Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
77


__ADS_3

━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


"Berbahagialah ....


Orang yang dapat menjadi tuan bagi dirinya, menjadi pemandu untuk nafsunya, dan menjadi kapten untuk bahtera hidupnya."


~ Sayyidina Ali bin Abi Thalib ~


━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


Setelah selesai sarapan pagi bersama keluarga Martadinata, Bara pergi bekerja ke perusahaannya seperti biasa. Sudah satu minggu lebih, Bara menyuruh Rendi yang mengurus perusahaannya. Banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan dan tidak bisa digantikan atau diwakili oleh Rendi lagi.


Tak ada percakapan lebih dengan Famira, karena Vernandes selalu saja mengawasi dirinya. Rasanya Bara merasa dirinya akan gila dan frustrasi bila terus menerus di jauhkan dari Famira. Memang tinggal dua hari tetapi Bara merasa dua hari itu satu tahun baginya.


Ingatan Famira sudah berangsur-angsur pulih, walau masih ada beberapa hal yang masih dia tidak ingat. Kehadiran ummi Hana pada saat pernikahan Erwin yang membuat Famira mulai mengingat sedikit demi sedikit. Ummi Hana terus membantu putrinya agar ingatan putrinya itu kembali pulih.


Dokter pribadi Bara, terus mengawasi perkembangan kesehatan Famira. Satu jam sekali, dokter tersebut harus melaporkan perkembangan kesehatan Famira kepada tuan mudanya.


"Famira, mau pergi bersama aku ke rumah?" tawar Dilla pada Famira yang duduk di sofa. Meski Dilla masih merasa canggung pada Famira, dia berusaha untuk lebih dekat dengan adik suaminya itu. Dilla ingin lebih mengenal Erwin atau pun keluarga Martadinata dari Famira.


Dilla akan pulang ke rumah ingin menjemput adik-adiknya, Erwin sudah mengizinkan. Sebenarnya Erwin akan menemani Dilla namun, karena ada pertemuan dengan klien penting perusahaan Erwin tidak bisa menemani istrinya itu.


Famira tersenyum lebar. "Boleh, aku juga sudah bosan dirumah," jawabnya antusias.


"Oh ya, aku panggil kamu dengan sebutan Kakak aja. Bagaimana pun umurku lebih muda. Nggak sopan rasanya." Dilla tertawa canggung. Bingung ingin memanggil Famira dengan sebutan apa.


"Terserah kamu, Dilla," sahut Famira.


"Ayah boleh ikut, Nak?" tanya Vernandes pada Dilla yang baru saja turun dari kamarnya.


"Tentu saja boleh, Yah."


Mereka bertiga segera meninggalkan kediaman Martadinata menuju rumah Dilla. Ada lima bodyguard yang ikut bersama mereka. Vernandes tetap waspada, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kepada anak dan menantunya.


****


Disebuah restoran mewah di kota itu gadis yang masih menggunakan seragam khas dokter duduk menunggu seseorang. Gadis itu tak lain Adelia Adriana Agatha. Dia diajak makan siang oleh Rafael.

__ADS_1


"Sudah lama nunggu, Del?" tanya pemuda yang baru saja tiba, menutupi kepala dengan tudung hoodienya.


Adel mendogak kepalanya setelah mendengar suara itu. "Nggak kok Kak, Adel baru aja sampai."


Rafael menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Adel.


"Kak Rafael kapan pulang dari Jerman? kok nggak kabarin Adel?"


"Baru-baru sih," jawab Rafael tersenyum tipis. "aku pulang karena kesini karena kamu juga," ucapnya lagi.


"Kak Rafael bisa aja gombalannya." Adel tertawa kecil.


Obrolan ringan berlanjut panjang sampai makanan mereka datang dan habis.


"Maaf ya Kak Rafael, Adel harus segera balik ke rumah sakit. Adel nggak bisa lama, masih banyak pasien yang harus Adel tangani."


"Nggak apa-apa, aku bisa mengerti. Terima kasih atas waktumu." Rafael meraih tangan Adel, sebelum gadis itu berjalan ke mobilnya, membuat Adel salah tingkah dan mengerutkan keningnya. "Nanti malam sibuk?"


"Adel juga nggak tahu Kak, pasien Adel cukup banyak. Adel harus bekerja profesional. Mau ke mana emangnya?" Adel bertanya balik. Sudah satu bulan Adel memang sangat sibuk, membuat dia sedikit waktu luang. Bahkan Adel sering lembur dan nginap di rumah sakit demi memantu para pasiennya yang sudah lansia.


Seiring berjalannya waktu, gadis ini sadar bahwa dia egois selama ini. Dia akan berusaha berhenti mengejar Bara walaupun sangat sulit baginya menghilangkan nama Bara Sadewa dihatinya. Adel akan mencoba membukakan hatinya kepada pria lain.


"Nonton bioskop."


"Nanti Adel lihat deh, tapi Adel nggak bisa janji bisa atau nggak Kak," ujar Adel.


"Hm."


Adel berjinjit sedikit, menarik tudung hoodie Rafael. "Kak Rafael suka sekali menutup wajah, kalau gini lebih ganteng," pujinya saat wajah Rafael sudah sepenuhnya dapat dia tatap secara intens.


Rafael mengacak-acak rambut pirang Adel yang tergerai kebelakang. "Kamu memujiku barusan?" tanyanya tersenyum simpul.


"Ya. Salahkah?"


"Nggak, aneh saja."


"Kak Rafael mirip sama kak Bara. Tapi gantengan kak Bara sih. Makanya Adel puji, hehehe ..." Adel mengakhiri ucapnya dengan tawa ringan.

__ADS_1


Rafael tersenyum kecut mendengar pujian dari bibir gadis dihadapannya itu, mimik wajahnya berubah menjadi datar dan dingin.


"Nggak usah bahas Bara kalau kita berdua!"


"Kalian berdua belum juga akur dari dulu. Padahal dulu kita bertiga temenan. Kenapa Kak Rafael jadi benci sama kak Bara? Adel lihat kak Bara nggak pernah membuat salah pada Kak Rafael. Apa karena dulu–"


"Tidak apa-apa, aku hanya tidak menyukainya!" Rafael memotong cepat. Rafael menundukkan kepalanya menatap manik cokelat milik Adel dengan lekat. Deru napas hangat mengembus wajah Adel, Rafael mencium singkat bibir mungil milik Adel. Membuat Adel membulatkan matanya atas apa yang dilakukan Rafael terhadap dirinya di tempat umum.


"Apa yang Kak Rafael lakukan." Adel mendorong tubuh Rafael menjauh dirinya.


"Maafkan aku, Del."


Adel melangkahkan kakinya pergi ke mobil segera, kenapa jantungnya bertalu-talu tak karuan saat Rafael melakukan hal itu kepada dirinya. Padahal dirinya tidak memiliki perasaan pada Rafael. Apakah dia jatuh cinta pada Rafael?


Rafael hanya bisa menatap punggung Adel yang kian menjauh, memukul kepala dengan tangannya menyesali apa yang dia lakukan kepada Adel barusan.


'Kenapa gue jadi nafsu begini kepada Adel. Padahal gue hanya berniat. Ah ...' Rafael berteriak frustrasi memukul setir mobilnya.


****


"Permisi, Mbak," ucap sopan wanita berjilbab kepada resepsionis. Wanita yang terlihat masih muda itu menggendong anak kecil laki-laki berumur tiga tahun.


"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya resepsionis ramah.


"Saya hanya ingin bertemu dengan atasan kalian."


"Tunggu sebentar, Mbak." Resepsionis wanita itu segera menelepon Rendi. Apakah direkturnya melakukan perjanjian bertemu dengan wanita berjilbab yang sedang duduk di kursi tunggu.


Setelah mendapatkan persetujuan dari sekretaris Rendi, resepsionis segera membawa wanita berjilbab itu ke ruangan atasannya.


"Silahkan Anda masuk." Resepsionis membungkukkan badannya sebelum benar-benar pergi.


"Ayah ...." teriak anak kecil laki-laki itu bahagia saat pintu ruangan Bara terbuka lebar. Berlari kecil walau sering jatuh ke arah Bara.


Bara menangkap tubuh anak kecil laki-laki itu dengan antusias lalu menciumnya.


"Ayah?" Rendi yang mendengar panggilan dari bibir mungil anak kecil laki-laki itu kaget dan sangat tidak percaya sekali. Rendi tidak mengenal sama sekali siapa wanita berjilbab yang masih berdiri di ambang pintu dan anak kecil yang memanggil sahabatnya itu dengan sebutan ayah.

__ADS_1


__ADS_2