
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━━
"Untuk semua kepedihan yang kau alami bersabar dan bertahanlah, karena Allah tahu dimana batas kemampuanmu."
–Catatan Muslimah–
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━━
Aku percaya ... takdir Allah pastilah yang terbaik untukku dan untukmu juga.
Malam ini terasa sangat indah, bintang dan bulan menghiasi langit. Bumi akan menjadi saksi sakral, cahaya tidak akan pergi lagi. Bara melaju mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalan raya malam ini, tujuannya adalah rumah Ummi Hana. Ucapan penuh syukur tak henti-henti terucap di bibir pria ini.
“Assalamu’alaikum, Ra ...” panggil Bara sambil mengetuk pintu rumah Ummi Hana.
“Wa'alaikumussalam,” sahut Famira lalu membuka pintu rumah.
Bara langsung memeluk tubuh Famira. “Kita pergi yah, mas mau ajak kamu ke suatu tempat.”
“Ke mana mas?” tanya Famira bingung.
“Rahasia, sayang,” jawab Bara.
“Famira ganti baju dulu, mas.”
“Tidak usah Ra, kamu sudah cantik dengan pakaian itu.”
“Baiklah, tapi Famira takut Ummi akan khawatir. Kita tunggu Ummi dan adik Famira pulang dulu ya mas, tadi selesai shalat isya mereka pergi ke warung tapi sampai saat ini mereka belum pulang juga. Famira jadi khawatir ...”
“Mereka baik-baik saja, ayo kita pergi.” Bara menarik lembut tangan Famira ke dalam mobil.
***
__ADS_1
“Kelihatannya malam ini mas bahagia sekali. Ada apa mas? kasih tahu Famira dong. Famira penasaran,” tutur Famira kepada Bara yang fokus menyetir mobil.
“Nanti kamu akan tahu sendiri.”
Famira mengerucutkan
bibirnya. “Sekaranglah ... Famira penasaran mas,” pinta Famira.
Bara menggelengkan kepalanya pelan. “Tetap rahasia,” keukeh Bara tersenyum kecil melihat wajah Famira yang sudah mayun.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya mobil Bara berhenti di mansion yang sangat megah dan elegan dengan warna hitam putih terdapat beberapa tanaman berjajar di depan dan kolam ikan yang berisi ikan hias dilengkapi air mancur yang indah.
Famira menatap Bara meminta jawaban dan Bara hanya tersenyum dan mengajak Famira turun membimbingnya memasuki rumah dan di sambut empat pelayan wanita dan dua pelayan laki-laki yang tersenyum pada mereka.
Famira membalas senyuman itu dengan seribu pertanyaan dalam otaknya.
“Selamat datang, Tuan dan Nona,” sapa para pelayan sambil tersenyum ke arah mereka berdua.
“Mas untuk apa kita datang ke sini?”
“Kamu akan tahu sebentar lagi,” ujar Bara santai.
Dor!
Suara balon pecah terdengar keras dari atas menghamburkan kertas kecil berwarna-warni diiringi tepuk tangan. Dan ucapan “Welcome Famira.”
“Mama?” pekik Famira tak percaya saat melihat Ani dan keluarga besar Wijaya lainnya dan tak lupa keluarga besar Martadinata yang turut hadir.
“Ada apa ini?” gumam Famira masih tidak mengerti.
“Selamat datang sayang.” Ani memeluk dan mencium kening Famira lembut. “Mama minta maaf, atas kesalahan Mama kepada kamu. Mama sudah mengetahui semuanya, Nak. Maafkan Mama ...,” ucapnya dengan penuh rasa penyesalan, air mata itu luruh membasahi pipi wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Saat perjalanan pulang dari kediaman keluarga Agatha dan menuju perusahaannya, Bara mendapat telepon dari seseorang yang dia suruh untuk menyelidiki keberadaan Doni. Bara dan Rendi segera menuju ke tempat yang di beritahu oleh anak buahnya itu. Mereka langsung mengepung rumah kosong yang menjadi tempat persembunyian Doni selama ini. Bara menghajar Doni habis-habisan, dia ingin membunuh Doni saat itu juga namun, Rendi melerai pertikaian itu.
Bara dan Rendi membawa Doni dan temannya yang bernama Alex itu ke kediaman keluarga Wijaya secara paksa. Bara mengeluarkan bukti yang berhasil dia kumpulan selama beberapa akhir ini. Tidak hanya bukti yang di dapatkan, Bara mendesak Doni juga untuk mengakui kesalahannya. Tak ada pilihan lain yang bisa dilakukan oleh Doni dia menjelaskan sejujur-jujurnya, bahwa dia hanya memfitnah dan ingin merebut Famira dari tangan Bara.
Ani, Andi, dan Anita tercengang mendengar penjelasan Doni. Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi Doni dari telapak tangan Anita. Perempuan itu murka kepada suaminya itu. Anita langsung meminta cerai kepada Doni. Doni sudah membohonginya, Doni pergi dari rumah beberapa ini beralasan pergi ke luar kota dan ternyata dia mengatur strategi kejahatan.
Hanya kata penyesalan bisa di ucapkan oleh Ani, Andi dan Anita yang sudah mempercayai Doni begitu saja. Mama Ani bersimpuh lutut di hadapan Bara, meminta maaf atas kesalahannya dan keegoisan yang tidak mau mendengar penjelasan putranya dan hampir saja membuat kehidupan rumah tangga putranya hancur. Bara memaafkannya, tapi Bara menyuruh meminta maaf kepada Famira yang lebih tersakiti dengan sikap keluarganya.
Saat itu juga Alex dan Doni di ringkus oleh pihak kepolisian. Alex tahanan yang selama ini di incar oleh pihak kepolisian, dan Doni di tangkap karena sudah menggelapkan uang perusahaan Wijaya ratusan juta. Bara berhasil mendapatkan bukti juga atas rencana jahat Doni yang ingin merebut dan menghancurkan perusahaan keluarga Wijaya.
Bara selama ini bukan tidak tegas dalam menyelesaikan masalahnya itu, dia mengikuti alur. Bara ingin mendapatkan bukti yang puas, yang akan membuat orang tuanya itu bungkam seribu bahasa setelah mengetahui kebenaran. Perjodohan dengan Adel anak keluarga Agatha, Bara sebenarnya tidak mau. Namun, karena tidak ingin membuat kesehatan Mama Ani drop, Bara ikuti kemauannya. Bara berjanji dengan dirinya sendiri pernikahan itu tidak akan terjadi. Bara sempat menyerah saat dia belum menemukan keberadaan Doni, tetapi dengan tekad dan keyakinan serta doa kepada-Nya. Masalah pernikahannya bisa di selesaikan. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
Famira menghapus bulir air mata itu di pipi Mama Ani. “Famira, memaafkan Mama. Famira bersyukur Mama bisa mengetahui kebenaran ini,” ucap Famira penuh syukur. Dia langsung memeluk tubuh Ani.
“Terima kasih, Nak,” jawab Ani. Ani jadi malu dengan dirinya sendiri, menantunya begitu baik padanya. Tak salah putranya benar-benar cinta dan berubah setelah menikah dengan sosok Famira. Papa Andi dan Anita juga melakukan yang sama, meminta maaf sebesar-besarnya kepada Famira.
Bara menarik tangan Famira untuk berdiri di hadapannya lalu menghapus bulir air mata di pipi wanitanya itu. “Ra, di hadapan orang-orang yang hadir di sini aku ingin mengatakan bahwa mulai detik ini dan selamanya kau adalah istri dan ibu dari anak-anak Bara Sadewa mari kita bangun hubungan pernikahan yang sebenarnya dan selamanya, Tuhan menciptakanmu hanya untukku, aku merasa lengkap meski kita belum sempurna aku merasa senang meski hatimu belum aku genggam, aku mencintaimu Famira Azzahra.” Bara mengatakan itu sambil memegang kedua tangan Famira.
Famira yang masih syok, semakin syok dengan pernyataan Bara padanya di hadapan umum membuatnya ingin menghilang detik ini juga tapi sedetik kemudian ia tersenyum.
"Siapa bilang hatiku belum mas genggam? setelah menjalani hari-hariku denganmu rasa ini muncul dan memintamu untuk tidak akan pernah meninggalkanku," kata Famira tersenyum.
“Terima kasih telah mencintaiku jadilah wanita satu-satunya di hidupku i love you.” Bara mengecup kening Famira.
“ Dan mas berjanjilah tidak akan pernah menyakiti Famira lagi,” jawab Famira. Bara mengaguk.
Cup!
Bara mencium bibir Famira lembut membuat pipi Famira merona.
Suara riuh tepuk tangan mengiringi kisah romantis Bara dan Famira malam itu.
__ADS_1