
═════════•❁❁•═════════
Kebahagiaan seorang wanita
Syaikh An- Najmi berkata ;
“Seorang wanita tidak akan tenang dan tidak akan baik kehidupannya kecuali dengan suami yang sholih.”
[ Ta'sisul Ahkam 4/176 ]
═════════•❁❁•═════════
Famira dan Bara sudah berada di rumah ummi Hana pagi ini. Mereka hari ini akan mengantarkan adik Famira ke pondok pesantren untuk menempuh pendidikan jenjang sekolah pertama di sana. Mereka sudah bermusyawarah akan memasukkan Fikri di pondok pesantren milik Kyai Harun. Fikri pun menyetujui, dia ingin mewujudkan impian menjadi seorang hafidz Al-Qur'an. Mungkin di pondok pesantren dia akan lebih fokus dan mendalami ilmu agama.
"Semua barang-barangnya sudah siap, Dek?" Famira bertanya lembut mengusap rambut milik Fikri, "kenapa sedih, Fikri nggak mau masuk pesantren?" tanyanya lagi saat melihat adik laki-lakinya itu diam.
Fikri memeluk tubuh Famira yang duduk di sampingnya dengan erat. "Fikri takut ummi sendirian di rumah, Kak." Meski usianya baru menginjak 13 tahun tapi pola pikir pemuda ini sudah cukup dewasa. Famira tersenyum tipis mendengar ucapan itu, bangga mempunyai adik seperti Fikri. Walaupun nyatanya mereka bukan saudara kandung.
"Ummi akan tinggal sama, kakak. Kamu nggak perlu khawatir. Fikri fokus aja belajar di sana. Agar cita-cita Fikri tercapai," tutur Famira meyakinkan adiknya itu.
"Baiklah, Kak," sahut Fikri tersenyum lega, "Fikri akan belajar yang serius di sana," katanya lagi.
"Itu baru adiknya kakak, ayo kita keluar. Ummi sudah nunggu di dalam mobil."
Fikri mengaguk kecil.
"Biar mas aja yang bawa, Ra," cegah Bara saat melihat Famira ingin membawa koper milik Fikri.
"Nggak berat kok, Mas. Famira sudah biasa juga."
"Nggak boleh, kamu masuk dalam mobil! aku tidak ingin istriku kenapa-kenapa." Bara merebut koper itu ditangan Famira, Bara mencubit gemas pipi Famira dengan sebelah tangannya saat melihat kekesalan di wajah istrinya.
"Jangan marah, Sayang. Mau mas cium disini." Bara berbisik menggoda di samping telinga Famira.
"Pagi-pagi udah mesum ...," ucap Famira dengan nada suara kesal dan segera berlari ke dalam mobil meninggalkan Bara yang sedang menertawakannya.
"Nggak kalau sama istri sendiri, daripada sama orang lain," jawab Bara masih dengan tawanya.
•••
Mobil Bara melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya yang cukup padat pagi ini.
Famira hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah Bara yang semakin hari, makin posesif terhadap dirinya.
"Mas nggak usah pegang tangan juga, nanti ke tabrak loh. Fokus menyetir ...," Famira memperingati keras.
Bara melirik sekilas ke arah Famira, pria ini tetap keukeh menggenggam erat tangan Famira dengan sebelah tangannya saat menyetir mobil.
Ummi Hana yang duduk di kursi belakang menggelengkan kepalanya kecil melihat tingkah laku menantunya. Sementara Fikri sudah tertidur di pundak umminya karena mabuk perjalanan.
"Kapan kalian pergi bulan madunya?" tanya Ummi Hana penasaran.
"Bulan madu? siapa yang bilang, Ummi? kami bukan pengantin baru kok," jawab Famira menoleh ke arah belakang. Famira cukup syok mendengar perkataan ummi Hana, dia tidak pernah membicarakan hal itu kepada umminya.
__ADS_1
"Bara yang kasih tahu, ummi tadi, Nak," jawab ummi Hana.
"Kita bukan pengantin baru, Mas. Seharusnya kak Erwin dan Dilla yang cocok untuk pergi bulan madu. Mas ada-ada saja."
"Emang harus pengantin baru yang harus pergi? kita juga pengantin baru," balas Bara penuh keyakinan, "aku pengen cepat-cepat menjadi seorang ayah, Ra. Ummi juga nggak sabar ingin gendong cucu. Iya kan, Ummi?" Bara meminta persetujuan ummi Hana.
Ummi Hana menjawab antusias, "tentu saja, Nak."
"Dengar tuh, Ra. Dengar ... layani suami yang benar, jangan nolak terus."
"Iya, iya Mas. Aku dengar kok, aku nggak budeg."
'Padahal aku nggak pernah nolak juga,' batin Famira.
"Baguslah." Bara tersenyum kemenangan.
"Hum ... Mas ingin punya anak berapa?"
"Sepuluh," jawab Bara enteng.
"Hah?" kaget Famira dan ummi Hana barengan setelah mendengar itu. Fikri yang mendengar keributan yang terjadi dalam mobil itu ikut terbangun.
"Bercanda, minimal dua atau tiga. Ya, kalau Allah memberikan rezeki yang lebih dari itu, mas bersyukur juga sih. Yang penting istrinya siap-siap aja."
"Siap-siap apa?"
"Khem." Bara hanya berdehem menanggapinya.
Dua jam perjalanan berlalu akhirnya mobil Bara tiba di pondok pesantren milik Kyai Harun. Satpam yang sudah mengenal mobil Bara segera membuka pintu gerbang.
"Jangan macam-macam, Mas. Ini dilingkungan pesantren." Famira merasa risih dengan tatapan lekat dari netra coklat milik Bara. Famira tahu suaminya pasti ada maunya.
Bara merengek seperti bayi, membuat Famira merasa geli melihat tingkah suaminya itu.
"Mas nggak macam-macam kok, mas hanya meminta ini." Bara menepuk pipi kanannya.
"Nggak, kalau ada yang lihat gimana? tanya Famira mulai frustrasi menghadapi Bara.
"Tidak akan, Sayang. Mau mas yang melakukan ke kamu atau kamu yang melakukan ke mas?" tanya Bara memainkan kedua alisnya.
"Tiga ..." Melihat Famira masih berpikir, Bara menghitung mundur sebelum dia menjatuhkan keputusannya.
Satu kecupan singkat mendarat di pipi kanan Bara sebelum hitungan ke satu.
"Sebelah sini lagi," titah Bara menepuk pipi kirinya lagi.
“Mas, udah. Huft ....”
“Cepat, Ra. Apa susahnya sih melakukannya.” Bara mencolek dagu Famira, membuat Famira semakin mencebik kesal dalam hatinya.
Famira hanya pasrah menuruti keinginan suaminya itu, menolaknya juga tidak akan guna. Bara akan tetap keras kepala.
Bara menarik pipi Famira lembut. "Istriku pintar dan penurut. Makin cinta," tuturnya di akhiri elak tawa ringan.
__ADS_1
Famira tersenyum tipis walaupun masih sedikit kesal. “Sekarang lepasin tangan Famira, Famira mau turun, Mas.”
Bara melepaskan genggaman tangannya sesuai dengan keinginan istrinya. “Jangan jauh-jauh dari aku, Ra!” ujar Bara dan segera keluar dari mobil.
[ Ada apa, Jessika? kakak lagi sibuk! ] Bara mendengus kesal setelah mengangkat teleponnya.
[ Jessika sudah sampai di Indonesia, nih. Kok nggak ada yang jemput sih, Kak Bara menyuruh Jessika jalan kaki dari bandara ke rumah? ] Gadis yang berdiri sendirian di pintu kedatangan bandara itu celingak-celinguk nggak jelas. Menanti seseorang menjemputnya.
[ Pake otak kamu, kamu bisa kan pesan taksi? Dasar bodoh! ]
[ Jessika nggak mau naik taksi atau pun angkutan umum lainnya. Jessika mau di jemput pokoknya, titik! ] Gadis berambut panjang sedikit bergelombang di ujungnya itu berteriak keras berbicara dengan Bara.
[ Kakak sudah suruh Rendi jemput kamu, kamu puas?! ]
[ Oo ... benarkah? Kak Bara memang yang terbaik. Paling ngerti perasaan adiknya. Jessika semakin sayang sama Kak Bara ... ]
Tut ...
Jessika mematikan telepon secara sepihak saat melihat kehadiran Rendi yang berjalan ke arahnya.
'Dasar adik nggak ada akhlak!' batin Bara kesal dan jengkel. Pria ini segera menyusul Famira dan ummi Hana yang sudah jalan duluan.
“Kak Rendi ...” girang Jessika bahagia. Gadis ini berlarian kecil, menarik kopernya ke arah Rendi dan langsung memeluk tubuh pemuda yang menggunakan kaos navy warna hitam itu dengan erat.
Rendi memandang malas ke arah Jessika, kepulangan Jessika dari Inggris akan membuat hidupnya mulai tidak akan tenang mulai detik ini.
“Kak Rendi makin ganteng ....” Jessika memeluk lengan tangan Rendi dengan manja.
Rendi tidak memberikan respons apa-apa.
“Bibi Jessika ... jangan peluk Paman Rendi, Paman Rendi calon papa aku,” teriak Kila dari arah belakang disusul oleh Anita. Rendi memang datang bersama Anita dan Kila.
Kila mendorong tubuh Jessika untuk jauh-jauh dari Rendi.
“Paman gendong, Kila,” pinta Kila antuasias. Rendi mengaguk paham dan segera menggendong tubuh anak kecil itu.
“Oh ... no! keponakan Bibi yang paling cantik, Rendi itu calon paman kamu! bukan papa.” Jessika tidak terima, Jessika memandang kakak perempuannya yang berdiri di sampingnya, “Kak Anita, bisa Kakak jelasin ke aku?” Jessika ingin sekali mendengar penjelasan Anita tentang hubungan apa yang terjadi antara laki-laki yang dicintai sejak dulu dengan kakaknya sendiri.
Anita mengangkat bahunya acuh tak peduli. “Ayo kita pulang, Dek! nggak baik teriak-teriak disini.” Anita menarik tangan adik perempuannya itu dengan lembut. Suara Jessika yang cukup keras berhasil menarik perhatian orang-orang di sekitar.
“Kila udah bilang sama Bibi jangan dekat-dekat dengan calon Papa Kila ...” Anak kecil itu kembali menepis tangan Jessika dari tubuh Rendi.
“Paman, cinta sama Bibi Jessika?”
Rendi menggelengkan kepalanya cepat. “Nggak!” sahutnya penuh keyakinan.
“Bibi dengar kan, Paman Rendi nggak cinta sama Bibi. Paman Rendi cuman cinta sama Mama iya, kan?”
Rendi tidak menjawab, dia mencium pipi anak kecil dalam gendongannya itu. “Tanyain ke mama Kila dulu," bisik Rendi di samping telinga Kila.
“Baiklah, Paman. Paman nggak boleh ya dekat-dekat sama Bibi Jessika,” ucap Kila dan dibalas anggukan kecil oleh Rendi.
Jessika yang mendengar pernyataan itu dari bibir pria yang dicintai tampak kecewa.
__ADS_1
“Kalau tahu gini, Jessika nggak akan pulang dari Inggris. Jessika mendingan di sana sampai lulus S2.” Jessika berjalan duluan ke dalam mobil. Menghentakkan kakinya kesal.