Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
61


__ADS_3

━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━


“Mohonlah pertolongan kepada Allah agar menolong kalian melawan nafsu jahat kalian. Sama seperti kalian memohon pertolongan dalam melawan musuh-musuh kalian.”


[ Umar bin Khattab ]


━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━


Takdir yang Allah berikan kepada manusia itu indah. Walaupun harus melewati ujian sebagai jalannya. Jangan bertanya kepada Allah kenapa diberikan rintangan seperti itu. Cukup nikmati prosesnya dan berdoalah.


"Batalkan meeting hari ini, Ren!" Bara segera keluar dari ruangan meeting setelah menerima telepon dari Mama Ani. Kepalan tangannya menggenggam. Deru napasnya pria itu tidak beraturan.


Rendi menundukkan kepalanya kepada klien sebagai bentuk permintaan maaf. Klien itu mengaguk mengerti.


"Apa yang terjadi, Bar?" tanya Rendi mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Bara. Rendi dapat melihat sorot kemarahan di wajah pria di sampingnya itu.


"Famira diculik!" Bara mengusap wajah secara kasar.


"Hah? bagaimana bisa?" Rendi terkejut bukan main setelah mendengar ucapan Bara.


"Gue juga nggak tahu, sekarang kita pulang cepat!"


***


Bara memegang kerah baju sopir pribadi yang mengantarkan Famira untuk menjemput Kila kesekolahnya. Sopir pribadi itu tak lain adalah anak buah Bara.


"Bagaimana lo bisa ceroboh dan tidak mengetahui istri gue di culik, hah?!" tanyanya dengan suara keras.


Sopir itu bungkam seribu bahasa.


Satu tinjuan tepat di wajah sopir itu dari kepalan tangan Bara, darah segar mengalir dari sudut bibir pria itu.


"Jawab?!" gertak Bara yang melihat sopir itu masih saja bungkam.


Sekitar pukul sebelas siang, Famira dan sopir pribadi keluarga Wijaya pergi menjemput Kila ke sekolah dan berniat mengajak keponakannya itu makan siang di luar juga.


Pada sampai di gerbang sekolah ternyata Kila belum keluar kelas, Famira harus menunggu sekitar sepuluh menit lagi.


Sopir pribadi itu meminta izin kepada majikannya itu ke toilet umum karena tiba-tiba saja dia kebelet pipis.


Famira menunggu di dalam mobil, tak lama netra milik Famira memicing ke arah jalan raya. Famira melihat seorang nenek tua renta buta yang ingin menyeberangi jalan.


Rasa iba dan kasihan pun muncul di hati Famira, Famira segera keluar dari mobil untuk membantu nenek tua itu untuk menyebrang jalan.


Nenek tua buta itu mengucapkan terima kasih kepada Famira, setelah Famira membantunya. Sebelum Famira pergi dia menyempatkan menyelipkan beberapa uang ratusan ke tangan wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Saat Famira hendak kembali lagi ke mobil, tiba-tiba saja ada sebuah mobil ferrari hitam berhenti di tepat sampingnya. Famira langsung di bius oleh seseorang pria yang menggunakan pakaian serba hitam. Dan saat itu juga Famira tidak sadarkan diri.


Setelah sopir itu kembali, dia tidak menemukan majikannya, hanya ada tas selempang yang sempat dipakai oleh Famira yang jatuh di tepi jalan.


Tatapan tajam mata Bara menatap satu persatu anak buahnya yang menundukkan kepalanya.


"Dan kalian ... apa pekerjaan kalian di rumah? Bukankah gue menyuruh kalian untuk tetap mengawasi ke mana pun Famira pergi!" Suara Bara sudah mulai melengking tinggi.


Anak buah Bara yang berjumlah lima belas orang itu hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam dan ketakutan. Tak ada yang ingin menjawab, tuannya sudah sangat marah besar.


Mama Ani dan Papa Andi yang mendengar keributan di halaman rumahnya itu segera keluar.


"Istighfar Bara, ayo masuk dulu, Nak," tutur lembut Mama Ani mengusap punggung putranya itu.


Bara menjatuhkan tubuhnya secara kasar ke atas sofa.


"Tenangkan dirimu terlebih dahulu, Bara," kata Papa Andi.


"Bagaimana Bara bisa tenang, Pa. Famira diculik dan Bara tidak tahu bagaimana keadaannya. Bara tidak akan memaafkan diri Bara sendiri, kalau Famira kenapa-kenapa!" Bara bangkit berdiri meraih kunci mobilnya. "Bara harus mencari Famira secepatnya!" ucapnya lagi, Rendi hanya bisa mengekor di belakang Bara. Dia pun tidak ingin banyak bicara, melihat wajah Bara saja sudah membuat buluk kuduk Bara berdiri.


Bara memerintahkan kepada semua anak buahnya untuk memeriksa semua Cctv yang ada di tempat kejadian.


Bara mengacak rambutnya frustasi. "Ck, siapa lagi yang mau mempermainkan gue lagi, Ren? sungguh pengecut yang gue kenal. Hanya bisa main di belakang saja!"


'Aku harap kamu baik-baik, Ra,' batin Bara.


"Ke rumah sakit sekarang, kita temui dia!" titah Bara. Rendi mengaguk menuruti perintah Bara.


***


Bara menyeret secara kasar tangan Adel ke samping rumah sakit.


"Kak Bara, ada apa? kenapa datang tiba-tiba menarik tangan Adel?" tanya Adel tidak mengerti, pergelangan tangannya cukup sakit akibat di tarik paksa oleh Bara.


"Jangan pura-pura bodoh, Del!"


"Pura-pura bodoh gimana, Kak? Adel nggak ngerti maksud, Kak Bara."


"Lo yang menyuruh orang untuk nyulik Famira, hah?!"


"Kak Famira, di culik? Adel nggak tahu apa-apa, Kak!"


"Cih ... jangan bohong! sebelum gue melakukan kekerasan pada lo, Del!" ancam Bara. Tangan Bara sudah mengapit dagu gadis berambut pirang itu dengan keras. "Cuman lo yang membenci Famira! dan ingin menghancurkan rumah tangga gue, Del!" ucap pria itu lagi.


Bulir air mata jatuh di pelupuk mata Adel. "Adel tidak sejahat itu, Kak. Adel tidak tahu apa-apa tentang penculikan, Kak Famira. Adel nggak bohong, Kak. Hiks ..." Air mata itu luruh di pipi Adel. Gadis itu berkata jujur, Adel memang tidak tahu apa-apa tentang penculikan Famira.

__ADS_1


Bara melepaskan cengkraman tangannya di dagu Adel, dia tersenyum miring. "Kalau gue sampai tahu lo yang ngelakuin, Del. Siap-siaplah hidup lo akan hancur!"


Tenggorokan Adel bagaikan kering mendengar ancaman Bara. "Adel tidak takut, Kak. Karena Adel tidak ada sangkut pautnya dengan penculikan itu!" Adel mengusap air matanya secara kasar.


Bara mengangkat bahunya acuh, dia berjalan kembali ke dalam mobilnya. Bertemu dengan Adel membuang waktunya saja.


Rendi yang masih mematung berdiri menatap Adel.


"Jangan bermain api dengan Bara, Del. Sebelum lo menyesal!" ujar Rendi tersenyum kecut, pemuda ini tetap curiga dengan Adel.


"Terserah ... Adel udah bilang, Adel nggak ada sangkut pautnya!" Adel mengibaskan rambutnya lalu membalikkan badannya meninggalkan Rendi begitu saja.


'Gue menyesal mencintai wanita jahat seperti lo, Del,' batin Rendi berdecih sinis. Rendi segera menyusul Bara ke dalam mobilnya.


Adel tersenyum kemenangan. 'Kalau tahu akan seperti ini, aku nggak usah ngotorin tanganku dari dulu untuk menghempaskan wanita itu. Ternyata banyak juga yang ingin melenyapkannya di dunia ini selain diriku,' gumam Adel lalu membasuh mukanya, senyum merasa menang terus terukir di bibir gadis itu.


Adel berharap Famira tidak akan di temukan bahkan Adel mendo'akan dalam hatinya semoga saja Famira mati mengenaskan di tangan orang-orang yang menculiknya. Jadi, dia semakin mudah mendapatkan hati dari seorang Bara Sadewa. Adel juga jadi penasaran siapa di balik penculikan Famira itu.


***


Di perusahaan Martadinata grup, Erwin yang sedang berbicara empat mata dan sangat serius sekali dengan seorang investor asing.


Sekretaris Max yang baru saja menerima telepon, segera memberi tahu kepada tuannya informasi yang baru saja dia dapat.


"Nona muda Famira, diculik, Tuan. Sekitar pukul sebelas siang tadi." Max berjongkok sedikit lalu membisikkan itu kepada Erwin.


"Innalilahi, Dek." Erwin bangkit berdiri, dia tentu kaget dan tidak percaya. Erwin memohon maaf kepada investor itu karena perbincangan mereka tidak dapat di teruskan lagi. Investor paham dan mengerti.


"Kenapa kamu baru memberi tahuku sekarang, Max?" tanya Erwin dengan suara sangat tidak bersahabat, pemuda ini berjalan dengan langkah cepat sekali ke dalam mobilnya.


Max membukakan pintu mobil. "Maaf, Tuan. Saya baru mendapatkan informasi dari suami Nona muda ...," Sekretaris Max menundukkan kepalanya.


[ Suami macam apa lo, jaga istri nggak becus?! kalau sampai adik gue kenapa-kenapa, jangan harap keluarga gue bisa memaafkan lo ... lo memang sialan Bara! ] Erwin menyumpah serapah Bara melalui sambungan telepon.


[ Ck, jaga omongan lo, Win. Gue nggak akan biar istri gue kenapa-kenapa! ] Bara langsung mematikan teleponnya secara sepihak. Membuat Erwin semakin mendengus kesal.


***


Pria yang masih menggunakan kaca hitam, tersenyum miring melihat wanita yang berhasil dia culik oleh anak buahnya.


"Istri lo cantik juga, Bara. Sekarang gue tahu juga kelemahan lo!" Senyum jahat terus terukir di bibir pria itu. Dia menatap lurus Famira yang masih tidak sadarkan diri.


"Jaga wanita ini, jangan sampai kalian lengah dalam menjaganya!"


"Baik, Tuan!" sahut para pria bertubuh kekar dan berotot berkisar tiga puluh orang lebih itu.

__ADS_1


"Gue akan pergi sebentar, awasi sekitar bangunan ini. Jangan sampai ada orang yang mendekatinya!" titah pria itu lalu berlalu dihadapan para anak buahnya. Anak buahnya mengaguk paham perintah bosnya.


__ADS_2