
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
"Percayalah, bukan pengkhianatan yang akan mengakhirkan kita, namun pertemanan abadi yang akan menemani kita hingga akhir hayat."
-Pernikahan Tanpa Cinta-
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
Anita dan Kila sekarang berada di kantor polisi untuk menjenguk Doni. Anita sebenarnya tidak mau bertemu lagi dengan Doni, Anita sudah sangat membencinya. Tidak ada lagi kata 'maaf‘ dihati Anita untuk mantan suaminya itu.
"Papa mana, Ma? kok belum datang sih?" tanya Kila yang tidak sabar ingin memeluk tubuh papahnya itu. Meski Kila tahu papanya jahat namun, Kila tidak bisa membencinya.
"Tunggu sebentar, Kila. Papa akan datang," jawab Anita mengelus lembut rambut milik putrinya. Dan benar saja ucapan Anita, Doni muncul dari arah samping tempat dia dan Kila menunggu.
"Papa!" Kila berlari lalu memeluk erat tubuh kekar Doni. Doni menangkap tubuh putrinya, dia juga rindu dengan Kila.
"Bagaimana keadaan Kila, Kila nggak nakal sama Mama, kan?" tanya Doni lalu mencium pipi kiri dan kanan Kila secara bergantian.
"Kila baik-baik kok, Pa. Kila nggak pernah nakal sama, Mama," jawab anak kecil itu antusias. "Papa nggak boleh jadi jahat lagi yah, Kila akan benci sama Papa jika Papa jahat."
"Iya, sayang."
Anita hanya memandang jengah ke arah Doni, dia memberikan senyuman paksa dan palsu kepada Doni.
"Semoga kamu sadar dengan perbuatan jahat kamu, setelah diam di jeruji besi di sini!" kata Anita penuh penekanan.
Anita melirik salah satu polisi, dia memberi isyarat meminta tolong untuk membawa Kila keluar dari ruang itu. Anita tidak mau mengganggu pikiran Kila, bila dia dan Doni bertengkar di hadapan putri semata wayangnya itu. Polisi muda itu mengerti maksudnya, dia pun mengangguk setuju.
Doni tersenyum tipis. "Tidak aku sangka, kamu datang menjengukku, Anita. Apa kamu juga rindu denganku, Anita?" tanyanya tanpa ada rasa malu atas kesalahannya.
Anita menepis tangan Doni yang ingin menggenggam tangannya. "Kalau bukan permintaan Kila, aku tidak akan menginjakkan kaki di sini demi untuk melihatmu!" Anita menyodorkan amplop coklat ke hadapan Doni. "Silakan tanda tangan surat perceraian ini, setelah ini kita tidak ada hubungan apa pun!"
Doni tersenyum miring. "Aku akan tanda tangan, aku bersumpah akan membalas dendamku kepada keluargamu terutama Bara brengsek itu!" Doni meraih bolpoin lalu mendatangi surat perceraian itu.
"Aku dan keluargaku tidak pernah takut dengan ancaman kamu!" Anita mengambil amplop coklat itu kembali, dia segera bangkit dan beranjak pergi.
'Tunggu saja pembalasanku," batin Doni berdecih sinis.
"Pak polisi sudah punya anak, nggak?" tanya Kila antusias.
"Jangan panggil Pak polisi, panggil aja Om Andre ya. Om Andre belum punya anak, Om masih muda," ucap Andre tersenyum tipis.
__ADS_1
"Om Andre belum nikah? Kila pikir udah nikah hehehe," jawab Kila cengengesan.
"Gaya bicaramu seperti orang dewasa saja." Andre menggelengkan kepalanya merasa lucu dan gemas melihat tingkah anak kecil yang duduk di pangkuannya itu.
"Om ganteng sekali, coba saja Kila udah besar Kila mau nikah sama Om saja. Bolehkan, Om?"
"Anak kecil nggak boleh pikir nikah dulu, Kila harus belajar giat biar menggapai cita-cita dulu."
"Gitu ya, Om."
"Iya." Andre mengecup kening Kila.
"Kila ayo kita pulang," ucap Anita yang baru saja datang.
"Kila pulang dulu ya, Om. Kila titip Papa di sini, Om nggak boleh siksa Papa Kila." Kila meraih punggung tangan Andre lalu menciumnya.
"Siap, Kila! jawab Andre hormat.
Kila melambaikan tangannya dan Andre pun sebaliknya, sementara Anita hanya tersenyum tipis ke arah Andre.
'Aku tidak menyangka kita akan di pertemukan di sini, Nit. Anakmu begitu menggemaskan, sama seperti dirimu dulu. Aku masih sama seperti dulu, menunggumu Nita. Tapi sayangnya kamu bahkan tidak mengenal diriku saat ini,' batin Andre memandang punggung Anita yang semakin menghilang di hadapannya.
•••
Bara tidak menghiraukan kehadiran Adel, dia sibuk dengan berkas-berkas perusahaannya yang sedang di baca.
"Kakak!" Adel menggerakkan lengan tangan Bara.
"Ada apa?" tanya Bara dingin dan ketus.
"Adel bawa makan siang untuk, kakak Bara." Adel menunjukkan rantang yang dia bawa. "Ini masakan Adel sendiri, spesial untuk kakak Bara," ucap Adel tersenyum tipis.
"Aku nggak nafsu makan, Del."
"Setidaknya makanlah sedikit kakak Bara, Adel sudah usaha, setidaknya hargailah."
Rendi yang melihat Adel merengek kepada Bara memalingkan wajahnya.
"Assalamu'alaikum, Mas," ucap Famira di ambang pintu. Famira mengerutkan keningnya melihat Bara dengan perempuan yang ada di samping suaminya itu. Famira masih belum mengenal dengan sosok Adel.
'Itu istri kakak Bara, cantik sih tapi jelas cantik akulah," batin Adel memandang sinis ke arah Famira.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, sayang." Bara berjalan ke arah Famira lalu menarik lembut tangan Famira dan menyuruhnya duduk di sofa. "Kenapa harus datang ke perusahaan, Mas. Kamu harus istirahat dan tidak boleh capek, Ra," tutur Bara sambil mengelap keringat di dahi Famira.
"Famira ingin bawa makanan siang buat Mas aja. Famira nggak capek kok, Mas."
"Ingin antar makanan atau karena rindu ingin lihat wajah mas yang ganteng ini?" tanya Bara menggoda Famira lalu mencolek dagu Famira.
"Apa sih, Mas. Jangan geer' deh," sahut Famira kesal.
"Jangan marah, sayang. Iya sudah kita makan di luar saja ya, Ra. Mas sumpek di dalam ruangan ini," ucap Bara menyindir. Famira mengaguk setuju.
"Tunggu dulu, mas. Siapa wanita ini?" tanya Famira yang masih penasaran dengan gadis berambut pirang yang ada di hadapannya itu.
"Itu Adel, pacar Rendi."
"Humm, pacar Rendi." Famira melemparkan senyum tipis ke arah Adel dan dengan malas Adel membalas senyuman itu.
"Kami ngg---" ucap Rendi terpotong.
"Mereka berdua sangat cocok, Ra," potong Bara cepat.
"Aku doakan kalian cepat nikah," tutur Famira.
"Aamiin," sahut Bara tersenyum penuh kemenangan. Famira dan Bara berlalu di hadapan Rendi dan Adel.
Adel menghempaskan tubuhnya secara kasar di atas sofa. "Kakak Bara jahat sekali! tadi bilangnya nggak nafsu makan namun, nyatanya kakak Bara terima makan dari istrinya itu," ucap Adel mengembuskan napas kesal.
Rendi duduk di samping Adel. "Kamu harus sabar, Del."
"Sampai kapan Adel sabar seperti ini, kakak Rendi." Adel memeluk tubuh Rendi, bulir air mata jatuh di pelupuk hati Adel. Hatinya sakit saat melihat kemesraan Bara di hadapannya.
"Lebih baik kamu menyerah saja, Del." Ucapan itu meluncur saja di bibir Rendi.
Adel melepaskan pelukan itu. "Adel tidak akan nyerah, kakak Rendi! kenapa kakak bicara seperti itu? bukannya kakak yang selalu ngedukung, Adel?" tanyanya dengan nada suara sangat tidak bersahabat.
"Maafkan aku, Del. Aku nggak bisa bantu kamu lagi, aku nggak mau mengkhianati Bara!" ucap Rendi penuh keyakinan.
"Kakak Rendi juga jahat! Adel membenci kakak Rendi." Adel memukul dada bidang Rendi meluapkan emosinya, bulir air mata kembali jatuh di pipi gadis itu.
Adel bangkit dan menatap Rendi
tajam. "Adel bisa merebut kakak Bara dengan tangan Adel sendiri, Adel nggak butuh bantuan kakak Rendi lagi. Adel sangat membenci, kakak Rendi!" ucap Adel penuh kebencian. Dia menutupi pintu secara kasar.
__ADS_1
Rendi memijat keningnya, pemuda ini nampak frustrasi. Rendi membiarkan Adel membencinya dengan keputusannya. Rendi menyadari bahwa persahabatan lebih utama daripada percintaannya. Bara sudah banyak membantunya, Rendi tidak mau menjadi pengkhianat lagi.
"Aku mencintaimu, Del. Tetapi aku juga tidak ingin memaksakan perasaan cinta ini. Aku tidak mau lagi memperjuangkan seseorang yang tak pantas aku perjuangkan. Aku berpasrah dengan takdir Tuhan saat ini," ucap Rendi penuh keyakinan.