Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
111


__ADS_3

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ


“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan serta kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” – (Q.S Al-Anbiya: 35)


Setiap manusia pasti akan merasakan yang namanya kematian, saat di mana nyawa seseorang terlepas dari raganya. Kematian merupakan salah satu rahasia Allah Subhana Wa Ta'ala yang tak seorang pun tahu kapan datangnya.


Bila saatnya telah tiba, tak ada yang bisa menolaknya atau sekedar minta ditangguhkan barang sesaat pun. Manusia hanya dianjurkan untuk sering mengingat mati agar kehidupannya lebih terarah dan diisi dengan banyak melakukan amal saleh sebagai bekal menuju alam akhirat.


Dalam sebuah hadis, Rasulullah berpesan, “Perbanyaklah kalian dalam mengingat penghancur segala kelezatan dunia, yaitu kematian.” (HR at-Tirmidzi).


Ke-lima pria itu memapah tubuh Rendi ke dalam mobil. Kesadaran Rendi nyaris hilang, pandangannya sudah mulai kabur. Sakit! Benar-benar sakit yang dirasakan oleh Rendi di pundaknya. Rendi merasakan peluru semakin memasuki organ tubuhnya, peluru tersebut seolah-olah massa benda yang bergerak dengan kecepatannya yang dibawa.


“Jes!” racau Rendi sebelum kesadarannya benar-benar hilang. Iris hitam miliknya perlahan-lahan tertutup. Rendi sudah tidak tahan menahan sakit.


Ke-lima pria yang menolong Rendi kian khawatir. Mereka memosisikan tubuh Rendi dengan benar.


“Kita harus hentikan pendarahan ini!” Pria yang memegang Rendi kian khawatir saja. Darah segar masih keluar dengan derasnya dari bekas tembakan tersebut. Jarak rumah sakit dengan tempat mereka sekarang lumayan jauh. Mereka harus melakukan penolongan pertama pada Rendi saat ini.


Dengan cepat salah satu dari mereka membuka bajunya lalu membalut luka tembak agar pendarahan dapat reda. Laju mobil dipercepat, ketika melihat wajah Rendi yang sudah pucat dan urat nadi Rendi berdenyut lemah.


•••


“Apa? Ditembak?” tanya Bara tidak percaya kepada seseorang melalui telepon. Pria ini baru saja pulang dari masjid yang tidak jauh dari kediamannya.


Famira yang baru selesai melaksanakan sholat magrib, segera melepas mukena dan melipat sajadahnya lalu ditaruh di dalam lemari. Wanita ini penasaran siapa yang sedang berbicara dengan suaminya itu.


“Dimana kalian sekarang?” Suara Bara sudah terdengar tidak bersahabat. Siapa yang berani menembak Rendi? Pertanyaan tersebut sudah berputar di pikirannya.


“Kami dalam perjalanan menuju rumah sakit,” jawab seseorang di seberang sana.

__ADS_1


“Aku akan segera ke sana.” Bara mematikan teleponnya, mengambil jaketnya di dalam lemari.


Famira berjalan ke arah suaminya. “Mas mau ke mana? Siapa yang tertembak?” tanya Famira penasaran. Wanita ini membantu suaminya itu memakai jaket.


Bara mencium pelipis Famira singkat. “Mas mau ke rumah sakit sekarang. Rendi tertembak, Ra.”


“Inalillahi, kasihan Rendi, Mas ....”


“Kamu jangan ke mana-mana, mas harus segera pergi sekarang.” Bara meraih kunci mobilnya di atas nakas.


Famira menggelengkan kepalanya cepat. “Famira ikut, Mas!” ujarnya memohon.


“Nggak, Ra. Kamu di rumah saja. Mas nggak mau kamu kenapa-kenapa,” tolak Bara halus.


“Ikut pokoknya, Famira juga pengin mengetahui keadaan Rendi, Mas,” jawab Famira, sembari menggoyangkan lengan Bara. Wanita ini bersikeras ingin ikut, Famira tidak ingin jauh-jauh dari Bara.


“Nggak kok, Mas. Famira kuat. Ikut yah,” pintanya memohon kembali.


“Baiklah,” jawab Bara pasrah. Pria ini tidak mau membuat istrinya itu marah atau pun sedih. “Mas tunggu di bawa.”


“Iya, Mas. Famira ganti baju dulu.”


Di tempat lain, tepatnya di rumah sakit. Rendi sudah di masukkan ke dalam ruangan UGD dan sedang ditangani oleh dokter sekarang. Ke-lima pria yang menolong Rendi, sedang menunggu di luar ruangan. Ada yang berdiri di depan pintu dan ada yang duduk di kursi tunggu. Meskipun mereka tidak mengenal sosok Rendi, mereka tetap saja khawatir.


“Assalamu’alaikum, Rendi di mana?” tanya Bara yang baru saja tiba di rumah sakit.


“Wa’alaikumussalam ... masih di dalam,” sahut ke-lima pria itu.


Tidak hanya Bara dan Famira yang datang, Erwin, Dilla, dan keluarga besar Wijaya lainnya datang juga ke rumah sakit. Mereka semua menunggu di luar dengan cemas. Iringan doa sejenak yang di pimpin oleh Papa Andi sudah mereka lakukan, supaya Rendi bisa terselamatkan dan selalu dalam lindungan-Nya.

__ADS_1


“Kak Ren, hiks ....” Jessika sudah menangis sesenggukan di pelukan Mama Ani, dari rumah sampai rumah sakit gadis itu tidak berhenti menangis. Jessika masih tidak percaya kalau Rendi tertembak. Mama Ani mengusap punggung putrinya itu mencoba menenangkan.


Beberapa menit kemudian.


Pintu yang ditunggu-tunggu akhirnya terbuka juga, mereka semua berjalan mendekat ke pintu saat dokter laki-laki yang menangani Rendi keluar. Raut panik dan dan sedih terpampang jelas di wajah dokter tersebut, membuat semua orang kian cemas.


“Teman saya, bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Bara mewakilkan semuanya. Dokter tersebut menghela napas dan menyingkir dari ambang pintu untuk memberikan akses untuk semua orang masuk.


Tangisan Jessika makin pecah, melihat wajah Rendi yang sudah pucat. Matanya sudah tertutup rapat. Mama Ani memeluk lengan Papa Andi, wanita paruh baya itu tidak dapat menyembunyikan kesedihannya melihat Rendi.


“Pasien kekurangan banyak sekali darah, dan detak jantungnya sangat lemah—“ Ucapan dokter laki-laki tersebut terpotong.


“Dok, jantungnya berhenti berdetak,” ucap suster panik saat mengecek detak jantung dan juga denyut nadi Rendi.


“NGGAK MUNGKIN!” Jessika tidak terima, gadis ini menggelengkan kepalanya dengan cepat, sangat tidak terima dengan ucapan suster tersebut. Air matanya kian luruh dengan deras. Jessika berjalan cepat ke samping brankar Rendi.


“Kak Ren! Jangan tinggalin Jessika!” teriaknya sungguh sangat memilukan. Jessika menggoyangkan tubuh Rendi. “Bangun Kak Ren ... bangun!”


Semua orang di dalam ruangan tersebut tangisannya pecah. Mama Ani pingsan di pelukan Papa Andi, Mama Ani sudah menganggap Rendi anaknya sendiri. Mama Ani segera di bawa ke ruang rawat.


Famira memeluk tubuh Bara, tangisan wanita itu juga pecah, Bara memeluk tubuh Famira, dia ikut meneteskan air matanya tidak terima dengan kematian sahabatnya itu. Begitu pun dengan Dilla. Dia menangis di pelukan Erwin. Erwin? Meski kesal dan selalu tidak akur dengan Rendi, mata pria ini berair.


Jessika terus mengguncang tubuh Rendi agar pria itu terbangun. “Kak Ren harus tahu, Jessika sudah nolak Kak Hafid demi Kak Ren. Jessika cinta sama Kak Ren! Bangun Kak Ren!” Jessika berucap sendu. Bara menarik tubuh adik perempuannya itu. “Jessika, tenangi diri kamu, Dek. Istigfar," ucap Bara menenangkan, Jessika segera menyingkirkan tangan Bara dari tubuhnya.


“Nggak, Kak!” Jessika berlari kembali ke brankar Rendi, Jessika menggenggam tangan Rendi dengan erat. “Kak Ren, please bangun ... demi Jessika." Mata Jessika sudah sangat sembap. Kenapa harus saat ini, Jessika benar-benar tidak terima.


“Jessika cinta, Jessika cinta sama Kak Ren. Ayo jawab, Kak Ren juga cinta 'kan sama Jessika?” Jessika bertanya pada Rendi yang sudah tidak bernyawa itu. Jessika menggoyangkan lengan Rendi, berharap ada sebuah keajaiban Rendi terbangun kembali. "Jawab Kak Ren, hiks ... hiks." Tangisan Jessika sudah mulai melemah, tangannya masih menggengam erat tangan Rendi.


Saat daun nama kita dijatuhkan, maka malaikat izrail akan melaksanakan tugasnya,menjemput kita kembali pulang kepada-Nya.

__ADS_1


__ADS_2