
Dilla segera melepaskan ciuman Erwin dengan paksa dan berlari ke kamar mandi karena malu saat mengetahui kehadiran sekretaris Max.
"Max, kau peganggu!" Erwin menendang sisi meja karena kesal.
Sekretaris Max menundukkan kepalanya, dia bersuara memohon, "maafkan saya, Tuan." Baru kali ini selama bertahun-tahun bekerja dia membuat kesalahan.
"Huh ..." Erwin masih mendengus kesal. Pria ini bangkit berjalan ke kamar mandi saat belum melihat kemunculan Dilla.
"Dilla!" panggil Erwin dari luar.
Erwin terus menggedor-gedor pintu kamar mandi saat tidak ada sahutan dari istrinya itu.
Dilla membuka pintu kamar mandi dengan kepala tertunduk, gadis ini masih malu.
Erwin mengangkat dagu Dilla lalu menyentil pelan kening istrinya.
"Kenapa menunduk terus?" tanya Erwin heran sambil menaiki sebelah alisnya.
"Nggak ada apa-apa," jawab Dilla mencoba menstabilkan mimik wajahnya. Dilla melirik ke arah sekretaris Max yang menatapnya dengan tatapan datar.
"Jangan menatap pria lain selain diriku!" Erwin menatap tajam sekretaris Max, beraninya menatap balik wanita miliknya.
"Aku kan punya mata, aku harus tutup mata gitu kalau bertemu dengan pria lain?"
"Ya, aku suamimu. Aku berhak mengatur semuanya."
"Nggak mau, peraturan apaan tuh." Dilla menolak mentah-mentah.
"Jangan gegabah! masih banyak peraturan lainnya yang harus kamu ikutin!"
Erwin menarik tangan Dilla untuk duduk kembali. Perdebatan kembali terjadi antara kedua pasangan itu, sekretaris Max hanya bisa menggelengkan kepalanya melihatnya.
Selang beberapa menit muncul seorang wanita cantik dan seksi dari ambang pintu mengehentikan perdebatan keduanya.
"Pak Erwin, saya mengantarkan presentase perkembangan perusahaan kita selama enam bulan ini." Gadis yang seumuran Dilla itu mendayung-dayung suaranya dengan manja kepada Erwin.
Dilla yang melihat itu acuh tak peduli.
Niat membuat cemburu istrinya itu muncul di benak Erwin. Erwin meraih tangan gadis yang masih berdiri di depannya, membuat gadis itu salah tingkah.
"Makan siang bersamaku," ajak Erwin tersenyum simpul.
__ADS_1
"Dengan penuh kehormatan saya menerima ajakan Pak Erwin," jawab gadis itu antusias. Gadis itu tersenyum bahagia. Kesempatan langka baginya bisa makan bersama atasannya dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Erwin mencebik kesal saat melihat Dilla tidak cemburu atau pun merespon apa-apa. Istri yang duduk disampingnya itu malah senyum-senyum sendiri melihat handphonenya.
"Kamu pulang aja, aku mau makan siang!" Erwin semakin jengkel dengan Dilla.
"Oke," jawab Dilla tanpa menoleh.
Erwin benar-benar pergi dari hadapan Dilla bersama bawahannya itu tak lupa dengan sekretaris Max yang selalu mengikutinya.
Dilla mematikan handphonenya dan memasukkan ke dalam tas selempang yang dia bawa.
'Cemburu? huh ... itu bukan diriku. Pak Erwin menikahiku juga karena membeliku. Aku cukup sadar diri,' batin Dilla, dia beranjak bangkit dan segera keluar dari ruangan kerja Erwin.
Dilla berjalan santai, banyak cibiran dan tatapan benci para karyawan yang melihatnya.
"Kasihannya, pak Erwin pergi makan siang sama karyawan baru yang cantik tuh."
"Pak Erwin menikahinya juga nggak cinta palingan. Bentar lagi pasti diceraikan."
"Hahaha benar-benar. Mana bisa bertahan bersama gadis lugu dan miskin seperti dia."
Cibiran terdengar dari para karyawan wanita di telinga Dilla saat dia berjalan keluar. Dilla bersikap bodoh amat, tak peduli. Toh, cibiran mereka cukup benar.
••••
Bara terbangun pukul empat pagi. Pandangannya jatuh pada wanita yang masih tertidur pulas di sampingnya itu. Bara menatap lekat wajah Famira yang masih tertidur pulas di lengannya. Bara menyelip anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Bangun, Sayang ..." Bara membelai pelan pipi Famira. Famira masih tidak merespon, tangannya semakin memeluk erat tubuh suaminya. Famira menyembunyikan kepalanya di dada Bara mencari kehangatan.
Bara tersenyum kecil, istrinya itu sepertinya sangat kelelahan melayani dirinya. Tiga hari tidak bisa tidur bersama Famira, sangatlah berat bagi seorang Bara Sadewa. Dan malam ini hukumnya berakhir. Bara sangat puas sekali.
"Ra ...," ucap Bara lembut mencoba membangunkan Famira.
Famira menggeliatkan tubuhnya, menguap satu kali.
"Iya, Mas," jawab Famira dengan suara khas bangun tidur. Dia masih sangat kelelahan, anggota tubuhnya terasa sakit semua.
Tangan Bara usil menarik selimut yang menutupi tubuh Famira.
"Capek, banget?" tanya Bara, Famira hanya mengaguk kecil. Tangan Bara terus menerus menarik selimut Famira.
__ADS_1
Famira menarik hidung Bara. "Belum puas, apa?" Famira menahan selimutnya dan menyingkirkan tangan Bara dari tubuhnya.
"Belum .... pengen lagi, Sayang," jawab Bara antusias sambil mencolek dagu Famira. Membuat Famira semakin kesal.
"Famira capek, Mas. Huft ...." tutur Famira mengembuskan napas berat. Famira melilitkan selimut menutupi seluruh tubuhnya, "Famira mau mandi," katanya lagi.
"Jangan ngikutin!" Famira mengangkat kepalan tangannya memberikan ancaman saat Bara ikut bangkit bersama dirinya.
"Sesekali mandi bareng, Ra," mohon Bara menatap getir pintu kamar mandi yang nyaris tertutup.
••••
Cinta terbaik adalah saat kau mencintai seseorang yang membuat akhlakmu semakin indah, jiwamu makin damai, dan hatimu makin bijak. Dia menjadi penegur saat taatmu luntur, jadi penasehat saat kau maksiat. Jadi, pelipur saat semangatmu lebur.
Dialah cinta yang terbaik yang tidak hanya ingin bersamamu di dunia namun, berupaya bersamamu hingga ke surga.
Famira dan Bara sudah selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah. Bara membalikkan badannya setelah berdzikir dan menutup doanya, dengan antusias Famira meraih punggung tangan Bara lalu menciumnya.
"Mau dengar hafalan, Mas?"
Famira yang mendengar ucapan Bara tidak percaya namun, satu detik kemudian wanita yang menggunakan mukenah warna putih itu tersenyum simpul.
"Mas sudah hafal berapa juz Al-Qur'an?"
"Masih sedikit, baru tiga juz kok," jawab Bara.
"MasyaAllah," kagum Famira masih tak percaya.
Famira mengambil mushaf di lemari kaca dan kembali duduk di hadapan Bara.
Bara muroja'ah hafalannya yang di mulai dari surah Al-Baqarah. Famira menghayati setiap bacaan Bara sambil memperhatikan mushaf di tangannya. Tak terasa wanita ini menitikkan air mata. Lantunan ayat suci dari bibir suaminya itu menari-nari indah di pendengarannya.
"Bagaimana hafalan Mas masih ada yang salah nggak tajwid atau–"
Belum sempat Bara melanjutkan perkataannya, Famira sudah menghambur memeluknya.
"Bacaan Mas sudah bagus sekali. Famira bangga sekali sama, Mas." Famira mencium pipi Bara, bening air mata masih jatuh di pipi Famira.
Bara mencakup pipi Famira, menghapus jejak air mata di pipi istrinya. "Kenapa harus menangis?"
"Tidak apa-apa, Mas. Famira hanya bahagia."
__ADS_1
"Bahagiamu sesederhana ini Ra, kamu memang beda dari wanita lain. Mas sangat bangga bisa memilikimu." Bara menarik tubuh Famira ke dalam dekapannya.