Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
81


__ADS_3

━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


"Ketika seseorang telah jatuh cinta kepada seseorang, segala kejelekan yang ada pada diri orang tersebut akan tetap terlihat indah, tapi jika seseorang itu telah membenci orang tersebut maka segala keindahan yang ada padanya tetap akan terlihat buruk dimatanya.


Maka dari itu, usahakanlah setiap apa yang kau lihat, lihatlah dengan kacamata kebaikan."


Catatan Muslimah


━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


Sudah dua hari setelah perdebatan di perusahaan waktu itu, Erwin dan Dilla tidak saling sapa satu sama lain. Mereka saling membisu hingga pagi ini.


"Punya istri kayak nggak ada aja, kalau tahu gini aku nggak akan nikah," tutur Erwin dengan suara yang sengaja dikeraskan supaya Dilla mendengarnya. Erwin melakukan penekanan setiap kalimatnya.


Dilla yang sedang memperbaiki seprei ranjang mendongak kepalanya setelah mendengar ucapan menyindir dari Erwin, netranya menatap lurus pria yang sedang memasang dasi yang berdiri tidak jauh dari hadapannya.


"Nyesel, nikah sama aku?" tanya Dilla serius.


"Gimana ya," jawab Erwin menatap luar jendela.


"Huh, aku nggak pernah memaksakan Mas untuk menikahiku." Dilla tampak meluapkan kekesalannya pada bantal guling ditangannya, "aku sudah berusaha kok jadi istri yang baik untuk Mas," katanya lagi membela diri.


"Aku nggak pernah merasakan itu, kamu belum jadi istri yang baik!" jawab Erwin, "nggak pernah melayani suami, ngebantah terus perintah suami, dan sangat keras kepala." Erwin merebahkan tubuhnya di sofa secara kasar, pria ini memijat pangkal hidungnya.


Dilla terdiam mencerna setiap kata-kata yang terucap di bibir suaminya itu. Dengan lambat tanpa di perintah oleh dirinya, kakinya melangkah mendekati Erwin.


"Aku suamimu, murka Allah ada pada diriku. Kamu mau di cap sebagai istri pembangkang? dan masuk neraka nantinya?" Erwin bertanya sengit, tampak frustrasi terlihat diwajah pria itu.


Dilla menduduki tubuhnya perlahan-lahan di samping Erwin, meraih lengan tangan suaminya.


"Maafkan aku, Mas ...." Dilla menggoyangkan lengan Erwin saat belum mendapat respons dari suaminya itu.


"Mas Erwin ...," panggil Dilla lagi dengan suara sendu.


"Hm." Erwin berdehem pelan. Menyingkirkan tangan Dilla dari tubuhnya.


Dilla menundukkan kepalanya dalam-dalam, ada bening kristal jatuh di pelupuk matanya. Secepat kilat dia menghapusnya.

__ADS_1


"Aku minta maaf. Aku minta maaf, Mas." Dilla tidak tahu akan berkata apa-apa lagi selain meminta maaf kepada suaminya itu. Dia mengakui kesalahannya, yang terkadang tidak mengindahkan perintah Erwin.


Erwin masih tidak menanggapi dan tetap kukuh tidak menatap Dilla.


"Mas juga sibuk sih, nggak pernah ada waktu untukku." Dilla mengeluarkan isi hatinya, "pulang kerja langsung pegang laptop terus setelah itu pergi entah kemana. Hari-hari Mas sibuk dengan pekerjaan nggak ada waktu buatku ... aku tidak menyalahkan Mas. Aku mengerti Mas, tapi setidaknya adakah waktu Mas untukku walaupun sedikit?" tanya Dilla, gadis ini ingin sekali mendengar jawaban Erwin, namun Erwin masih diam membisu tak mau menjawab apa pun. Dilla menatap langit-langit kamar mencoba menahan bulir air matanya yang ingin jatuh dengan derasnya.


'Jangan nangis Dilla, kamu kuat!' Dilla mencoba menyemangati diri.


"Seharusnya aku tidak berkata seperti ini, aku sadar diri Mas Erwin. Mas Erwin menikahiku juga karena hutang bapakku. Aku ikhlas kalau hubungan pernikahan kita seperti ini."


"Baiklah ...," jawab Erwin dingin, Erwin beranjak bangkit berdiri, keluar dari kamar, "satu hal yang perlu kamu ingat aku tidak akan pernah menceraikanmu," kata Erwin sebelum benar-benar pergi dari hadapan Dilla. Erwin menutup keras pintu kamar, entah apa yang membuat pria itu enggan berbicara atau pun ada waktu luang untuk Dilla dua hari terakhir ini.


Dilla memejamkan matanya sejenak menahan sesak dadanya, seharusnya dia bersyukur Erwin bersikap cuek dan acuh terhadap dirinya. Dengan hal itu Erwin bisa melepaskan dirinya.Tapi kenapa hatinya terasa perih dan sakit saat pria itu berbicara dingin dan ketus terhadap dirinya.


'Padahal aku berusaha mencintaimu, Mas. Tapi sepertinya, aku harus menghapus kembali perasaan yang mulai ada di hati ini.'


***


Erwin turun sendirian dari kamar tanpa Dilla di sampingnya. Anggota keluarga lainnya menatap heran. Apa yang terjadi dengan pasangan pengantin baru itu?


"Kak Erwin nggak sarapan?" tanya Famira yang sudah duduk di samping Bara.


"Lo sudah punya istri! nggak usah cium istri gue lagi," ujar Bara mendorong tubuh Erwin untuk jauh-jauh dari istrinya.


"Dia adik gue! gue berhak ...," sahut Erwin, dia sering sekali mengeluarkan alasan itu untuk membungkam mulut Bara.


"Sudah, nggak baik dilihat sama Intan dan Iwan." Famira melerai kedua pria itu. Vernandes hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Erwin dan Bara yang tidak pernah akur.


"Kak Erwin, kak Dilla mana?" tanya gadis yang menggunakan seragam putih biru yang duduk di samping Vernandes.


"Masih ada di dalam kamar, Dek," sahut Erwin tersenyum tipis.


Erwin meraih punggung tangan Vernandes sebelum berpamitan pergi.


"Aku khawatir dengan kak Dilla." Intan berbisik pelan kepada Iwan yang duduk di sampingnya.


"Kak Dilla pasti baik-baik, kok," jawab Iwan berbisik kembali.

__ADS_1


"Cepat sarapan, nanti kalian telat ke sekolahnya," tutur lembut Vernandes. Mengusap lembut kepala Intan yang dilapisi jilbab. Kedua remaja itu mengaguk setuju.


••••


Setelah menyiapkan keperluan Bara kerja dan mengantarkan suaminya itu sampai pintu depan rumah, Famira berjalan naik ke atas menuju kamar Erwin dan Dilla. Famira takut terjadi apa-apa dengan Dilla yang belum juga turun dari kamarnya.


"Kakak boleh masuk, Dilla?" tanya Famira dari depan pintu sambil mengetuk pintu kamar pelan.


"Masuk aja, Kak. Pintunya nggak ke kunci," jawab Dilla dari dalam kamar.


Famira melemparkan senyum tipis lalu duduk di samping Dilla.


"Kamu dan kak Erwin bertengkar?" Famira bertanya sopan, takut ucapan itu melukai hati Dilla.


Dilla menggelengkan kepalanya cepat, tersenyum palsu seolah-olah tanpa ada beban yang sedang dia alami.


"Nggak, Kak. Hubungan kami baik-baik saja kok."


"Alhamdulillah kalau gitu, kakak cuman takut aja. Kenapa nggak turun makan bersama tadi?"


"Aku hanya nggak enak badan, Kak. Tiba-tiba terasa pusing aja," jawab Dilla. Senyum tipis dan wajah ceria terus terukir di wajahnya.


Famira menaruh punggung tangannya di kening Dilla, cukup panas membuat Famira khawatir. "Kakak telepon dokter ya, kamu kelihatannya pucat juga." Famira mengambil handphonenya di saku gamisnya. Dilla segera mencegah Famira.


"Aku cuman perlu istirahat aja, Kak. Cuman pusing sedikit bentar lagi sembuh kalau sudah minum obat kok."


"Baiklah kalau kamu nggak apa-apa, sekarang kamu istirahat di dalam kamar dulu biar cepat pulih." Famira membimbing Dilla berjalan ke arah kasur.


Dilla merebahkan pelan tubuhnya, dia merasa canggung dengan sikap Famira yang sangat memperlakukannya dengan baik sekali.


"Kenapa kak Erwin meninggalkan kamu disaat seperti ini, padahal kamu sedang sakit." Famira menarik selimut menutupi setengah badan tubuh Dilla.


"Entahlah, Kak. Mungkin, mas Erwin sangat sibuk, aku cukup mengerti."


"Mungkin sih, tapi tidak biasanya kak Erwin bersikap seperti ini. Ya sudah, kamu istirahat. Aku turun ke bawah ambil makanan dan teh hangat buat kamu."


"Maaf kalau aku merepotkan, Kak Famira."

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu, kita sekarang keluarga. Kamu nggak merepotkan sama sekali." Famira bangkit berdiri meninggalkan Dilla, sementara Dilla hanya bisa terdiam kembali. Pikirannya masih teringat perkataan Erwin yang memarahinya.


__ADS_2