
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
Saat kau tanam kebahagiaan di hati manusia, maka suatu hari nanti seseorang akan datang menanamnya di hatimu. Dunia ini, sebagaimana yang kau persembahkan padanya, juga akan memberimu. Dan apa yang kau tanam hari ini, kan kau petik hari esok.
–Catatan Muslimah–
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
"Saya kurang dengar, apa perkataan Pak Erwin barusan?" tanya Dilla penasaran, karena angin di pantai cukup kencang, membuat telinga Dilla kurang mendengarnya.
"Lupakan saja perkataan saya barusan," sahut Erwin.
Dilla hanya ber 'oh' ria menjawab perkataan Erwin.
Mobil Erwin segera meninggalkan pantai tersebut.
"Saya antar sampai rumah saja," tawar Erwin kepada Dilla. Karena Dilla menyuruh mobilnya itu berhenti di depan jalan raya saja.
"Nggak usah, Pak. Lagi pula rumah saya dekat kok dari sini. Saya tinggal jalan saja dari sini, Pak." Dilla segera turun dari mobil Erwin.
"Hm, baiklah. Terima kasih atas waktumu."
"Siip, Pak," sahut Dilla tersenyum tipis memperlihatkan lesung pipinya.
Erwin terkesima melihatnya, cepat-cepat pemuda itu memalingkan wajahnya dari Dilla.
"Saya duluan, assalamu'alaikum ..." pamit Erwin.
"Wa'alaikumussalam," jawab Dilla lalu melambaikan tangannya.
Dilla masih berdiri di pinggir jalan sambil melihat mobil Erwin yang mulai hilang di pertigaan jalan raya depan. 'Tatapan Pak Erwin hangat sekali barusan, tak sama seperti hari sebelumnya," batin Dilla saat berjalan menuju rumahnya.
•••
"Kalau lo suka sama Adel, Ren. Gue akan bantu lo untuk mendapatkan hati Adel," ujar Bara mantap sambil menepuk pundak sahabatnya itu yang lagi termenung. Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda yang sedang duduk di samping Bara itu.
__ADS_1
Rendi sekarang berada di rumah Bara, tepatnya di ruangan kerja Bara yang ada di dalam rumah Wijaya.
"Gue takut Adel tolak gue lagi, Bar. Lo masih ingat kan dulu gue pernah nembak Adel pada saat dia lulus SMA," jawab Rendi.
#Flashback Rendi pada saat
mengungkapkan perasaan
cintanya pada Adel
Di sebuah kafe terkenal di kota itu pemuda yang menggunakan kaos navy blue itu, tampak bahagia sekali dari raut wajahnya. Pandangannya tidak teralihkah dari gadis yang sedang duduk di hadapannya.
Perasaan campur aduk yang dirasakan oleh Rendi, malam itu dia sudah berniat mengungkapkan perasaan cintanya kepada gadis yang duduk memainkan gawainya di hadapannya itu.
Setelah menghabiskan makanan mereka, Rendi memberikan isyarat kepada band pengiring untuk memainkan lagu favorit seorang Adelia Adriana Agatha.
Adel mengerutkan keningnya, dia masih tidak peka suasana di situ.
Rendi bangkit berdiri, dia meraih kedua tangan Adel, Adel pun refleks berdiri mengikuti instruksi dari Rendi. "Del ... aku cinta sama kamu, aku tidak tahu kapan perasaan ini muncul. Tapi setelah hari-hari kita selalu bersama, aku menyadari bahwa aku jatuh cinta sama kamu, Del ...," tutur Rendi to the point dan kata-katanya sangat tulus sekali. Manik hitamnya menatap intens gadis itu.
Adel melepaskan genggaman tangan itu. "Maaf Kak Ren, Adel tidak memiliki perasaan apa pun kepada, Kak Rendi. Adel sudah menganggap Kakak seperti Kakak Adel sendiri. Adel minta maaf, Adel tidak cinta sama Kak Rendi." Adel meraih tas selempangnya, dia segera keluar dari kafe itu.
Kondisi malam itu mendung seolah-olah dapat mewakili perasaan Rendi, hujan gerimis sudah turun.
"Del." Rendi meraih kembali tangan Adel, Adel menepisnya. Demi menghindari Rendi Adel rela menerobos hujan dan mencari taksi di depan.
Rendi tidak tinggal diam, dia terus berusaha mengejar Adel.
"Aku cinta sama kamu, Del. " Ucapan itu kembali terlontar dari bibir Rendi. Hujan semakin turun dengan derasnya. Rendi sudah basah kuyup dan Adel pun sebaliknya.
Adel menghentikan langkahnya, berbalik menatap pemuda yang masih kukuh mengejarnya.
Adel memeluk tubuh Rendi, dia pun merasa bersalah karena menyakiti hati lelaki yang selalu saja menemani dan membantunya. Adel tidak menyangka bahwa Rendi menyimpan perasaan untuk dirinya.
"Kak Ren, tolong jangan bersikap seperti ini. Adel jujur Kak Ren, Adel tidak memiliki perasaan apa pun kepada, Kak Ren." Bulir air mata jatuh di pelupuk mata gadis itu.
__ADS_1
Rendi mengangkat dagu Adel ke atas agar gadis itu menatap wajahnya. "Apa yang bisa aku lakukan, agar mendapatkan hati kamu?"
Adel menggelengkan kepalanya cepat. "Adel tidak mau memberikan harapan kepada Kak Rendi lagi, berhenti mencintai Adel, Kak. Adel cuman cinta sama Kak Bara," tegasnya. "Adel juga mau pamit, besok Adel akan pergi ke Jerman. Adel minta maaf, Kak. Adel berharap setelah kepergian Adel, Kak Ren bisa melupakan Adel." Adel melepaskan pelukannya, dia berlari kecil pergi menjauh dari hadapan Rendi.
Rendi diam mematung di tempat, harapan ingin mengambil gadis yang dia cintai sangat sulit sekali. Bahkan hati Adel tertutup rapat untuk dirinya.
Flashback off
"Urusan di tolak itu wajar, Ren. Apa salahnya berjuang kembali. Gue tahu lo sangat mencintai, Adel. Gue akan bantu lo, Ren!" tegas Bara kembali.
"Adel cuman cinta sama lo, Bar. Sampai detik ini, bagaimana juga lo bisa bantu gue."
Bara menendang tulang kering Rendi. "Perlu yang lo ingat Ren, gue nggak pernah cinta sama, Adel! dan gue sudah punya rencana untuk lo bisa dapetin hati Adel. " Bara tersenyum misterius.
Rendi sedari menunduk kepalanya, langsung mendongak dan menoleh ke arah Bara. "Apa rencana lo?" tanya Rendi bersemangat. Senyum tipis terukir di bibir pria itu.
Bara membisikkan sesuatu ke telinga Rendi.
"Bagaimana rencana gue, Ren? gue yakin Adel akan luluh, Ren."
"Itu terlalu berat dan berisiko, Bara." Rendi mengembuskan napas panjang.
"Jentel men sedikit napa, Ren. Sekali-kali berjuang, walaupun dengan cara gila. Hahaha." Bara tertawa mengejek di sela tawanya.
Rendi mendengus kesal mendengarnya. “Rencana lo konyol, bisa-bisa Adel semakin ilfil sama gue, Bar.”
“Nggak akan Ren, gue yakin akan berhasil. Adel akan klepek sama, lo.” Bara masih dengan ejek tawanya.
Di sisi lain, Famira sedang duduk sendirian di sofa ruangan tengah sambil menonton acara TV. Famira tersenyum sendiri, saat melihat adegan lucu di film yang sedang di tonton. Saking fokusnya menonton, Famira tidak menyadari kehadiran seseorang yang sudah duduk manis di sampingnya.
“Dek, Kakak rindu,” bisik Erwin tepat di samping di telinga Famira.
Famira kaget dan menoleh ke arah Erwin. “Kak Erwin seperti hantu saja, kenapa nggak ucapkan salam? untuk aja Famira nggak punya riwayat penyakit jantung.” Famira mencubit pinggang Erwin membuat Erwin merintih kesakitan.
“Kamu aja yang budeg, Kak sudah ucapkan salam sepuluh kali. Tetapi nggak ada yang nyahut, cuman ada ART tadi yang menyahut,” ucap Erwin menarik tubuh Famira untuk lebih dekat dengannya.
__ADS_1
“Benarkah? maaf Famira nggak dengar, Kak.”
“Bagaimana kamu bisa dengar, kamu aja lagi tertawa cekikikan nggak jelas nonton film itu.” Erwin menunjukkan film komedi yang sedang di tonton oleh Famira, Erwin meraih remote TV di tangan Famira lalu mematikannya.