Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
113


__ADS_3

Ambil napas dalam-dalam sebelum baca


Di dalam kamar mewah yang bernuansa warna abu-abu dan putih itu nampak berantakan. Pemiliknya masih enggan untuk bangun atau membereskan barang-barang yang berserakan dimana-mana. Padahal ia termasuk tipe orang yang suka bersih dan sangat tidak suka dengan yang namanya kotor atau pun berantakan.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan pintu kamar dari luar terdengar.


"Jessika, ini Kakak. Buka pintunya," ucap Anita di depan pintu kamar.


Jessika beringsut bangkit, mengikat rambut panjangnya asal-asalan. Dengan langkah malas, ia berjalan ke arah pintu.


"Ada apa, Kak?" tanya Jessika setelah pintu kamar dibuka. Gadis berambut panjang bergelombang ini nampak tidak bersemangat.


Sudah satu minggu lebih ia berdiam diri dalam kamar. Hal yang dilakukan hanya rebahan, dan merenung. Entahlah, Jessika masih belum terima kenyataan bahwa pria yang sedari dulu dicintai harus pergi selamanya.


"Kamu nggak turun makan malam dulu, Dek? Dari tadi pagi kamu nggak makan," kata Anita dengan Kila dalam gendongannya.


Jessika menggelengkan kepalanya pelan, ia mendudukkan tubuhnya di atas sofa disusul oleh Anita disampingnya. Jessika tidak selera makan akhir-akhir ini.


Anak kecil perempuan itu menarik tangan Jessika untuk segera bangkit kembali dan ingin mengajak bibinya untuk turun ke bawah. "Bibi, ayo turun ada pa ...."


Anita langsung menutup mulut putrinya itu.


"Ada siapa?" Jessika bertanya penuh selidik melihat ekspresi wajah kakak perempuannya yang berubah.


"Nggak ada siapa-siapa kok, Bi," jawab Kila tertawa cengengesan.


Jessika mengembuskan napas panjang, menyederhanakan kepalanya di sandaran sofa.

__ADS_1


"Mama dan papa tunggu di bawah, ada hal yang ingin dibicarakan dengan kamu, Dek," kata Anita sambil mengusap lengan Jessika.


"Jessika lagi nggak mood untuk melakukan apa pun, Kak. Jessika mau dikamar aja."


"Ini penting Jessika! Cepat kamu ganti baju sana," titah Anita dengan nada suara naik dua oktaf, agar adiknya itu mau menuruti perintahnya.


"Nggak!" Jessika tetap keukeh dengan pendiriannya.


Anita mendorong tubuh Jessika dengan paksa agar bangkit. "Kamu mau kakak yang ganti baju kamu? Baiklah kalau itu kemauan kamu, Dek." Anita ingin melepaskan piyama Jessika. Namun, Jessika cepat-cepat menghentikan tangan kakak perempuannya itu, "Kak Anita, apaaan sih! Jessika bisa sendiri. Bukan anak kecilnya yah," ucap Jessika kesal.


"Kamu sih keras kepala. Jangan membuat mama dan papa menunggu."


"Hal penting apa yang mau dibicarakan?"


"Kakak kurang tahu. Sudahlah kamu cepat ganti baju, kakak tunggu di bawah."


"Iya, iya," jawab Jessika pasrah. Ia berjalan ke lemari pakaiannya, mengambil gamis dan jilbab pashmina yang warnanya senada dengan gamis yang dipakai.


Jessika turun dari kamar dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan di rumahnya itu. Sepi. Tidak ada satu orang pun yang ia temui.


"Aaa ...." pekik Jessika ketakutan saat tiba-tiba lampu di rumahnya itu padam. Tidak ada pencahayaan sama sekali.


"Mama, papa. Jessika takut!" teriak Jessika histeris, ia sangat —takut— kegelapan.


Derap langkah seseorang mendekatinya.


"Kak Anita ada apa sih sebenarnya, kenapa lampu tiba-tiba padam gini. Mana papa dan mama?!" Jessika bertanya sengit dalam kegelapan itu. Tidak suka dipermainkan seperti ini.


Anita tidak menjawab, ia menarik tangan Jessika lembut untuk mengikutinya.

__ADS_1


"Tutup matamu, Dek!" perintah Anita.


"Hari ini Jessika nggak ulang tahun, mau kasih surprise ya, tapi buat apa?" Ucapan pertanyaan tidak henti-hentinya keluar dari mulut Jessika.


"Nanti saja kamu tahu." Karena Jessika tidak mau menuruti perintahnya, terpaksa Anita menutup mata Jessika dengan kain.


Jessika pasrah mengikuti kemana kakak perempuannya itu membawanya.


"Boleh buka, Kak Anita?" tanya Jessika.


Tidak ada respons dari Anita. Membuat Jessika geram.


Deg!


Jessika terpaku sejenak saat merasakan sebuah tangan kekar membuka kain yang menutup matanya, bukan tangan kakak perempuannya itu, tetapi tangan seorang pria. Aroma parfum milik seseorang yang sangat ia kenal menyeruak di indera penciumannya.


Jessika membuka kedua bola matanya pelan.


"Tidak mungkin!" Jessika menggelengkan kepalanya cepat, melihat pria dihadapannya itu. Sudah tersenyum simpul kepada dirinya.


"Ya Allah, kalau aku mimpi saat ini tolong bangunin aku segera." Jessika mencubit tubuhnya. Sakit. Ia tidak mimpi sekarang.


Tuk!


Sentilan pelan dari pria dihadapannya itu.


"Hm, kenapa? Kaget?" Pria yang menggunakan kemeja navy itu menaikkan sebelah alisnya.


"K--ak Ren? Ini benar Kak Ren, 'kan?" Jessika masih tidak percaya dengan apa yang dilihat. Ia takut berhalusinasi sekarang, karena perasaan rindu berlebihan dengan Rendi. Bulir-bulir air mata jatuh di pelupuk matanya.

__ADS_1


Jessika menatap pria itu dari bawah sampai atas, tidak ada luka atau apa pun. Lalu ... seseorang yang dikubur siapa? Bila Rendi ada dihadapannya sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan itu sudah memenuhi pikiran Jessika.


Jessika masih terdiam dan belum juga percaya, pandangannya beralih menatap sekelilingnya. Ia baru sadar, bahwa ada di halaman rumah. Halaman rumahnya sudah dihias sedemikian rupa, memberikan kesan keromantisan. Keluarga besarnya sudah hadir semua. Melemparkan senyum tipis ke arahnya. Seolah-olah tidak terkejut seperti yang ia rasakan.


__ADS_2