Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
54


__ADS_3

 ━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━


"Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat-tempat yang mencurigakan janganlah ia menyalahkan orang lain yang berburuk sangka kepadanya."


[ Ali bin Abi Thalib ]


━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━


Setelah mengantarkan Dilla, Rendi kembali melanjutkan perjalanan ke rumah Bara.


Tidak butuh waktu lama bagi Rendi untuk sampai di kediaman keluarga Wijaya.


"Bara mana, Ra?" tanya Rendi pada Famira yang kebetulan ada di ambang pintu rumah.


"Mas Bara, baru saja pergi. Katanya pergi ke apartemen kamu, Ren," jawab Famira.


'Bara pergi ke apartemen gue, nggak mungkin. Kalau memang dia akan pergi pasti akan menelepon gue dulu. Ada yang nggak beres ini," batin Rendi merasa janggal.


"Aku susul Bara dulu, Ra." Pamit Rendi dan secepat kilat berlari ke dalam mobilnya.


Famira mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh Rendi.


[ Lo di mana, Bara? ] tanya Rendi saat sambungan teleponnya sudah terhubung dengan Bara.


[ Klub. ]


[ Hah? untuk apa lo datang ke situ, Bar? ]


[ Adel ada di sini, Tante Silvi minta gue untuk jemput Adel. ]


Saat selesai makan malam bersama keluarganya, Bara menerima telepon dari Silvi. Silvi menangis sesenggukan melalui saluran telepon itu, membuat Bara kebingungan. Silvi menceritakan Adel putrinya, sejak siang tadi belum pulang ke rumah, Silvi sudah mencoba menghubungi ponsel milik Adel namun, sayangnya tidak aktif. Silvi mendapatkan kabar dari teman Adel, bahwa Adel berada di klub malam ini. Silvi meminta tolong kepada Bara agar bisa menjemput Adel di klub malam ini, cuman Bara yang bisa membujuk Adel untuk pulang ke rumah. Dengan penuh keterpaksaan, Bara menuruti permintaan Silvi untuk menjemput Adel. Bagaimana pun Bara sudah menganggap Adel adiknya sendiri, dia juga tidak mau Adel kenapa-kenapa.


[ Tunggu gue, Bar. Biar gue aja yang masuk ke sana. Lo jangan masuk dulu! ] Rendi semakin mempercepat laju mobilnya. Rendi takut Adel menjebak Bara malam ini.


•••


Bara masih menunggu Rendi di dalam mobilnya, Bara tidak bodoh. Bara mengetahui rencana Adel pada dirinya.


"Gue tunggu di sini," ujar Bara pada Rendi yang baru saja sampai.


"Oke, gue masuk dulu," jawab Rendi. Bara mengaguk kecil, dia mengambil headset mendengar lantunan ayat suci Al-Quran dari aplikasi Al-Qur'an Indonesia.


Tak lama kemudian Rendi kembali dengan tangan kosong. "Adel nggak mau keluar, Bar. Dia cuman mau lo ke sana, Adel sudah mabuk berat." Rendi mengembuskan napas panjang.

__ADS_1


Bara membuka pintu mobil, tak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk membujuk Adel untuk pulang, dia harus tangan sendiri.


Bara memakai masker, Bara sangat tidak suka bau alkohol. Sebejat-bejatnya Bara dulu, dia tidak pernah meminum minuman keras ataupun menginjakkan kaki di tempat haram itu. Bara baru pertama kali datang ke tempat itu, tidak hanya Bara Rendi juga baru pertama kali menginjakkan kakinya di klub.


Bara menundukkan kepalanya saat melewati wanita yang menggunakan pakaian kurang bahan yang berkeliaran di tempat itu. Rendi yang berada di belakang Bara menepis tangan para wanita yang mencolek dagunya seenak jidatnya.


Bara menarik paksa tangan Adel, dia membuang gelas minuman yang ada di tangan Adel ke lantai.


"Pulang, Del! kenapa lo menyiksa diri lo seperti ini?!" hardik Bara.


"Kak Bara," ucap Adel dengan mata sayup. Dia bangkit lalu memeluk tubuh Bara. "Kak Bara masih sayang sama, Adel. Makanya kak Bara datang, kan?"


"Kalau bukan permintaan Mama lo, gue nggak akan datang ke tempat terkutuk seperti ini!" Bara segera memapah tubuh Adel dan membawanya ke luar. Tidak sanggup bagi Bara melihat para pasangan yang bukan mahram melakukan hal senonoh di hadapannya.


Rendi mengemudi mobil milik Bara dengan kecepatan sedang meninggalkan klub malam itu, Rendi terpaksa meninggalkan mobilnya. Rendi akan menyuruh seseorang untuk mengambil mobilnya nanti.


"Lo tidak pernah seperti ini, Del. Apalagi lo minuman alkohol itu dan pergi ke klub. Berhenti menyiksa diri lo, Del!" ucap Bara penuh penekanan.


Adel tertawa sumbang, bening air matanya jatuh di pelupuk mata wanita berambut pirang itu. "Adel seperti ini karena, Kak Bara. Kak Bara tidak pernah peka dan ngerti perasaan, Adel. Adel menyukai, Kak Bara!" Adel menarik tengkuk leher milik Bara lalu mencium bibir Bara dengan penuh bergairah.


Bara kaget, dia mendorong tubuh Adel secara kasar dari tubuhnya.


"Lo memang wanita murahan, Del!" Bara menghapuskan bekas ciuman Adel secara kasar di bibirnya. Emosi Bara memuncak dengan kelakuan Adel barusan, tangannya sudah terangkat di udara ingin melayangkan tamparan keras di pipi gadis di sampingnya itu.


Bara menurunkan kembali tangannya, amarahnya hampir saja menguasai dirinya. Bibir Bara cepat-cepat mengucapkan istighfar.


"Berhentikan mobil di sini, Ren!" titah Bara.


Rendi mengaguk lalu mengikuti perintah Bara.


"Lo turun, Del!" Bara membuka pintu mobil mempersilahkan Adel untuk turun.


Adel menggelengkan kepalanya


cepat. "Nggak! Kak tega turunin Adel di tengah jalan seperti ini? ini sudah malam, Adel nggak mau!" Adel tetap keukeh, dia tidak mengindahkan perintah Bara.


"Gue bilang turun, ya turun! lo budek, hah?!" Dengus Bara kesal. Kesabarannya sudah hampir habis menghadapi


Adel. "Jangan sampai gue melakukan kekerasan kepada lo, Del. Turun cepat!" gertak Bara dengan nada suara sudah meninggi. Rendi saja yang ada di depan bulu kuduknya sudah merinding ketakutan mendengar suara Bara.


Adel beringsut dari duduknya, dia segera keluar dari mobil. "Kak Bara jahat!" teriak Adel dari luar. Bara tidak menghiraukannya, dia kembali menutupi pintu mobil. Sementara Rendi hanya menatap sekilas ke arah Adel.


"Kita balik, Ren!" titah Bara.

__ADS_1


Adel hanya bisa menangis di tepi jalan saat mobil Bara benar-benar pergi dari hadapannya. "Kak Bara jahat ..." batin Adel.


•••


Bara sampai di rumah sekitar pukul setengah dua belas malam. Tentu saja penghuni rumah lainnya sudah tertidur pulas.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka.


"Kamu belum tidur, Ra?" tanya Bara saat melihat Famira masih duduk di atas kasur king size itu sambil membaca buku.


Famira bangkit dari duduknya menghampiri suaminya itu. "Famira nggak bisa tidur, Famira khawatir dengan, Mas Bara." Famira memeluk tubuh Bara.


Famira melepaskan pelukannya dan langsung pergi ke kamar mandi. Tiba-tiba saja Famira merasa mual setelah mencium bau alkohol di tubuh Bara.


"Kamu nggak apa-apa kan, Ra?" tanya Bara khawatir dari luar.


" Nggak apa-apa, Mas pergi ke mana sebenarnya? kenapa tubuh Mas bau alkohol?" tanya Famira dengan penuh selidik lalu duduk di tepi ranjang.


"Mas pergi ke apartemen Rendi, Ra."


"Mas, bohong!" jawab Famira. "Dan ini apa, Mas?" Famira menunjukkan bekas lipstik wanita di lengan baju Bara.


"Ini bi---"


"Mas tidak jujur dengan Famira sekarang, Mas nggak pergi ke apartemen, Rendi kan?"


"Iya, Mas membohongimu. Mas minta maaf, Ra." Bara meraih tangan Famira.


Famira menepis kasar tangan Bara dari dirinya. "Jangan sentuh Famira dengan tangan yang Mas pegang dengan wanita lain! siapa wanita pemilik bekas lipstik di baju Mas itu?"


Bara bungkam seribu bahasa.


Famira memberikan bantal ke tangan Bara. "Mas tidur di sofa malam ini, Famira nggak suka, Mas membohongi Famira seperti ini. Famira nggak suka, Mas ... " Satu bulir air mata jatuh di pipi Famira. Pantaslah tadi Famira mencoba menelepon Bara namun tidak ada respons. Ternyata suaminya itu sedang bermain di belakangnya.


"Ra ... dengarkan penjelasan Mas dulu. Kamu salah paham," tutur Bara lembut.


"Famira nggak mau berdebat lagi, Famira mau istirahat." Famira membaringkan tubuhnya lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Famira tidak peduli lagi dengan ucapan Bara yang ingin menjelaskan. Famira sudah terlanjur kecewa karena Bara tidak jujur dengan dirinya.


Bara menyadari kesalahannya, dia bangkit dan membersihkan dirinya dulu sebelum dia tidur.


Bara mematikan lampu di kamarnya, dia berjalan mendekati Famira yang sudah terlelap dalam tidurnya. "Maafkan, Mas, Ra." Bara menghapus bening air mata di pipi istrinya itu lalu mengecup singkat kening Famira.

__ADS_1


Bara menghempaskan tubuhnya secara kasar di atas sofa baru kali Famira benar-benar marah pada dirinya.


__ADS_2