
═════════•❁❁•═════════
“Apa yang Allah tetapkan untukmu lebih utama daripada apa yang kau inginkan, lebih baik daripada apa yang kau pinta, dan lebih mulia dibanding dengan apa yang engkau sukai.”
Catatan Muslimah
═════════•❁❁•═════════
Dilla menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu suaminya. Mereka sudah kembali ke kediaman keluarga Martadinata malam ini.
"Banyak sekali, perempuan yang nge–DM Mas di ig, yah. Cantik-cantik juga," tutur Dilla sambil membaca direct message itu, Dilla tersenyum senang, Erwin tidak pernah membalas apa pun pesan yang masuk di Instagram itu. Suaminya memang cuek ternyata dengan hal seperti itu. Tangan Dilla terus menarik ulur layar handphone Erwin. Jiwanya tiba-tiba kepo dengan berbagai media sosial yang digunakan oleh Erwin. Erwin tidak bilang apa-apa hanya bisa menatap tingkah Dilla, pria itu tidak henti-hentinya mencium pucuk kepala Dilla.
Erwin merebut kembali handphonenya. "Tidur gih, Sayang. Sudah pukul sebelas malam nih." Netra hitam Erwin melirik jam dinding di kamarnya.
"Aku belum ngantuk, Mas," sahut Dilla, tangannya merebut kembali handphone Erwin, "Kalau Mas sudah ngantuk, Mas bisa tidur duluan." Dilla mendogak kepalanya menatap suaminya itu terlihat sangat kecapean.
Erwin tersenyum tipis. "Aku juga belum ngantuk," sahut Erwin mencubit gemas pipi istrinya itu. "Masih trauma kejadian tadi?" tanyanya masih khawatir.
"Dikit sih."
"Hm." Erwin manggut-manggut mengerti, untuk menghilangkan kebosanannya. Erwin meraih remote TV dan menyalakannya.
"Mas."
"Iya."
"Aku lapar ....," rengek Dilla seperti anak kecil, memegang perut dengan kedua tangannya.
Netra Erwin yang memang sedang fokus memerhatikan salah satu chanel di TV itu beralih menatap Dilla. "Nggak baik untuk kesehatan kamu, makan jam segini."
__ADS_1
Dilla melemaskan badannya, menaruh muka kecewa. "Tapi ... aku sangat dan sangat lapar, Mas. Temenin aku turun ke dapur, aku takut." Dilla bangkit berdiri, menarik tangan Erwin paksa untuk menemani dirinya.
Erwin menyuruh Dilla untuk duduk kembali di atas sofa. "Biar aku aja yang ambil. Duduk dan tunggu, tidak akan lama, Sayang." Erwin mengecup kening Dilla sebelum turun ke dapur.
Senyum bahagia terus terukir di bibir Dilla. 'Dan aku merasa, aku wanita beruntung bisa memilikimu, Mas,' batin Dilla.
Erwin menyalakan lampu dapur. Sudah sepi, tidak ada lagi aktivitas ART malam ini. Makanan, sisa makan malam yang masih disimpan sudah dingin semua, Erwin jadi tidak tega memberikan kepada Dilla. Erwin mengetuk jarinya di meja. Memikirkan makanan apa yang mudah dan cepat untuk dibuat.
"Ya, aku buat nasi goreng saja," final Erwin setelah cukup lama berpikir. Hanya nasi goreng telur ceplok yang bisa di buat oleh seorang Erwin. Erwin juga tidak yakin dengan rasanya, apakah akan enak atau tidak hasilnya nanti. Erwin mengambil cemelek dan memasang di tubuhnya sebelum memulai aktivitas memasaknya. Tangan Erwin sudah sibuk dengan alat-alat dapur, memecahkan telur lalu memasukkan telur itu ke dalam wajan yang sudah di panaskan.
Setelah beberapa menit berkutat atik dengan alat dapur, Erwin akhirnya selesai membuat nasi goreng telur ceplok.
'Memasak cukup melelahkan juga.' Erwin mengambil sehelai tissue mengusap keringat di wajahnya.
***
"Wah ... Mas Erwin yang masak?" tanya Dilla penasaran, saat Erwin sudah kembali ke dalam kamar dengan sepiring nasi goreng yang masih hangat. Mencium bau saja sudah membuat cacing di dalam perut Dilla kian berdemo.
"Aku jadi nggak enak, ngerepotin Mas malam-malam," tutur Dilla.
"Nggak, Sayang. Makan keburu dingin nanti."
"Ikhlas 'kan Mas buatnya untukku?" Dilla kembali bertanya sebelum mencicipi masakan suaminya.
"Seratus persen ikhlas, makan cepat."
Dilla membaca doa sebelum menyuapi sesendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya.
"Bagaimana rasanya, enak?" tanya Erwin saat melihat perubahan ekspresi wajah Dilla setelah satu sendok nasi goreng buatannya itu masuk ke dalam mulut istrinya. Erwin memang belum mencicipi masakannya.
__ADS_1
Dilla diam sejenak sebelum memberikan penilaian.
"Enak banget, Mas. Mas Erwin pintar masak juga," jawab Dilla penuh kegembiraan. Mengacak-acak rambut Erwin dengan sebelah tangannya. "Mas nggak mau mencicipinya?"
"Aku sudah kenyang, kamu makan aja," kata Erwin.
"Baiklah," jawab Dilla melanjutkan aktivitas makanannya.
"Hoam ....," Erwin sudah menguap beberapa kali. Kantuknya tidak dapat di tahan lagi.
"Tidur Mas, kalau sudah ngantuk," saran Dilla. Dilla meneguk segelas air putih setelah selesai makan.
Erwin menggelengkan kepalanya pelan. "Mau tidur bareng, tungguin kamu." Tangan Erwin melepaskan jilbab instan yang dipakai oleh Dilla. Erwin membenamkan kepalanya di curuk leher istrinya itu.
"Mas Erwin, geli ih," kata Dilla saat merasakan Erwin sudah mulai menciumi lehernya dengan lembut. Dilla mendorong tubuh Erwin pelan. "Mas menginginkannya?" tanya Dilla gugup, Dilla dapat merasakan deru napas memburu dari suaminya itu.
"Kalau kamu mengizinkannya, aku tidak bisa menolak untuk melakukannya." Erwin menarik tengkuk leher Dilla, mencium lembut bibir mungil yang selalu saja menggoda dirinya.
Pertama, hanya ciuman lembut tapi lama-kelamaan menjadi lebih panas dan menuntut lebih.
Mereka berhenti sejenak ketika keduanya kehabisan napas, Erwin tersenyum kecil saat melihat pipi Dilla yang sudah merah merona.
"Kamu belum pandai melakukannya." Erwin menyentil pelan kening Dilla, membuat Dilla mencebik kesal dalam hatinya. "Mas sudah ngantuk berat Sayang, kita tidur, yuk!" ajak Erwin, Dilla membalas dengan anggukan kepala kecil.
Erwin melingkar tangannya di tubuh Dilla, memeluk Dilla sangat erat. "Kalau aku nggak ngantuk berat saat ini mungkin kita sudah begadang sampai subuh nanti," ucapnya, "mau bikin kamu nggak bisa jalan besoknya," tegasnya lagi diiringi tawa ringan.
Dilla bergedik ngeri mendengar kata-kata tersebut. Erwin seperti mengancam dirinya. "Aku tidak mengerti apa yang Mas omongin." Dilla membalas pelukan hangat suaminya itu.
"Eh, udah tidur ternyata," ucap Dilla saat tidak mendengar sahutan lagi dari Erwin. Dilla mematikan lampu kamar, lalu menarik selimut menutupi tubuh mereka.
__ADS_1
"Selamat tidur, Mas." Dilla mengecup pipi Erwin, sebelum dia menyusul Erwin ke dalam dunia mimpi.