
"Kak Rendi ....," panggil Jessika sambil menarik selimut yang menutupi tubuh pemuda itu. Jessika pagi ini sudah berada di apartemen Rendi.
Rendi langsung beringsut duduk setelah mendengar suara Jessika, cukup kaget karena Jessika sudah ada di apartemennya pagi-pagi.
Rendi menggeliatkan tubuhnya, menguap beberapa kali karena kantuknya masih menyerang dirinya. Semalam dia begadang, menyelesaikan beberapa dokumen yang harus di ketik.
"Kenapa kamu bisa ada disini, sih?" Rendi bangkit berdiri, Jessika tidak menjawab. Rendi pergi ke kamar mandi membasuh wajahnya.
Netra Jessika mengelilingi setiap sudut apartemen Rendi, senyum tipis terus terukir di bibirnya.
Rendi meraih jaketnya, melempar ke arah Jessika yang duduk di sofa. "Pake jaket itu."
"Kenapa?" Jessika bertanya heran.
"Pakaianmu terbuka!" jawab Rendi tanpa menoleh ke arah Jessika," pakai pakaian yang lebih sopan Jessika, kehidupan di Inggris dan disini beda!" tegasnya kembali.
Jessika mengaguk kecil dan segera memakai jaket sesuai dengan perintah Rendi.
"Kak Rendi, temenin Jessika yah pagi ini," pintanya memohon. Memeluk lengan Rendi dengan manja.
Rendi tidak ambil pusing dengan tingkah Jessika seperti itu, pria ini sudah terbiasa, Rendi menebak pasti Bara yang sudah memberikan nomor pin apartemennya kepada Jessika.
"Aku sibuk!" sahutnya lalu menyingkirkan tangan Jessika dari lengannya.
Jessika melengkung bibirnya ke bawah. Gadis ini tidak akan pernah putus asa untuk mendapatkan hati pria yang sudah ia cintai sejak dulu.
"Ayolah, Kak Ren. Sekali ini aja. Please ...." pintanya memohon.
"Nggak! mendingan kamu pulang sekarang!" usir Rendi terang-terangan.
Jessika tidak mengindahkan perintah Rendi barusan.
"Sampai kapan Kak Ren, nolak Jessika terus? Jessika cinta sama Kak Rendi."
"Aku tidak akan pernah mencintaimu, Jessika! masih banyak pria yang lebih baik dan cocok denganmu!" Rendi meneguk segelas air putih. Rendi sangat pusing bila sudah menyangkut urusannya dengan Jessika.
Jessika sudah menangis sesenggukan di samping Rendi. Rendi tidak peduli. Dia memilih untuk berjalan ke balkon apartemen untuk menghirup udara segar pagi ini.
***
Yadhabu jamiilu liya'ti ajmal ... Yang indah pergi lalu datang yang lebih indah. Istri adalah istana tempat rida ilahi.
__ADS_1
Bara tersenyum tipis saat melihat istrinya sedang menyirami bunga-bunga yang tumbuh dengan subur pagi ini. Berjejer rapi di pelataran rumah serasa menyejukkan mata. Famira memang suka sekali dengan tanaman hias. Mulai dari bunga matahari, aglaonema, cempaka putih, melati, anggrek, dan bunga hias yang lain.
Perlahan Bara berjalan mendekat, memeluk mesra tubuh Famira dari belakang. Aroma harum cherry blossom segar yang baru Famira semprotkan menguar memenuhi indra penciuman Bara. Ingin sekali Bara menciumnya istrinya saat ini juga.
"Eh ... Mas, bikin kaget saja loh," ujar Famira.
"Atha masih tidur, Sayang?" tanya Bara sambil menyenderkan dagu ke bahu Famira. Tubuh Famira yang sedikit pendek dari dirinya, membuat Bara sedikit menunduk.
"Iya, Mas. Mungkin karena semalam nggak bisa tidur. Jadi, pagi ini Atha masih terlelap."
"Hm, kamu juga nggak tidur semalaman, Ra. Kamu istirahat aja."
Famira tersenyum. "Nggak kok, Mas," sahutnya, "Mas nih jangan peluk Famira di sini dong kalau ada yang lihat gimana?" tanya Famira mencoba melepaskan pelukan dari Bara.
"Gak ada yang lihat, kalau pun ada mas nggak akan peduli."
"Tapi malu, Mas."
Perlahan Bara melepaskan pelukannya. "Ya, sudah ... selesaikan dulu nyiram bunganya."
"Udah selesai kok. Mas nggak pergi ke perusahaan?" tanya Famira, Bara menggelengkan kepalanya cepat pertanda 'tidak'. Bara akhir-akhir ini lebih ingin menghabiskan waktu bersama Famira dan Atha. Toh, Bara juga masih bisa memantau perusahaannya dari rumah.
"Hum ... Mas mau minum kopi atau teh?" tawar Famira.
Pipi Famira tampak bersemu kemerahan.
"Ih! aku kan serius, Mas. Ternyata suamiku ini pintar gombal," ledeknya sambil tertawa.
"Ya mas serius kok," jawab Bara meyakinkan.
"Beneran loh, Mas. Mau apa?"
"Hehehe ... mau teh aja deh. Jangan terlalu manis, Sayang."
"Siap!" sahutnya.
Bara berjalan menuju kursi yang terbuat dari anyaman rotan di teras rumah sambil menunggu Famira.
Tak butuh waktu lama, wanita berkhimar lebar itu datang menghampiri dirinya dengan membawa nampan berisikan segelas teh hangat.
"Silahkan diminum suamiku."
__ADS_1
"Nggih, istriku."
Bara menyeruput segala teh hangat yang masih mengepul . Sementara Famira hanya memperhatikan Bara saja.
"Kok liatin terus?" tanya Bara.
"Emang ada larangan gitu liatin suami sendiri.''
"Hmm ... udah pinter jawab ya sekarang istriku ini."
"Hehehe. Enak ndak tehnya, Mas?"
"Enak cuma kemanisan aja nih kayaknya."
"Famira sedikit kok taruh gulanya."
"Sejak memandang wajah yang cantik ini semua terasa kemanisan," goda Bara membelai lembut pipi Famira.
Famira tersenyum lebar, Bara kian terkesima dengan senyum Famira. Geliginya yang berderet rapi bak butiran mutiara yang berkilauan. Tatapan netranya yang berkharisma menambah kesan anggun.
Famira sosok wanita yang pendiam, pembawaan selalu lemah lembut terkesan tawadhu. Berbeda dengan wanita-wanita lain yang pernah menjalin hubungan dengan dirinya. Bara bersyukur dan sangat bersyukur bisa memiliki istri seperti Famira.
"Ra ...." Bara menatap lekat wajah istrinya itu. "Kenapa kamu selalu sabar menghadapi sikap mas selama ini? dan selalu mendoakan kebaikan untuk mas? kenapa kamu gak pernah menceritakan keburukan mas pada ummi? kenapa kamu selalu baik dan tidak membenci mas saja dari dulu?" Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari bibir Bara.
Famira kembali tersenyum, menggengam erat tangan Bara. "Famira percaya sebenarnya Mas adalah orang yang baik. Famira percaya Mas takkan menyia-nyiakan cinta istrimu ini. Famira tau Mas hanya butuh waktu, dan Famira akan sabar menunggu waktu itu tiba, sekarang sudah terbukti bukan? Famira tidak akan menceritakan keburukan suamiku sendiri pada orang lain, karena bagaimana pun aib Mas adalah aib Famira juga," jelas Famira panjang lebar.
Istri dan suami diibaratkan seperti pakaian. Kenapa? Karena fungsi pakaian untuk menutupi celah yang ada di bagian tubuh. Begitu pun keburukan suami atau pun sebaliknya, sudah menjadi tugas sebagai seorang istri maupun suami menutupi segala celah yang ada dalam setiap pasangannya.
Rasulullah Shallallahu a’alaihi wassalam bersabda : “Dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Ummi Hana yang melihat keharmonisan rumah tangga putrinya tersenyum bahagia. Penderitaan yang dulu pernah dirasakan putrinya sekarang sudah sangat tergantikan, dengan kebahagiaan yang tiada tara. Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
.
.
.
.
Part Erwin dan Dilla ditunda dulu ya, bagaimana pun tokoh utama disini adalah Bara dan Famira. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, biar aku lebih semangat untuk up-nya.
__ADS_1
Makasih:)