Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
94


__ADS_3

"Bapak lepasin, tangan Dilla sakit!" jerit Dilla kesakitan. Dengan kasarnya bapak Hamid menarik tangan Dilla tanpa memedulikan rintihan putrinya itu.


Dilla terus memberontak melepaskan tangan bapaknya yang terus menarik tangannya secara kasar untuk masuk ke dalam tempat yang menurutnya haram itu.


"Bapak aku nggak mau, nggak mau masuk klub!" Dilla terus memberontak untuk melepaskan diri.


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Dilla, Dilla kian merintih kesakitan.


Plak!


Tamparan kedua kembali mendarat di pipi Dilla.


"Bapak jahat." Air mata Dilla luruh, anggota tubuhnya sudah cukup sakit semua akibat mendapat kekerasan dari bapaknya sejak tadi. Menangis sampai air matanya kering juga, bapak Hamid tidak akan peduli dengan dirinya.


Bulu kuduk Dilla berdiri melihat orang-orang yang ada di dalam klub malam itu. Wanita berjilbab ini menundukkan pandangannya, tidak ingin melihat apa yang tidak pantas dilihat. Banyak perbuatan yang senonoh terjadi di klub malam itu.


Dilla dapat melihat wanita-wanita yang seumuran dirinya, sedang menggoda para lelaki yang baru saja datang dengan kemolekan tubuh mereka. Rasa malunya sudah hilang dalam diri mereka.


Wanita zaman sekarang, kebanyakan sudah hilang rasa malunya. Izzah dan iffahnya seolah-olah hilang dalam dirinya.


Allah menciptakan wanita sesuai dengan fitrahnya, yaitu menjadi perhiasan dunia dengan keshalihannya, dan malu adalah salah satu dari ciri keshalihan tersebut.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء


“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah )


Allah telah memuliakan wanita lewat Islam. Namun sayang, terkadang wanita itu sendiri yang tidak ingin dimuliakan. Wallahu'alam ....


Bapak Hamid mendorong tubuh Dilla ke tubuh seorang pria bermata hazel biru. Dengan sigap pria itu menerimanya senang.


"Silahkan bersenang-senang, Tuan. Dia masih mulus." Bapak Hamid tersenyum jahat, pria paruh baya itu berjalan meninggalkan Dilla begitu saja. Bergabung dengan teman-teman lainnya untuk berpesta ria malam itu. Dilla dibayar cukup mahal untuk melayani pria bermata hazel biru itu. Bapak Hamid tidak peduli dengan perjanjian dengan Erwin.


Dilla menjauhkan tubuhnya, melepaskan tangan pria itu dari bahunya. Namun, pria yang sudah membeli Dilla itu menarik tangan Dilla ke sebuah kamar yang tersedia di tempat itu.

__ADS_1


"Lepaskan aku!" Dilla sudah bergetar ketakutan. Kejadian ini mengingatkannya kembali kejadian dua tahun silam, tapi saat itu dia masih bisa selamat karena di bantu oleh pria yang dianggap sebagai malaikat penolongnya. Yang sekarang sedang menempuh pendidikan di Kairo, Mesir. Akankah dirinya bisa selamat lagi?


"Tenanglah, aku adalah suruhan suamimu." Pria bermata hazel biru itu tersenyum tipis. Mencoba menenangkan gadis berjilbab yang sudah meringkuk menangis di sisi ranjang.


Dilla terduduk lemah, tidak percaya mendengar ucapan itu. Ucapan syukur terucap di bibir mungilnya.


Erwin baru saja tiba dengan napas ngos-ngosan dan langsung memeluk erat tubuh Dilla. Dilla membalas pelukan itu.


"Aku takut, Mas. Aku t---akut." Dilla kian memeluk erat tubuh Erwin. Menenggelamkan wajahnya di dada milik suaminya itu. Sedih, senang, perasaannya campur aduk.


"Maafkan aku Dilla, aku hampir terlambat datang untuk membantumu." Erwin melihat sekujur tubuhnya Dilla, memar dimana-mana, bekas pukulan dapat dilihat.


Erwin mengucapkan terima kasih yang sangat mendalam kepada sekretaris Max, ternyata sekretaris Max yang sudah bergerak cepat dan merencanakan penolongan ini, sekretaris Max datang ke villa saat itu ingin menyampaikan hal ini kepada tuannya. Namun, Erwin seperti tidak peduli. Sekretaris Max tidak mau gegabah, Max tahu tuannya benar-benar cinta pada Dilla. Dia tetap memilih untuk menolong istri dari tuan mudanya.


"Siapa yang melukaimu seperti ini?" tanya Erwin menghapus jejak air mata Dilla.


Dilla tidak menjawab, dia memilih memeluk erat tubuh suaminya itu. Dilla masih takut, trauma akan terulang kembali. Ternyata Tuhan sangat baik terhadap dirinya.


Erwin tidak ingin lama-lama ada di tempat itu, dia segera membawa Dilla keluar dan pergi.


Bapak Hamid sudah dihajar habis-habisan tanpa ampun oleh sekretaris Max. Sekertaris Max tidak akan peduli mau mati atau pun tidak pria paruh baya itu. Sekretaris Max cukup geram dan marah karena bapak tua itu sudah berkhianat pada tuannya.


Perdebatan yang terjadi antara mereka beberapa hari terakhir hilang begitu saja saat ini. Erwin sudah ada di rumah Dilla yang sederhana tepatnya di kamar Dilla.


Kedua netra berbeda warna itu enggan melepaskan tatapan mereka. Melepaskan kerinduan yang bersarang di benak mereka masing-masing. Tiba-tiba terjadi kecanggungan antara keduanya.


Erwin berdehem pelan menghilangkan kecanggungan itu.


Dilla menyerahkan kotak cincin yang menjadi masalah besar dalam rumah tangganya. Tak lupa buku diarynya.


"Terserah Mas mau apa dengan barang-barang itu. Aku tidak ingin lagi kita bertengkar. Maafkan aku Mas, aku sudah mengecewakan Mas. Aku memang belum bisa menjadi istri yang baik." Dilla menundukkan kepalanya dalam-dalam, air mata di pipi wanita ini kembali jatuh.


"Jadi kamu ..." Ucapan Erwin tergantung.


"Aku menyimpan cincin itu karena ingin mengembalikan kembali kepada pemiliknya. Sebentar lagi dia akan pulang kok. Aku memang salah karena tidak jujur pada, Mas Erwin. Aku minta maaf."


Erwin tersenyum tipis. "Duduk disini, Sayang." Erwin menepuk sampingnya untuk Dilla mendekati dirinya. Dilla menuruti.

__ADS_1


"Kamu tidak salah, Dilla. Aku yang salah karena sudah memaksakan kehendak untuk mencintaiku dan menikah denganku. Kalau kamu memang benar-benar mencintai pria yang kamu tunggu itu. Aku tidak apa-apa, Dilla. Aku ikhlas, bahagiamu ... bahagiaku juga."


Dilla menggelengkan kepalanya cepat. "Aku sudah bilang, sejak hari-hari yang aku lalui bersama, Mas. Aku sudah jatuh cinta, aku cinta sama, Mas," tegasnya penuh keyakinan memeluk tubuh erat tubuh suaminya.


"Kurang dengar, ulangi kalimat terakhir."


"Aku cinta pada, Mas."


"Ulangi sekali lagi, Sayang," pintanya lagi.


"Mas ngerjain aku, yah?"


"Nggak, Sayang. Telingaku bermasalah sedikit kayaknya."


Dilla mengerucutkan bibirnya, mengambil napas dalam-dalam. "Aku mencintaimu, Erwin Martadinata ....," tuturnya dengan suara cukup keras agar Erwin puas.


Satu kecupan singkat mendarat di bibir Dilla.


Uhuk!


Uhuk!


Iwan dan Intan yang berdiri di ambang pintu itu batuk bersamaan saat tidak sengaja melihat adegan itu. Erwin dan Dilla cukup kaget melihat kehadiran kedua remaja itu.


"Kak Erwin, sesama seorang pria aku cukup mengerti. Tutup pintu, Kak."


"Betul, tuh. Kami ngerti kok Kak kalian pengantin baru," timpal Intan.


"Mata kami jadi ternodai deh." Kedua remaja itu lari terbirit-birit saat melihat tatapan sangar dari Dilla.


"Tuh kan, Mas sih main cium aja, nggak lihat tempat." Dilla menyalahkan Erwin, mencubit pinggang suaminya itu.


"Ih, aku mana tahu ada Intan dan Iwan di situ." Erwin membela diri tidak terima disalahkan, Erwin menahan tawa saat melihat wajah kemerahan dari wanita dihadapannya itu.


"Mas sih suruh aku teriak-teriak. Jadi, mereka heran," jawab Dilla, "aku malu dilihat oleh adik-adikku, Mas." Dilla kembali menghambur memeluk tubuh Erwin. Menyembunyikan wajahnya yang sudah merona merah.


Memang jodoh itu sirrun min asrolillah (rahasia dari beberapa rahasia Allah). Semuanya sudah jelas tertulis di lauhul Mahfudz. Jodoh itu murni hak prerogatif Allah yang merupakan takdir mubrom. Qodlo mubrom yaitu ketetapan azali yang tidak bisa berubah. Sekuat tenaga kita ingin menikah dengan dia, jika dia bukan jodoh yang Allah tetapkan, kita bisa apa?

__ADS_1


La tarju kasiiro ( jangan berharap lebih) kita yang ditakdirkan hanya sekedar bertemu tanpa bisa bersatu.


Habib Umar bin Hafidz pernah berpesan ; “sebagai darah muda memikirkan tentang jodoh adalah hal yang wajar. Tapi, tidak seharusnya waktumu habis hanya untuk memikirkan sesuatu yang telah dijaminkan oleh-Nya.”


__ADS_2