Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
121


__ADS_3

Di bawah pohon nan rindang. Dedaunan luruh diterpa angin, kicauan burung menemani dengan sinar matahari yang sebentar lagi tenggelam di ufuk barat. Di sana, seorang anak menangis memeluk kedua lututnya.


Sendiri, dia sendiri di sana. Anak itu berusia sekitar enam tahun. Anak kecil laki-laki yang tampan. Ia tidak tahu akan ke mana. Dunianya gelap, sejak tiga tahun ini.


"Papa, ... mama," lirihnya. Tangannya bergerak berusaha mencari tongkat yang biasa membantunya. Namun, nihil tongkatnya itu hilang. Ia ingin segera pulang, tetapi ia tidak tahu berjalan ke arah mana untuk kembali ke kediamannya.


Ia sempat bermain dengan teman-teman sebayanya sebelumnya, tapi teman-temannya itu jahat terhadap dirinya. Meninggalkan dirinya sendiri di sebuah danau, tempat mereka bermain.


"Dasar buta!"


"Cengeng dan manja."


"Kita tinggalin aja, yuk!"


Hinaan teman-temannya memenuhi pikirannya. Ia sendiri tidak mau seperti saat ini. Tangan kecilnya mengepal, berjanji suatu saat akan membalas semua yang terjadi kepada mereka-mereka yang menghinanya. Anak kecil itu adalah—Bara Sadewa.


Derap langkah kecil berjalan ke arahnya.


"Hei, assalamu'alaikum ...!" sapa seorang gadis yang memegang gulali, ia berjalan ke arah Bara lalu duduk di sampingnya. "Sedang apa kamu disini? Kenapa sendiri? Apakah kamu butuh bantuan?" Pertanyaan beruntun meluncur di bibir mungilnya. Gadis berjilbab ini mengerutkan keningnya, karena tidak mendapatkan respons dari seseorang yang diajak berbicara.

__ADS_1


"Em, kamu siapa?" tanya Bara setelah beberapa saat ia terdiam, ia ketakutan. Bara tidak dapat melihat siapa yang sedang berbicara dengannya. Gelap. Hanya itu yang ada di penglihatannya. Tapi ia yakin seseorang yang baru datang adalah gadis kecil yang kemungkinan seumuran dengan dirinya. Begitu yang ada dalam pikirannya.


"Namaku Famira." Gadis berjilbab itu memperkenalkan diri dengan antusias. Sudut bibirnya tertarik, namun sedetik kemudian ia merasa kasihan sekaligus iba. "Kamu ..."


"Aku tidak bisa melihat," potong Bara cepat.


"Maaf, ak--u tidak mengetahuinya, tapi kenapa ...." Famira merasa bersalah atas ucapannya. Ia dapat melihat raut sedih di wajah anak kecil laki-laki yang seumuran dengan dirinya.


"Tidak apa-apa." Bara menjawab dengan nada suara agak ketus, "Apakah kamu mau menghinaku juga seperti teman-temanku?"


Famira menggelengkan kepalanya cepat. "Hum ... aku tidak berniat sekali seperti itu. Kata ummi dan abiku tidak baik berburuk sangka kepada orang lain dan tidak ada manusia juga yang sempurna. Semua orang pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ingat ya Allah Maha Besar. Kamu masih bisa memaksimalkan anugrah dari Allah yang lain. Nabi Allah saja sering diuji banyak cobaan, tetapi tetap bersyukur dan sabar. Begitu pun kita sebagai manusia." Famira mengingat-ingat nasehat dari kedua orangtuanya.


"Lalu?" Bara bertanya singkat. Ia tertarik dengan ucapan gadis yang tidak ia kenal itu. Ia merasa gadis seumuran dengan dirinya itu sok akrab dengan dirinya, tapi tidak apa-apa ia merasa senang. Setidaknya masih ada seseorang yang mau bermain dengannya.


"Cerita selanjutnya."


Famira memakan gulali di tangannya kembali sebelum menjawab. Ia sempat menawar gulali itu kepada Bara, namun Bara menolaknya.


"Aku akan menceritakan kisah nabi Ayyub 'Alaihi Salam kepadamu. Kamu mau dengar?"

__ADS_1


Bara mengangguk kecil, arah pandangannya hanya lurus-lurus saja ke depan. Ia tidak tahu kisah nabi Ayyub'Alaihi Salam, karena itu ia tertarik. Lingkungan keluarganya sangat jauh dari ilmu agama.


"Nabi Ayyub ‘alaihi salam adalah seorang nabi Allah yang sangat mulia, kesabarannya tidak pernah diragukan lagi. Beliau diberikan cobaan oleh Allah secara bertubi-tubi. Awalnya Beliau memiliki harta yang banyak dengan bermacam jenisnya, Beliau juga memiliki istri yang shalihah dan keturunan yang baik. Namun, suatu saat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ingin mengujinya."


Bara nampak mendengarkan dengan antusias.


"Hartanya yang banyak habis, anak-anaknya meninggal dunia, semua ternaknya binasa, dan Nabi Ayyub ‘alaihi salam sendiri menderita penyakit yang sangat berat, tidak ada satu pun dari anggota badannya kecuali terkena penyakit, selain hati dan lisannya yang ia gunakan untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kamu tahu berapa lama Beliau mendapat cobaan dari Allah?" tanya Famira disela-sela menceritakan.


Bara menggelengkan kepalanya. "Nggak."


"Aku juga tidak tahu dan sedikit lupa, tapi yang aku tahu itu terjadi selama bertahun-tahun Beliau mengalaminya. Waktu yang sangat lama bukan? Namun, Beliau tetap sabar dan mengharapkan pahala dari penyakitnya. Hingga suatu hari Nabi Ayyub memohon kepada Allah agar menghilangkan derita yang menimpanya. Doa dalam meminta kesembuhannya itu terdapat dalam surah Al Anbiya ayat 83-84. Dengan segala kebesaran Allah, Nabi Ayyub 'Alaihi Salam sembuh dari penyakitnya. MasyaaAllah." Gulali di tangannya habis, bersamaan dengan ceritanya. Famira merasa asik juga bercerita dengan teman barunya itu.


"Hikmah yang bisa dipetik dari kisah Nabi Ayyub banyak sekali. Salah satunya tetap sabar dan istiqamah dalam beribadah kepada Allah walau dalam keadaan sakit, berbaik sangka kepada Allah atas apa yang diberikan.


Itu semua tentu sebagai suatu rahmat dari sisi Allah dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. Begitu pun dengan kamu yang sedang mengalaminya sekarang." Famira tersenyum lebar setelah mengatakan itu, walaupun ia tidak tahu lawan bicaranya mengerti atau tidak apa yang diceritakan.


Bara diam sejenak. Menyerap cerita itu ke dalam otaknya. "Kamu anak kyai?" tanyanya penasaran.


"Tidak. Ada apa emangnya?" Famira bertanya balik.

__ADS_1


"Kamu hebat. Bisa menghafal cerita nabi sepanjang itu, kalau aku mungkin tidak akan mampu," puji Bara, tanpa sadar anak kecil laki-laki ini tersenyum tipis.


Famira tersenyum canggung mendengar pujian tersebut. "Aku hanya terbiasa mendengarnya. abi dan ummiku sering menceritakan kisah nabi-nabi Allah sebelum aku tidur. Dan itu dilakukan sejak aku berumur dua tahun. Jadi, lumayanlah cepat menyerap dalam kepalaku," sahutnya meremas jari-jemarinya.


__ADS_2