Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
70


__ADS_3

━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


“Jangan melihat apa yang tak mau di lihat, jangan mendengar apa yang tak ingin di dengar.


Bahagia itu tergantung hatimu sendiri kalau masih ada rasa dengki. Mungkin hatimu yang perlu diperbaiki.”


[ Habib Achmad Alattas ]


━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


"Egois lo, Win!" timpal Rendi.


"Gue nggak peduli, ini demi kebahagiaan adik gue. Lagi pula, Famira lupa ingatan. Dia nggak ingat sama lo, jadi lo pulang aja. Nggak ada guna juga ..." usir Erwin, "dan lo juga Ren!"


"Erwin ...," suara berat dari pria paruh baya yang berjalan ke arah mereka bertiga, pria paruh baya itu yang tak lain adalah Vernandes. Mendengar keributan yang terjadi di luar, Vernandes yang sedang istirahat terbangun.


"Masuk aja, Nak. Rumah ini juga rumah kamu," tutur Vernandes pada Bara, "Famira ada di dalam kamarnya, kamu pergi menemuinya, pasti kamu sangat merindukan Famira," ucapnya lagi.


Bara tersenyum simpul lalu memeluk tubuh pria paruh baya itu. Ayah mertuanya itu pengertian sekali. "Makasih, Yah," ucap Bara penuh kebahagiaan. Setelah mengatakan itu Bara melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Erwin mengembuskan napas panjang. "Yah, Bara bukan pria yang baik untuk Famira. Biarkan mereka berpisah!"


"Rasa bencimu pada Bara, yang membuat kamu tidak bisa melihat kebaikan dan ketulusan hati dari Bara kepada adikmu, Nak. Ayah sangat mengenal Bara, dia pria yang baik." Vernandes menepuk pundak putranya itu. Erwin tidak menjawab apa-apa. Dia pergi begitu saja dihadapan Vernandes.


Netra Vernandes beralih pada Rendi.


"Kamu silahkan masuk, Nak," tutur Vernandes, "minum kopi atau teh ke dalam," tawarnya ramah.


"Aku langsung pulang aja, Om. Nanti malam, aku akan kesini lagi," jawab Rendi. Vernandes membalas dengan anggukan kecil.


•••


Tak ada yang salah dalam setiap keputusan Allah, yang ada adalah kekerdilan hati kita menyingkap hikmah dibaliknya. Bukankah kita mengaku bahwa hidup dan mati kita hanya untuk Allah? Bukankah kita beriman kepada takdir baik dan buruk?


Mari menghamba, mengabdi kepada Allah seluruh alam semesta beserta bumi dan isinya dimiliki oleh-Nya, bukankah berarti cobaan dan rintangan hidupmu juga diatur olehnya? Lantas apa yang masih kau risaukan? Intinya, ambil hikmah dibalik semua cobaan yang diberikan oleh-Nya.


Bara membuka pintu kamar pelan, melangkahkan kaki untuk masuk. Tak sabar baginya untuk bertemu dengan Famira.


"Assalamu'alaikum, Ra," salam Bara. Namun, tidak ada yang menyahut.


Bara mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang cukup luas itu, tetapi dia tidak melihat sosok Famira sama sekali.


Suara gemericik air di dalam kamar mandi terdengar, Bara tersenyum ternyata istrinya itu sedang mandi.


Bara menunggu Famira sambil duduk di atas sofa.


Cklek!

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka, Bara menelan saliva-nya saat melihat Famira yang keluar dengan menggunakan handuk saja. Dia tersenyum kecil, pasti istrinya itu lupa membawa pakaian ganti. Rambut Famira yang sudah selesai dikeringkan tergerai indah kebelakang, lekukan tubuh istrinya itu sangat menggoda iman Bara.


Netra cokelat milik Bara tidak berkedip sama sekali, dan tidak ingin melepaskan pandangannya dari wanitanya itu. Sungguh cantik, membuat Bara tidak ingin melihat wanita lain selain wajah istrinya itu.


Famira masih belum menyadari kehadiran seseorang di dalam kamarnya itu, wanita ini berjalan ke almarinya untuk mengambil pakaian.


Famira tersentak kaget saat tangan kekar sudah melingkar di perutnya.


"Sayang ...," Bara berbisik manja di samping telinga Famira. Dagunya bertumpu pada pundak Famira. Mencium aroma tubuhnya istrinya itu.


"Sia--pa kamu?" tanya Famira ketakutan dan cukup kaget, wanita itu menjauhkan tubuhnya dari Bara, cepat-cepat Famira mengambil gamis di dalam lemari itu, "jangan melihatku seperti itu ...," Famira sungguh risih melihat pandangan dari lelaki yang ada di hadapannya itu.


"Aku suamimu, aku berhak bukan?" tanya Bara, Bara menarik tubuh Famira ke dalam dekapannya. Melepaskan kerinduan selama ini. Bara tidak peduli dengan berontakkan dari Famira, "aku sangat rindu denganmu, Ra," ucapannya lagi dengan sendu.


"Suami?" Famira mendongak wajahnya melihat netra cokelat milik Bara, mencoba mencari pria itu berbohong atau tidak. Namun, tidak ada kebohongan di netra milik Bara. Pria yang memeluknya itu berkata jujur.


Famira merasakan ada bulir air mata yang jatuh di pundaknya.


"Kenapa ka--mu menangis?" tanya Famira khawatir, dia masih merasa canggung dan mengangap Bara adalah orang asing. Famira tidak mengenal sama sekali dengan pria yang masih memeluknya itu namun, pelukan itu terasa hangat sekali.


Bara mencakup pipi Famira, mencium setiap inci di wajah istrinya itu dan terakhir kecupan singkat mendarat di bibir mungil milik Famira.


"Lepaskan pelukanmu, aku ingin memakai baju. Aku kedinginan," tutur Famira mencoba terus melepaskan pelukan dari Bara.


Jempol besar Bara bergerak mengusap ujung bibir Famira dengan lembut. "Panggil aku dengan sebutan 'sayang'. Aku nggak suka dengan ucapan 'kamu' yang terlontar dari bibirmu ini." Bara menarik pinggang Famira untuk lebih mendekat, Famira refleks memejamkan mata saat hembusan napas hangat menerpa wajahnya.


"Aku mau pakai baju," cicit Famira.


"Umm ... panggil Mas dengan sebutan sayang dulu." Bara tidak mau melepaskan pelukannya.


"Panggil Mas saja, ya," tawar Famira.


"Nggak!" Bara tetap kukuh.


Famira mencebik kesal dalam hatinya, pria yang masih memeluknya itu kenapa begitu keras kepala.


"Sayang, aku mau pakai baju," ucap Famira mengalah, saat tangan pria yang mengaku suaminya itu sudah mulai jahil dengan tubuhnya.


Bara melepaskan pelukannya, pria ini tersenyum kemenangan. Akhirnya istrinya itu nurut juga.


"Mas bantu kamu pakai baju, ya," goda Bara, mencolek dagu istrinya itu.


"Tidak usah!" tolak Famira, dia cepat-cepat berlari kecil ke kamar mandi.


Famira sudah selesai memakai gamis lengkap dengan hijabnya. Dia berjalan ke arah Bara yang duduk di bibir ranjang king size itu.


Bara menarik tubuh istrinya untuk duduk di pangkuannya. Dengan posisi seperti ini, memudahkan Bara memeluk tubuh ramping milik Famira.

__ADS_1


"Apa kamu tidak mengingat Mas sama sekali, Ra?" tanya Bara.


Famira hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tidak mengingat apa pun.


"Aku tidak suka dengan posisi seperti ini, Mas."


"Hm." Bara hanya berdehem menanggapinya.


"Sayang, bisakah aku duduk di sampingmu saja?" tanya Famira dengan memohon.


"Biarkan seperti ini, Mas sangat rindu denganmu."


Kriuk!


Kriuk!


Bara menahan tawanya, saat mendengar bunyi yang berasal dari perut istrinya. "Lapar, ya, cacing udah pada demo tuh?" Tangan kekar Bara membalikkan tubuh Famira untuk menghadap dirinya. Ingin melihat wajah malu dari wanitanya itu.


Famira langsung menyembunyikan wajahnya di dada milik Bara. "Jangan melihatku saat ini." Famira menahan malu dari suara perutnya itu. Mimik wajahnya sudah memerah.


"Kenapa?" tanya Bara menahan tawanya.


"Nggak boleh pokoknya," tegas Famira. "Aku lapar ...." rengek Famira manja memegang perutnya. Dia sudah menstabilkan mimik wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap lekat wajah Bara.


Bara menaiki sebelah alisnya. "Memohonlah yang benar, sayang."


"Gimana?" tanya Famira bingung. Dia tidak bisa bangkit berdiri untuk mencari makanan keluar karena Bara menahannya.


"Memohonlah yang benar intinya."


"Berlutut dihadapan, Mas?"


"Bukan!"


"Terus ... gimana? aku nggak tahu maksud Mas apa," keluh Famira.


"Khem."


"Apa aku harus berdehem, seperti yang Mas lakukan seperti barusan?"


"Nggak!" jawab Bara mulai jengkel, karena istrinya itu nggak peka.


Bara mengembuskan napas berat. 'Lupa ingatan, kinerja otakmu lemot juga nggak paham-paham, Ra. Kenapa kamu jadi polos seperti ini sih,' geram Bara merasa gemas dengan Famira.


Bara mencubit pipi Famira pelan. "Biar Mas yang mengambil makanan untukmu. Jangan kemana-mana! nggak akan lama," tutur Bara.


"Iya," jawab Famira, wanita ini masih penasaran dengan cara memohon yang benar kepada suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2