Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
91


__ADS_3

═════════•❁❁•═════════


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”


(QS. Al-Baqarah : 216)


═════════•❁❁•═════════


Bara dan Rendi yang sedang duduk sambil menikmati secangkir teh hangat buatan Famira diruang tamu menatap heran melihat wajah pria yang berjalan masuk dari ambang pintu.


"Kenapa lo, Win? muka lo kusut benar?" tanya Rendi dengan elak tawa ringannya.


Erwin tidak menghiraukan, dia menjatuhkan bobot tubuhnya secara kasar di atas sofa.


"Adik gue mana?" tanya Erwin pada Bara tanpa memandang lawan bicaranya.


"Ada apa, Kak?" Famira yang baru turun dari kamar dengan Atha dalam gendongannya menyahut pertanyaan kakaknya. Bara mengambil alih Atha ditangan Famira.


Erwin mengembuskan napas panjang, pria ini tidak tahu juga kenapa langkahnya sampai ke kediaman Bara dan Famira.


"Sepertinya Kak Erwin ada masalah, ya?" tebak Famira asal-asalan, dari sorot mata Erwin saja Famira dapat melihat kesedihan yang mendalam di wajah kakaknya itu. Famira menduduki tubuhnya di samping Erwin.


Bara menatap tajam ke arah Famira memberikan peringatan untuk jauh-jauh dari Erwin, Bara sangat tidak suka Famira dekat-dekat dengan pria lain. Kode deheman singkat dari Bara kepada Rendi. Rendi yang mengerti maksud Bara, langsung menyeret paksa tangan Erwin ke ruangan kerja Bara. Erwin hanya bisa menggeram kesal dengan Rendi.


"Atha sama Bunda dulu ya." Bara menyerahkan kembali Atha ke Famira. Mencium gemas pipi anak kecil laki-laki itu, Atha mengaguk kecil.


"Apa yang Mas mau lakukan sama kak Erwin?" Famira menaruh curiga melihat gelagat aneh suaminya dan Rendi.


"Urusan pria, Sayang." Bara menarik pipi istrinya itu sebelum pergi menyusul Rendi ke ruangan kerjanya.


***


"Maksud lo berdua apa? bawa gue kesini?" Erwin bertanya sengit kepada Bara dan Rendi yang sudah duduk di sampingnya dan mengapit tubuhnya, "Gue nggak ada urusan dengan lo berdua!" ujarnya lagi. Erwin menyingkirkan tangan Rendi yang mencolek dagunya seenak jidat.


"Homo lo!" ujar Erwin lagi menepis tangan Rendi secara kasar.


"Jaga omongan lo ... kami cuman mau bantu lo! kalau lo mau curhat jangan sama cewek! sama pria aja. Obrolannya lebih nyaman dan nyambung, bagaimana, Bang Bara?" tanya Rendi meminta persetujuan dari Bara.


Bara mengaguk setuju.


"Kita bertiga memang sering bertengkar nggak jelas, tapi kami jadi iba ke lo, Win. Masalah lo sangat besar sepertinya." Rendi menyenggol lengan Erwin, agar pria yang duduk di sampingnya itu merespons pembicaraannya.


"Bukan urusan lo berdua! tidak ada gunanya juga gue bicara sama lo berdua!" jawab Erwin penuh penegasan.


"Ck ...." Bara berdecih sinis mendengar ucapan itu.


Hening sejenak didalam ruangan itu. Bara dan Rendi masih setia menunggu untuk Erwin buka suara.


"Gue nggak yakin cerita sama lo berdua, lo berdua berencana apa ke gue?"

__ADS_1


"Jangan suudzon lo Win, gue dan Rendi berniat baik. Nggak ada rencana selubung!" Bara menjawab dengan penuh penekanan.


"Hm." Erwin berdehem singkat.


"Masalah dengan Dilla, Win?" Rendi bertanya dengan nada suara biasa. Menepuk pundak Erwin, "Kita bertiga dulu bersahabat dekat, Win. Cerita sama kami, gue dan Bara nggak ember mulut kok. Kami sangat pandai menyembunyikan rahasia."


"Hm."


Bara merasa geram dengan Erwin yang hanya menanggapi dengan deheman. Bara langsung menjitak kepala Erwin cukup keras, membuat Erwin meringis kesakitan.


Erwin menarik napas dalam-dalam, kebencian kepada kedua makhluk didekatnya itu tiba-tiba hilang saat ini. Erwin menceritakan semua masalahnya pada Bara dan Rendi. Dengan seksama dan antusias Bara dan Rendi mendengarnya.


"Sangat miris hubungan lo, Win," ujar Bara saat Erwin sudah selesai menceritakan semuanya.


"Tidak sepenuhnya salah Dilla, Win. Gue bukan ngebelain Dilla, lo juga harus introspeksi diri dulu."


"Maksud lo?"


"Lo belum ngerti juga. Lo menikah dengan Dilla dengan cara yang salah, lo sudah memaksakan kehendak lo sendiri tanpa peduli dengan perasaan Dilla!"


"Istri lo butuh waktu nerima pernikahan yang terjadi, termasuk perasaan cintanya," timpal Bara. Bara jadi mengingat awal mula pernikahan dirinya dengan Famira.


"Gue memang salah, karena memaksakan Dilla untuk mencintai gue." Erwin mengusap wajahnya secara kasar.


"Konsekuensi memang lo harus terima seperti ini, ah ... gue jadi ikut pusing dengan hubungan lo dengan Dilla." Rendi tampak frustrasi juga.


"Sepele lo bilang? lo nggak sakit hati saat Famira menyimpan barang milik pria lain?"


"Sakitlah!" jawab Bara penuh penekanan.


"Dilla sudah menderita sejak dulu, Win. Lo tega sakiti dia lagi dengan cara menceraikannya? yakin lo ... pria yang melamar Dilla itu bisa menerima Dilla kembali dengan status Dilla yang sudah berubah sebagai seorang 'janda'. Mikir, Win! jangan bodoh seperti ini!"


Erwin terdiam. Ucapan Rendi berhasil memberikan tamparan keras bagi dirinya saat ini.


"Jangan mengambil keputusan saat lo marah seperti ini, Win. Lo menyesal nantinya ...."


Omongan ke-tiga pria itu kian serius. Baru malam ini mereka kelihatan akur.


Ketukan pintu diluar terdengar, memberhentikan obrolan mereka.


"Masuk!"


Terlihat Famira yang membawa minuman dan camilan ringan.


"Alhamdulillah Famira adem lihat kalau kalian berdamai seperti ini." Famira mengukir senyum tipis saat melihat keakraban yang terjadi antara ketiga pria itu. Terutama melihat suaminya dan kakaknya, "Famira boleh ikut gabung disini?" Famira sangat penasaran apa yang sedang diomongin oleh ketiga pria itu.


"Nggak!" Bara, Rendi, dan Erwin menyahut kompak.


"Ya, udah. Nggak usah ngegas juga ...." Famira mengambil nampan di atas meja itu kembali.

__ADS_1


"Woy, kenapa lo berdua menggertak istri gue!" Bara langsung bangkit berdiri saat melihat wajah kekesalan di wajah Famira.


"Lanjut aja ngobrolnya, maaf Famira menganggu." Famira segera keluar, melepaskan tangan Bara yang menahannya.


"Hahaha ... siap-siaplah lo Bar, nggak dapat jatah malam ini. Famira sudah marah!" Rendi tertawa kemenangan.


Bara langsung menendang tulang kering Rendi dan kembali duduk ketempat semula.


"Lalu bagaimana, Win?" tanya Rendi kembali ke obrolan mereka, "lo tetap akan menceraikan Dilla?"


"Gue juga nggak tahu, gue perlu waktu memutuskannya," sahut Erwin, "Gue sudah terlanjur kecewa dengan Dilla," katanya lagi.


"Semua keputusan ada ditangan lo, Win. Lo harus pikir matang-matang, agar lo nggak menyesal akhirnya," tutur Bara.


Erwin mengaguk kecil, pria ini memijat pangkal hidungnya merasa bimbang. Erwin sangat mencintai Dilla, tapi Erwin juga tidak ingin memaksakan perasaan Dilla lagi. Dilla mengangap dirinya hanya sebagai seorang 'penjahat' yang merebut kebahagiaannya. Apa dia harus tetap bertahan dengan situasi seperti ini? atau sebaliknya yaitu melepaskannya?


"Mau kemana lo, Win? pulang?" tanya Rendi saat melihat Erwin beringsut bangkit berdiri.


"Nggak! gue mau menyendiri diri dulu. Thanks atas masukan lo berdua." Erwin melakukan tos pria pada umumnya kepada Bara dan Erwin.


"Oke."


***


Erwin berada di villa milik keluarganya yang sangat jauh dari pusat kota, dia menempuh perjalanan hampir dua jam dari kediaman Bara.


Erwin merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar. Erwin mencoba berdamai dengan hatinya terlebih dahulu. Handphone didalam saku jaketnya sudah berdering ke sekian kalinya. Erwin tidak peduli, dia memilih mematikan handphonenya.


Sementara ditempat lain, tepatnya di kamar Dilla. Dilla dilanda ketakutan dan kecemasan kepada Erwin, karena Erwin benar-benar tidak pulang, malam sudah kian larut. Kekhawatiran Dilla kian menjadi-jadi.


Drett ...


Satu notifikasi pesan masuk.


// Assalamu'alaikum ... bagaimana kabarmu, Ila? //


Deg!


Jantung Dilla bertalu-talu tak karuan saat melihat nama yang tertera. Bulir air mata jatuh dengan sendirinya. Sudah tiga bulan, pria yang selama ini yang ditunggu kabarnya, akhirnya ada kabar juga.


Dilla tidak membalas, wanita ini hanya menatap ponsel yang ada ditangannya. Sedih atau pun bahagia Dilla tidak tahu dengan perasaannya.


// Maaf, aku baru bisa mengabarimu. Kamu pasti tahu alasannya, Ila. Semoga kamu dalam keadaan baik-baik saja. InsyaAllah dua minggu lagi aku wisuda dan akan balik ke Indonesia. //


Ponsel di tangan Dilla langsung jatuh ke lantai, air mata luruh dengan derasnya.


'Kenapa, harus seperti ini ya Tuhan ....' batin Dilla.


Semua terjadi karena sebuah alasan. Jika bukan membuatmu untuk bersyukur maka pasti untuk membuatmu bersabar. Percayalah ... tidak ada yang buruk pada apa yang ditetapkan-Nya karena semua ada balasannya.

__ADS_1


__ADS_2