Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
78


__ADS_3

━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


“Tidak ada kalimat 'semua akan indah pada waktunya' karena setiap hari pun semua akan terasa indah jika kita pandai bersyukur.”


—Catatan Muslimah–


━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


"Ayah ...." teriak anak kecil laki-laki itu bahagia saat pintu ruangan Bara terbuka lebar. Berlari kecil walau sering jatuh ke arah Bara.


Bara menangkap tubuh anak kecil laki-laki itu dengan antusias lalu menciumnya.


"Ayah?" Rendi yang mendengar panggilan dari bibir mungil anak kecil laki-laki itu kaget dan sangat tidak percaya sekali. Rendi tidak mengenal sama sekali siapa wanita berjilbab yang masih berdiri di ambang pintu dan anak kecil yang memanggil sahabatnya itu dengan sebutan ayah.


"Atha, udah sembuh?" tanya Bara lalu menggendong anak kecil yang bernama Atha.


Atha mengaguk antusias pertanda sudah. "Atha mau disini ama Ayah, nggak mau pulang ama bibi Desi," jawab anak kecil itu walaupun bicaranya masih kurang jelas.


"Boleh." Bara tak henti-hentinya mencium pipi anak kecil laki-laki itu karena merasa gemas.


Bara duduk di sofa dan menduduki Atha ke atas pangkuannya.


"Kamu boleh balik, Des. Atha biar sama aku aja," ucap Bara pada wanita berjilbab yang masih berdiri di dekat pintu.


"Baik Kak, saya balik ke panti duluan. Assalamu'alaikum," pamit sopan wanita yang bernama Desi.


"Wa'alaikumussalam ...."


Rendi berjalan ke arah Bara, menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa. Pria yang menggunakan kemeja lengan panjang ini penasaran sekali dengan siapa anak kecil itu.


"Bar, lo bisa jelasin ke gue siapa anak kecil ini? jangan macam-macam lo Bar, lo mau nyakitin hati Famira lagi?" Rendi bertanya penuh dengan selidik.


"Nanti gue jelasin, nggak baik kalau Atha mendengarnya."


"Ayah, itu siapa?" tanya Atha mengalihkan perbincangan Bara, anak kecil laki-laki itu menunjuk Rendi yang duduk di hadapannya.


"Om Rendi."


"Om Lendi." Atha mengulangi ucapan Bara.


"Bukan Lendi tapi Rendi, Atha."


"Panggil Om Lendi aja, Atha nggak bisa. Boleh, ya?" tanya Atha meminta persetujuan Bara. Bara mengaguk paham.


'Apa-apaan nama gue yang bagus di ganti gituan. Dasar bocah, ngeselin juga," gumam Rendi yang tidak terima anak kecil laki-laki itu memangilnya dengan seenak jidat.


Rendi melongo tak percaya, melihat sahabatnya itu sangat humoris dengan anak kecil laki-laki itu. Tak seperti biasanya.

__ADS_1


"Om Lendi, main kuda-kudaan sama aku. Om yang jadi kudanya ya." Atha bangkit dari pangkuan Bara berjalan menuju Rendi.


"Anak laki-laki nggak boleh main gituan, nggak maco."


"Ayah .... Om itu jahat nggak mau main sama Atha," aduh Atha kepada Bara.


"Punggung Om sakit," sanggah Rendi, "kita beli es krim aja, mau nggak?"


"Mau, mau Om." Atha mengulurkan tangannya ke arah Rendi. Dengan berat hati Rendi menggendong tubuh anak kecil itu.


"Hitung-hitung belajar jadi seorang ayah dari sekarang, Ren." Bara tertawa mengejek saat melihat kekesalan di wajah sahabatnya.


"Belajar apaan? gue belum siap nikah kalau gini." Rendi beranjak pergi dari hadapan Bara mengajak Atha membeli es krim.


"Jangan sampai Atha kenapa-kenapa, Ren!" Bara berteriak sebelum Rendi benar-benar hilang di depan pintu.


••••


Atha sudah tertidur pulas di atas sofa, anak kecil laki-laki itu sudah puas bermain dengan Rendi. Rendi merasa jengkel dan kesal sekali karena dia menjadi babysitter hari ini. Rendi semakin kesal lagi saat Bara menyuruh dirinya menggantikan popok anak kecil itu.


"Jangan buat gue penasaran Bar, lo cerita ke gue. Siapa anak kecil itu?" Rendi bertanya sambil menunjuk Atha yang sudah tertidur pulas, "itu bukan anak lo, kan?"


"Bukan! emang Famira lahiran? nggak, kan?"


"Terus ... kenapa dia manggil lo dengan sebutan ayah, jangan-jangan lo ada wanita lain selama ini."


"Siapa tahu lo kembali lagi seperti dulu."


Bara menarik napas panjang sebelum menceritakan kepada Rendi. "Gue nggak sengaja temuin Atha dipinggir jalan dua minggu yang lalu. Dia menangis sendirian di jalan yang sepi. Gue yakin dia dibuang oleh orang tuanya. Tega sekali mereka meninggalkan anak kecil polos sendirian. Gue hanya nggak tega, makanya gue bawa pulang dan menyuruh pengurus panti asuhan untuk menjaganya." Bara mengingat betul kejadian malam itu, dia lembur bekerja. Pulang sekitar pukul sepuluh malam dan melihat Atha yang sedang meringkuk menangis di sisi jalan.


Bara menjadi donatur utama setiap panti asuhan yang ada di kota itu. Sudah sepantasnya dia membelanjakan hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan. Berkat menikah dengan Famira, seorang Bara Sadewa mengubah segala mindsetnya. Segala yang ada pada dirinya kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Termasuk dengan harta yang dimiliki.


Rendi bernapas lega ternyata pikirannya salah terhadap Bara. "Kasihan juga, umurnya masih belia sudah banyak penderitaan. Gue jadi nggak tega juga," ujar Rendi, "lo nggak ada niat nyariin orang tuanya?"


"Buat apa gue nyariin mereka, mereka sendiri juga yang membuang anaknya. Nggak punya tanggung jawab sama sekali!"


"Betul juga sih. Gue nggak menyangka lo baik juga. Walau kadang rada-rada gila."


"Jaga ucapan lo, Ren!" hardik Bara.


Drett ... drett ... drett ...


Handphone milik Bara bergetar di atas meja. Bara yang melihat nama yang muncul di layar handphonenya itu memasang wajah malas untuk mengangkatnya.


[ Kak Bara, besok aku pulang .... ] teriak cempreng gadis di seberang sana. Bara menjauhkan handphone dari telinganya.


[ Bisa nggak kalau ngomong itu jangan teriak-teriak. Kakak nggak budeg! ] Bara mendengus napas kesal.

__ADS_1


[ Whatever, .... i don't care! ]


Terserah, ... aku nggak peduli!


[ Cih, punya Adik ngeselin juga. Kakak nggak akan jemput kamu, kenapa nggak nelepon ke rumah aja? ]


[ Hello, Kak Bara. Kakak nggak rindu dengan Adik Kakak yang cantik ini. Please deh ... ]


[ Buat apa rindu, dengan Adik yang hanya nyusahin, Adik angkat juga! ]


[ Jahat! Jessika bilangin ke mama dan papa. ]


[ Dasar cengeng, tukang ngadu. Nggak usah pulang, Kakak sumpek dengar suara kamu! ]


[ Jessika menelpon Kak Bara cuman ingin bicara sama kak Rendi kok. Nomor Jessika di blokir sama Kak Rendi. ]


Bara menyerahkan handphonenya ke tangan Rendi. "Jessika ingin bicara sama, lo!"


"Gue nggak mau ngomong sama adik angkat lo itu, cerewetnya minta ampun." Rendi mengembalikan handphone Bara kembali.


"Sombong lo, untung ada adik gue yang suka sama lo!"


[ Rendi nggak mau ngomong sama kamu, kakak sibuk nggak bisa ngomong unfaedah dengan kamu lagi. ]


[ Kak Bara dan kak Rendi sama-sama jahat, pokoknya besok harus jemput Jessika ke Bandara, jangan lupa ajak Kak Rendi juga. Kak Bara mau oleh-oleh nggak dari aku? ]


[ Nggak! ]


[ Kak Bara sombong, tapi Jessika akan tetap beli buat kakak ipar. Jessika penasaran dengan istri dari seorang Bara Sadewa. Ya deh, bye ... ]


Telepon pun berakhir.


Bara memandang Rendi dihadapannya yang mengacak rambutnya frustrasi.


"Kenapa, lo?" Bara bertanya heran.


"Mending gue nikah sama kak Anita kalau kayak gini. Hidup gue nggak akan tenang bila adik angkat lo itu pulang lagi."


Bara mengangkat bahunya acuh. "Terserah lo, Ren. Gue yang jadi kakaknya aja sumpek dengar suaranya yang cempreng. Apalagi lo, bila lo nikah sama Jessika gue setuju lahir batin, kalau sama Kak Anita gue nggak setuju, lo terlalu jahat buat kak Anita!"


.


.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2