
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━━
Seorang teman tidak bisa disebut sebagai teman sampai ia diuji dalam tiga keadaan :
1.) Pada saat kamu membutuhkannya
2.) Bagaimana sikap yang ia tunjukkan di belakangmu, dan
3.) Bagaimana sikapnya setelah kematianmu
[ Ali Bin Abi Thalib ]
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━━
Kamar yang bernuansa elegan dan modern, di padukan dengan warna hitam dan cokelat dengan desain interior yang minimalis membuat kamar ini menyuguhkan nuansa modern dan sangat mewah sekali. Di dalam kamar mewah itu hanya terdengar suara isakan tangisan dari gadis yang tidur dengan posisi tengkurap, dia menutupi wajahnya dengan bantal guling. Gadis itu tak lain adalah Adelia Adriana Agatha.
Adel tidak dapat menerima kalau perjodohannya di batalkan dengan Bara. Adel sangat mencintai Bara, apa pun akan dia lakukan untuk mendapatkan hati seorang Bara Sadewa.
"Sayang, kamu harus ngerti juga. Kamu tidak boleh menjadi wanita yang egois. Bara sudah bahagia dengan istrinya." Selvi yang sedang duduk di tepi ranjang mengusap lembut rambut pirang milik Adel.
Sekitar pukul sepuluh pagi, Ani dan Andi datang ke kediaman keluarga Agatha. Mereka datang untuk membatalkan perjodohan itu. Silvi dan Wilson sempat kecewa dengan keputusan itu namun, mereka juga mengerti bahwa perasaan cinta itu tidak bisa di paksa. Termasuk perasaan cinta Bara kepada putrinya. Silvi dan Wilson tahu, Bara tidak mempunyai perasaan sedikit pun untuk putrinya selama ini.
"Mama jahat, Mama nggak ngerti perasaan Adel. Coba saja Mama membujuk Tante Ani dan Om Andi pasti mereka tetap mau melanjutkan perjodohannya ini. Adel sangat mencintai kakak Bara, Ma." Adel duduk lalu mengusap air matanya secara kasar.
"Masih banyak pria lain Del, kamu harus merelakan Bara. Bara sudah bahagia dengan istrinya dan sekarang istrinya lagi hamil," tutur Silvi lembut memberikan penjelasan kepada putrinya itu.
"Sudahlah Ma, kalau tahu akan seperti ini Adel tidak akan pulang dari Jerman." Adel bangkit lalu meraih kunci mobilnya di atas meja.
"Mau ke mana, Del?"
"Adel mau pergi menemui kak Bara," jawabnya lalu berlalu di hadapan Silvi.
Silvi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Adel yang tidak pernah berubah dari dulu.
*****
Mobil mewah milik Adel sampai di parkiran gedung mewah dan bertingkat milik perusahaan Wijaya grup. Adel mengetahui Bara berada di perusahaan karena informasi dari Rendi.
__ADS_1
Semua mata karyawan tertuju kepada Adel, mereka terpesona dengan kecantikan Adel.
"Selamat datang, Nona muda Agatha." Sapa para karyawan lalu membungkuk badannya sebagai bentuk penghormatan.
Adel hanya membalas dengan senyuman tipis, dia melangkah kakinya menuju ruangan kerja Bara.
"Non Adel, makin cantik yah sudah pulang dari Jerman," ucap seorang karyawan wanita kepada temannya.
"Iya, gue aja ngiri lihatnya," sahut temannya lagi sambil menatap punggung Adel yang berlalu di hadapan mereka.
Bara yang tengah sibuk membaca berkas-berkas perusahaannya di kagetkan dengan pelukan Adel dari belakangnya.
"Astaghfirullah, Del." Bara langsung melepaskan pelukan itu.
"Kakak Bara, Adel cuman cinta sama kakak Bara. Adel mau menikah dengan kakak Bara." Adel bergelantungan manja di lengan Bara.
Bara menyingkirkan tangan Adel dari badannya secara kasar. "Jangan buat gue marah, Del!" ucapnya penuh penekanan. "Lo sudah tahu kan, perjodohan itu di batalkan. Gue nggak pernah cinta sama lo, Del. Gue cuman cinta Famira!" Bara merebahkan tubuhnya secara kasar di atas sofa.
Adel kembali memeluk tubuh Bara, dia menangis sejadi-jadinya di dekapan Bara. "Adel memang salah karena mencintai pria yang sudah beristri. Tapi perasaan Adel tidak dapat di bohongin kakak, Adel sudah cinta sama kakak sejak dulu," ucapnya dengan derai air.
"Nggak bisa kakak, Adel udah usahakan melupakan dan berhenti mencintai kakak Bara selama di Jerman. Semuanya sia-sia kakak, Adel tidak bisa ... " Adel menundukkan kepalanya, air matanya kembali membasahi pipi wanita itu.
"Lo harus paksakan dan gue ingatkan lagi jaga sikap lo. Gue nggak suka lo peluk gue seenak jidat lo. Kalau lo tetap seperti itu, lo juga sama dengan wanita murahan di luar sana," ucap Bara penuh penekanan dan penegasan di setiap kalimatnya.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bara dari tangan Adel. Adel tidak suka dengan kata Bara yang menyamakan dirinya dengan wanita murahan.
"Secantik dan sesuci apa sih istri kakak? sampai-sampai kakak mencela Adel seperti itu," murka Adel. Adel jadi penasaran dengan wanita yang menjadi status istri Bara sekarang.
Bara tersenyum culas. "Yang jelas dia lebih baik daripada lo, lo nggak ada apa-apanya dari istri gue." Emosi Bara sudah memuncak, tapi untung saja dia segera mengucapkan istighfar dalam hatinya.
Bara meraih jas kerjanya dan bangkit meninggalkan Adel yang masih di ruangannya.
"Kak, Adel minta maaf." Adel menyesali perbuatannya yang menampar pipi Bara begitu saja.
Bara menghentikan langkahnya. "Perbaiki diri dan sikap lo, Del. Jangan seperti anak kecil lagi." Bara berlalu dari ruangannya. Bara akan pulang ke rumah dan mengantarkan Famira ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya.
__ADS_1
Rendi yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan perdebatan sengit antara Bara dan Adel. Hatinya jadi iba kepada perempuan yang kembali menangis setelah kepergian Bara.
"Adel, mendingan lo pulang dan tenangkan diri lo." Saran Rendi.
Adel mendongak kepalanya menatap lurus ke wajah pemuda di hadapannya itu.
"Kakak Ren, kakak pasti tahu kan Adel sudah mencintai kakak Bara sejak dulu, kenapa kakak Bara sulit sekali membuka hatinya untuk Adel, kakak?" tanyanya dengan suara sendu.
"Karena Bara cuman anggap lo hanya sebagai adik, Del. Lo jangan berharap lebih lagi kepada Bara saat ini. Bara dan Famira sudah bahagia dan lo jangan ngerusak kebahagiaan mereka."
Hening beberapa saat di dalam ruangan itu.
"Bantu Adel, kakak." Pinta Adel.
Rendi mengerutkan keningnya. "Bantu untuk apa?" tanyanya bingung.
"Untuk mendapatkan hati kakak Bara, cuman kakak Rendi yang bisa bantu Adel saat ini."
"Gue nggak bisa!" jawab Rendi penuh keyakinan.
"Adel mohon kak, Adel ikhlas kok jadi istri kedua kak Bara. Adel sangat ingin menikah dengan kakak Bara. Tolong bantu Adel kakak ...," mohon Adel, dia berpindah duduk ke samping Rendi. Menggerakkan tubuh Rendi agar mau membantunya.
Rendi tidak menjawab.
"Kakak Ren--di, Adel mohon ... hanya kakak yang ngerti dan bisa bantu Adel." Adel menunjukkan ekspresi melas terbaiknya berharap Rendi luluh.
Rendi mengembuskan napas panjang. "Oke, gue akan bantu lo," ucapnya.
"Benar kan kakak Rendi? kakak nggak bohong?" tanya Adel tak percaya.
"Gue nggak bohong, tapi lo harus jaga rahasia dari Bara."
Adel mengaguk lalu memeluk tubuh
Rendi. "Makasih kakak Ren, kakak Rendi memang paling ngerti perasaan Adel." Adel senyum senang.
"Gue melakukan ini karena gue cinta sama lo, Del. Gue nggak mau lo menangis di hadapan gue lagi, gue akan bahagia kalau lo bahagia juga," batin Rendi. Dia membalas pelukan Adel.
__ADS_1