Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
108


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu ... tidak terasa usia kandungan Famira sudah memasuki usia tiga bulan. Perutku Famira sudah lumayan membesar.


Famira banyak sekali maunya akhir-akhir ini, membuat Bara cukup kewalahan menghadapinya. Namun, tidak ada kata lelah dalam diri Bara. Bara akan melakukan apa pun untuk calon buah hatinya.


"Mas Bara, bangun! Famira mau ke rumah ayah sekarang," rengek Famira seperti anak kecil. Wanita ini menggerakkan lengan Bara yang sedang tertidur pulas itu.


Baru saja ada pesan masuk dari Dilla, Dilla mengajak dirinya untuk ngerujak bareng siang ini. Dilla juga tidak kalah banyak maunya, setelah dia dikatakan positif hamil dua minggu yang lalu.


Kecupan demi kecupan singkat mendarat di pipi Bara dari Famira. Famira sengaja melakukan itu supaya suaminya itu bangun.


Bara mengukir senyum tipis, mengacak gemas rambut Famira yang tergerai indah itu. Tangan kekar Bara menarik tubuh Famira ke dalam dekapannya.


"Buat apa kesana, Sayang?" tanya Bara masih memejamkan matanya.


"Ngerujak sama Dilla, Mas," sahut Famira antusias. "Ayo sudah, Mas," pinta Famira memohon.


Bara segera beringsut duduk, pria ini mencium setiap inci wajah Famira. Tak lupa Bara mencium perut Famira dengan gemas. Tidak sabar bagi Bara menanti kelahiran anaknya itu.


"Mas mandi sebentar, gerah, Ra."


"Baiklah, jangan lama yah."


Bara menghentikan langkahnya, berjalan balik ke arah Famira. "Mandi bareng Ra, yuk!" ajak Bara penuh semangat.


Dengan cepat Famira menggelengkan kepalanya. "Nggak mau, nanti lama jadinya dan bisa juga nggak jadi pergi ke rumah ayah," tolak Famira halus. Famira mengerti apa yang terjadi bila akan mandi bersama suaminya itu, "Famira lagi hamil, Mas. Mas, ingin kehilangan anak kita lagi?" Famira mengeluarkan perkataan pamungkasnya yang mampu membuat Bara mengalah dengan sekejap.


"Iya ... nggaklah, Ra. Jangan bicara seperti itu. Mas mandi sendiri aja deh," tutur Bara mengalah. Dengan secepat kilat pria ini berjalan ke kamar mandi.


*****


Mobil lamborghini silver milik Bara, sudah tiba dikediaman keluarga Martadinata. Bara turun sambil menggendong tubuh mungil Atha.


"Kek ...." Atha berlari kecil ke arah Vernandes. Vernandes menyambut kedatangan cucunya itu dengan penuh kegembiraan.


"Cucu kakek, datang juga," tutur Vernandes lalu menggendong tubuh Atha, mencium kedua pipi anak kecil laki-laki itu secara bergantian.


"Assalamu'alaikum, Yah," salam Famira lalu mencium punggung tangan Vernandes.


"Wa'alaikumussalam, Nak," jawab Vernandes. Bara pun melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Famira membiarkan Atha bermain dengan ayahnya, dia melangkah kakinya menuju dapur sementara Bara mengekor saja di belakang Famira. Bara tidak akan membiarkan Famira lelah atau apa pun.


"Kak Erwin," sapa Famira sambil menepuk pundak kakak lelakinya itu.


"Eh, Dek. Sudah sampai." Erwin membalikkan badannya menghadap Famira sepenuhnya. Tangan Erwin mengusap lembut kepala Famira yang dilapisi jilbab itu.


Dengan cepat Bara menyingkirkan tangan Erwin dari tubuh Famira. "Jangan terlalu pegang-pegang istri gue!" hardiknya dengan nada suara tidak suka.


Erwin tersenyum culas. "Adik gue juga!"


"Cih ...."


"Apa? Sensi sekali lo, Bara!" Erwin menarik kerah baju Bara.


"Sudah, Mas!" Famira dan Dilla melerai kedua pria itu. Saat pertengkaran keduanya makin menjadi-jadi.


Erwin melepaskan tangannya di kerah baju Bara. Menatap takut pada Dilla yang menatapnya dengan tajam. "Sebentar lagi punya anak, sikap Mas masih aja kayak anak kecil, nggak malu apa?" omel Dilla.


"Dia aja yang pancing emosi aku, Dilla," sanggah Erwin membela diri.


"Huh ... lo aja yang pancing emosi gue!" Bara tidak terima disalahkan oleh Erwin.


"Iya, Sayang."


Bara dan Erwin berdiri di samping istrinya masing-masing, memerhatikan kedua wanita yang tengah sibuk meracik bumbu rujak. Sesekali keduanya membantu apa yang diperlukan oleh kedua wanita itu.


"Famira, aku buat bumbu rujak khas desa aku aja. Aku yakin pasti enak," ujar Dilla. Tangannya bergerak cepat mengambil bahan-bahan yang akan di haluskan.


"Terserah kamu, Dilla," sahut Famira.


"Jangan pedas-pedas, Dilla. Cabainya banyak sekali." Erwin memberikan peringatan.


"Anakmu yang menginginkan makan yang pedas, Mas," sahut Dilla. Dia tidak mengindahkan peringatan Erwin.


Erwin mengembuskan napas panjang, sejak Dilla hamil. Istrinya itu jadi cerewet, gampang sekali marah, dan tentunya dengan sikap keras kepala Dilla tidak pernah berubah.


Bara yang berdiri tidak jauh tersenyum mengejek ke arah Erwin, membuat Erwin geram.


Setelah cukup lama berada di dapur, akhirnya mereka selesai membuat bumbu rujak. Erwin dan Bara masih setia mengikuti ke mana istrinya itu.

__ADS_1


"Kupas mangganya, Mas," pinta Famira memberikan pisau dan mangga ke tangan Bara.


Bara mengaguk paham, menuruti keinginan Famira.


"Kupas punya aku juga, Mas." Dilla ikut-ikutan menyuruh Erwin.


"Iya," jawabnya singkat.


Dilla dan Famira mengobrol ringan tentang kehamilan, sambil menunggu suaminya mengupas mangga mereka.


"Hey! Kak iparku ...." teriak Jessika yang baru saja tiba. Famira dan Dilla menyambut kedatangan Jessika dengan senyuman tipis. Jessika duduk di tengah-tengah Famira dan Dilla.


"Wah, enak nih. Ibu hamil ngidam rujaknya yah." Jessika mengambil mangga yang sebagain sudah dikupas ditangan kakak lelakinya.


"Kupas sendiri, ini buat Famira!" Bara menyingkirkan tangan Jessika untuk jauh-jauh.


"Pelit sekali, aku adikmu, Kak!" Jessika mencebik kesal. Bara angkat bahu acuh pura-pura tidak mendengar. Dia kembali dengan aktivitas mengupasnya.


Jessika menatap ke arah Erwin lagi. "Kak Erwin minta sepotong dong."


"Nggak! Punya tangan 'kan? Kupas aja sendiri!" sahut Erwin.


"Dasar pelit, pelit!" Jessika benar-benar merasa geram. Gadis ini memilih mengupas sendiri aja.


Erwin dan Bara bergedik sendiri melihat istrinya yang doyan sekali makan dengan rujak. Mereka yang melihatnya saja sudah merasa ngilu.


"Mas Erwin tuangi air dong," ujar Dilla karena merasa kepedesan. Namun, dia suka. Erwin dengan cepat menuangkan air putih dan memberikan kepada Dilla.


Bara mengambil sehelai tissue, mengusap keringat di kening istrinya. "Ra, sudah makannya. Nanti kamu sakit perut. Muka kamu sudah merah gitu."


"Ini enak, Mas. Coba rasa–"


"Kamu aja yang makan." Bara mencegah tangan Famira yang ingin menyuapi sepotong buah mangga ke dalam mulutnya. Bara masih ingat betul waktu dulu saat Famira ngidam juga, bagaimana rasa mangga muda itu.


"Ya, udah habis bumbunya, bikin lagi dong," pinta Jessika pada Dilla dan Famira.


"Cukup! Kalian sudah makan banyak!" Kali ini Erwin dan Bara kompak mencegah.


"Maaf, Mas, Kak. Kami masih pengen," kata Famira. Famira dan Dilla bangkit berdiri lagi menuju dapur.

__ADS_1


Bara dan Erwin mengusap wajah secara kasar. Kedua pria itu mengacak rambutnya frustrasi melihat tingkah istri mereka.


__ADS_2