
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
❝Bagi pendosa istighfar adalah obat. Bagi orang yang kesulitan, istighfar adalah harapan. Bagi orang yang memiliki masalah, istighfar adalah jalan keluar.❞
[ Habib Muhammad Al-Bagir bin Alwy bin Yahya ]
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
Ikhlas adalah sebuah kekayaan yang tidak ternilai. Janganlah kau bersedih ketika urusan duniamu rumit, karena bulan itu bertambah megah keindahannya, walaupun dunia di sekelilingnya bertambah gelap.
"Assalamu'alaikum ..." salam Faiz, pada ustadzah Laili yang sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit.
"Wa'alaikumussalam, akhy," jawab Laili.
Akhy ( saudara laki-laki atau kakak laki-laki )
"Ustadzah Laili, bagaimana kondisinya?" tanya Faiz yang baru saja tiba bersama Kyai Harun dan Nyai Nur.
"Kondisinya masih sama, akhy. Dokter sedang memeriksa kondisinya," jawab ustadzah Laili menundukkan kepalanya. Menjaga pandangannya dari bukan mahrom. Dia berjalan ke arah Kyai Harun dan Nyai Nur lalu mencium punggung tangan mereka.
"Sepertinya kamu sangat kecapean, Laili. Pulang ke pondok, istirahatlah," tutur lembut Nyai Nur kepada ustadzah Laili. Ustadzah Laili mengaguk setuju.
Sudah lima hari, Famira tidak sadarkan diri dan kondisinya masih sama yaitu kritis. Kandungannya tidak bisa di selamatkan akibat pendarahan yang hebat. Lima hari itu juga, keluarga besar Kyai Harun mencari keluarga atau sanak saudara dari wanita yang tidak mereka ketahui itu. Tetapi, tidak ada tanda-tanda mereka menemukannya. Tidak hanya kehilangan calon bayinya, ingatan Famira juga sedikit terganggu akibat benturan keras di kepalanya.
Meski Kyai Harun dan Nyai Nur tidak mengenal Famira, mereka ikut khawatir dan sedih melihat begitu banyak cobaan kepada wanita yang masih terbaring lemah di atas brankar.
Pintu ruangan tempat Famira di rawat terbuka pelan, wajah dokter yang memeriksa Famira tampak bersinar. Dokter yang menangani Famira itu tersenyum tipis, "pasien sudah siuman," ucap Dokter muda perempuan itu.
Kyai Harun, Nyai Nur, dan Faiz yang mendengar itu mengucapkan syukur.
__ADS_1
"Kondisinya masih lemah, cobalah menghiburnya. Pasien cukup sedih karena kehilangan kandungannya," kata Dokter, "saya permisi dulu, masih banyak pasien yang harus saya tangani," ucapnya lagi.
"Terima kasih, Dokter," ucap Kyai Harun. Dokter itu mengaguk kecil.
Nyai Nur masuk dalam ruangan inap Famira. Kyai Harun dan Faiz memilih menunggu di luar.
Famira mengedarkan pandangannya ke arah pintu saat melihat wajah asing berjalan mendekatinya.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Dengan lembut Nyai Nur mengusap jejak air mata di pipi Famira.
Famira meraih tangan Nyai Nur dengan bergetaran, "apa yang terjadi terhadap saya, Bu? kandungan saya .... " Famira tidak mampu melanjutkan ucapannya, dia mengelus lembut perutnya yang sudah rata. Air mata kembali luruh di pipi itu. Famira tidak mengingat apa pun, dia hanya mengingat bahwa dirinya sedang mengandung.
Nyai Nur terdiam, tidak mampu menjelaskan pada wanita yang masih terbaring lemah itu.
Nyai Nur ikut merasakan kesedihan yang sangat mendalam melihat wanita yang terbaring di atas brankar itu, bening air mata jatuh di pelupuk mata wanita paruh baya itu namun, secepat kilat menghapusnya.
"Belum rezekimu, Nak. Sepertinya Tuhan lebih menyayangi calon bayi kamu. Bersabarlah." Hanya kata itu yang mampu terucap di bibir Nyai Nur untuk menyemangati Famira.
Nyai Nur menahan tangan Famira dan mencoba menenangkannya.
"Istighfar, Nak. Istighfar, jangan menyakiti dirimu seperti ini," tuturnya Nyai Nur lembut.
Famira menuruti perintah Nyai Nur, dia cepat-cepat mengucapkan istighfar.
Famira menyadarkan kepalanya ke sandaran brankar, dengan suara yang masih lemah Famira berucap memohon, "tinggalkan saya sendiri, Bu."
Nyai Nur, tidak bergeming. Wanita paruh baya berjilbab ini tidak mau meninggalkan Famira sendiri dalam kondisi yang masih
lemah. "Ibu dapat mengerti perasaanmu, Nak. Ingatlah Allah Maha Adil. Dengan izin-Nya, Allah akan mengganti lebih dari ini kepadamu, Nak," tuturnya, "apakah kamu tidak mengingat siapa-siapa? suami atau kedua orang tuamu, Nak?" tanya Nyai Nur.
__ADS_1
Famira menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak mengingat apa pun. Saat mencoba mengingat sesuatu kepalanya terasa sakit.
"Aku ingin sendiri, Bu." Ucapan itu kembali terucap. Famira memohon untuk membiarkan dirinya sendiri agar dia bisa berdamai dengan takdir-Nya. Mencoba menerima dengan ikhlas hati atas ketetapan dan takdir-Nya yang diberikan kepada dirinya.
"Baiklah, Ibu akan keluar. Nanti kalau ada perlu apa-apa panggil aja Ibu," jawab Nyai Nur lalu beranjak keluar.
"Ibu membawa mushaf?" tanya Famira sebelum Nyai Nur pergi dari ruangannya.
Nyai Nur mengaguk dan mengambil mushaf mini di dalam tasnya lalu diberikan kepada Famira.
'MasyaaAllah, Ibu kagum denganmu, Nak,' gumam Nyai Nur. Wanita yang ada dihadapannya itu sungguh wanita hebat yang dia lihat.
Famira membuka mushaf mini itu, lalu membaca surah Ar-Rahman, air mata kembali jatuh saat banyak sekali pengulangan ayat 'fa bi ayyi ālā i rabbikumā tukażżibān' yang artinya Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Famira merasa tertampar keras, ayat itu menjadi pengingat diri bagi Famira bahwa ada banyak sekali nikmat yang Allah berikan padanya saat ini. Yang lupa dia syukuri, termasuk dia masih selamat saat ini.
Ketika kita sedang merasa terpuruk, patut mengingat nikmat-Nya, kita hidup dan bernapas juga termasuk dalam nikmat Allah yang harus disyukuri.
•••
Bara dan Rendi baru saja keluar dari sebuah masjid besar. Mereka telah selesai melaksanakan sholat isya'. Malam ini mereka memutuskan berhenti untuk melakukan pencarian. Tinggal dua rumah sakit lagi yang belum mereka kunjungi. Kedua rumah sakit itu cukup jauh dari pusat kota.
Menyerah? Tidak ada di hati Bara saat ini, dia akan terus berusaha mencari keberadaan Famira. Lelah, mungkin kata itu yang tepat di hati Bara. Lelah dalam menanti kehadiran Famira lagi dalam hidupnya.
Senyum seakan sudah hilang di bibir Bara beberapa hari terakhir, dia sudah kehilangan cahaya. Iya ... cahaya dari seorang wanitanya yang entah ada di mana. Tawa, tutur kata, senyum yang selalu terpancar di wajah istrinya dia rindukan. Wanita yang telah membuat dia menjadi pribadi yang lebih baik, dan dekat dengan-Nya.
Bara menatap bintang yang berkelap-kelip di langit.
'Famira Az-zahra aku merindukanmu, sungguh aku merindukanmu ... dimana kamu sekarang, Ra?'
Tepukan di bahu kanannya membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Sabar, Bar." Rendi mengulum senyum tipis, dia tahu sahabatnya itu sedang galau berat.