengigau.
"Ayah ...." Ucapan itu yang keluar dari bibir mungil anak kecil laki-laki itu. Keringat dingin membasahi keningnya.
"Atha, bangun Nak ...." ujar Famira lembut, supaya putranya itu sadar. Famira menaruh punggung tangannya di kening putranya itu, "Astagfirullah, suhu badan kamu panas, Tha." Famira khawatir, ia segera beringsut bangkit memakai khirmarnya dan segera turun ke bawah untuk mengambil handuk dan air hangat.
Tidak butuh waktu lama Famira kembali dengan baskom dan handuk kecil di tangannya.
Atha sudah selesai dikompres, Famira membiarkan putranya untuk beristirahat kembali. 'Mas Bara ke mana ya?'
batinnya bertanya. Ia baru menyadari bahwa suaminya tidak ada.
Famira mengambil termometer memeriksa kembali suhu badan Atha. "Suhu badannya masih panas," ucapnya dengan khawatir. Famira menggendong tubuh Atha, memberikan kehangatan pada anak kecil itu.
"Bunda," panggil Atha dengan mata sayup.
"Iya, Sayang."
"Atha nggak mau pisah sama Bunda," ucapnya dengan lirih, bening kristal keluar dari pelupuk matanya.
__ADS_1
Famira membelai lembut rambut Atha, tangannya bergerak menghapus bening air mata yang jatuh itu. "Atha selalu sama bunda dan ayah."