Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
72


__ADS_3

━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


"Cinta terbaik adalah saat kau mencintai seseorang yang membuat akhlakmu semakin indah, jiwamu semakin damai dan hatimu semakin bijak."


[ Habib Hasan bin Ja'far Assegaf ]


━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


"Mama stop!" teriak Kila pada Anita yang menyetir mobil. Anita baru saja menjemput putrinya itu yang ikut les privat melukis.


"Ada apa, Kila?" Anita meminggirkan mobilnya ke tepi jalan lalu memberhentikan mobilnya sesuai keinginan putrinya itu.


"Ada, om ganteng di situ." Tunjuk Kila, anak kecil ini membuka pintu mobil lalu berlari kecil ke arah kerumunan orang. Kila tidak memedulikan teriakkan Anita yang memarahinya.


Anita cepat-cepat keluar dari mobil mengejar Kila yang sudah jauh berlari dari hadapannya. Putrinya semata wayangnya itu sangat sulit diatur dan suka sekali membantah perintahnya.


"Kila, Mama capek." Anita mengembuskan napas panjang. Sedetik kemudian mata Anita langsung melotot saat melihat putrinya itu sudah ada dalam gendongan seorang polisi.


Anita merasa familier, dengan wajahnya polisi muda itu, dia mengingat-ingat kapan dia bertemu.


"Kila, kenapa bisa disini?" tanya Andre lalu mencium pipi anak kecil itu karena merasa gemas.


"Kila baru pulang les melukis, Om. Kila tadi lihat Om dari dalam mobil. Kila suruh Mama untuk berhenti deh," sahut Kila antusias, "Mama, Kila nggak mau pulang, Kila mau bermain sama Om Andre. Boleh ya, Ma?" tanya Kila pada Anita meminta persetujuan.


"Tidak boleh! Om Andre banyak pekerjaan. Jangan ganggu, Om Andre, Kila ..." Anita merasa frustrasi melihat tingkah putrinya itu yang mudah sekali akrab dengan orang lain.


"Om sibuk, ya?" tanya Kila pada Andre.


"Cuman sibuk sedikit kok."


"Main sebentar sama Kila ya, Om. Kila rindu sama Om Andre." Kila melingkarkan tangannya di leher Andre.


Anita hanya bisa tersenyum canggung, melipatkan tangannya di depan dada meminta maaf kepada Andre atas sikap putrinya itu.


"Boleh, mau main apa?"


"Petak umpet."


****


"Om kalah mulu sama, Kila. Nggak bisa nemuin Kila. Kila pintar sembunyi ," girang anak kecil itu bahagia.


Andre menuruti keinginan Kila, satu jam mereka main petak umpet. Andre merasa senang bisa bertemu Kila dan Anita lagi.


"Kila mau beli es krim dulu ya, Ma." Kila meninggalkan Andre dan Anita berdua.


"Om temani Kila beli es krim, ya," tawar Andre.


"Nggak usah, Om."


Anita dan Andre tidak menemani Kila karena penjual es krim tidak jauh dari tempat duduk mereka. Mereka masih bisa mengawasi Kila dari kejauhan.


Andre dan Anita duduk di sebuah kursi besi panjang yang berada di bawah pohon rindang.


Andre berdehem pelan membuka keheningan yang terjadi.

__ADS_1


"Anita ..." Andre memberanikan diri memanggil wanita yang duduk di sampingnya itu.


Anita mengerutkan keningnya, bagaimana bisa pria yang masih menggunakan seragam polisi itu mengetahui namanya.


"Y--a," jawab Anita singkat dan sedikit gugup.


Netra Andre menatap lekat wajah Anita.


"Apa kamu tidak mengenali diriku sama sekali?"


Anita memutar tubuhnya lebih menyamping ke arah Andre.


"Aku tidak tahu siapa dirimu, aku cuman mengingat kita pernah bertemu saat di kantor polisi saja beberapa hari yang lalu." Angin berembus meniup rambut panjang Anita yang ujungnya sedikit bergelombang itu. Membuat Andre kian terpana dengan kecantikan alami wanita itu.


Andre mengulum senyum tipis, pemuda ini meraih handphonenya.


"Kalau anak kecil ini, kamu mengenalinya?" tanya Andre memperlihatkan foto anak kecil laki-laki yang berumur sekitar tujuh tahun di layar handphonenya itu.


Mata Anita berbinar seketika, dia mendongak wajahnya menatap balik Andre.


"Aku mengenalnya, dia adalah temanku sewaktu kecil dulu." Tangan Anita refleks meraih handphone milik Andre, menatap lebih rinci foto anak kecil laki-laki itu, "tetapi kami tidak bertemu lagi setelah dia pindah ke Jepang."


Andre meraih tangan Anita, membuat Anita cukup kaget dengan tindakan Andre.


"Lihatlah bintang saat malam hari bila kamu merindukanku, aku yakin kita akan dipertemukan kembali. Walau aku ragu, akankah pertemuan itu akan terjadi kembali." Andre mengulang kalimat perpisahan waktu dulu sebelum dia pindah ke Jepang.


Anita yang mendengar kalimat itu langsung memeluk erat tubuh Andre.


"Dan sekarang pertemuan itu terjadi," jawab Anita masih memeluk Andre dengan erat.


Anita mengangguk kecil.


"Kenapa kamu begitu berubah, Ndre. Bahkan aku tidak mengenali wajahmu yang sekarang." Anita melepaskan pelukannya.


"Tidak ada yang berubah dari aku, Nit. Kamu saja yang melupakanku." Andre menarik kembali kepala Anita ke dalam pelukannya, "aku sudah kembali lagi, Nit."


"Aku bukanlah wanita yang sempurna sekarang, Ndre. Kita lupakan saja perjanjian kita dulu."


"Aku mencintaimu dari dulu dan bahkan sampai saat ini. Dan tidak semudah itu aku melupakan semuanya," ujar Andre, "aku ingin menikahimu, tidak peduli dengan statusmu saat ini," lanjutnya lagi.


"Mama, Om, kok pelukan?" tanya Kila polos, es krim sudah ada di tangan mungilnya.


Andre dan Anita kaget segera melepaskan pelukan itu.


"Tidak apa-apa, Kila," tutur Anita wajahnya bersemu merah karena tertangkap basah oleh putrinya.


"Kalau Om jadi Papa kamu. Kamu mau?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir Andre, Anita mencubit pinggang Andre memberikan peringatan untuk menjaga sikap di hadapan putrinya itu.


"Wah, Kila mau banget, Om. Kila akan mempunyai Papa seorang polisi ganteng," sahut anak kecil itu bahagia. "Tapi, bagaimana dong dengan Paman Rendi, Paman Rendi juga baik. Mama pilih siapa?"


Anita mengangkat bahunya acuh, tidak ingin menjawab pertanyaan konyol dari bibir mungil putrinya itu.


****


Bosan, kata itu yang bisa mewakili Famira saat ini. Seharian dia dikurung oleh Bara di dalam kamar, Bara tidak membiarkan Famira ke mana-mana sampai kondisinya pulih. Famira dan Bara masih ada di kediaman Vernandes.

__ADS_1


"Mas ... aku ingin keluar." Famira menggoyangkan tubuh Bara yang tidur di sampingnya itu.


Bara bermalas-malasan sudah dua hari ini, dia tidak mau ke mana-mana dan tidak ingin jauh-jauh dari Famira. Urusan perusahaan, dia menyuruh Rendi untuk mengurusinya.


"Tidak boleh, Ra," jawab Bara dengan mata masih terpejam. "Sayang, aku sangat menginginkannya." Bara menggeserkan tubuhnya lebih dekat dengan Famira lalu memendamkan kepalanya di dada istrinya itu.


"Menginginkan apa?" tanya Famira tidak mengerti, wanita ini mendorong kepala Bara untuk menjauhi tubuhnya. Dia masih menganggap Bara adalah orang asing.


Sudah berbagi cara yang dilakukan oleh Bara berusaha mengembalikan kembali ingatan istrinya itu. Namun, hasilnya tetap sama istri belum mengingat siapa-siapa. Kadang kala, Famira bisa lupa dengan nama dirinya sendiri atau pun nama Bara sendiri.


"Khemm." Bara berdehem menanggapinya, sudah dua hari ini juga istrinya itu tidak peka-peka dengan keinginan dirinya. Bara pun tidak bisa melakukan dengan paksaan, "lupakan saja," ucapnya lagi dengan suara dingin. Bara melepaskan tangannya dari tubuh Famira.


Mendengar perubahan suara dari suaminya itu, Famira beringsut duduk.


"Aku punya salah pada, Mas?" tanya Famira merasa bersalah melihat raut kekecewaan di wajah suaminya itu, "apa yang masih inginkan?" tanyanya lagi saat melihat Bara bersikukuh tidak memandang dirinya.


"..."


"Mas ...."


"Khemm." Bara menarik tangan Famira lembut untuk tidur lagi disampingnya.


"Aku meminta hakku sekarang. Bolehkan?" tanya Bara, tangannya sudah melepaskan jilbab instan milik Famira dan membuangnya sembarangan tempat. Gairahnya sudah tidak bisa dia tahan lagi.


Famira mengaguk kecil, dia tidak bisa menolak, bagaimana pun juga pria itu adalah suaminya.


Bara menindih tubuh Famira, memberikan kecupan singkat kening Famira lalu turun ke bibir Famira. Famira hanya pasrah, membiarkan suaminya itu melakukan apa pun yang dia mau.


"Berhenti, Mas!" Famira mendorong tubuh Bara, dia langsung bangkit duduk. Perlakuan Bara pada dirinya, mengingatkan dirinya saat seseorang dengan paksa ingin merebut mahkota kemuliaannya. Pikiran Famira teringat saat Rafael yang menciumnya dengan paksa.


"Sakit ..." Famira memegang kepalanya, kepalanya tiba-tiba sakit saat ingin mengingatkan kejadian itu.


Bara khawatir, dia meraih tangan Famira.


"Kita ke rumah sakit, Ra."


"Jangan menyentuhku!" Famira menepis tangan Bara dari dirinya.


"Aku suamimu, Ra."


"Jangan menyentuhku, kamu jahat!" Bulir air mata jatuh di pelupuk mata Famira. Bara tidak mengerti apa yang membuat istri itu jadi membencinya.


"Istighfar, Ra," ujar Bara, pria ini bangkit dan mengambil air minum di atas nakas untuk memberikan kepada istrinya itu.


Famira segera mengucapkan istighfar, dan menerima air minum dari Bara.


"Aku takut, Mas." Famira memeluk tubuh Bara, "aku takut," ucapnya dengan lirih.


Bara mengusap lembut punggung istrinya mencoba memberikan ketenangan.


"Ada Mas disini, Ra. Kamu tidak perlu takut," jawab Bara. Batin Bara merasa tersiksa mendengar rintihan ketakutan dari istrinya itu.


Bara menyelimuti tubuh Famira, istrinya itu sudah tidur di pelukannya.


'Sepertinya kamu trauma, Ra,' batin Bara. Pria ini meraih telepon genggamnya. Menelpon dokter pribadinya untuk datang ke kediaman keluarga Martadinata memeriksa kondisi Famira.

__ADS_1


__ADS_2