
Tanpa sadar, Jessika tersenyum sambil menyembunyikan raut merah di wajahnya.
"Dua minggu lagi, Bar. Gue masih bisa tahan."
Bara mengangguk paham tanpa diberitahukan juga ia mengetahuinya, "Tapi mahar lo udah siap, Ren?" tanyanya.
tanpa memandang lawan bicaranya, pria ini fokus dengan benda perseginya. Detektif Jordan, mengirimkan pesan singkat padanya.
"Sudah siap dari dulu, Bar. Bahkan sebelum ngelamar," sahut Rendi dengan nada suara angkuh, "Jes, mau dengar sekarang nggak?" tawar Rendi dengan ramah sekali. Senyum manis dan sangat manis sekali diberikan kepada gadis yang sebentar lagi menjadi status istrinya itu.
"Nanti aja saat ijab qobul, Kak Ren," sahut Jessika singkat. Ia mencoba menstabilkan mimik wajahnya.
"Khem ... baiklah."
Jessika segera pamit untuk pulang cepat, ia ingin berkunjung ke rumah kakak iparnya karena rindu bermain dengan Atha.
Rendi merasa sedikit kecewa, melihat gadis pujaan hatinya itu terlalu cepat untuk pulang. Padahal, ia belum terlalu lama untuk mengobrol. Entah kenapa ia cepat merasa rindu.
Rendi ingin mengantar Jessika untuk balik, tetapi Bara bak bodyguard yang melindungi adiknya. Seujung kuku pun Bara tidak akan mengizinkan Rendi untuk menyentuh dan dekat-dekat Jessika sebelum ada ikatan halal antara keduanya, karena Bara tahu dalam islam sangat keras sekali melarang semua sebab yang membawa kepada hubungan tidak halal antara laki-laki dan perempuan.
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berduaan di tempat yang sama, atau dalam istilah Islam disebut khalwat .
Sebagimana sabda Beliau, "Janganlah salah seorang diantara kalian berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita karena sebenarnya setan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua." ~HR. Ahmad
__ADS_1
Al-Munawi menjelaskan, "bahwa setan akan menjadi orang ketiga diantara penyebab, dengan membisiki mereka untuk melakukan kemaksiatan, menjadikan syahwat mereka berdua bergejolak, menghilangkan rasa malu dan sungkan dari penugasan, serta menghiasi kemaksiatan hingga tampak indah dihadapan mereka berdua.
Sampai akhirnya, setan pun menyatukan mereka berdua dalam kenistaan (dengan cara berzina) atau minimal menjatuhkan mereka pada perkara-perkara yang lebih ringan dari zina—yaitu perbuatan yang menjadi jalan pembuka zina—yang hampir saja menjatuhkan mereka dalam perzinaan." ( Faidhul Qadir, 3:78)
Wallahu'alam ....
"Nanti malam kita pergi ke kota XX," ucap Bara setelah memastikan Jessika sudah benar-benar pergi dari ruangannya.
"Hagh? Untuk apa ke sana, Bar?" tanya Rendi penasaran. Perasaannya tidak ada urusan penting di kota tersebut. Baik bisnis, atau pun urusan lainnya.
"Rafael," jawab Bara singkat. Tangannya nampak mengepal. Deru napasnya pria ini memburu.
"Ck, jadi dia pindah ke situ. Benar-benar pengecut dan brengs4k!" Rendi berdecih sinis.
Mendengar Bara menyebut nama Rafael saja sudah berhasil memancing emosinya. Sejak mengetahui bahwa Rafael adalah dalang dari penembakan dirinya, kebencian Rendi semakin mendalam saja.
Setelah memastikan Famira sudah terlelap tidur malam itu, Bara beringsut bangkit. Ia perlahan-lahan turun dari kasur menapaki kakinya di lantai.
"Aku cuman pergi sebentar, Ra." Bara mencium singkat puncak kening Famira. Tidak lupa, Bara mencium putranya yang juga terlelap di samping istrinya.
Bara tidak ingin memberitahu Famira, karena ia tidak ingin membuat istrinya itu khawatir berlebihan dengan masalah yang terjadi. Cukup dirinya dan Rendi yang terlibat dalam masalah ini.
Bara mengambil jaket di dalam lemarinya, lalu keluar dari kamar, dan menuruni anak tangga dengan cepat.
__ADS_1
Rendi menutupi kepalanya dengan tudung hoodienya, ia sudah menunggu Bara untuk turun dari atas kamar cukup lama.
"Bagaimana? Famira sudah tidur?" tanyanya yang berdiri di halaman rumah.
Bara membalas dengan anggukan kepala, kedua pria itu segera masuk ke dalam mobil.
Di malam yang sudah larut itu, mobil Bara melaju dengan kecepatan cukup tinggi membelah jalan raya yang masih saja padat.
Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh dan harus melewati hutan.
"Dimana anakku, Rafael?" tanya wanita dengan rambut sebahu.
"Kau tidak perlu mengetahuinya!" jawab Rafael, senyum jahat terbit di bibirnya.
"Aku merindukannya, dimana dia, Rafael?" tanyanya lagi dengan isak tangisannya.
"Aww sakit!" jerit perempuan yang sedang dianiaya itu, rambutnya yang sebahu ditarik-tarik oleh begitu saja oleh Rafael. Tanpa ada rasa belas kasihan.
Bara, Rendi, dan Detektif Jordan yang sedang mengintai dari celah-celah kecil bangunan tua itu merasa kasihan.
"Siapa wanita itu, Detektif Jordan?" tanya Rendi dengan suara pelan, ia menoleh ke arah kiri dan kanan terlebih dahulu, takut kedatangan mereka diketahui dan terjadi penyerangan tiba-tiba.
"Istrinya, sudah beberapa tahun disekap di bangunan tua ini."
__ADS_1
"Apa?" Bara dan Rendi kaget bersamaan. Kapan Rafael menikah? Pertanyaan tersebut berputar di pikiran kedua pria itu.
"Anak kecil di rumah Tuan Bara, adalah anak Rafael, Rafael menjadikan anak itu sebagai alat untuk menghancurkan, Tuan," jelas Detektif Jordan. Cukup banyak dirinya mendapatkan informasi setelah melakukan penyamaran.