
Setelah melakukan transfusi darah, Bara dan Rendi kembali ke tempat duduknya.
"Jessika makin kritis, Dek," ucap Anita pada Bara. Raut kesedihan tampak sekali di wajah wanita ini. Bara duduk di samping kakak perempuannya itu. Menarik kepalanya ke dalam dekapannya, "Kita do'akan, Kak. Semoga Jessika selamat dan cepat sembuh. Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya." Anita hanya bisa mengaguk dan membalas pelukan hangat adiknya itu.
Mama Ani sudah terisak-isak sedari tadi, apalagi saat mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Jessika membuat mama Ani kian khawatir dan takut kehilangan Jessika. Air matanya tidak berhenti keluar, memikirkan anak bungsunya. Jessika sudah teramat menderita sejak kecil. Mama Ani dan papa Andi tidak sanggup bila melihat putrinya itu menderita lagi dan terbaring lemah cukup lama.
Sementara Rendi hanya bisa menundukkan kepalanya, pria ini tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Mendingan lo balik, Ren. Ganti baju lo ....," ujar Bara saat melihat pakaian Rendi masih berlumuran darah.
Rendi menggelengkan kepalanya cepat pertanda 'tidak'. Dia tidak akan pulang sebelum Jessika siuman.
***
"Maaf, kami telat datang," ucap Erwin melemparkan senyum tipis ke arah pemuda yang menggunakan baju koko itu. Erwin menarik kursi lalu duduk dihadapannya, Dilla pun sebaliknya duduk di samping suaminya, Dilla menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah pria yang dulu pernah bersarang dihatinya. Pria yang selama ini ditunggu-tunggu kepulangannya. Namun, itu waktu saat dirinya belum menikah dengan Erwin. Sejak menjadi istri sah dari seorang Erwin Martadinata, Dilla mulai menghapus perasaan cinta itu.
Erwin dan Dilla sekarang berada di sebuah restoran.
Hafid itulah nama pria yang Dilla tunggu-tunggu. Hafid menatap kedua pasangan yang baru saja datang itu penuh dengan tanda tanya, apalagi saat melihat Dilla yang menggandeng tangan Erwin. Kelihatan sangat mesra dan ada sebuah hubungan di antara mereka, pria ini mencoba membalas senyuman Erwin tidak kalah ramah.
"Aku hanya ingin kembalikan ini kepada pemiliknya," ucap Erwin to the point alasan pertemuannya sore ini, Erwin menyodorkan kotak kecil bludru merah ke hadapan Hafid. "Aku suami Dilla, kami sudah menikah." Erwin mencoba menjelaskan saat melihat raut kebingungan di wajah Hafid.
Dilla menggengam erat tangan Erwin di bawah meja, Dilla takut melukai hati Hafid. Hafid adalah sosok pria yang sangat baik yang dia kenal.
"Alhamdulillah," ucap Hafid tersenyum simpul. Menerima sodoran itu. Meskipun ada terbesit kecewa di dalam hatinya. Tapi, dia sadar ini sudah menjadikan ketetapan dan takdir-Nya untuk dirinya dan Dilla.
Dilla mengangkat kepalanya perlahan-lahan. "Aku minta maaf, Fid. Semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dariku," tutur Dilla tanpa memandang Hafid sepenuhnya. Dilla mencoba menjaga pandangan dari bukan mahramnya.
"Tidak perlu minta maaf, Ila. Aku juga ikut senang bila kamu sudah menikah, hidupmu jadi aman. Semoga pernikahan kalian berdua samawa."
"Aamiin." Erwin dan Dilla mengamini doa Hafid.
"Salam maafku juga pada kedua orang tuamu, Fid."
"Nggih, Ila."
Hafid menatap lekat wajah Erwin. "Aku titip Ila, kamu pria yang beruntung bisa menjadi suaminya."
"Tentu saja, dia adalah tanggung jawabku sepenuhnya," jawab penuh keyakinan.
Obrolan ringan berlanjut panjang antara mereka, Erwin terlihat lebih akrab dengan Hafid walau baru beberapa menit mereka bertemu dan berkenalan.
"Maaf aku tidak bisa lama-lama, aku pamit dulu balik ke pesantren, masih banyak urusan yang aku selesaikan. Assalamu'alaikum ...." pamit Hafid sopan. Dilla dan Erwin mengaguk pelan.
"Wa'alaikumussalam ...."
Setelah kepergian Hafid, Erwin dan Dilla juga memilih pulang karena hari yang sudah mulai gelap.
"Wajar kamu sangat mencintainya, Dilla. Hafid pria sangat baik sekali. Tutur kata dan sikapnya sangat sopan dan santun, kalah telak aku," kata Erwin yang sedang mengemudi mobil melirik sekilas ke arah Dilla. Baru pertama kali bertemu aja Erwin sudah sangat terkesan dengan sosok Hafid.
Dilla tersenyum tipis, menoleh ke arah Erwin. "Mas tetap yang terbaik dihati aku, tidak ada pria lain." Dilla tidak segan-segan mengecup singkat sebelah pipi Erwin.
"Terima kasih sudah memilihku, Dil."
"Seharusnya aku yang berterima kasih, karena Mas sudah memilihku jadi istri Mas," jawab Dilla penuh kebahagiaan.
"Nanti malam kita lanjutin misi kita yang tertunda semalam." Erwin tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Mi--si apa?"
Erwin tidak menjawab, membuat Dilla tampak kesal.
"Oh, ya Mas. Nanti setelah selesai kita sholat magrib, kita pergi jenguk Jessika ke rumah sakit yah." Dilla mengetahui kabar Jessika ketabrak dari Famira.
"Apa yang terjadi dengan Jessika?"
"Ketabrak mobil, Mas. Saat jogging tadi pagi."
"Inalillahi ...."
***
"Atha jangan berisik, yah. Karena kita ada rumah sakit," kata Famira memperingati putranya yang ada dalam gendongannya. Mencium gemas pipi anak kecil itu.
"Baik, Bunda." Atha mengaguk paham. Atha suka sekali memainkan ujung jilbab Famira. "Bunda Atha mau ke ayah," katanya lagi, Famira pun menurunkan tubuh kecil Atha.
Atha berjalan ke arah Bara dan naik kepangkuan ayahnya. "Ayah."
"Iya, Tha." Bara mengacak rambut milik Atha.
"Atha rindu bibi Desi, Yah. Bibi Desi kok nggak pernah aku lihat lagi. Bibi Desi ke mana?"
Bara tersenyum tipis. "Bibi Desi sudah pulang ke rumahnya. Sekarang kan Atha udah ada bunda. Atha nggak suka sama bunda, yah?"
Atha menggelengkan kepalanya. "Nggak, Yah. Atha cuman rindu sama bibi Desi. Atha sayang sekali ama bunda dan Ayah juga."
"Ayah juga sayang sama, Atha," jawab Bara langsung mencium kening Atha.
"Assalamu'alaikum ...." salam Erwin dan Dilla yang baru saja tiba di rumah sakit.
"Wa'alaikumussalam ....," sahut mereka kompak.
Erwin dan Dilla melemparkan senyum tipis ke arah mama Ani dan papa Andi. Erwin duduk di samping Bara. "Bagaimana keadaan adik lo, sudah membaik?"
"Belum ada tanda-tandanya, Win. Dia makin kritis."
"Gue ikut perihatin. Gue hanya bisa mendo'akan semoga Jessika akan cepat sembuh dan siuman."
"Hm, iya."
"Sudah baikan sama istri lo?"
"Alhamdulillah, sudah. Semua masalah sudah selesai."
"Syukurlah, gue senang dengarnya."
Setelah berada di rumah sakit cukup lama, Erwin dan Dilla segera pamit pulang dengan keluarga Wijaya.
***
Setelah menutup pintu kamar, Erwin menggengam tangan Dilla erat. Erwin melepaskan jilbab yang Dilla kenakan. Jarum jam yang berputar sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih.
Erwin membaringkan tubuh ke peraduan. Sementara Dilla sudah lebih dulu selonjoran di kasur empuk, sambil membaca buku bernuansa islami. Perlahan Erwin mendekati Dilla dan meraih tubuh istrinya itu dalam dekapan.
"Sayang," bisik Erwin dengan suara parau.
__ADS_1
"Iya, Mas." Dilla menoleh ke arah Erwin, menghentikan aktivitas membacanya.
"Sudah siap malam ini?"
Dilla terdiam sejenak, mengerti maksud suaminya itu. Dilla gugup menjawabnya. "InsyaAllah, aku siap. Mas Erwin suamiku, aku sudah seharusnya melayani Mas."
"Yes!" Erwin girang bukan main saat mendapat persetujuan Dilla. Erwin bagaikan anak kecil yang dikasih mainan.
Dilla terkekeh kecil melihat tingkah Erwin.
"Tunggu dulu!" Dilla mencegah tangan Erwin yang ingin membuka kancing piyamanya.
"Apa lagi, Dilla?" Erwin bertanya dengan nada suara tidak suka. Jangan sampai misinya malam ini tertunda lagi. Erwin tidak akan sanggup.
"Kita sholat sunah dua rakaat dulu. Agar kita mendapatkan keturunan yang sholeh dan sholehah, Mas," ujar Dilla.
"Aku hampir lupa, baiklah kita sholat dulu." Erwin segera bangkit mengambil air wudhu begitu pun dengan Dilla.
Tak butuh waktu lama Erwin dan Dilla selesai melaksanakan sholat sunah dua rakaat.
Erwin terkesima dengan tatapan netra Dilla yang meneduhkan. Kali ini Dilla mengganti piyamanya dengan lingerie tipis yang kekurangan bahan membuat gejolak kelakian Erwin kian meronta. Sepertinya Dilla memang sengaja mengenakan baju itu untuk malam ini.
Aroma parfum menguar dari tubuh indah Dilla. Malam ini akan Erwin genapkan tugasnya sebagai seorang suami seutuhnya. Erwin menggengam erat jemari halus milik Dilla, sesekali menciumi telapak tangannya. Erwin mengusap dengan lembut anak rambut Dilla yang terurai, menyelipkannya ke belakang telinga agar dapat melihat wajah cantik Dilla dengan jelas.
"Kamu cantik banget pakai baju ini, Sayang," bisik Erwin.
Dilla hanya tersipu mendengarnya, Dilla sedikit merasa risih menggunakannya karena tidak biasa.
Erwin melantunkan doa untuk Dilla sambil mengusap lembut ubun-ubunnya.
ِاسْمِ اللهِ، اللهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau berikan kepada kami.
Jika ditakdirkan terwujud anak dari hubungan itu, maka setan tidak akan mengganggunya selamanya.
(HR. Bukhari 5165, Muslim 1434).
Wajah mereka berdua kian saling berdekatan tanpa jarak. Erwin memandang dengan intens netra, hidung, bibir ranum Dilla yang sudah terpoles lipstick. Erwin mengecup puncak kening Dilla lalu bibirnya, Dilla memejamkan matanya merasakannya, rasa dada Erwin kian bergetar. 'Ya Allah, seindah ini ternyata ciptaan-Mu.'
مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.
"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng)."
"Sakit ...," jerit Dilla saat milik Erwin menerobos masuk miliknya.
Vernandes yang hendak mengetuk pintu, menahan tangan kembali setelah mendengar jeritan menantunya. Mengerti apa yang sedang terjadi dikamar anak dan menantunya malam ini, Vernandes memilih turun kembali ke kamarnya. Vernandes hanya ingin bertanya sesuatu hal kepada Erwin. Namun, sepertinya dia harus bertanya besok saja.
'Segitunya putraku,' monolog Vernandes saat turun kamar.
.
.
.
Novelku memang tidak sebaik novel favorit" kalian. Yah, setidaknya like, sebagai bentuk apresiasi kalian untukku. Biar aku semangat untuk up-nya. Makasih ^_^
__ADS_1