
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
“Apabila seseorang itu mencintai Tuhannya, maka tidak ada waktu yang lebih tenang baginya melainkan waktu mendekatkan diri kepada Allah.”
[ Habib Umar bin Hafidz ]
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
Famira membuka kedua bola matanya, kepalanya agak pusing, dia mencoba memulihkan kesadarannya. Ekor matanya mengelilingi setiap sudut ruangan yang asing baginya. Ada banyak bercak darah di dinding, Famira bergidik ngeri melihatnya. Tidak hanya di dinding, di ubin keramik banyak sekali bekas darah. Entah darah apa, tapi Famira yakin itu darah manusia. Apakah di dalam ruangan yang di tempatinya ini adalah ruangan tempat pembunuhan?
Ruangan itu sangat kotor, debu-debu banyak sekali, terlihat sekali bahwa ruangan itu tidak terurus.
Famira semakin bergetar ketakutan saat melihat ada sepuluh orang pria berbadan besar dan berotot kekar menjaganya ketat di sisi kiri, kanan, belakang, dan di depannya. Belum lagi yang ada di luar. Mereka tidak membiarkan celah sedikit pun untuk Famira agar bisa kabur.
'Ya Allah, ada apa ini?' tanya Famira membatin.
Famira sudah sangat mual ingin memuntahkan isi perutnya karena mencium bau darah yang sangat menyeruak menusuk indera penciumannya.
"Bisakah kalian membawa saya ke kamar mandi?" tanya Famira memohon kepada sepuluh pria bertubuh berbadan kekar itu. Tidak mungkin baginya untuk muntah di situ.
Tidak ada yang menjawab, kesepuluh orang itu hanya diam membisu dan menatap datar dan dingin ke arah Famira.
Famira mengembuskan napas gusar, dia mencebik dalam hatinya dengan pertanyaan yang dilontarkan kepada para pria itu barusan, tidak mungkin orang-orang itu mau membantunya. Tangan dan kaki Famira di ikat erat sekali, Famira tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi, dia hanya berdoa di dalam hatinya semoga pertolongan Tuhan datang tepat pada waktunya.
Tak lama kemudian, datanglah sosok pria yang menutupi kepalanya dengan tudung hoodie.
"Selamat datang, Tuan!" ucap para pria bertubuh kekar yang menjaga Famira, mereka menundukkan kepalanya.
Pria itu membuka tudung hoodienya, dia memberikan isyarat kepada seluruh anak buahnya untuk keluar dari ruangan itu.
Famira tidak mengenal sama sekali pria di hadapannya itu. Tetapi Famira yakin umur pria itu dengan dia tidak jauh beda.
"Kau sudah sadar," ucapnya.
__ADS_1
"Apa mau---mu? dan siapa kamu?" tanya Famira ketakutan. Famira tidak berani menatap netra pria yang ada di hadapannya itu.
Jempol dan jari telunjuk pria itu mengapit dagu Famira, lalu mengangkatnya ke atas perlahan-lahan. Pria itu mau Famira menatapnya.
"Kau tidak perlu tahu siapa diriku, tapi aku yakin suamimu mengetahui siapa diriku!" Tatapan tajam yang sempat Famira lihat dari netra pria itu kepada anak buahnya, berubah drastis menjadi tatapan begitu hangat kepada dirinya. Famira menepiskan pandangannya memutuskan kontak mata itu. Famira cepat-cepat beristighfar.
Tuk!
Satu sentilan pelan mendarat di kening Famira dari tangan pria itu. "Kenapa?" tanyanya heran sambil menaiki sebelah alisnya melihat Famira yang menggelengkan kepalanya.
"Sa---ya ingin mun---" Belum sempat Famira melanjutkan ucapannya, isi perutnya sudah terlebih dahulu keluar hingga mengenai sweater yang di kenakan pria di hadapannya. "Maafin saya. Saya tidak dapat menahannya lagi." Famira menundukkan kepalanya dalam-dalam karena ketakutan.
Pria itu sedikit merasa jijik melihat muntahan Famira di sweaternya. Sebelum keluar dia membisikkan sesuatu tepat di daun telinga Famira. "Aku orang baik, selama kamu tidak menyusahkanku disini," bisiknya lalu keluar dari ruangan itu untuk pergi menggantikan pakaiannya.
Para anak buahnya tampak menahan tawanya melihat tuannya yang baru keluar. "Jangan sampai gue membunuh kalian semua! berani-beraninya kalian menertawakan bos kalian sendiri!" ujarnya dengan suara tegas. "Pindahkan wanita itu disebelah ruangan gue! dan satu lagi jangan sampai kalian menyentuhnya sedikit pun!" katanya lagi.
"Siap, Tuan!"
•••
Malam ini suasana di kediaman keluarga Wijaya sangat mencekam, sorot mata penuh kelelahan tampak dari semua orang yang sedang duduk di ruang tamu. Hanya ada keheningan yang ada di ruangan tersebut.
"Kalian semua cukup lelah pasti hari ini, mendingan kalian pulang dan istirahat," tutur Mama Ani membuka keheningan yang terjadi kepada Rendi, Erwin, Sekretaris Max, dan Bara.
Mereka berempat sudah mencari Famira sejak siang tadi, mencari ke segala tempat yang biasa Famira kunjungi, berharap Famira ke tempat itu, menanyakan kepada orang-orang yang mungkin melihat Famira. Namun, nihil hasilnya tetap zonk! Mereka tidak menemukan keberadaan Famira sama sekali.
Penculikan ini seperti sudah di rencanakan secara matang, buktinya saja para penculik merusak beberapa Cctv tempat kejadian perkara. Mereka hanya menemukan cincin pernikahan yang diberikan oleh Bara di trotoar jalan.
Erwin dan sekretarisnya pun berpamitan untuk pulang, Erwin menurunkan egonya untuk tidak berdebat dengan Bara dalam situasi yang sedang genting seperti ini. Mereka harus bersatu dan bekerja sama untuk mencari keberadaannya adiknya itu.
Tatapan hampa dan kosong, sorot mata kesedihan yang sangat mendalam di netra cokelat milik Bara.
Rendi menepuk pundak Bara mencoba memberikan semangat. Rendi baru kali melihat sisi rapuh dari seorang Bara Sadewa. "Gue pulang dulu, Bar," pamit Rendi kepada Bara dan anggota keluarga Wijaya lainnya. Bara mengaguk kecil.
__ADS_1
"Kamu istirahat juga, Dek ..." tutur Anita.
"Paman, jangan sedih. Kila juga sedih melihat Paman seperti ini," ucap Kila mengecup pipi Bara mencoba menghibur.
Bara tersenyum tipis. "Paman nggak sedih kok," jawabnya berbohong lalu mengacak rambut anak kecil yang duduk di pangkuannya itu.
"Kila udah berdoa tadi saat selesai shalat isya' agar bibi Famira dijaga sama Allah."
"Kila udah bisa shalat?" tanya Bara.
"Udah dong, bibi Famira yang ngajarin. Kila jadi rindu dengan bibi Famira, Paman. Biasanya kalau jam segini, bibi Famira sedang bercerita tentang kisah nabi pada Kila sebelum tidur." Air mata jatuh di pipi anak kecil itu.
"Keponakan Paman jangan nangis lagi, Kila doakan bibi Famira, agar Bibi baik-baik."
•••
Pukul dua dini hari, Bara terbangun. Dia melihat ke samping sisi tidurnya, biasanya istrinya itu sudah bangun terlebih dahulu darinya dan sedang berusaha membangunkannya dengan berbagai cara untuk melaksanakan shalat malam. Namun, malam ini sangat berbeda sekali.
'Ra ... Mas udah bisa bangun sendiri loh untuk shalat tahajud,' gumam Bara.
Shalat tahajud adalah ibadah sunnah yang dikerjakan pada waktu malam hari atau ibadah sunnah yang dikerjakan setelah bangun tidur. Shalat tahajud adalah shalat sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Sebagimana Beliau bersabda dalam haditsnya, "shalat terbaik setelah shalat wajib adalah shalat malam."
Pria itu segera bangkit untuk mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat malam atau tahajud dengan khusyuk.
Bara menitikkan air mata saat sujud terakhirnya, perasaannya tidak dapat dibohongi dia rindu dan sangat khawatir sekali dengan wanitanya. Wanita hebat yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bara menengadahkan kedua tangannya, berdo'a dan memohon kepada Sang Pencipta agar istrinya selalu di dalam lindungan-Nya.
Rasulullah bersabda, "di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan do'a pada Allah berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya." ( HR. Muslim )
Air mata jatuh di pelupuk mata pria itu setelah menutup doanya.
'Aku merindukanmu, Ra ...'
__ADS_1