
❖•═════❖۩۩۩۩❖═════•❖
۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞
Kita punya keinginan, Allah punya
keputusan. Keputusan Allah adalah keputusan yang terbaik, maka jalani
dan syukuri, niscaya akan
menjadi manusia bahagia
dunia dan akhirat.
[Habib Ali bin Abdul Aziz bin Jindan]
❖•═════❖۩۩۩۩❖═════•❖
Hari ini adalah hari pertama bagi seorang Adelia Adriana Agatha masuk dan bekerja di sebuah rumah sakit ternama di kota itu. Rambut pirangnya di biarkan tergerai panjang ke belakang, jas putih khas seorang dokter sudah melekat di tubuhnya yang ramping dan tak lupa stetoskop yang ada di lehernya. Banyak tatapan kagum dari orang-orang yang melihat Adel yang sedang berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangannya.
Adel mempunyai segalanya, Wilson dan Silvi sebenarnya tidak mengizinkan putrinya semata wayangnya untuk bekerja, mereka menginginkan putrinya santai-santai saja di rumah. Tetapi, Adel tetap kukuh. Dia sudah meraih gelar seorang dokter dengan susah payah, Adel ingin profesi ini bermanfaat untuk orang banyak. Adel mempunyai jiwa sosial yang cukup tinggi.
"Pagi, Dokter Adel," sapa ramah para suster yang berpapasan dengan Adel.
Adel tersenyum tipis. "Pagi juga," sapanya kembali, tak kalah ramahnya.
Adel adalah seorang dokter spesialis organ dalam (internis). Dokter yang secara khusus menangani masalah kesehatan pada pasien dewasa dan lansia yang berkaitan dengan organ tubuh bagian dalam. Dalam kondisi tertentu, dokter penyakit dalam juga menangani pasien anak-anak. Dokter penyakit dalam bergelar Sp.PD. dan secara khusus mempelajari tentang sistem imun manusia, alergi, kardiovaskular, infeksi, dan lain-lain.
Mood Adel tiba-tiba hilang setelah melihat sosok pemuda yang mempunyai profesi sama seperti dirinya.
"Akhirnya kita bertemu lagi," ucap pemuda itu tersenyum simpul ke arah Adel.
"Gue nggak kenal sama, lo!" Adel kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Pemuda itu menahan tangan Adel. "Del ... gue cinta sama lo," ucapnya penuh keyakinan.
"Lepasin tangan gue, Ezra! gue nggak pernah cinta sama lo!" Adel melepaskan paksa tangannya. "Gue nggak pernah cinta sama lo, dan nggak akan pernah!" tegas Adel kembali. Adel meninggalkan Ezra begitu saja.
'Lo masih saja sama, tetap berharap pada laki-laki yang tidak menginginkan dan tidak cinta sama lo, Del,' batin Ezra tersenyum kecut.
Ezra Rahaditya Ramadeska, pemuda ini adalah teman Adel saat kuliah di Jerman, mereka berdua mengambil jurusan kedokteran yang sama. Sejak Ezra mengungkapkan perasaan cintanya pada Adel, hubungan pertemannya mereka berdua renggang. Adel menjauhinya dan tidak ingin bertemu sosok dirinya lagi. Ezra mengetahui, cinta Adel hanya kepada seorang Bara Sadewa. Tetapi tak menyurutkan semangat dirinya untuk tetap mendapatkan hati gadis yang selama ini dia cintai.
•••
Perasaan cinta itu indah
ya ... indah pada waktunya
Aku ingin perasaan ini terjaga
Terjaga sampai kita
dipersatukan dalam balutan
pernikahan
Aku tak ingin berharap terlalu
__ADS_1
jauh pada dirimu saat ini
Cukuplah aku mencintaimu
dengan caraku sendiri, yaitu mencintaimu dalam diam
Tentunya, aku juga melibatkan
Allah dalam menggapai hati–mu
Aku berharap kau memang
takdirku yang tertulis di lauhul
mahfudz
"Pak Erwin, mau ajak saya ke mana, sih?" tanya Dilla merasa kesal. Bagaimana Dilla tidak kesal, Erwin seenak jidatnya menarik tangannya di depan semua karyawan di perusahaan itu.
Banyak perkataan tidak suka dan cibiran terdengar di telinga Dilla saat atasannya itu menarik tangannya. Dilla bersikap bodoh amat mendengarnya, toh dia nggak ngelakuin apa-apa.
Erwin tidak peduli dengan ocehan Dilla di belakangnya, dia tetap menarik paksa tangan Dilla ke dalam mobilnya.
"Masuk!" titah Erwin saat mereka berdua sudah sampai di depan mobil.
"Nggak!" jawab Dilla ketus.
"Jangan salahkan saya, bila saya meme---"
Dilla tersenyum tipis. "Maaf, Pak. Atas kelancangan saya," tuturnya lembut lalu menundukkan kepalanya.
"Dasar atasan menyebalkan, dikit-dikit mengancam. Huh, aku ingin mencekik lehermu itu, Pak," batin Dilla merasa kesal. Dengan terpaksa Dilla masuk ke dalam mobil.
Dilla yang sudah kesal semakin kesal, berbagai sumpah serapah di dalam hatinya di tunjukkan kepada Erwin. Untung saja sekretaris Max yang kejam itu tidak ikut juga, bisa-bisa Dilla tidak akan bisa bernapas lagi.
Dilla menuruti perintah Erwin untuk duduk di kursi depan. "Mau Bapak apa sih sebenarnya?" tanya Dilla melirik sekilas ke arah atasannya itu yang sedang fokus menyetir.
"Bisa nggak mulutmu itu, berhenti mengoceh nggak jelas. Telinga saya panas mendengarnya."
"Mulut saya juga, terserah saya dong, Pak. Kok Bapak yang sewot," balas Dilla. Gadis ini sangat pandai sekali berbicara dan tidak ada takut-takutnya. Dilla sudah sangat merasa jengkel sekali dengan atasannya itu.
"Hm." Erwin hanya berdehem menanggapinya. Dilla yang mendengar deheman itu hanya bisa mencebik kesal dalam hatinya.
Setelah perbincangan singkat itu hanya terdapat keheningan di dalam mobil.
30 menit berlalu, akhirnya mobil mewah milik Erwin sampai di sebuah pantai.
Dilla mengerutkan keningnya, untuk apa atasannya itu mengajak dia ke pantai. Begitu yang ada di pikiran Dilla saat ini.
Erwin turun dari mobil, di susul oleh Dilla di belakangnya.
"Untuk apa Bapak mengajak saya ke sini?" tanya Dilla dari belakang.
"..."
Erwin duduk di bibir pantai, netranya menikmati keindahan pantai dan matahari yang sebentar lagi terbenam.
Anak rambut Erwin tertiup oleh Angin laut, Erwin memejamkan matanya mencoba menentramkan hatinya.
__ADS_1
Dilla yang tak jauh duduk dari Erwin menatap kagum, melihat begitu sempurnanya makhluk ciptaan Tuhan di sampingnya itu.
Erwin membuka matanya, melirik ke arah Dilla yang membuang wajahnya ke samping.
"Pak Erwin," panggil Dilla.
"Iya," jawab Erwin. Netra pemuda itu lurus ke depan menatap senja.
"Lagi galau yah, Pak?" tanya Dilla menebak-nebak dengan nada suara sopan.
"Hm, bisa jadi."
"Hahaha, Anda juga bisa galau ya. Galau karena apa? apa karena pekerjaan atau ---" Dilla tertawa mengejek.
"Karena sebuah perasaan," potong Erwin cepat.
Dilla langsung diam. Gadis itu menoleh ke arah Erwin, Erwin pun sebaliknya. Kelereng beda warna kembali bertubrukan. "Serahkan semuanya pada Tuhan, Pak," sahutnya penuh keyakinan. Dilla segera memutuskan kontak mata itu.
Erwin tersenyum tipis, senyum yang berhasil membuat jantung Dilla kembali berdegup dengan kencang. "Tentu saja."
"Aku ada jurus jitu untuk menghilangkan galau loh, Pak," ujar Dilla antusias.
"Apa?"
"Berteriak."
"Kau gila?"
Dilla tidak menjawab. Gadis ini menarik napas dalam-dalam, lalu menyuarakan isi hatinya saat ini. "Aku merindukanmu," teriak Dilla sekencang-kencangnya. Tangannya menggenggam pasir, tak terasa bulir air mata yang coba dia tahan keluar dari persembunyiannya.
Erwin tidak berkata apa-apa melihat itu.
Tak lama Dilla kembali tertawa tak jelas, dia sudah puas melepaskan unek-unek di dalam hatinya. Rasa rindunya kepada seseorang yang ada di seberang sana sudah dia lepaskan, sampai detik ini Dilla tidak mendapatkan kabar sedikit pun.
"Kau gadis aneh yang saya kenal, tadi nangis sekarang malah tertawa lepas," kata Erwin.
"Terserah sayalah, saya sering juga datang ke pantai, Pak. Untuk sekedar melepaskan beban pikiran saya, apalagi sore hari. Saya sangat suka datang ke sini."
"Hm."
"Bapak coba teriak deh seperti saya tadi, saya yakin hati Bapak terasa lega."
"Saya tidak ingin gila sepertimu!" tolak Erwin.
"Ya udah, saya nggak maksa!" jawab Dilla acuh.
Hari sudah mulai menggelap, Erwin menarik lembut tangan Dilla. "Kita pulang."
"Nggak usah pegang-pegang juga dong, Pak. Bagaimana pun kita bukan pasangan halal." Dilla melepaskan genggaman tangan Erwin.
"Kalau sudah halal, bagaimana?"
"Kalau udah halal mah bebas, apa yang ingin Pak lakukan ke pasangan nantinya."
"Kalau itu kamu?" pertanyaan itu meluncur saja di bibir Erwin.
"Saya kurang dengar, apa perkataan Pak Erwin barusan?" tanya Dilla penasaran, karena angin di pantai cukup kencang, membuat telinga Dilla kurang mendengarnya.
__ADS_1
"Lupakan saja perkataan saya barusan," sahut Erwin.