
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
“Jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melebihkan cintanya pada-Mu agar bertambah kekuatanku untuk lebih mencintai-Mu.”
–Pernikahan Tanpa Cinta–
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━━
Embun tak perlu warna
Untuk membuat daun jatuh cinta ...
Ketulusan akan selalu menerima apa adanya
Tak menuntut sempurna, untuk mencintai dengan sederhana ...
Di perusahaan Martadinata grup para karyawan sudah berdiri dan berbaris
rapi menyambut kedatangan tuan muda Martadinata, dua hari yang lalu secara resmi Vernandes mengumumkan kepada seluruh karyawan dan para petinggi perusahaan lainnya bahwa Vernandes telah memberikan alih jabatan kepada putranya yaitu Erwin Martadinata. Dan mulai hari ini Erwin secara resmi sudah menjadi pemimpin dari perusahaannya.
Sekretaris Max membuka pintu mobil dan mempersilahkan tuannya untuk keluar. "Silahkan, Tuan." Max menundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan.
Erwin melangkahkan kakinya masuk ke perusahaan di ikuti oleh sekretaris Max di belakangnya.
"Selamat datang, Pak!" sapa satpam yang berpapasan dengan Erwin. Erwin hanya melemparkan senyum tipis menanggapinya.
Erwin kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan, para karyawan menundukkan kepalanya dan memberikan ucapan selamat datang sebagai bentuk penghormatan. Senyum tipis terus terukir di bibir pria yang menggunakan jas single breasted itu.
Brugh!
Seseorang perempuan berjilbab yang membawa kopi menabrak Erwin, sehingga minuman itu tertumpah di jas mahal milik Erwin.
Para karyawan lainnya menutup mulutnya dengan tangannya, mereka tercengang dengan keteledoran OB baru itu.
"Astaga tuh OB baru bikin ulah saja," bisik karyawan wanita kepada temannya.
"Hari ini habislah riwayat OB baru itu," sahutnya juga berbisik.
Erwin memandang sekilas ke arah gadis yang menundukkan kepalanya di hadapannya itu. Tangan gadis itu gemetaran memegang nampan itu.
"Ma--af Pa--k," ucapnya dengan terbata-bata.
Erwin tidak berkata apa-apa, dia melangkahkan kakinya menuju lift. Max yang ada di belakangnya memberikan tatapan tajam sekali kepada OB itu dan kepada para karyawan lainnya. Max, pria yang di kenal berdarah dingin. Pria ini menjadi tangan kanan, dari seorang Erwin Martadinata dan sangat berpengaruh sekali bagi perkembangan perusahaan Martadinata grup.
Erwin merebahkan tubuhnya di atas sofa, sementara Max segera mengambil jas baru di lemari yang ada di ruangan itu dan langsung memberikan kepada tuan mudanya itu.
__ADS_1
"Sekretaris Max, siapa wanita tadi?" tanya Erwin, Erwin belum pernah melihat gadis berjilbab itu sebelumnya di perusahaan.
"Itu OB baru di perusahaan kita, Tuan," jawab Max.
"Panggil OB itu sekarang!" titah Erwin.
Sekretaris Max belum beranjak pergi. "Max, kau dengar?" tanya Erwin dengan nada suara naik dua oktaf.
"Tuan, biarkan saya yang akan memecat OB itu. Tuan tidak perlu membuang tenaga untuk mengurusnya." Max berbicara dengan nada suara sesopan mungkin.
"Max!" Erwin kini beranjak bangkit dari duduknya.
"Maaf, Tuan!" Max mengetahui pembicaraannya tidak di terima oleh Erwin. Max segera menundukkan kepalanya sebelum keluar dari ruangan.
"Ada apa ini? tidak biasanya Tuan mau mengurusi masalah sepele seperti ini," gumam Max saat di dalam lift.
Dengan wajah tanpa ekspresi, sekretaris Max berjalan ke ruangan staf divisi.
"Panggilkan OB yang tidak punya adab itu sekarang!" Sekretaris Max menatap tajam ke ketua staf divisi itu. Bagaimana tidak, dia bisa memilih OB yang kurang becus dalam berkerja itu.
Perempuan yang menggunakan jilbab pashmina warna peach itu menghadap ke sekretaris Max, badannya menggigil ketakutan. Baru hari pertama dia kerja, dia sudah membuat ulah saja dan sangat fatal sekali. "Maaf kan saya, Pak," ucapnya.
"Ikut saya ke ruangan Presiden direktur," ucap sekretaris Max. Perempuan berjilbab itu hanya bisa mengaguk dengan penuh ketakutan. Dia berjalan mengekor di belakang Max.
"Dilla kamu tidak boleh takut," batin perempuan itu menyemangati dirinya sendiri.
"Mufdilla Dzakiyah, kamu tahu kan kesalahanmu hari ini?" tanya Erwin menatap lekat perempuan yang menundukkan kepalanya di dihadapannya itu.
Iya perempuan berjilbab itu bernama Mufdilla Dzakiyah, orang-orang terdekatnya biasa memanggilnya dengan sebutan Dilla. Kebahagiaan tidak tara dan ungkapan penuh syukur kepada-Nya dari seorang Dilla bisa masuk ke perusahaan besar di kota itu, walaupun dia menjadi seorang OB. Namun dia tetap bersyukur, gajinya pun lumayan besar bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya dan biaya sekolah kedua adiknya.
"Kamu dengarkan?" tanya Erwin menaiki sebelah alisnya melihat gadis berjilbab itu masih bungkam di hadapannya.
Dilla meremas ujung bajunya, dia mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskan secara kasar. "Saya minta maaf, Pak." Hanya kata 'maaf' yang bisa di ucapkan di bibir mungil milik gadis itu, baru pertama kali kerja dia sudah membuat masalah besar. Dilla mendogak kepalanya menatap lurus atasannya itu.
"Ya Tuhan, aku mimpi apa semalam bertemu lelaki tampan seperti ini," gumam Dilla penuh kagum melihat sosok Erwin.
"Astaghfirullah Dilla, apa yang kamu katakan." Dilla terus bergumam dalam hati.
Erwin duduk duduk menyilang kakinya di kursi kebesarannya. "Kesalahan kamu cukup fatal, sepertinya kamu--"
"Tolong maafkan saya, Pak direktur. Saya benar-benar minta maaf. Tolong Pak jangan pecat saya," potong Dilla cepat dan memohon agar dia tidak di keluarkan dari perusahaan itu.
"Memang siapa yang mau memecat kamu?"
"Anda."
__ADS_1
"Hm." Erwin hanya berdehem menanggapinya, dia melirik sekretaris Max yang berdiri di sampingnya. Max yang mengerti maksud tuannya, dia segera keluar dari ruangan itu.
Dilla semakin merasa gugup dan takut di dalam ruangan itu yang tertinggal dia dan Erwin.
Erwin bangkit dari duduknya berjalan mendekati Dilla.
"Bangun!" titah Erwin menyuruh Dilla untuk berdiri. Dilla menurut, dia semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam karena takut.
Erwin memegang dagu Dilla dan mendogak wajah gadis itu untuk melihatnya.
Deg!
Kedua kelereng dua insan itu saling bertubrukan beberapa detik. Dilla segera memutuskan kontak mata itu.
"Maafkan saya, Pak. Karena sudah berani menatap, Pak Direktur." Jantung Dilla berdegup dua kali lebih kencang. Pipi Dilla memerah melihat jarak mereka lumayan dekat. Dilla memundurkan langkahnya ke belakang, dia tidak biasa terlalu dekat dengan pria.
"Sebagai ganti rugi, kamu temani saya makan siang nanti," ucap Erwin to the point.
"Apa?" kaget Dilla.
"Kenapa?" tanya Erwin balik, melihat wajah gadis itu sangat syok dengan ucapannya.
Dilla menggelengkan kepalanya. "Saya minta maaf, Pak. Saya tidak bisa," tolaknya halus. Dilla tidak mau mencari masalah lebih besar lagi, bisa-bisa hidupnya tidak tenang bila makan siang bersama atasannya itu. Dilla akan menjadi bahan cibiran dan kejaran amukan dari para karyawan yang sangat fans sama atasannya itu.
"Sekretaris Max, masuk!"
Max menundukkan kepalanya. "Iya Tuan."
"Bereskan gadis ini, buang jauh-jauh dari perusahaan kita!"
Dilla membulatkan matanya mendengar itu. "Pak direktur, tolong ... maafkan saya," ucap Dilla.
"Saya sudah meringankan hukuman kamu, dan kamu me--"
"Saya bersedia makan siang dengan Pak direktur. Jangan pecat saya, Pak."
Max tersenyum sinis. 'Beraninya gadis ini menolak perintah, Tuan Erwin.'
"Kembali berkerja, jangan berani-beraninya kamu menolak perintah saya!"
"I--ya Pak," ucap Dilla. Dilla menundukkan kepalanya sebelum keluar dari ruangan itu.
"Huft ... aku nggak bisa napas di dalam, tapi alhamdulilah aku nggak jadi di pecat. Kedua pria itu sangat menyebalkan," batin Dilla merasa gemas ingin mencekik leher terutama pada atasannya itu.
"Carikan informasi OB itu secara detail, Max!"
__ADS_1
"Baik, Tuan."
"Mata perempuan itu sangat familiar, apa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya?" batin Erwin bertanya kepada dirinya sendiri.