
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━━
"Musibah dan ujian yang menimpamu hari ini bukan untuk menguji berapa kuat dirimu, tetapi untuk menguji seberapa kuat kebergantungan kamu kepada Allah."
[ Al Habib Umar Bin Hafidz ]
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━━
Pintu kedatangan Bandara Soekarno Hatta cukup padat sore ini, gadis berambut pirang yang menggunakan celana levis sobek dan di padukan dengan atasan ruffled top. Berjalan lenggok bak seorang model. Kaca mata hitam tak lepas dari hidungnya yang mancungnya itu.
“Wah, tuh cewek cantik banget.”
“Benar-benar, bidadari turun dari mana tuh ...”
Tutur para pria yang berpapasan dan langsung terpesona dengan kecantikan seorang Adelia Adriana Agatha.
Adelia Adriana Agatha, wanita cantik yang baru saja menyelesaikan studinya di negara bagian Eropa Barat tepatnya di Jerman. Dia sekarang sudah mendapat gelar sarjana di jurusan kedokteran di universitas Ludwig Maximilian University of Munich.
Adel menarik tuas kopernya, senyum merekah di bibir wanita itu setelah melihat pria yang selama ini dia cintai walaupun tidak bisa memilikinya sedang menunggu ke pulangnya.
“Sayang,” teriak Adel manja. Dia berlari kecil dan langsung memeluk tubuh pria yang masih menggunakan setelan jas kerjanya.
“Jaga sikap lo, Del. Lo sudah besar dan bukan anak kecil lagi. Jangan panggil gue sayang, gue bukan pacar lo.” Bara mendorong pelan tubuh Adel darinya. Namun, Adel tetap keukeh untuk memeluk tubuh Bara.
“Biarin, wangi tubuh kakak Bara tidak berubah dari dulu. Adel sangat menyukainya dan sangat rindu dengan kakak Bara.” Adel tidak segan-segan mengecup bibir Bara.
Bara tidak terima, dia langsung melepaskan pelukannya itu secara kasar. “Gue bilang jaga sikap lo, Del!” bentak Bara dengan suara naik dua oktaf. Kalau bukan permintaan Ani, Bara ogah untuk menjemput Adel, yang sikapnya masih seperti anak kecil.
Adel tidak peduli dengan bentakan keras dari Bara, dia tahu Bara sangat marah padanya saat ini. Tapi Adel tetap tidak peduli, dia hanya menganggapnya angin berlalu. Adel sudah biasa dengan sikap Bara seperti itu sejak dulu.
Adel menggandeng tangan Bara. “Kata Tante Ani, kita akan di jodohkan. Adel tahu kakak sudah nikah, tapi akan cerai kan? Adel tetap suka sama kakak Bara, sampai kapan pun,” tuturnya penuh keyakinan, dia bersandar manja di bahu Bara.
Bara memandang malas ke arah Adel, hidupnya mulai tenang karena kepergian Vina. Dan sekarang muncul masalah lagi yang membuat Bara frustrasi memikirkannya.
Rendi menarik rambut panjang Adel dari arah belakang. “Jangan jadi pelakor lo!” hardik Rendi yang mampu menusuk ulu hati seorang Adel. Rendi sudah sangat suka Bara dengan Famira, dia senang berkat nikah dengan Famira Bara berubah banyak.
“Gue bukan pelakor yah kakak Rendi. Adel tahu kakak cemburu kan, karena Adel lebih suka sama kakak Bara.” Adel menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya. Netra coklat miliknya menatap sangar ke arah Rendi.
__ADS_1
“Cih ... siapa juga yang suka sama lo. Jangan kepedean!”
Adel berjinjit sedikit lalu mengecup pipi Rendi. “Kakak, nggak boleh marah gitu.”
Rendi diam mematung atas apa yang dilakukan oleh Adel kepada dirinya.
“Kakak Rendi ganteng sih, tapi sayangnya Adel lebih suka sama kakak Bara.” Adel tersenyum kecil melihat tingkah Rendi yang salah tingkah karena ulahnya.
“Dasar lo, main nyosor aja. Nggak ada akhlak!” Rendi menghapus secara kasar ciuman Adel di pipinya.
“Bodo amat!” sahutnya cengengesan, Adel mempercepat langkah kakinya mengejar Bara yang sudah berjalan duluan meninggalkannya.
***
Adel tidak terima dengan sikap Bara yang cuek terhadap dirinya di dalam mobil. Dia merebut ponsel di tangan Bara secara paksa.
“Kakak, lihat apa sih. Sampai-sampai cuek sama Adel?” Adel melihat layar handphone itu, ternyata Bara sedang memperhatikan foto seorang wanita berjilbab yang tak lain adalah Famira.
“Sini handphone gue, Del!”
“Nggak, siapa wanita ini?” tunjuk Adel pada foto itu.
Adel melipat kedua lengan tangannya di depan dada, dia mengembuskan napas
berat. “Asal kakak Bara tahu, banyak bule di Jerman Adel tolak demi kakak Bara. Sekarang Adel udah besar, bukannya kakak Bara yang berjanji dulu saat kita masih kecil akan menikah Adel kalau Adel sudah sukses. Adel sudah sukses sekarang, dan sudah menjadi seorang Dokter,” ucap Adel yang lebih mengarah ke curhat. Bara adalah cinta pertamanya sejak dulu masih kecil dan sampai sekarang.
“Gue nggak peduli!” sahutnya dingin.
Setelah itu hanya ada keheningan di dalam mobil, Adel tidak ingin berbicara kepada Bara lagi. Bara dari dulu tidak pernah peka terhadap perasaannya. Adel senang ketika dia mengetahui Bara dan Vina putus namun, hatinya sakit ketika mendengar Bara sudah nikah dengan wanita lain.
30 menit berlalu, akhirnya mobil milik Bara sampai di halaman rumah keluarga Agatha.
“Mendingan, kakak pulang saja. Adel kecewa sama kakak Bara,” ucap Adel segera turun dari mobil Bara.
Bara memandang acuh, Bara memang menyayangi dan mencintai Adel sebagai 'Adik' tak lebih dari itu. Namun, Adel menganggapnya lebih dari itu.
“Anak Mama sudah pulang,” tutur lembut Silvi yang merupakan mama dari Adel. Dia merentangkan kedua tangannya ingin memeluk tubuh putrinya yang sudah beberapa tahun meninggalkannya.
__ADS_1
“Adel lagi bad mood Ma, Adel mau ke kamar. Kakak Bara jahat ...” Adel berlalu di hadapan Silvi dan Wilson. Bulir air jatuh di pipi gadis itu.
“Sikap Adel tidak pernah berubah dari dulu. Pah,” ucap Silvi pada Wilson yang merupakan suaminya.
Bara mengayunkan langkah kakinya keluar dari mobil, dia melemparkan senyum tipis pada Silvi dan Wilson.
“Bara minta maaf karena sudah membuat Adel kecewa Tante.” Bara mencium punggung tangan Silvi dan Wilson.
Wilson menepuk pundak Bara. “Memang Adel sangat manja kalau sama dirimu, Nak,” tutur pria paruh baya itu.
“Tante jadi nggak sabar untuk menikahi kalian berdua. Perceraianmu sudah kamu urus, Nak?” tanya Silvi. Raut kebahagiaan tampak di wajah wanita paruh baya itu. Dua hari yang lalu Silvi dan Wilson mendapat undangan untuk hadir di makan malam di keluarga besar Wijaya. Mereka senang sekali mendapat undangan perjamuan itu, dan saat makan malam itu dua keluarga itu membahas tentang perjodohan putra putri mereka. Silvi dan Wilson menerima perjodohan itu meski mereka mengetahui bahwa Bara sudah menikah. Mereka sudah terlanjur suka dan cinta kepada Bara, Bara pria yang mereka kenal sangat baik dan lagi pula putrinya sangat mencintai sosok Bara Sadewa.
Keluarga Wijaya dan Agatha menjalin hubungan baik sejak dulu sebelum perusahaan mereka sesukses sekarang, dua keluarga ini saling membantu dalam merintis bisnisnya. Hingga sekarang ini hubungan mereka berjalan baik.
Bara tidak menjawab.
“Om mengerti, kamu pasti berat melakukan ini.” Wilson tersenyum simpul ke arah Bara.
“Masuk dulu, Nak. Kita mengobrol di dalam saja,” tawar Silvi.
“Bara minta maaf kepada Om dan Tante, Bara harus segera kembali ke perusahaan. Ada klien yang Bara harus temui sore ini,” tolak Bara halus.
“Baiklah, Tante dan Om mengerti. Maaf sudah merepotkan kamu untuk menjemput Adel,” sahut Silvi.
“Tidak masalah.” Bara mencium punggung tangan Silvi dan Wilson dan segera pergi meninggalkan kediaman keluarga Agatha.
***
Bara memijat pangkal hidungnya, sorot mata kelelahan tampak di wajah pria itu.
“Masalah lo dengan Famira makin hari, makin banyak Bara, apa memang lo harus menyerah. Dan melepaskan Famira dari genggaman lo. Mungkin itu lebih baik, sepertinya takdir Tuhan tidak berpihak kepada kalian berdua,” ucap Rendi tanpa menoleh ke arah Bara karena dia sedang fokus nyetir mobil.
“Jaga omongan lo, gue nggak semudah itu melepaskan Famira.”
“Terus lo mau ngomong apa sama Famira tentang perjodohan keluarga lo, kalau Famira terus ada di sisi lo, dia akan terus tersakiti.”
“Diam lo, Ren! jangan membuat gue tambah frustrasi memikirkan ini.” Suara Bara kian meninggi, Rendi bungkam setelah itu.
__ADS_1
“Ra, kenapa urusan cinta kita harus serumit gini,” monolog Bara.
.