Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
73


__ADS_3

━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


“Jika Allah tidak mencintaimu Allah tidak akan meletakkan perasaan kesedihan atau penyesalan atas dosa yang kamu perbuat, ketahuilah bahwa satu perasaan itu menandakan bahwa masih ada cahaya iman dalam hatimu.”


[Habib Umar bin Hafidz]


━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


Ketukan pintu di luar rumah terdengar, Dilla yang sedang mencuci piring segera bergegas pergi menuju pintu.


"Selamat pagi, Nona!" Sekretaris Max menundukkan kepalanya setelah melihat kehadiran gadis berjilbab itu.


Dilla tercengang kaget didepan pintu, masih berdiri mematung dengan tangan memegang kenop pintu.


Netra milik Dilla menatap mobil yang terparkir di halaman rumah. Dia takut atasannya itu juga ikut datang bersama sekretaris Max.


"Sekretaris Max, Anda perlu apa datang pagi-pagi ke rumah, saya?" Dilla bertanya heran.


"Maaf, Nona. Tuan Erwin menyuruh menjemput Nona sekarang." Sekretaris Max berkata dengan suara biasa.


Dilla menolak dengan berbagai alasan, hari ini dia libur bekerja, jadi dia tidak mau menuruti perintah sekretaris Max atau pun keinginan atasan yang menurutnya gila itu. Apa urusan dia lagi dengan atasannya itu?


"Maaf, sekretaris Max. Saya tidak bisa." Kata penolakan itu sudah terucap beberapa kali bahkan sudah tidak bisa dihitung jari terlontar dari bibir Dilla.


"Nona akan menerima konsekuensi bila menolaknya, Nona tidak lupa bahwa tuan Erwin sudah membeli Nona dengan harga tinggi?" Suara sekretaris Max terdengar tegas dan penuh penekanan.


Dilla terdiam, netra membunuh di arahkan sekretaris Max kepada dirinya. Lagi-lagi dia harus mengalah, hidup bahkan kehormatannya sudah dibeli dengan lembaran uang oleh seorang Erwin Martadinata. Sehina dan semurah itukah dirinya di mata seorang pria?


****


Harapan yang tak sesuai dengan kenyataan memang akan menimbulkan kekecewaan,


namun harapan yang disandarkan pada kepasrahan takdir Tuhan setelah ikhtiar dilakukan, sungguh akan membuat hati tenang. Percayalah!


Dilla berada di dalam kamar, dia tidak tahu sekarang ada dimana. Sekretaris Max membawanya ke sebuah rumah mewah bertingkat.

__ADS_1


Hentakan kaki masuk ke dalam kamar, membuyarkan lamunan Dilla.


"Bersiap-siaplah beberapa menit lagi kita akan menikah," ucap Erwin berdiri di ambang pintu.


"Nikah? secepat ini, Pak?" tanya Dilla sangat tidak percaya, "saya tidak mau, Pak!" tolaknya mentah-mentah.


"Aku sudah bilang kemarin untuk bersiap-siap, bukan? aku ingin kamu menjadi milikku selamanya!" ujar Erwin, dia berlalu dihadapan Dilla. Masih banyak hal yang harus dipersiapkan.


Air mata luruh di pipi Dilla, memikirkan nasib hidupnya setelah menikah dengan Erwin.


'Kenapa harus aku yang ada di posisi ini Tuhan, aku bahkan tidak mencintai pria seperti Pak Erwin,' batin Dilla penuh kesedihan.


Pintu kamar kembali terbuka, pria paruh baya masuk ke kamar setelah kepergian Erwin.


"Tidak usah sedih, Dilla! kamu harus menikahi dengan tuan Erwin," kata bapak Dilla yang bernama Hamid.


Pria paruh baya itu datang untuk menjadi wali pernikahan dari putrinya yang sudah dijual dengan harga tinggi untuk melunasi hutang-hutangnya. Dia merasa bangga akan mempunyai calon mantu yang kaya dan bisa di manfaatkan nantinya bila sudah menikah dengan putrinya.


"Bapak jahat, Dilla bukan barang yang diperjual-belikan." Dilla memukuli pria paruh baya itu dengan tenaganya. Meluapkan kekesalan dan emosi. Sudah hampir dua minggu bapaknya itu tidak pernah pulang ke rumah dan sekarang muncul di hari pernikahannya yang sangat mendadak.


"Bapak selalu mengancam Dilla seperti itu, Bapak tega melihat Dilla menikah dengan pria yang tidak Dilla sukai? Dilla tidak mencintai Pak Erwin! Dilla masih menunggu—"


"Menunggu lelaki yang tak jelas itu? sadar Dilla dia seorang anak Kyai. Keluarganya tidak akan pernah menyukaimu, setelah mengetahui latar belakang keluarga kita," potong bapak Hamid cepat.


"Bapak egois ..."


"Kamu harus menikah hari ini, uang yang diberikan oleh tuan Erwin sudah habis. Tidak ada pilihan lain, ikuti semua kemauan tuan Erwin!"


Sekretaris Max masuk ke dalam kamar di ikuti dengan dua perias pengantin di belakangnya.


"Anda disini hanya di undang sebagai wali! pergilah ke luar, sebelum saya melakukan dengan kekerasan!" Sekretaris Max menarik paksa tangan bapak Hamid, saat melihat pria paruh baya itu tidak mengindahkan perintahnya, "saya ingatkan kepada Anda, setelah proses ijab qobul Anda tidak perlu mengikut campur urusan Nona Dilla. Jangan pernah mengancam atau pun melakukan kekerasan pada Nona. Kau mengerti Bapak tua?!" Sekretaris Max melepaskan cengkraman tangannya, dia memberikan tatapan mematikan kepada bapak Hamid. Pria yang menggunakan setelan jas kerja itu paham betul isi otak bapak tua dihadapannya.


"Sa–ya mengerti, Pak ...,"


'Aku tidak akan membiarkan siapa pun ingin menggangu kehidupan, tuan Erwin,' batin Max. Dia melirik jam tangan. Lima menit lagi semua harus segera beres dia kerjakan.

__ADS_1


Dua perias wanita dan pria berpakaian minim melangkah mendekati Dilla. Dua buah box berisi alamat make up diletakan di meja rias. Dilla didudukkan di kursi sembari kedua perias itu mulai mempercantik dirinya. Dilla hanya pasrah tidak bisa melakukan apa pun lagi, mungkin ini sudah takdir hidupnya yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz.


Semua mimpi-mimpi yang dia kejar untuk bersama dengan seseorang di seberang sana akan dia kubur dalam-dalam mulai hari ini dan detik itu juga.


"Entu mata kenapa, Mbak? kok bengkak gitu? abis nangis, ya?" tanya seorang wanita dengan bedak di tangan.


Dilla tidak merespon, gadis ini menatap wajahnya di depan cermin dengan getir. Beberapa menit lagi statusnya akan berubah menjadi seorang istri dari Erwin Martadinata.


"Ish, War, si Mbaknya jangan ditanyain terus! bisa rusak make up eke." Sang pria di samping Dilla menyahut.


"Ish, aku cuma nanya, Tom. Apa salahnya?"


"Stop ... eke Evi bukan Tom!


ingat itu di otakmu yang kecil itu," sanggahnya dengan kesal.


"Sekate-kate entu ngomong, Tom! otak kecilku apa bae?" tanyanya.


"Bekerjalah yang benar, waktu kalian tinggal dua menit untuk menghias Nona Dilla!" Suara sekretaris Max dari luar.


Dua perias pengantin itu langsung diam dan tidak berbicara apa-apa lagi setelah mendengar peringatan dari sekretaris Max.


.


.


.


.


Hari ahad aku libur up–ya


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.


Terima kasih ^_^

__ADS_1


__ADS_2