Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
109


__ADS_3

═════════•❁❁•═════════


مَنْ تَوَهَّمَ اَنَّ لَهُ عَدُوًّا اَعْدَى مِنْ نَفْسِهِ قَلَّتْ مَعْرِفَتُهُ بِنَفْسِهِ


"Barangsiapa menyangka ada yang lebih memusuhi dirinya ketimbang nafsunya sendiri, berarti ia kurang mengenali pribadinya sendiri."


[ Munabbihât ‘ala-sti‘dâdi li Yaumil Mî‘âd karya Ibnu Hajar al-Asqalani ]


═════════•❁❁•═════════


Bara dan Erwin mengusap wajah secara kasar. Kedua pria itu mengacak rambutnya frustrasi melihat tingkah istri mereka.


"Hahaha ...." Seseorang yang baru datang tertawa terbahak-bahak dari ambang pintu. Pemuda ini berjalan ke arah Erwin dan Bara. Menjatuhkan bobot tubuhnya secara kasar.


"Calon papa muda pada frustrasi yah," tebak Rendi dengan elak tawanya. Tersenyum mengejek ke arah dua pria yang menekuk wajahnya itu.


Bara memutar bola matanya malas ke arah sahabatnya yang duduk di sampingnya itu. Mengambil potongan mangga lalu dilemparkan ke arah Rendi. "Lo belum ngerasain di posisi kami aja, Ren!" sahutnya merasa jengkel.


Rendi tidak menjawab, netranya beralih menatap gadis yang menggunakan jilbab pashmina, yang duduk tidak jauh di hadapannya. Rendi tidak mengetahui kalau ada Jessika juga dikediaman keluarga Martadinata.


Rendi mengambil juga potongan buah mangga di dalam piring itu, pria ini berniat melempari Jessika agar tidak terlalu serius dengan benda perseginya.


Tuk!


Lemparannya salah sasaran, bukan mengenai Jessika, tetapi mengenai Dilla yang berjalan ke arah mereka.


"Mas Erwin, lihat Rendi ingin melukai anakmu!" aduh Dilla, saat lemparan Rendi mengenai perutnya. Dilla mengusap perutnya, menatap sangar ke arah Rendi.


"Sorry, Dil. Gue nggak sengaja." Rendi buru-buru minta maaf, tidak mau berdebat lebih jauh dengan seorang wanita hamil. Bisa-bisa habis dirinya saat ini.


Erwin bangkit berdiri, merangkul pundak istrinya. "Nggak apa-apa 'kan dengan perutmu?" tanyanya khawatir lalu mencium singkat puncak kepala Dilla.


"Sakit sedikit, Mas," sahut Dilla.


Rendi tampak kesal, dia menggerutu dalam hatinya, 'Dasar bumil ngaduan, gitu aja sakit!'


"Jangan sampai lo patah tulang Ren, berani-beraninya lo ngelempar istri gue!" kata Erwin penuh penegasan.


"Patahin aja Kak Erwin, biar tahu rasa Kak Ren itu," timpal Jessika mendukung antusias.


"Ajak aduh jotos ya? Sok atuh Bang Erwin, sudah lama nih nggak," ujar Rendi semangat. Rendi menatap lurus ke arah Jessika, Jessika membuang wajahnya langsung.

__ADS_1


Erwin berdecih sinis mendengar ucapan Rendi. "Yuk, ke depan rumah sekarang, Ren!" ajak Erwin tidak kalah semangat, pria ini tersenyum miring.


"Sudah-sudah." Dilla tidak ingin keributan terjadi. Erwin langsung diam bila Dilla sudah memerintah.


Bara hanya menyimak, tidak tertarik dengan perdebatan yang terjadi. Pria ini fokus dengan istrinya saja.


"Mas."


"Iya."


"Kupas lagi dong," pinta Famira dengan manjanya.


Seulas senyum tipis terukir di bibir Bara. Tangan Bara menarik pipi istrinya itu, merasa gemas. "Makin gendut loh kamu, Ra. Sudah makannya." Bara mencoba menyindir halus, supaya Famira berhenti.


"Terus kalau Famira gendut, Mas tidak suka?"


"Nggak kok."


"Hm."


"Ngambek?"


Famira tidak menjawab, dia memilih mengusap mangga sendiri.


Bara dan Famira segera balik ke kediamannya, sementara Jessika dibuat kesal oleh Rendi, ketika Rendi menarik tangannya seenak jidat ke dalam mobilnya.


"Kak Ren, apaan sih!" Jessika menyingkirkan tangan Rendi secara kasar.


"Apa?" Rendi nampak tidak peduli, pria ini memasang sabuk pengaman.


"Kak Ren, Jessika bisa pulang sendiri kok! Terus mobil Jessika siapa yang bawa pulang?" tanyanya sengit, memukul lengan Rendi cukup keras, "Jessika mau keluar!" tegasnya.


"Nggak, aku akan mengantarmu pulang."


"Jessika teriak nih bahwa terjadi penculikan. Biar Kak Ren digebukin sama warga," ancam Jessika.


"Teriak aja," sahut Rendi santai, mobilnya sudah melaju pelan meninggalkan kediaman Martadinata.


****


آسْأَلُ اللّٰهَ شَيْـًٔـا

__ADS_1


"Aku meminta sesuatu kepada Allah, jika Allah memberinya padaku. Aku gembira sekali saja.


Namun, jika Allah tidak memberi padaku. Aku akan gembira sepuluh kali lipat.


Sebab, yang pertama itu pilihanku. Sedangkan yang kedua pilihan Allah."


_Ali bin Abi Thalib


Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir Jessika saat ini. Jessika memilih menatap luar jendela mobil.


"Jes," panggil Rendi melirik sekilas ke arah sampingnya.


Jessika enggan merespons.


"Jessika!" Rendi berucap lebih keras.


Jessika dengan terpaksa menoleh, menatap Rendi dengan ekspresi datar.


"Ada apa?"


Rendi tiba-tiba saja dilanda gugup, bingung memulai obrolan dari mana.


"Kak Rendi belum tahu yah? Bahwa Jessika ..." Ucapan Jessika tergantung.


"Aku sudah tahu. Masih ta'aruf, 'kan? Peluangku masih banyak!" Ekspresi wajah Rendi berubah setelah mengatakan itu. Pria ini sangat tidak suka Jessika membicarakan hal tersebut.


Jessika terkekeh kecil melihat perubahan ekspresi wajah Rendi. "Kak Hafid baik banget, beda sama–"


"Berhenti berbicara tentang dia, Jes!" tegas Rendi.


"Kenapa emangnya? Cemburu yah? Kak Ren jauh dan sangat jauh dari Kak Hafid." Jessika tidak peduli dengan perintah Rendi.


"Pujilah dia sesuka hatimu Jes, apa kamu sangat menyukainya?" tanya Rendi penasaran, laju mobilnya diperlambat. Timbul rasa sesak dalam benaknya saat menanyakan hal tersebut.


Jessika terdiam, tidak ingin menjawab apa pun. Jessika takut bila berkata jujur, pria disampingnya itu akan terluka. Biarkanlah waktu saja yang menjawab.


.


.


.

__ADS_1


Tinggalkan jejak kalian yah biar aku semangat up-nya. Makasih:)


__ADS_2