Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
60


__ADS_3

Mulakan kehidupan, dengan kebaikan dan keikhlasan. Hadapi dugaan dengan senyuman. Apabila mendapat kebaikan, maka bersyukurlah. Dan apabila mendapat keburukan, maka bersabar dan tetap


bersyukurlah. Semuanya adalah dari


Allah.


Adel dan Famira sedang berbincang hangat di belakang rumah Wijaya. Elak tawa mengiringi perbincangan hangat itu. Entah apa rencana Adel kepada Famira. Gadis berambut pirang itu berbicara sopan dan santun sekali kepada Famira, seolah-olah tidak ada dendam di dalam hatinya.


Famira tidak menaruh curiga apa pun, Famira sudah mendengarkan cerita Adel dari suaminya. Wanita yang menggunakan jilbab hitam instan syar'i itu selalu husnudzon kepada siapa pun.


"Kak Famira, mau ke mana?" tanya Adel yang melihat Famira bangkit dari duduknya.


"Bentar ya, Del. Kakak bikin susu ke dapur dulu, ini sudah waktunya Kakak minum susu agar Dede bayi terpenuhi nutrisinya," tutur Famira lembut lalu tersenyum tipis ke arah gadis yang masih dengan pakaian khas dokternya.


"Biar Adel aja, Kak. Kakak tunggu di sini saja," tawar Adel ramah. Adel menyuruh Famira duduk kembali. Famira mengaguk setuju.


"Biar Bibi aja Non, yang bikin susu untuk Non Famira," kata wanita paruh baya itu kepada Adel.


"Nggak usah, Bi. Adel aja."


"Baiklah Non, Bibi lanjut kerja dulu." ART itu kembali ke wastafel pencucian piring.


Adel tersenyum licik dan segera membawa minuman susu itu kepada Famira yang duduk di kursi anyaman rotan itu.


"Ini, Kak." Adel menyerahkan segelas susu itu ke tangan Famira. Famira menerima dengan senang. "Makasih, Del," ucapnya.


Saat Famira akan meminum segelas susu itu, tiba-tiba saja Kila datang dan menepis minuman itu dari tangan Famira. Sehingga minuman itu jatuh ke ubin keramik dan gelas pun pecah.


"Jangan minum, Bibi Famira! Bibi Adel itu jahat." Kila menunjuk Adel. "Pergi kamu Bibi jahat dari rumah ini. Pergi!" usir Kila mendorong tubuh Adel dengan tenaga kecilnya.


Ekspresi wajah Adel langsung berubah, kenapa rencananya di hancurkan oleh seorang bocah.


"Kila nggak boleh bicara seperti itu," ucap Famira meraih lengan tangan Kila.


"Pergi dari sini, nanti Kila bilangin sama Paman Bara. Bibi Adel jahat, pergi," usir anak kecil itu.


Adel mengusap lembut kepala Kila, anak kecil itu menepis. "Jangan sentuh, Kila. Bibi orang jahat." Kila memeluk tubuh Famira ketakutan.


"Ya udah aku balik ke rumah sakit dulu, Kak Famira," pamit Adel. Gadis berambut pirang segera pergi dari kediaman Wijaya dengan sumpah serapah di dalam hatinya. 'Padahal tinggal sedikit lagi rencana aku berhasil, bocah itu aku sangat geram padanya,' batin Adel merasa kesal.


Setelah kepergian Adel, Anita muncul dari samping rumah.


"Anak Mama pintar sekali," puji Anita pada putrinya. Ibu dan anak itu tos kemenangan. "Iya dong, Ma. Kila nggak mau Bibi Famira kenapa-kenapa," jawab Kila antusias.


Anita duduk di samping Famira.


"Kamu harus hati-hati Dek, pada Adel. Di minuman itu dia menaruh obat penggugur kandungan," ucap Anita penuh yakin.


Deg!


Mendengar ucapan kakak iparnya itu membuat Famira ketakutan.


"Astaghfirullah, Adel sejahat itu pa--da aku, Kak?" tanya Famira dengan nada suara terbata-bata. Famira mengelus lembut perutnya. Hampir saja dia akan kehilangan calon putranya.


Anita memang mengintai pergerakan Adel dari CCTV yang sudah tersambung dengan handphonenya. Anita sudah menggeram kesal ingin melayangkan tamparan keras di pipi Adel saat Anita melihat Adel menaruh obat penggugur kandungan di minuman susu yang di buat oleh Adel. Namun, demi menjaga keharmonisan keluarganya dan Agatha. Anita menyuruh putrinya saja untuk menggagalkan rencana Adel.


"Lain kali kamu harus hati-hati, Dek. Kita tidak pernah tahu isi hati seseorang kepada kita. Jangan terlalu baik Dek kepada Adel itu, karena dia akan ngelunjak dan memperlakukan kamu seenaknya."


"Iya, Kak."

__ADS_1


"Kakak antar kamu ke kamar, kamu harus istirahat. Jangan sampai kecapean, kejadian barusan tidak usah dipikirkan Dek, kamu tidak boleh stres. Kakak akan bilang sama Mama dan Papa agar penjagaan di rumah ini diperketat dan tidak boleh masuk sembarangan orang lagi." Anita membimbing adik iparnya itu masuk ke dalam kamar. Famira mengaguk paham.


"Bibi Adel Nenek sihir, Kila juga takut, Ma." Kila mengikuti Famira dan Anita dari belakang.


•••


Rendi dan Dilla sekarang berada di pinggir jalan menikmati semangkuk soto ayam.


Rendi sudah memesan meja dan ruangan khusus di sebuah restoran mewah di kota itu untuk dinner bersama Dilla. Namun sayangnya, Dilla tidak ingin makan di restoran. Dilla hanya mau makan soto langganannya di pinggir jalan raya malam itu. Rendi menuruti keinginan Dilla.


"Kamu sakit, Dilla?" tanya Rendi khawatir melihat gadis berjilbab itu hanya diam sedari tadi. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir Dilla dari dalam mobil sampai mereka tiba.


Dilla hanya menggelengkan kepalanya pertanda 'tidak'. Semangkuk soto itu belum tersentuh sedikit pun.


Rendi menaruh punggung tangannya di kening Dilla untuk mengecek suhu tubuh gadis itu. "Suhu badan kamu cukup hangat, kita pulang aja kalau gitu, Dil."


Dilla melirik ke arah Rendi lalu tersenyum tipis. "Aku nggak sakit, Ren," ucapnya meyakinkan.


"Kirain, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Ada masalah cerita sama aku, Dil," pinta Rendi.


"Nggak ada kok."


Rendi melepaskan jaket yang dia gunakan. "Pakai ini, nanti kamu masuk angin." Rendi menyerahkan jaketnya kepada Dilla, Dilla menerimanya antusias.


"Kamu sendiri nanti masuk angin, nggak usah." Dilla mengembalikan kembali jaket Rendi.


"Tubuh aku mah nggak pernah masuk angin, kamu pakai aja."


"Makasih, Abang Rendi. Baik sangat," ucap Dilla tersenyum kecil.


"Gitu dong senyum, jelek kalau kamu mayun."


"Terakhir kita berdua datang ke sini, pas kelulusan yah, Dil?"


"Iya, main tebak-tebakan yuk, Ren."


"Oke," jawab Rendi antusias.


"Yang salah tebak kena hukum!"


"Siapa takut."


"Aku warna hitam," ucap Dilla menatap kendaraan yang lalu lalang malam itu. Meski malam kendaraan beroda dua atau empat masih sangat padat sekali.


"Aku putih."


Dilla dan Rendi main tebak-tebakan warna mobil sedan yang akan lewat. Tebakan konyol itu sudah sering mereka mainkan saat mereka sedang makan di pinggir jalan. Persis seperti malam ini.


Netra mereka fokus memperhatikan jalan raya.


"Putih lewat, aku benar Dilla," kata Rendi tersenyum senang.


Rendi menyentil pelan kening Dilla sebagai hukuman.


"Cuman keberuntungan warna putih lewat itu," ucap Dilla mencebik kesal.


Tak lama kemudian mobil sedan berwarna hitam lewat. "Wis hitam lewat."


Jempol dan telunjuk Dilla mengapit hidung Rendi lalu menariknya dengan keras. "Sakit nggak?" tanyanya cengengesan.

__ADS_1


"Sakit pake banget, Dil. Kamu curang, aku pelan menyentil kening kamu . Huh ..." Rendi mengembuskan napas berat.


"Aku nggak peduli, Bang Rendi." Dilla tertawa mengejek melihat Rendi merintih kesakitan akibat ulahnya.


Permainan tebak-tebakan mereka berlanjut panjang sampai semangkuk soto mereka berdua habis.


"Kita pulang Ren, pipi aku udah sakit akibat kamu tarik dan cubit." Dilla mengentakkan kakinya kesal ke dalam mobil. Dia kalah telak dengan Rendi, mobil sedan warna putih banyak yang lewat malam itu.


Rendi ikut bangkit dan segera membayar kepada dua mangkuk soto itu kepada Bapak Tono.


Rendi memberikan uang seratus ribu kepada lelaki paruh baya itu "Ini kembaliannya, Nak," ucap lelaki paruh baya itu.


"Ambil aja, untuk Bapak. Soto buatan Bapak sudah menjadi langganan aku dan Dilla."


"Makasih, Nak Rendi," ucap Bapak Tono, Rendi mengaguk kecil.


•••


Rendi tersenyum geli saat melihat Dilla sudah tertidur pulas di dalam mobilnya. Wajah Dilla yang sangat teduh dan adem ketika di pandang membuat Rendi tidak ingin melepaskan tatapan matanya dari wajah Dilla yang sudah tertidur pulas itu.


5 menit berpikir bagaimana dia bisa membangunkan Dilla, tetapi Rendi belum mendapatkan ide sedikit pun. Andai saja mereka sudah pasangan halal, Rendi pasti sudah menggendong Dilla ke dalam rumahnya. Namun, Rendi tahu juga batasannya saat bergaul dengan gadis seperti Dilla.


"Dilla ..." ucap Rendi mencoba membangunkan gadis itu.


Tidak ada respons.


"Dilla," panggil Rendi lagi. Pemuda itu menarik lembut pipi Dilla. Mendapat sentuhan lembut itu Dilla membuka matanya. Gadis itu langsung mencubit pinggang Rendi, menatap sangar ke arah Rendi. "Apa yang kamu lakukan ke aku pada saat aku tidur, Ren?" tanyanya dengan tatapan tajam. Dilla mengangkat kepalan tangannya menyuruh untuk Rendi mengaku.


Rendi mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V. "Suer aku nggak ngapa-ngapain kamu, Dil. Sumpah deh." Rendi berkata jujur.


Dilla mengembuskan napas lega. "Aku percaya." Dilla membuka pintu mobil. "Makasih ya, aku udah ngantuk berat, Ren."


"Selamat malam, semoga mimpi indah yah, sayang." Goda Rendi.


Mendengar kata 'sayang' terucap di bibir Rendi. Dilla kembali mengangkat kepalan tangannya untuk mengancam pemuda itu. "Aku dengar kata itu lagi, habislah kamu Ren," ancam Dilla lalu keluar dari mobil Rendi. Rendi menahan tawanya, melihat Dilla seperti itu.


"Iya-iya, aku janji nggak akan ulangi lagi," jawab Rendi dari dalam mobilnya.


"Baguslah, pulang sana!" usir Dilla yang melihat mobil Rendi belum juga beranjak pergi dari hadapannya.


Sebelum menutup kaca mobilnya, Rendi mengedipkan sebelah matanya ke arah Dilla. Membuat Dilla merasa kesal. "Aku pulang dulu, assalamu'alaikum ..."


"Wa'alaikumussalam."


Senyum tidak pudar dan mungkin tidak akan pudar lagi di bibir Rendi mengingat kekonyolan dirinya dengan Dilla.


.


.


.


.


Hari sabtu dan ahad, author nggak up. Alasannya? Intinya dua hari itu aku sibuk banget. Tinggalkan jejak kalian, apalagi bisa vote aku bahagia plus. Hehe.. :')


Salam hangat dariku


Ecyy

__ADS_1


__ADS_2