
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”. (Q.S. An-Nuur : 26)
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
Berbagai tatapan tidak suka dan penuh kebencian dari karyawan wanita di arahkan pada Dilla, saat Dilla berjalan mengekor di belakang Erwin dan sekretaris Max. Dilla hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dilla sadar dan sangat sadar sekali dia tidak pantas makan siang bersama kedua orang yang sangat berkuasa di perusahaannya itu. Namun, apalah daya demi mempertahankan pekerjaannya dia harus menghadapi semuanya.
Dilla menelan saliva-nya saat melihat berbagai makanan mahal dan pasti enak sekali sudah tersaji di atas meja. Dilla sangat gugup dan canggung berada di tengah-tengah kedua pria itu.
“Kenapa makanannya sangat banyak sekali, Pak? bukankah kita hanya bertiga?” tanya Dilla heran, dia menatap lurus ke arah Erwin yang duduk berhadapan dengan dirinya.
“Saya sengaja memesannya banyak, kamu yang akan memakan semuanya,” titah Erwin lalu menyeruput jus jeruk nipis yang ada di tangannya.
Dilla tidak terlalu mendengar ucapan Erwin barusan, netra milik Dilla fokus memperhatikan cara Erwin saat minum. Saat minum saja terlihat sangat tampan dan memesona. Begitu yang ada di pikiran Dilla saat ini.
Dilla memukuli kepalanya dengan tumit tangan. “Apa yang aku pikirkan,” gumam Dilla merasa kesal dengan dirinya sendiri saat pikirannya mulai mengawur ke mana-mana tentang atasannya itu.
Erwin mengerutkan kedua alisnya melihat tingkah aneh Dilla. “Makan!” perintahnya lagi.
“Mana bisa saya menghabiskan makanan sebanyak ini sendirian, Pak.” Dilla menolak dengan nada suara sesopan mungkin, dia tidak ingin mencari masalah lagi. Dilla memang tergiur sekali dengan makanan lezat yang sudah tersaji di depan matanya itu, tetapi tetap saja perut Dilla tidak akan bisa menampung semua makanan itu.
Sekretaris Max yang berdiri di samping tuannya menatap tajam ke arah Dilla.” Nona, bukankah Tuan sudah memperingati Nona untuk tidak menolak perintahnya. Nona tahu konsekuensinya jika Nona menolak perintah, Tuan!” Sekretaris Max memberikan peringatan dan melakukan penekanan di setiap kata-katanya.
Dilla meremas kedua tangannya di bawa meja, keringat dingin membasahi tubuhnya saat ini. Kenapa dia hampir lupa dengan konsekuensinya itu.
Erwin tersenyum kecil melihat wajah Dilla yang ketakutan dan juga kekesalan di wajah gadis itu. “Kenapa dia begitu menggemaskan dan lucu kalau sedang kesal seperti itu,” batin Erwin.
Dengan penuh keterpaksaan Dilla memotong steak daging sapi itu lalu memakannya. Dilla mengembuskan napas panjang. “Saya sudah kenyang, Pak,” keluh Dilla memohon, agar atasannya itu berhenti dengan perintah gilanya ini.
Erwin menunjuk makanan di atas meja itu. “Itu masih banyak, nanti mubazir. Makan dan cepat habiskan!”
“Anda yang salah Pak, kenapa memesan makanan sebanyak ini dan menyuruh saya untuk menghabiskan semua sendirian. Anda tidak waras.” Suara Dilla kini mulai meninggi, kesabarannya sudah hampir habis.
Brak!
Sekretaris Max menggebrak meja, semua orang-orang beralih menatap mereka. Sekretaris Max tidak suka dengan OB baru itu, berani-beraninya dia meninggikan suaranya dengan tuannya.
“Max, jaga emosi kamu!”
“Maaf, Tuan.”
“Pergilah tenangkan dirimu dan kontrol emosimu, Max.”
__ADS_1
“Baik, Tuan.” Max segera berlalu di hadapan tuannya.
Kaki Dilla sudah bergetar ketakutan, tatapan Max seperti tatapan mematikan kepada dirinya. Dilla merutuki dirinya sendiri atas kecerobohan dirinya.
“Kamu takut?” tanya Erwin.
“I--ya Pak, maafkan saya.”
“Kamu lanjutkan makan siang kamu. Sekretaris Max memang seperti itu mudah terpancing emosi, kamu tidak perlu takut,” kata Erwin meyakinkan gadis itu. Dilla hanya mengangguk dan kembali melanjutkan makannya tanpa banyak berkata-kata lagi.
“Walaupun menyebalkan dan nyebelin. Pak Erwin terlihat sangat baik sekali,” batin Dilla.
“Saya memang tampan.” Bangga Erwin yang melihat Dilla menatapnya tak berkedip sedikit pun.
Dilla tergelak, wajahnya bersemu merah karena tertangkap basah.
“Anda memang sangat tampan tapi Anda sangat menyebalkan, Pak.” Sumpah serapah Dilla di dalam hatinya.
“Biasa saja,” jawab Dilla acuh.
“Hm.”
“Lihat ... sangat menyebalkan sekali, lagi bicara serius hanya berdehem. Apa nggak ada kata lain selain Hm itu, sangat menyebalkan.”
Famira bersandar manja di bahu Bara, kedua tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Mereka berdua sekarang berada di sebuah taman bunga, mencari suasana yang asri dan sejuk. Bara dengan setia dan penuh kesenangan menemani ke mana saja yang di inginkan oleh Famira.
Famira bangkit dari duduknya dan mengambil handphonenya di tas selempangnya lalu memberikan handphone itu ke tangan
Bara. “Mas fotoin Famira ya,” pinta Famira. Bara mengaguk setuju dan ikut bangkit.
Famira berpose membelakangi kamera, Bara tersenyum tipis. Bara tidak menyangka istrinya juga hobi selfi.
Cekrek!
Cekrek!
Sudah banyak pose Famira yang di ambil oleh Bara.
“Lihat hasilnya mas,” ucap Famira. Bara menyodorkan handphone itu dan memperlihatkan hasil jepretannya.
“Wah bagus sekali, apalagi bunga matahari yang jadi backgroundnya. Mas pintar sekali mengambil gambar.” Famira mengecup singkat pipi Bara.
“Tentu saja sayang, suamimu memang ahli dalam berbagai bidang.” Bara mengecup kembali pipi Famira, membuat pipi Famira merona. “Sekarang kita foto berdua,” ucap Bara lagi.
__ADS_1
“Boleh mas,” jawab Famira antusias.
“Tapi siapa yang akan memfoto kita, mas?” tanya Famira.
Netra coklat milik Bara melihat sekelilingnya, Bara tersenyum saat melihat lelaki paruh baya yang berdiri tidak jauh dari hadapan mereka. Bara menghampirinya lelaki paruh baya itu dan meminta bantuan untuk memfoto mereka. Dengan senang hati lelaki paruh baya itu menyetujuinya.
“Terima kasih, Pak,” ucap Bara tersenyum tipis.
“Sama-sama, Nak. Kalian pasangan sangat serasi sekali.” Pria paruh baya itu menepuk pundak Bara.
“Iya, Pak.”
“Ya sudah, saya mau pergi dulu,” pamit pria paruh baya itu. Bara mengaguk.
Bara dan Famira kembali duduk di kursi besi panjang itu. Mereka berdua melihat foto-foto mereka.
“Nanti mas edit fotonya biar lebih bagus, Ra.” Bara merebahkan tubuhnya dan tidur di atas pangkuan Famira.
“Inggih mas,” jawab Famira.
Famira memainkan tangannya di wajah Bara, Bara memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut tangan istrinya. “Maafkan Famira, mas. Famira selalu mengganggu mas kerja.”
Bara membuka matanya, dia mengusap lembut pipi Famira. “Kamu nggak pernah ganggu mas, Ra. Mas sangat senang bisa menemani kamu.” Bara menarik tengkuk leher Famira lalu mencium bibir Famira yang selalu saja menggodanya.
Famira mencubit pinggang Bara. “Ini di tempat umum, jangan main cium aja,” ucap Famira kesal.
“Kita pasangan halal bukan, jadi bebas-bebas saja kan?” tanya Bara.
“Iya sih, tapi nggak juga di sini mas. Famira malu di lihat sama orang-orang.”
“Nggak usah di pedulikan. Kita mau ke mana lagi?” tanya Bara lalu duduk kembali.
“Pulang aja, Famira juga capek kita jalan-jalan dari tadi.”
“Baiklah, kita pulang.” Bara langsung menggendong tubuh Famira.
“Mas turunin, Famira masih bisa jalan!” pekik Famira malu karena masih banyak pengunjung lainnya yang ada di taman bunga itu.
“Aku juga pengen di gendong seperti itu,” pekik seorang gadis menggigit tangannya melihat pasangan itu.
“So sweet!”
“Kamu bilang capek tadi, mas hanya tidak ingin istri dan putra mas kenapa-kenapa.” Bara tetap keukeh.
__ADS_1
Famira menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu, bagaimana tidak akibat ulah Bara mereka menjadi pusat perhatian di situ. Suaminya sungguh keras kepala.