
"Hatiku tenang, karena mengetahui apa yang telah melewatiku, tidak akan menjadi takdirku. Dan apa yang ditakdirkan untukku, tidak akan pernah melewatiku." ~ Umar bin Khattab
Setelah selesai sarapan, Bara segera pergi ke perusahaannya, dan sekaligus mengantar Atha ke sekolah.
Sampai di sana, tanpa sengaja Bara bertemu dengan Vina yang juga mengantarkan putrinya.
"Tante Vina!" sapa Atha yang berjalan beriringan dengan Bara.
Bara tersenyum kecut, masa lalunya selalu saja teringat kembali jika melihat kehadiran Vina.
"Hey, Sayang. Tumben bunda kamu nggak ikut antar Atha juga?" tanya Vina bertanya ramah. Mengusap rambut Atha dengan gemas.
"Aku memang tidak mengizinkan." Bara menjawab pertanyaan Vina, suara pria yang sudah rapi dengan setelan jas kerjanya itu terdengar dingin sekali.
Vina membalas dengan senyuman tipis, benar-benar canggung ia rasakan. Padahal dulu pernah ada hubungan antara keduanya.
Atha meraih tangan Bara lalu menciumnya. Anak kecil laki-laki itu berlari kecil menuju ruangan kelasnya diikuti dengan Nayla, putri Vina. Atha melambaikan tangannya dari kejauhan. Bara membalas dengan lambaian tangan juga.
"Kalau aku ada salah selama ini, aku minta maaf." Ucapan itu keluar begitu saja dari bibir Vina. Sudah lama Vina ingin meminta maaf kepada pria yang dulu pernah ia cintai itu, kesalahannya cukup banyak, tetapi tidak ada moment yang pas untuk mengatakan hal tersebut.
Bara memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya. Alis tebalnya terangkat mendengar hal tersebut. "Sudahlah, kamu hanya masa laluku. Maaf? Sudah sejak lama aku memaafkanmu. Anggaplah kita yang sekarang adalah seseorang yang tidak saling mengenal. Kamu hanya masa laluku!" jawabnya tanpa memandang lawan bicaranya, pria itu melakukan penegasan di kalimat terakhirnya. Setelah mengatakan itu, Bara segera berjalan ke arah mobilnya. Ia tidak tertarik sama sekali mengobrol lebih panjang dengan Vina.
Vina hanya bisa menatap punggung Bara. Ia tersenyum tipis, setidaknya dirinya sudah meminta maaf.
***
__ADS_1
Gadis berhijab dengan setelan t-shirt panjang, dipadukan dengan rok plisket abu-abu di atas mata kaki itu, tengah sibuk menaruh berbagi menu makanan ke dalam tupperware. Siang ini ia akan membawa makanan siang kepada pria yang sebentar lagi menjadi status suaminya.
"Ma, masakan Jessika enak, 'kan?" tanyanya setelah Mama Ani mencicipi. Baru pertama kali Jessika memasak, itu pun sambil meminta bantuan pada Mama Ani.
"Enak, tetapi keasinan sedikit," sahut Mama Ani.
"Yah. Nggak enak itu namanya, Ma."
Wajah Jessika nampak tidak bersemangat lagi.
"Ini bisa diatasi, Nak." Mama Ani menambahkan sedikit air ke dalam sup buntut buatan Jessika, "Rasanya udah pas."
"Mama, memang the best." Jessika memeluk tubuh Mama Ani dengan manja.
"Ini tidak apa-apa, Nak. Kamu nanti ikut kursus memasak yah," saran Mama Ani kepada putrinya.
Setelah semua beres, Jessika tidak sabar pergi ke perusahaan. Langkah kecil dan penuh semangat memasuki perusahaan Wijaya group.
"Siang Non. Apa Non Jessika memerlukan sesuatu? tanya salah satu karyawan dengan sopan.
"Siang juga. Aku hanya ingin ke ruangan kerja Kak Bara," jawab Jessika dengan seulas senyum di bibirnya.
"Apa perlu saya mengantarkan, Non?" tawarnya lagi
"Tidak perlu. Terima kasih," jawab Jessika. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan kerja Bara.
__ADS_1
****
"Assalamu'alaikum," salam Jessika saat memasuki ruangan kerja Bara.
"Wa'alaikumussalam," sahut keduanya serentak.
Bibir Rendi terukir senyum manis, tatapan mata hitamnya berbinar bahagia melihat kehadiran Jessika.
"Tumben datang ke sini, Dek?" tanya Bara yang duduk di atas sofa.
"Salah kah? Jessika cuman ingin antar makanan untuk Kak Rendi," jawabnya lalu duduk di samping Bara.
"Makanan siang untuk kakak ada juga?" Bara bertanya balik.
"Nggak ada, hanya untuk Kak Ren."
"Calon suami, lebih diprioritaskan, Bar. Hahaha ...." Rendi mengucapkan penuh dengan kebanggaan. Senyum mengejek terukir di bibirnya.
Bara berdecih sinis mendengarnya. Ingin melemparkan Rendi dengan bolpoin yang ada di tangannya. Sahabat itu selalu saja memancing emosinya. Namun, dengan gerak cepat Jessika segera menghentikannya.
"Bertengkar terus sih," cibir Jessika. Ia menatap Rendi dengan tatapan tajam, memberikan isyarat untuk berhenti tertawa.
"Iya, Sayang emm ... Jes." Rendi buru-buru meralat ucapannya.
"Buruan kalian nikah, Rendi nggak tahan tuh, Dek."
__ADS_1
Tanpa sadar, Jessika tersenyum sambil menyembunyikan raut merah di wajahnya.
"Dua minggu lagi, Bar. Gue masih bisa tahan."